
Nanda yang bersembunyi di balik pohon melihat pertemuan mereka dengan jantung yang berdebar debar.
" Sean" gumamnya.
Nanda melihat semuanya mulai saat mereka bertemu sampai bertegur sapa dengan cara yang tak biasa.
" Mengapa kau diam. Katanya kau ingin telepon polisi" ucap Vita heran saat melihat Sean memutuskan panggilan teleponnya.
Sean menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Aku tidak bisa" katanya gusar.
Vita melangkah pelan menuju Sean. Gadis itu meraih kedua tangannya, menggesernya dari wajahnya.
" Hatimu terbagi yah. Yang satunya membenciku dan yang lainnya masih mencintaiku. Aku benarkan?" ujar Vita. Sorot matanya menatap dalam.
Sean mengangguk. Ia jatuh terduduk.
" Kau tidak boleh seperti ini. Kau harus memutuskannya"
" Tidak. Aku memang tidak bisa" pria itu terlihat bingung. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
" Sekarang jawab aku. Apa kau membenciku?" Vita merapatkan kedua tangannya di wajah Sean.
Sean diam. Ia malah bertambah bingung.
" Aku tidak tahu. Tapi kalau aku yang tahu kalau kau membunuh ibuku masih saja mencarimu, apa itu benci?" tanyanya.
Vita menurunkan tangannya.
" Tergantung sih. Apa kau mencariku karena kau ingin melampiaskan kemarahanmu padaku atau kau mencariku karena perasaanmu masih sama seperti yang dulu" jawab Vita.
Sean lagi lagi diam. Ia harus bisa membedakan perasaannya saat ini.
Berapa lama kemudian.
" Aku mencarimu karena perasaanku masih sama seperti dulu" jawabnya mengangetkan Vita.
" Tidak, jawabanmu tidak konsisten. Kau menunjukkan gelagat yang bertolak belakang hari ini. Kau bimbang sekarang" Vita tergagap.
" Yah. Kau memang benar. Tapi aku yakin itu, aku memang membencimu tapi rasa cintaku lebih besar dari pada itu" kata Sean pelan.
Suaranya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Vita.
__ADS_1
" Tidak ada gunanya kau mencintaiku kalau setitik pun kau membenciku" ucap Vita.
" Tidak. Aku masih mencintaimu" kata Sean lagi.
" Buang perasaanmu jauh jauh. Sudah ku katakan tadi kalau aku memanh masuk di SMA Rajawali karena dirimu, tapi sekarang tidak lagi karena kau sudah punya Jasmine. Aku tidak mengharapkanmu lagi" terang Vita.
Sean terbawa emosi. Ia tidak suka kata kata Vita.
" Jangan menolakku" katanya lalu menarik tangan Vita kasar.
Vita terlempar ke arah Sean. Pipinya sakit saat wajahnya berbenturan dengan dada pria itu.
" Aku bilang jangan menolakku" bisiknya di telinga Vita.
Gadis itu merinding, dia mantan seorang pembunuh tapi suara Sean barusan membuat bulu kuduknya berdiri.
Satu detik, dua detik....sepuluh detik.
Gadis itu masih mendekatkan pipinya di dada Sean. Kemudian ia menarik kepalanya dari sana, dengan langkah yang cepat ia ingin pergi dari tempat itu.
Hanya dua langkah melangkah, Vita lagi lagi terlempar ke arah Sean. Pria itu menariknya lagi dengan kasar. Tangan kanan Vita mulai sakit akibat tarikan yang kuat.
" Kau menyakitiku" ujarnya saat merasakan tulangnya retak.
Vita tersentak. Badannya gemetaran teringat hari itu saat ia memutuskan rem mobil Wasti Kumala.
" Dan satu hal lagi, aku tidak suka kau mengatakan kalau hanya Bunda Merry dan Fitri yang bisa mengertimu, aku juga bisa" bisik Sean lagi.
Vita diam, suaranya tidak terdengar lagi.
Malam itu, di bawah cahaya bintang. Sang ketua OSIS itu memeluk Bunga alias Vita dengan perasaan yang sejuk, ia membayar rasa rindunya sekarang. Sekian lama tidak bertemu membuatnya rindu setengah mati.
