
Flashback
" Akhirnya kau bekerjasama. Terimah kasih yah" Shanaya tersenyum.
Fitri mengumpat dalam hati melihat ekspresi Shanaya.
" Bagaimana ia bisa tersenyum padaku setelah ia lima kali menamparku. Ciiih" Fitri membuang mukanya.
Shanaya lagi lagi tersenyum.
" Jangan marah!!! Aku ini orang baik. Aku tidak jahat padamu kok, ini semua aku lakukan untuk kebaikan semua orang" kata Shanaya enteng.
" Sekarang buka ikatannya" sambungnya.
Dimas berdiri dari kursinya kemudian berjalan ke arah Fitri. Hanya beberapa detik ikatan yang membelenggung Fitri terlepas dari tubuhnya.
Gadis berambut merah itu meregangkan otot ototnya. Ia hampir patah tulang.
" Di sebelah dapur ada toilet. Dari tadi kau pasti menahan kencingmu yah atau jangan jangan kau sudah kencing celana. Hahahahahaha" Shanaya tertawa terbahak bahak.
Fitri emosi tapi ia harus menahan emosinya. Wanita di depannya ini bukanlah wanita yang tepat untuk tempat pelampiasan kemarahan. Bisa saja ia mendapatkan tamparan lagi.
Dengan muka yang merah padam, Fitri keluar dari sana menuju toilet. Kantung kemihnya sakit, dari tadi ia menahan kencing.
" Di luar sepi. Jangan berpikir untuk kabur" teriak Shanaya saat Fitri sudah keluar ruangan.
" Siapa juga yang ingin kabur" bentak Fitri dalam hati.
Di ruangan lain di mana Denal berada. Nanda melirik Sean, dari tadi ia selalu bertanya tanya apa yang akan di lakukan Sean setelah ini. Sejak Fitri mulai bercerita tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ketua OSIS itu dan saat Fitri membongkar pemyamaran Vita, Sean hanya diam. Tidak ada gerak gerik aneh dan ekspresi aneh yang ia perlihatkan.
Bola mata Nanda terus memperhatikan Sean. Menunggu hal apa yang akan di lakukan pria di sampingnya itu.
" Sekarang apa yang harus di lakukan?" Gilang memecah keheningan.
__ADS_1
" Kita keluar dari sini. Kita tunggu perintah dari Dimas" ujar Denal kemudian beranjak dari tempat itu.
Keempat pria itu keluar. Di ruang tengah sudah ada Shanaya dan Dimas, tak lama Fitri juga datang sudah selesai dengan aktivitasnya.
Dimas melirik arlojinya.
" Sekarang jam tiga subuh. Kita istirahat, besok pagi pagi kita ke rumah Bunda Merry"
Pemeriksaannya hanya dua jam. Tapi waktu itu sudah cukup membuat Fitri tak berdaya. Waktu dua jam terasa sepuluh jam, ia hampir mati grogi di dalam sana.
" Di sini semua kamar bisa terpakai. Kalian bebas memilih kamar yang mana" kata Shanaya.
" Dan kau, tidurlah bersamaku" sambungnya lalu menarik tarik tangan Fitri.
Denal dan Dimas satu kamar, Shanaya dan Fitri satu kamar sedangkan Nanda, Gilang dan Sean satu kamar. Jadi di rumah itu total tiga kamar yang terpakai, kamar yang mereka pakai semuanya berdekatan.
Di dalam kamar yang di tempati oleh ketiga anggota OSIS itu hanya kesunyian yang ada. Tidak ada yang berani membuka mulutnya, entah kenapa mulut mereka masing masing sepertinya terkunci oleh apa dan siapa mereka tidak mengerti.
Sedari tadi diam, tapi pikiran Nanda tidak bisa lepas dari Sean. Ia terlalu penasaran bagaimana reaksi Sean saat ini tapi sayangnya mulutnya terkatup rapat untuk bertanya. Lain halnya dengan Gilang, walaupun ia juga sama seperti Nanda tapi rasa kantuk sudah mengalahkan semuanya, hanya beberapa menit pria itu tertidur.
Lalu bagaimana dengan Sean. Pria itu hanya duduk di atas sofa, ekspresi wajahnya tidak berubah.
