
Di dalam kamarnya, Sean belum tidur. Pria tampan itu sedang membolak balikkan handphonenya. Ia ragu apakah ia akan mengirim pesan atau menelepon Jasmine, jangan sampai gadisnya itu sudah tidur.
" telepon tidak ya" gumamnya seorang diri.
Setelah berpikir lama, akhirnya Sean mengurungkan niat untuk menghubungi Jasmine.
Pria itu malah membuka galeri fotonya yang di penuhi oleh potret dirinya dan Jasmine. Sean tertawa dalam hati. Belum stengah tahun ia pacaran namun gadis cantik itu sudah benar benar memenuhi rongga hatinya.
" Apa aku sudah bucin sekarang?. Bodoh amat dengan kata bucin, entah kenapa aku benar benar mencintai gadis itu? ini perasaan sayang yang mendalam yang belum pernah ku rasakan" berulang kali Sean tertawa dalam hati.
Pria itu mengusap potret dirinya dan Jasmine yang ia ambil di taman sekolah. Jasmine benar benar cantik, tidak salah lagi gadis itu yang memenangkan rekor sebagai gadis tercantik di sekolahnya tahun ini. Dia benar benar princess atau Mahadewi.
Sean meletakkan handphonenya di atas meja. Pria itu menatap langit langit kamarnya, wajah Jasmine belum hilang dari otaknya.
" Aku sangat ingin mengenal orang tuanya. Aku janji tidak akan pernah menyakiti gadis itu, aku janji tidak akan pernah melepaskan gadis itu. Aku ingin mengikatnya" Sean terbahak apa yang barusan di katakannya di hatinya sekarang. Dia belum dewasa, dia masih bau kencur, belum bisa mencari uang sendiri tapi kenapa ia sudah memikirkan apa yang sudah di pikirkan orang dewasa. Apa hidupnya sudah mapan secara mandiri sampai sampai ia ingin mengikat anak gadis orang. Bisa bisa ia di tendang oleh mertuanya dari dalam rumah.
Sean menarik selimut lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut. Sial ia benar benar sudah bucin.
Beberapa detik kemudian, Sean melompat dari kasur. Entah kenapa ia sangat ingin minum yang hangat hangat, ia segera membuat teh hangat untuk menghilangkan rasa dinginnya.
Hujan belum reda, entah kenapa malam ini langit sangat marah. Sean berdiri di samping meja sambil mengaduk aduk teh hangatnya. bunyi riuh air jatuh dari langit benar benar mengganggu pendengarannya. Rupanya hujan semakin deras, untung ia mengurungkan niatnya menelepon Jasmine saat ini. Jika tidak gendang telinganya bisa pecah karena mendengar suara Jasmine dan juga suara hujan.
Ia teringat Nanda, kemana perginya pria itu?. Kenapa di dalam situasi mengerjakan tugas sekolah pria itu malah menghilang?padahal otak encer sahabatnya itu sangatlah di andalkan. Ia dan Gilang tidak perlu perlu menguras otak kalau Nanda ada bersamanya.
" Ah bodoh amat. Pria itu sangatlah pintar, ia pasti bisa menjaga diri"
__ADS_1
Sean menyeruput teh hangatnya, rasa dinginnya perlahan lahan menghilang.
"Ah teh hangat ini sangat membantu"
Lalu tidak dalam hitungan menit, teh hangatnya sudah habis.
" Nikmat"
Sean kembali berjalan menuju kasurnya lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Belum sempat ia menarik selimutnya, ia teringat dua orang gadis yang berlari lari bergandengan tangan dalam keadaan basah kuyup yang di lihatnya tadi. Gadis itu?, wajahnya tidak asing tapi ia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena hujan mengaburkan penglihatannya. Sean hanya memperhatikan dengan jelas siluet tubuhnya.
" Kenapa mereka hujan hujan?"
Di tempat lain, penjaga asrama putri bu' Vany sedang duduk termenung di dalam kamarnya. Ia sudah capek sekarang, sudah bukan waktunya ia tugas di sekolah ini. Seharusnya ia sudah duduk senang senang di rumahnya saat ini. Kedua anaknya sudah sukses, mengapa ia harus capek capek bekerja di sekolah ini.
