Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Lari dari Rumah Keluarga Bella.


__ADS_3

Bunda Merry pernah mendengar kabar kehilangan Mika tapi ia terkejut mengetahui kalau Dokter yang melakukan operasi terhadap anaknya itu masih hidup.


" Sebuah keajaiban" gumamnya.


Bunda Merry mencoba menggedor gedor pintu dengan pelan tapi sayangnya tak di dengar oleh dokter tersebut.


Bunda Merry melihat sekitarnya mencoba mencari benda yang bisa membuka pintu.


" Shireen" gumamnya. Bunda Merry mencari tempat persembunyian saat melihat adik iparnya menuju ke arahnya.


Bunda Merry bersembunyi di balik lemari. Ia melihat Nyonya Shiren mendekati pintu kamar Dokter Mika dengan bingung.


" Suara apa itu?" katanya.


Nyonya Shiren celinguk sana sini lalu mengetok pintu kamar.


" Mika mika mika" panggilnya.


Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka.


" Ada apa nyonya?" tanya Dokter Mika.


" Apa yang bunyi barusan?"


" Aku tidak tahu? aku baru bangun saat mendengar suara nyonya memanggilku" jawab dokter Mika.


" Oh ya. Apa kau sudah makan?" tanya Nyonya Shiren lagi.


Dokter Mika menggeleng.


" Di dapur ada makanan. Makanlah aku tidak ingin mengurusmu jika kau sakit" ucapnya lalu berlalu pergi.


" Terimah kasih nyonya"


Dengan memegang perutnya dokter Mika turun ke bawah lantai satu.


" Jadi di sana dapurnya" gumam Bunda Merry.


Saat melihat Nyonya Shireen beranjak dari tempat itu. Bunda Merry segera turun ke bawah lantai satu mengikuti Dokter Mika.


Di dapur.


" Haaahhh" kata Dokter Mika kaget saat merasakan pundaknya di pegang oleh seseorang.


" Suuuuuttt. Jangan ribut" kata Bunda Merry.


Melihat siapa yang datang dokter Mika langsun memeluk Bunda Merry.


" Bunda"


" Jangan ribut nanti kita ketahuan" kata Bunda Merry.


" Mengapa Bunda ada di sini?" tanya dokter Mika.

__ADS_1


" Jangan banyak tanya, nanti ku jawab pertanyaanmu tapi sebelum itu carikan aku obat luka, kapas dan plester" pinta Bunda Merry.


" Buat apa?"


" Jangan banyak tanya turuti saja perkataanku"


" Baik"


" Aku menunggumu di sini"


Dokter Mika segera kembali ke lantai dua untuk mencari barang yang di maksud oleh Bunda Merry.


" Cepat selesai kau makan" kata Nyonya Shireen tiba tiba.


" Haaaahhh" lagi lagi dokter Mika terkejut. Ia tidak menyangka kalau wanita yang sudah melahirkan Bella itu sedang duduk di atas sofa.


" Belum selesai Nyonya, aku hanya kembali mengambil botol air minumku" ujar Dokter Mika. Ia takut wanita itu menaruh curiga padanya.


Tak membalas perkataan dokter Mika, Nyonya Shiren hanya sibuk mengotak atik ponselnya.


Dokter Mika segera masuk ke dalam kamarnya. Ia hampir mati berdiri mendengar suara wanita itu menyapanya, mungkin karena setiap hari di rundung ketakutan jadi dia gampang kaget.


Dokter Mika menghela nafasnya saat tiba di dalam kamar. Ia bersyukur Nyonya Shireen tidak mencurigainya.


Wanita itu segera mendekati laci meja di mana terdapat obat luka, kapas dan plester. Benda benda ini ia pernah gunakan saat mengobati kaki William yang terluka, sisanya ia bawa masuk ke dalam kamarnya.


Dokter Mika mengintip dari balik celah kunci. Ibu Bella itu masih duduk di sana, dokter Mika harus pandai pandai mencari alasan jika wanita itu menanyakan sesuatu.


" Dimana botol minummu?" tanya Nyonya Shireen kemudian. Ia bingung katanya dokter Mika kembali ke kamarnya karena ingin mengambil botol air minum tapi ternyata ia tidak membawa apa apa.


" Aku lupa simpan di mana nyonya, aku sudah mencarinya di kamarku tapi tidak ada mungkin ada di bawah dapur tapi aku tidak melihatnya" alasan dokter Mika.


