
Jam 02.15
Hendrik bangun dari tidurnya,ia sibuk mengaggaruk garuk pahanya. Pria satu ini alergi dingin, tubuhnya akan kemerah merahan tidak kuat menahan cuaca dingin.
"Il, il tolong aku, coba ambilkan salep di atas meja" teriak Hendrik dari atas tempat tidurnya.
Tidak ada jawaban.
" Il, ilan. Kamu dengar tidak?" ulangnya.
Masih sama tidak ada jawaban.
Hendrik menatap ke bawah, di mana teman sekamarnya tidur.
" Ke mana dia?" gumamnya.
Pria itu turun dari ranjangnya, ia melangkah gontai menuju meja di mana ia biasa menyimpan obat anti dinginnya. Kemudian ia melihat jam dinding.
" Ke mana anak itu jam segini?" katanya lagi.
Ia melihat buku buku dan dua buah handphone milik ilan berserakan di atas meja.
" Rupanya ia belum tidur semalaman. Tapi kemana ia?" Hendrik celingak celinguk.
Pria itu memantik sebatang rokok, lalu mengisapnya dalam dalam.
Beberapa menit kemudian.
Hendrik membuang rokoknya. lalu berjalan menuju meja belajar ilan, ada rasa penasaran di dalam dirinya untuk memeriksa handphone milik ilan.
" Hihihi, siapa tahu ada yang lucu lucu" katanya dengan senyum jahil.
Beberapa lama berkutat dengan dua ponsel ilan namun sayangnya ia sama sekali tidak bisa membuka kuncinya.
" Sial" umpatnya. " Aku pikir, aku akan melihat banyak yang lucu lucu di sini mengingat Ilan penggemar majalah playboy".
Hendrik meletakkan kembali ponsel teman sekamarnya itu di atas meja.
Entah mendapat bisikan darimana dengan tiba tiba pria itu membuka pintu kamar.
" Apa ini?" Hendrik memperhatikan dengan seksama cairan aneh yang ada di lantai lorong asrama. Kemudian menyentuh dengan jari telunjuknya.
" Amis" gumamnya.
Tidak peduli, pria kembali masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu.
Hendrik menguap. Pria itu kembali di terpa rasa kantuk, dengan pelan ia naik ke atas ranjang.
Hanya lima menit, ia berbaring. Ia tersenyum mengingat coletehan Ilan kemarin. Kata teman sekamarnya itu, kalau ia mendapatkan pesan dari penggemar rahasianya. Sang penggemar mengajak Ilan bertemu karena ia sangat tertarik padanya dan juga sang penggemar memiliki satu permintaan yaitu sang penggemar rela melakukan apa saja yang di minta oleh idolanya. Hendrik terbahak seorang diri kala ia mengingat permintaan konyol apa yang di bisikkannya pada Ilan kemarin.
" Hahahaha" bahaknya.
" Apa maksudnya ini tadi aku sangat mengantuk tapi sekarang aku tidak mengantuk lagi mengingat kata kata Ilan kemarin"
__ADS_1
Hendrik berguling sana sini. Mencari cara agar ia bisa tidur kembali.
" Aish. Menyebalkan"
Diam, Hening.
" Tidak mungkin" Hendrik terbangun dari tidurnya kala otaknya bekerja dengan baik.
Penggemar rahasia?? jangan jangan ini jebakan. Banyak kemungkinan yang muncul di otaknya kenapa teman sekamarnya itu dapat menjadi incaran pembunuhan. Yang paling memungkinkan adalah karena Ilan ada di dalam kelas 10 A. Sudah menjadi rahasia umum kalau korban korban yang berjatuhan kecuali para polisi, semuanya siswa kelas 10 A.
Hendrik menelan liurnya takut.
Bau amis yang ia temukan di depan kamarnya itu adalah bau amis darah. Sial, kenapa ia terlambat menyadarinya.
Tok...tok...tok...
Hendrik tersentak, saat terdengar suara ketukan pintu. Pria itu memeluk dirinya sendiri, ia tidak berani angkat suara.
" Hen, hen. Tolong bukakan aku pintu"
Hendrik memasangkan pendengarannya dengan baik. Ia mendengar suara Ilan tapi bisa saja itu bukan suara Ilan mengingat ia saja kecolongan karena di liputi rasa takut.