Wanita itu teringat kenang kenangan indah yang sudah ia lalui di sekolah ini selama berpuluh puluh tahun. Kisah suka dan duka. Bu' Vany adalah saksi suka duka, jatuh bangun sekolah ini.
Besok wanita itu berencana menemui pengganti kepala sekolah sementara, ia akan mengundurkan diri dari tugasnya sudah ada wanita mudah dan mumpuni yang akan menggantikannya.
Entah kenapa, ia teringat kedua anaknya yang sudah dewasa. Anak anaknya yang ia besarkan tanpa kehadiran dan kasih sayang seorang ayah. Mersy dan Marsha, dua anak perempuannya yang sudah sukses berkat kerja kerasnya dan berkat mengabdi pada sekolah ini. Pekerjaannya sebagai kepala asrama putrilah yang membuatnya bisa menghidupkan dan menyekolahkan anaknya.
Mersy yang kini sudah menjadi dokter bedah paling berbakat di rumah sakit terkemuka di China dan Marsha yang kini bekerja sebagai pengawas Bank dunia di Amerika. Benar benar sebuah kerja keras yang menghasilkan kesuksesan. Wanita itu tersenyum, bangga kepada dua anaknya.
Tapi yang paling di sesalkan bu' Vany sampai sekarang ini karena dua anaknya belum ingin bersuami. Padahal ia sudah sangat ingin menggendong seorang cucu. Ia sering kali mendesak anaknya termasuk anak tertuanya Mersy untuk segera menikah tapi di tepisnya dengan alasan belum siap dan sebagainya. Pernah suatu hari ia menjodokan Mersy dengan kerabat jauhnya tapi keputusannya itu malah membuat putri sulungnya marah. Mersy berbulan bulan tidak mau di hubungi oleh ibunya untunglah anak bungsunya Marsha berhasil membuat kakaknya berbaikan dengan ibunya. Kejadian itulah yang membuat bu' Vany tidak berani menjodohkan anak anaknya lagi.
" Ah biarkan saja. Aku tidak boleh memaksa mereka, mungkin belum waktunya aku memiliki cucu. Aku sebaiknya berhenti bekerja sudah waktunya aku menikmati kerja kerasku selama ini lewat anak anakku tanpa harus bekerja lagi"
__ADS_1
Bu' Vany menyusun kata kata apa yang harus ia keluarkan besok kepada kepala sekolah pengganti sementara.
Wanita itu sepertinya memiliki beban yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata kata tapi apa yah ( author juga tidak tahu😂 tapi bohong). Beberapa hari ini bu' Vany sepertinya tidak bersemangat, bola matanya selalu terlihat menyimpan sesuatu, beban yang besar. Entahlah sebesar apa? tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri. Tapi mungkin ada seseorang yang tahu setidaknya ada satu orang saja yang mengerti beban penjaga asrama putri itu.
Entah bisikan dari mana, bu' Vany menyambar handphonenya lalu mengirimkan pesan tengah malam kepada kedua anaknya .
" Ibu sayang kamu, Ibu sangat rindu untuk bertemu. Pulanglah ke Indonesia jika ada waktu luang. Kita menghabiskan waktu bersama"
Di akhir kalimat, Wanita menyempurnakan kalimat sayangnya untuk anak anaknya dengan emoticon ❤️. Ia sangat menyayangi anak anaknya.
Dan juga entah bisikan dari mana, bu' Vany mengambil secarik kertas dan mengambil bolpoint lalu menggores kata demi kata di atas kertas berwarna putih.
Tapi apa ini? kenapa ada tinta berwarna merah di atas kertas yang ia tulis. Bukankah bolpointnya berwarna hitam.
Tidak mungkin!!!
"Anak anakku. Maafkan ibu, ibu tidak bisa bertemu dengan kalian"
Halo, Halooo, Halooo
Buat pembaca Teror di Sekolah. Author minta maaf yang sebesar besarnya karena Teror di sekolah baru update setelah sekian lama, sangat sangat lama. Itu di karenakan author punya anak baby dan juga author sedang menyelesaikan tugas akhir. Tapi author berusaha kok untuk selalu menghadirkan cerita yang seru dan mendebarkan bagi para pembaca yang tersayang.
Berikan like, comment, vote
Dukungan pembaca sangat berharga❤️❤️❤️
__ADS_1