Saat ini, ia belum tahu alasannya. Mengapa gadisnya itu tega membunuh ibu kandungnya, tapi jika Fitri dan Bunda Merry bisa mengerti Vita yang notabenenya sebagai seorang pembunuh pasti ada alasan yang jelas. Vita tidak sepenuhnya di persalahkan di dalam keadaan ini.
Sean memeluk gadis itu dengan erat, merasakan kehangatan tubuh Vita, ia benar benar di liputi perasaan rindu yang mendalam.
" Jangan pergi lagi yah. Aku tetap kau ingin berada di sisiku" katanya lagi.
Vita hanya diam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya saat Sean memeluknya erat dan memberinya kata kata yang sudah lama ia inginkan. Tak sadar, sebuah senyuman kebahagian terukir di wajahnya. Hatinya sangat senang hari ini, sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.
" Kau bisa mendengarku tidak? aku bilang jangan pergi dariku" tanya Sean.
Vita diam. Ia belum menjawab pertanyaan pria itu.
__ADS_1
Sean mulai meninggikan suaranya.
" Kau tuli yah. Kau dengar aku" katanya lagi.
" Uuuhmmm" jawab Vita singkat.
Sean tersenyum.
" Janji yah. Akan ku ingat selalu kata katamu malam ini" balas Sean.
Vita lagi lagi tersenyum. Ia sangat bangga sekarang, pria ini benar benar mencintainya.
Tapi hanya sebentar, guratan kebahagian di gantikan dengan kesedihan. Wajah cantiknya berkerut menunjukkan kalau rasa bahagianya sudah hilang.
" Tidak. Kau tidak bisa bersamaku terus menerus, jalan kita masih panjang Sean. Terlalu banyak tantangan ke depan, hubungan kita tidak akan bertahan lama" katanya dalam hati.
Vita mengangkat tangannya lalu balas memeluk Sean. Ia ingin kasih sayang pria itu lagi sebelum ketakutan yang besar datang kembali.
Di dalam pelukan Sean, Vita mengangkat wajahnya. Bola matanya yang syahdu bertatapan dengan bola mata Sean yang tajam. Vita terdiam beberapa detik menatap mata yang paling di rindukannya itu.
Ia pernah bersama dengan Sean, ia tahu betul segala hal yang ada di dalam pria itu. Dan malam itu mata Sean masih sama dengan yang dulu. Vita sangat yakin kalau Sean tidak bohong atas perkataannya. Pria itu masih mencintainya sama seperti dahulu.
Sean menggerakkan bola matanya, menandakan kalau ia menunggu Vita berbicara.
" Ada apa?" tanyanya.
Vita ragu ragu apa ia akan berbicara.
" Katakan. Aku masih sama seperti dulu, selalu siap mendengar keluhanmu" sambungnya.
" Kalau aku tidak bisa menepati janjiku. Bagaimana?" Vita bertanya hati hati. Ia takut Sean terbawa emosi.
" Kau ingin meninggalkanku" Katanya dingin.
" Tidak tidak. Maksudku bagaimana kalau tidak sengaja aku tidak bisa menepati janjiku" Vita mulai merasakan perubahan hawa di tubuh pria itu.
" Tidak boleh. walau kau sengaja atau tidak sengaja kau harus menepati janjimu padaku" katanya mulai emosi.
" Yah. Aku akan menepatinya" Gadis itu mencairkan suasana saat ia melihat perkataannya tidak memberikan situasi yang menyenangkan bagi Sean.
Vita merapatkan kembali kepalanya ke dada Sean. Pria itu tidak melepas pelukannya sedari tadi.
Kemudian samar samar, Vita teringat Jasmine. Apa Sean sering memeluknya seperti ini atau jangan jangan pria itu mengkhayal kalau dirinya adalah Jasmine. Vita cemburu, hatinya mulai mengatakan kalau ia tidak sudi kalau Jasmine berpacaran dengan Sean. Ah, tidak!! ia membuang pikiran jahatnya jauh jauh, ia harus berubah. Ia bukan Vita yang dulu.
__ADS_1
Sementara di sana, mata Nanda tidak lepas dari adegan mereka berdua. Nanda tersedak air ludahnya sendiri. Andaikan dari awal ia tahu kalau mereka akan melepas rindu satu sama lain, Nanda tidak akan mengikutinya. Ia menyesal mengikuti Sean. Tapi begitulah penyesalan memang selalu dan selalu muncul di belakang, tidak ada yang namanya penyesalan kalau ia tahu cerita akhirnya di awal.