Setelah ia benar benar yakin, kalau itu suara Ilan. Dengan hati hati dan waspada, ia turun dari ranjang menuju pintu.
Cekleek...
" Kenapa kau lama sekali keparat?" Ilan menoyor kepala Hendrik dengan keras.
" Auuhh"
" Kau pulang darimana? kenapa kau keluar jam segini?" tanya Hendrik.
" Apa kau sudah lupa, apa yang ku ceritakan kemarin kalau aku akan pergi bertemu dengan penggemar rahasiaku" jawabnya.
" Jadi kau sudah bertemu dengannya?"
" Tentu saja"
" Apa yang kalian lakukan?, di mana kalian bertemu? dan siapa orangnya?" cecarnya.
" Rahasia" tutur Ilan sambil mengedipkan salah satu matanya.
Hendrik memperhatikan Ilan dengan seksama. Mulai dari rambut sampai ujung kaki, melihat dari atas ke bawah kemudian melihat dari bawah ke atas. Pria itu mengulangnya berkali kali, Hendrik baru berhenti saat Ilan kembali menoyor kepalanya.
" Auuhh, kau ini kenapa? sudah dua kali kau menoyor kepalaku. Sakit tauk" omelnya.
" Seharusnya aku yang bertanya, kau ini kenapa? mengapa kau melihatku dengan tatapan busukmu itu" Balan Ilan.
" Lupakan. Aku ingin tidur" kata Hendrik malas. Kemudian melangkah menuju ranjangnya untuk tidur.
Ilan geleng geleng kepala. Kenapa bisa pak Edy menyuruhnya sekamar dengan pria bodoh ini.
" Jangan sampai aku ketularan kebodohannya"
__ADS_1
Ilan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 02.50, masih banyak waktu untuk istirahat. Tak lama berselang, ia terlelap ke alam mimpi.
***
Sementara itu di asrama putri, Anna duduk di lantai sambil memainkan ponselnya. Malam ini ia barusan bertemu dengan Ilan. Rencana yang cukup gila, di tengah tengah situasi yang menakutkan masih sempat saja ia bertemu dengan pria.
" Apa aku sudah sinting? Apa aku ingin mengantarkan nyawaku? bertemu dengan seseorang diam diam di dalam keadaan yang seruwet ini" Anna memegang kepalanya pusing. Ia berbuat sangat nekad.
Anna menyudahi aktivitasnya. Kemudian ia menyambar jaket pink kesayangannya, rasa dingin yang kuat merasuk ke dalam tubuhnya. Gadis itu menggigil kedinginan.
" Hatchi...hatchi...hatchi"
Anna merapatkan jaketnya namun sayangnya ia semakin kedinginan.
" Tidak. Aku tidak boleh sakit" katanya dengan suara yang serak.
" Hatchi, hatchi, hatchi"
Anna memegang kepalanya. Ia mulai terserang flu.
" Kau sakit?" tegur seseorang.
Anna menoleh ke arah Santi, kemudian mengangguk lemah.
Gadis berkaca mata itu turun dari ranjangnya.
" Maaf, aku membangunkan mu" ucap Anna merendah.
" Tidak apa apa, bukankah sudah tugas teman sekamar untuk saling menolong satu sama lain" ujar Santi lembut.
Santi mengambil air hangat lalu menidurkan Anna kemudian mengompresnya dengan penuh perhatian.
" Kenapa kau bisa demam?" tanya Santi.
Anna diam, tidak menjawab pertanyaan Temannya.
Santi tersenyum.
" Baiklah, kalau kau tidak mau jawab. Tidak apa apa" katanya menenangkan.
" Hatchi, Hatchi,hatchi"
Anna berkali kali bersin. Ujung hidungnya mulai berwarna merah.
Santi masih setia mengompres teman sekamarnya itu, berkali kali ia mengganti alat kompresannya jika airnya mulai dingin.
Anna membuka matanya.
" San. Apa kau tidak takut?" tanyanya
" Tentu saja aku takut. Tapi aku harus bagaimana aku tidak memiliki apa apa buat pindah, aku harus bertahan di sekolah ini" jawabnya.
" Santi, apa kau tidak capek dengan semua ini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Santi diam, kemudian menghirup nafas nafas dalam.
" Entahlah, Aku ingin semua ini berakhir"