Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Jalan Lain.


__ADS_3

Fitri berlari sekuat tenaga, ia berupaya menyamai langkah Gilang sedangkan bunyi tembakan bersahut sahutan mengikuti mereka.


Dengan tubuh yang bergetar Gilang menggandeng tangan Fitri. Mereka berdua berlari tak tentu arah asalkan mereka berhasil lolos dari kejaran pembunuh.


Hampir satu jam berlari, keduanya bertabrakan dengan dua orang lain yang mereka sangat kenal siapa lagi kalau bukan Joy dan Agra.


" Kalian, mengapa kalian ada di sini?" tanya Gilang dengan dada yang naik turun.


" Kalian juga ngapain di sini?" tanya balik Agra bingung.


" Ikuti aku, kita perlu mencari tempat yang aman" ajak Gilang.


Saat sampai di tempat yang sudah aman. Gilang menceritakan semuanya, kini Agra dan Joy menganga mendengarnya.


" Aku tidak menyangka kalau Santy dalang di balik pembunuhan ini. Anak itu sangat polos" kata Agra.


" Ya. Aku sama denganmu tidak menyangka kalau Santy pelakunya" ujar Gilang.


" Jadi kalian berdua sempat di tangkap oleh Santy tapi berhasil melarikan diri?" tanya Fitri.


" Yah. Tapi kami ada tiga orang" kata Joy menunduk.


" Siapa yang satunya?" tanya Gilang.


" Anna"


" Lalu di mana ia?" tanya Fitri.


Joy dan Agra diam, mereka di terpa rasa bersalah.


" Kami tidak tahu tapi kemungkinan ia sudah mati" ucap Agra menangis.


" Kalian meninggalkannya begitu saja?" tanya Gilang.


Joy mengangguk.


" Kami sangat takut dan lagian Anna menyuruh kami untuk lari" kata Joy ia juga menangis.


" Tidak apa apa. Semua orang yang merasa ketakutan dan kalang kabut pasti mengambil keputusan yang sama" ujar Fitri menenangkan.


" Kita akan kembali ke tenda. Sebentar lagi hujan" kata Gilang sambil berdiri.


" Tapi bagaimana kalau tenda itu sudah di ketahui oleh Bella?" tanya Fitri.


" Kita cek saja yah"


Keempat anak itu berjalan menuju tenda mereka. Tak henti hentinya mereka melihat sana sini jangan sampai ada musuh yang mengintai mereka.


Berapa lama berjalan akhirnya mereka sampai. Gilang memperhatikan tenda itu dari balik pohon, saat sadar kalau di sana aman ia mengajak Joy dan Agra ke sana.


" Jadi di sini tempat persembunyian kalian?" tanya Joy.


" Yah. Aku yakin di sini masih aman,semoga tenda ini tidak lihat oleh Santy dan ayahnya" ucap Gilang.

__ADS_1


Ponsel Gilang bergetar, nama Dimas terpampang di sana.


Pria itu hanya menatap layar ponselnya, ia ragu menerima panggilan tersebut. Apa yang harus ia katakan kalau Denal sudah tiada.


Tak di gubris oleh Gilang, Fitri segera mengambil ponsel itu dari tangan rekannya.


" Halo" sapa Fitri.


" Bagaimana kabar kalian, apa kalian baik baik saja?" tanya Dimas dengan suara yang tegas.


Fitri diam, ia juga ragu menjawab pertanyaan Dimas.


" Halo, apa kalian bisa mendengar suaraku"


" Maaf pak" ucap Gadis itu tergagap.


" Sebenarnya kondisi kami tidak baik baik saja. Pak Denal sudah mati, ia di tembak oleh Santy dan kami masih ada di tenda bersama dengan dua calon korban Santy yang berhasil lolos" jawab Fitri bergetar. Matanya mulai panas, butiran kristal terjatuh dari pelupuk matanya.


" Tetap waspada dan berhati hati. Kami akan menjemput kalian" ujar Dimas. Lalu panggilan telepon terputus.


" Apa yang ia katakan?" tanya Gilang.


" Pak Dimas menyuruh kita untuk tetap waspada" jawab Fitri.


Gadis itu memberikan ponsel ke pemiliknya. Ia masuk ke dalam tenda dengan raut wajah yang penuh kecemasan.


Sesampainya di dalam tenda, sahabat Vita yang sangat setia itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.


" Apa keputusanku sudah benar datang ke tempat ini yah?" tanyanya pada diri sendiri. Ia bingung sekarang, apa dia masih bisa bertemu kedua orang tuanya.


