Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Naluri Seorang Ibu


__ADS_3

Berapa lama berbincang bincang dengan Bunda Merry di atas balkon rumah akhirnya Fitri masuk ke dalam kamar untuk tidur. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari saat sahabat sekaligus saudara Vita itu terlelap ke alam mimpi.


Keesokan paginya.


Fitri menggeliat, cahaya matahari memasuki ventilasi kamar saat gadis itu terbangun dari tidurnya. Fitri melihat ke sampingnya sudah tidak ada Vita di sana kemudian matanya memperhatikan sekeliling ruangan tapi Vita juga tidak kelihatan.


Fitri bangun dari tidurnya kemudian melipat selimut yang ia kenakan. Ia turun dengan pelan dari atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi membasuh wajahnya di atas westafel saat sadar tidak ada lagi hal aneh aneh di wajahnya karena baru bangun ia kemudian keluar dari sana dan menuju dapur.


Sesampainya di dapur yang kelihatan hanya pembantu Bunda Merry.


" Silahkan minum nona" tawar karyawan Bunda Merry yang biasa di sapa bik nipa.


Satu cangkir teh dan sepiring camilan di sediakan di atas meja.


" Terimah kasih"


Fitri segera meneguk air teh yang hangat itu kemudian mengambil beberapa buah camilan dan memakannya.


" Di mana Vita?" tanya Fitri.


" Nona muda ada di lapangan bulutangkis" jawab bik Nipa.


Fitri segera menuju tempat itu setelah bik Nipa menunjukkan di mana lokasinya.


Lapangan bulu tangkis terletak di belakang rumah ini.


Sesampainya di sana terlihatlah di sana Vita dan Bunda Merry sedang duduk di atas kursi panjang.


Menyadari kedatangan Fitri, Vita pun melambai.


" Di sini" teriaknya.


Fitri segera berjalan menghampiri ibu dan anak itu.


" Maaf, aku lambat bangun" kata Fitri malu malu. Ia kemudian duduk di samping Vita.


" Begitulah. Saat seorang gadis tidur di atas jam 12 malam" balas Bunda Merry.


" Di atas jam 12 malam. Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Vita penasaran.


Fitri diam, ia ragu menjawab pertanyaan Vita.


" Tentu saja. Kami berbincang bincang tentang rencana operasi plastikmu, sahabatmu harus tahu" Bunda Merry yang menjawab pertanyaan Vita kepada Fitri.

__ADS_1


" Ooh" Vita ber oh ria.


Fitri tersenyum. ia pikir Vita tidak perlu tahu kalau dirinya sudah tahu akan rencananya.


" Bunda benar. Kau harus tahu kalau aku ingin melakukan operasi plastik" tutur Vita.


" Tiga hari lagi kami akan berangkat ke Korea. Apa kau masih bersedia menemani Vita sampai operasi plastiknya selesai di lakukan?" tanya Bunda Merry.


" Aku belum tahu Tante, aku minta isin dulu ke orangtuaku. Kalau mereka setuju aku ikut tapi kalau mereka tidak setuju dengan terpaksa aku harus pulang" jawab Fitri seadanya.


" Baiklah. Minta isinlah ke orangtuamu terlebih dahulu"


Fitri beranjak dari tempat itu kemudian ia menjauh beberapa meter. Ia mengambil ponsel dari saku bajunya lalu menelepon orang tuanya dengan alasan tertentu.


Tiga puluh menit kemudian.


Fitri kembali bergabung bersama Vita dan Bunda Merry dengan sumringah.


" Aku di isinkan Tante" katanya sambil duduk kembali di samping Vita.


Vita senang mendengarnya.


" Baiklah. Itu hal yang bagus, persiapkan diri kalian. Aku akan mengurus semua keperluan kalian" ucap Bunda Merry.


Dua jam di sana.


Sepeninggal Bunda Merry. Tanpa basa basi Fitri menanyakan satu hal kepada Vita.


" Bunda Merry cerita kemarin saat kau sudah tidur. Beliau mengatakan kalau ia ingin kau bersama lagi dengan pria yang kau cintai. Jadi kau bercerita juga tentang Sean?"


Vita mengangguk.