Beberapa menit kemudian, dengan mata yang tertutup Nanda bisa tahu kalau Sean beranjak dari duduknya. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi lalu bunyi air yang keluar dari kran terdengar.
" Apa yang di lakukannya di sana ya?" Nanda bertanya tanya.
Di dalam kamar mandi Sean dengan sengaja membuka kran air. Wajahnya datar, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan gerak geriknya yang aneh aneh karena ia tahu mata Nanda sama seperti mata elang. Mampu memperhatikan objek dari jauh. Malam ini ia punya rencana, hal ini sudah muncul di otaknya sejak ia tahu penyamaran Vita.
Sean tertunduk. Kedua tangannya menopang di atas westafel.
Kalau Nanda berpikir ia baik baik saja itu artinya ia berhasil mengelabui temannya itu. Ia sedang tidak baik baik, hatinya terlalu rapuh untuk bertemu dengan Vita. Tapi ia harus kuat, ia tidak boleh menjadi pria yang cengeng. Agar ia tidak menangis saat menemui Vita, terlebih dahulu ia menumpahkan semua air matanya di dalam kamar mandi. Sean menangis sejadi jadinya.
Nanda tersentak, walau bunyi air jelas terdengar tapi samar samar ia mendengar Sean menangis.
__ADS_1
Beberapa menit di sana, Sean mencuci mukanya. Matanya kering, ia sudah mengeluarkan air matanya tapi air mata tidak bisa keluar dengan sendirinya kan? pasti ada penyebabnya entah itu senang atau sedih.
Dengan diam diam, Sean melangkah pelan keluar dari rumah itu namun Nanda yang jenius mengikutinya juga secara diam diam.
Sean menyusuri jalan raya yang sepi. Ia melangkah dengan cepat berharap bisa bertemu Vita. Sesekali ia mendongak ke atas langit mencari sinar bintang yang paling terang. Kata hatinya mengatakan kalau ia bisa bertemu dengan Vita kalau ia mengikuti bintang tersebut.
Sean berlari saat ia mendapatkannya, di sana ia melihat salah satu bintang yang ukurannya lebih besar dan sinarnya lebih terang dari pada yang lain. Ia berlari dengan semangat.
Berlari dan terus berlari, bintang itu menuntunnya ke atas bukit. Sean menepuk tangannya berhasil saat ia teringat dulu ia sering mengejar Vita ke tempat yang lebih tinggi hanya untuk melihat bintang.
Ia memelankan langkahnya saat ia sudah ada di atas sana. Mencari cari sosok yang datang dari masa lalunya.
Berapa lama mencari akhirnya ia mendapatkannya. Di sana ia melihat seorang gadis yang memakai baju panjang berwarna putih berdiri membelakanginya sambil mendongak ke atas langit.
Sean mengenalnya, ia sangat mengenalnya karena mereka sering bertemu di banyak kesempatan. Sahabat serta teman sekamar pacarnya.
BUNGA
Adik kelasnya yang akrab dengannya.
Angin malam bertiup bersamaan dengan tubuhnya yang gemetaran. Sean menepuk nepuk lengannya menenangkan diri, ia tidak boleh grogi. Ia harus kuat.
Andaikan malam ini, ia bertemu Bunga hanya sebagai senior -junior tidak ada hal yang berarti tapi sayangnya jam ini, menit ini, detik ini ia menemui orang lain di dalam diri Bunga. Gadis yang paling di sayanginya, gadis yang bertahun tahun bercokol di otaknya.
Novita Amelia.
Perasaan rindu yang mendalam merasuk ke dalam kalbunya. Ia sangat ingin berlari memeluk gadis itu menanyakan kabarnya, apa kau juga rindu denganku dan lain sebagainya layaknya seorang anak yang menunggu kepulangan ibunya dari perantauan.
Tapi Sean tidak memiliki keberanian untuk itu. Ia baru memanggil Vita saat bayangan ibunya muncul di kepalanya.
" Anakku"
Perasaan rindu yang mendalam di gantikan dengan kebencian yang amat sangat. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, keringat membanjiri tubuhnya, matanya membulat, giginya gemeletuk menandakan ia sedang di liputi kemarahan. Sehingga reflek sebuah kata serta nama meluncur dari mulutnya.
__ADS_1
" Vita"