" Yah semuanya akan baik baik saja" katanya meyakinkan.


***


Dimas terkejut bukan main saat ia mendengar kabar kalau Denal sudah tiada. Ia tidak menyangka kalau Denal akan mati secepat ini. Pak polisi itu mengangkat cangkirnya lalu meneguk kopi hitam untuk menenangkan diri.


" Bagaimana kabar mereka?" tanya Shanaya. Wanita berambut Bob itu berdebar debar menunggu penjelasan Dimas, dari raut wajah pak polisi itu ia yakin kalau hal tidak baik sudah terjadi.


Dimas tidak langsun menjawab pertanyaan Shanaya. Ia hanya sibuk meminum kopinya.


" Bagaimana kabar mereka?" Nanda juga bertanya.


" Denal sudah mati, Irabella menembaknya" jawab Dimas pada akhirnya.


Hal itu sontak membuat keempat rekannya yang ada di situ terkejut.


" Lalu bagaimana keadaan Gilang dan Fitri?" tanya Sean.


" Mereka berdua tetap ada di perkemahan bersama dengan dua calon korban Bella yang berhasil lolos" jelas Dimas.


" Siapa calon korban itu?"


" Aku tidak tahu. Aku tidak sempat bertanya" ujar Dimas.

__ADS_1


" Apa itu Agra dan Melly?" Nanda bertanya tanya.


" Entahlah"


" Kita harus menjemput mereka. Kita tidak boleh membiarkannya mati begitu saja" kata Dimas.


" Baiklah" ujar Shanaya bersemangat. Dari perkataan Dimas tadi kalau Irabella alias Santy sudah ada di pulau ini, wanita itu semakin bersemangat ia tidak takut sama sekali akan kematian.


" Apa ada jalan lain keluar dari sini?" tanya Dimas pada Vita.


" Yah. Tapi jalan lain untuk masuk ke sini di jaga oleh tiga orang kepercayaan ayahku" jawab Vita.


" Apa tidak ada yang lainnya?" Dimas lagi lagi bertanya.


" Tidak ada cuma itu. Kalau kita memilih jalan lain kita harus memanjat pegunungan karst dan itu tidak mungkin, kita akan mati di hajar oleh alam yang ada di sini" jawab Vita.


" Rumah dan tempat ini di bentengi oleh pegunungan karst. Hanya ada tuas yang dapat membawa kita ke atas sana tapi jalan itu di jaga oleh pengawal ayah" sambungnya.


" Lalu kalian ke sini lewat mana?" tanya Vita.


" Kami lewat jalur sungai yang ada di dalam gua" jawab Sean.


" Mengapa kita tidak lewat sana saja" kata Vita.


" Jalur itu membutuhkan waktu yang lama karena sungainya berkelok kelok" balas Shanaya.


" Kita akan melewati ketiga penjaga tuan William" kata Dimas mantap.


" Yah. Aku sangat bersemangat, aku akan membunuh mereka" ujar Shanaya.


" Kita tidak langsun membunuhnya tapi mencoba mengalihkan perhatiannya. Kalau pengalian gagal barulah kita akan membunuh mereka" ralat Dimas.


" Kita harus membunuhnya. Cepat atau lambat mereka tetap akan di bunuh" ujar Shanaya.


" Terserah kau tapi jangan sampai keputusanmu membuat rekan rekanmu dalam bahaya" peringat Dimas. Wanita di sampingnya ini memang memiliki keinginan yang menggebu gebu.


" Tidak akan"


****


Irabella mendekat ke arah mulut gua. Ia terkejut melihat hewan peliharaan ibunya sudah mati.


" Tidak di ragukan lagi. Mereka pasti pelakunya" ujar Irabella. Matanya menunjukkan kemarahan yang amat sangat.


" Tunggu saja kalian"


Irabella masuk ke dalam gua. Ia tertawa sinis saat sadar musuh musuhnya melewati gua ini.


" Jadi mereka masuk ke dalam sana. Aku yakin kalau mereka sudah sampai di rumah. Keputusan yang sangat tepat"


Tapi sesaat kemudian Irabella mengubah rencananya.


" Tidak mungkin mereka akan pulang melewati jalan ini. Mereka bukan orang bodoh, mereka akan segera tahu kalau ada jalan lain yang lebih memudahkan"

__ADS_1


" Sayangku Sean. Apa kau ada di sana"


__ADS_2