" Dia ibuku sekarang, jadi beliau perlu tahu"


" Lalu bagaimana reaksi ibu angkatmu saat kau mengatakan tentang Sean bahwa kau ingin bersamanya lagi?" tanya Fitri.


" Aku tidak mengatakan kalau aku ingin bersama Sean lagi tapi itu spekulasi Bunda Merry sendiri" jawab Vita.


" Tapi secara tersiratnya begitukan. Kau memang ingin kembali bersamanya"


Vita diam. Ia tidak tahu, apakah akan menjawab pertanyaan Fitri dengan jujur.


" Itu sudah pasti. Kau ingin kembali pada Sean" kata Fitri tanpa menunggu jawaban sahabat alias saudaranya.

__ADS_1


" Kau memang benar. Itulah sebabnya Bunda berusaha aku menjalani operasi plastik" tutur Vita.


" Itu hanya rencana Ibumu tapi keputusan ada di tanganmu. Aku harap kau tidak tertekan dengan apa yang menjadi pilihanmu" ucap Fitri mengingatkan.


" Aku sudah membangun tekadku. Aku yakin dengan hal ini" balas Vita.


" Itu bagus"


Kemudian mereka berdua beranjak dari tempat itu saat matahari mulai meninggi. Sinar matahari mulai menusuk ke dalam kulit, mereka tidak tahan berlama lama di terpa sinar mentari.


Mereka masuk ke dalam rumah lalu naik ke atas di mana kamar Vita berada.


" Aku ingin mengganti semua identitasku saat wajahku berubah" kata Vita.


" Yah. Itu pilihanmu, aku hanya mendukung keputusanmu"


Tiga hari kemudian. Ketiga orang itu berangkat ke Korea, mereka berencana tinggal di negara itu selama tiga Minggu sampai urusan Vita selesai.


Mereka menginap di sebuah hotel bintang lima. Tidak heran bagi orang yang mempunyai ekonomi kelas atas seperti Bunda Merry tinggal di hotel tersebut. Bunda Merry menyewa dua kamar. Satu untuk dirinya dan satu untuk Fitri dan Vita.


Sehari setelah kedatangan mereka bertiga. Malam harinya, mereka di kunjungi oleh seorang wanita muda dengan kulit putih pucat. Wanita bertubuh semampai itu memperkenalkan dirinya sebagai Dokter Mika.


" Perkenalkan dialah Dokter Mika. Ia yang akan bertanggung jawab atas operasi plastikmu" kata Bunda Merry sambil memandang Vita dengan seksama.


Fitri memperhatikan wanita itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Dokter Mika. Gadis itu terkagum kagum dalam hati, masih muda berbakat pula. Ia berprofesi sebagai Dokter, profesi yang paling berkelas. Aku ingin jadi Dokter juga deh, pikir Fitri dalam hati.


Selama beberapa jam Dokter Mika berbincang bincang dengan Bunda Merry dan Vita sedangkan Fitri hanya menyimak dari tadi. Ia merasa tidak punya andil untuk berbicara banyak dalam hal ini.


" Jadi kau sudah siap?" tanya Dokter Mika kemudian.


" Yah. Aku sangat siap" jawab Vita bersemangat. Fitri melirik Vita, Ia berpikir kalau Vita sangat bersemangat mengubah wajahnya karena ingin kembali pada Sean.


" Baik. Operasinya di mulai besok yah" ucap Dokter Mika lalu memberikan selembar surat.


Vita meraih surat tersebut lalu membacanya hanya berisi info penting tentang operasi plastik yang akan di jalaninya.


Bincang bincangnya telah selesai. Kedua sahabat itu masuk ke dalam kamar mereka sedangkan Dokter Mika masih ada di dalam kamar Bunda Merry.


" Anda, wanita yang sangat baik. Bisa menolong anak sepertinya" puji Dokter Mika.


" Aku sangat kasihan. Aku hanya ingin anak anak seperti mereka hidup normal seperti anak anak lainnya bukan untuk di hakimi banyak orang" ucap Bunda Merry dengan naluri seorang ibu.


" Aku sangat salut. Andaikan aku terlahir kembali, aku ingin anda yang melahirkan ku"

__ADS_1


Bunda Merry tertawa.


" Kau menghayal terlalu jauh"


__ADS_2