Tak menggubris perkataan dokter muda itu, nyonya Shireen kembali ke aktivitasnya.


Dokter Mika menghela nafas diam diam, untung wanita itu tidak mencurigainya.


Dengan pelan tapi cepat dokter Mika segera turun ke bawah lantai satu di mana Bunda Merry berada.


" Kau mendapatkannya?" tanya Bunda Merry.


" Iya Bunda. Ini!!!" jawan dokter Mika sambil mengambil benda benda itu dari sakunya.


" Simpan saja di sakumu. Kita harus cepat keluar dari sini" ucap Bunda Merry.


Dengan mengendap endap sambil melihat sana sini kedua wanita itu keluar dari rumah tersebut.


" Tutup pintunya"


Dengan cepat dokter Mika segera menutup pintu rumah itu.


" Ikut aku"


Dengan berlari mereka menuju dimana Dimas berada.

__ADS_1


" Bunda, bawa sebagian roti ini terasa berat di kantongku" kata Dokter Mika. Tadi sempat ia mengambil beberapa bungkusan roti di lemari makan.


" Baiklah" Bunda Merry segera mengambil sebagian roti yang di bawa oleh dokter Mika.


***


Nyonya Shiren masih ada di ruang keluarga lantai dua rumahnya saat Bunda Merry dan Dokter Mika sudah sampai di tempat Dimas tak berdaya.


" Game over. Sialan" umpatnya saat berkali kali ia main game dan berkali kali ia juga kalah.


Nyonya Shireen meregangkan otot ototnya. Tulang belakangnya sakit karena duduk terlalu lama.


Wanita itu turun dari sofa ingin beranjak ke kamarnya tapi langkahnya langsun terhenti saat sadar dokter Mika belum kembali dari bawah.


" Kenapa lama sekali" gumamnya.


Nyonya Shireen segera turun dari atas menuju dapur tapi ia tidak melihat siapa siapa.


" Kemana ia?"


Nyonya Shireen masuk ke dalam toilet tapi dokter Mika tidak ada di sana. Wanita itu kemudian memperhatikan peralatan yang ada di dapur tapi ia tidak melihat tanda tanda sudah terpakai. Lalu ia membuka lemari dan ia melihat semua rotinya hilang.


" Apa dia kabur?" kata dokter Mika.


" Sialan" dengan kasar ia membanting pintu lemarinya.


" Bodoh amat" kata Nyonya Shireen kemudian. Tak peduli ia segera naik ke atas lantai dua untuk tidur.


" Kalau Bella bertanya aku akan beralasan saja. Tapi Mika tidak boleh kabur dari sini bisa rumit masalahnya" kemudian nyonya Shireen mengambil ponselnya lalu ia mengirim pesan kepada penjaganya untuk mencari keberadaan Mika.


" Dokter Mika kabur dari rumah. Kalau kalian menemukannya bunuh saja ia" begitulah pesan yang di tulis nyonya Shireen. Walaupun Dokter Mika berhasil kabur dari rumah ini, tapi ia tidak yakin Mika bisa kabur keluar dari pulau ini. Keluar dari rumah ini itu artinya alam bisa membunuhnya di luar sana.


****


" Kau masih bertahan" kata Bunda Merry saat ia mendapati Dimas tergolek tak berdaya.


" Yah" balas Dimas singkat.


" Tahan sebentar wanita ini akan mengobatimu"


" Siapa dia?"


" Dia dokter bedah Vita, ia di culik oleh Bella tapi aku berhasil membawanya kabur dari sana" jawab Bunda Merry.


" Ooohhh. Dia dokter Mika yah"


Dengan terlatih dokter Mika segera mengobati luka berat di tangan Dimas dan beberapa luka luka lain di tubuhnya. Pengobatannya tidak banyak membantu tapi setidaknya rasa sakitnya perlahan lahan hilang.


" Makan ini" kata Bunda Merry lalu menyodorkan tiga bungkus roti ke Dimas.


" Terimah kasih. Dari tadi aku tidak makan" ucapnya lalu melahap roti itu hanya sekejap roti itu habis tak bersisa. Dimas masih lapar tapi lumayan rasa laparnya sudah berkurang.


" Istirahat sebentar. Setelah ini kita akan menyusun rencana" Kata Bunda Merry.

__ADS_1


__ADS_2