
Klitik...Klitik...
" Auuhhh. Hahahahahaa" Vita tertawa terbahak bahak saat tangan nakal Sean menggeliknya.
" Hahahahaahah"
" Kau dulu sering menggelikkukan sekarang akan ku balas" kata Sean tersenyum. Dahulu ia suka mengusili gadis itu.
"Hahahahaah" tidak tahan. Vita dengan kuat ingin melepas tangan Sean darinya tapi Pria itu kuat. Ia masih saja menggelik Vita sambil tertawa.
" Hahahahaha hahahahahah hahahahaah" Vita tertawa panjang lebar saat Sean tidak berhenti menjahilinya.
" Hentikan, hentikan. Gelik sekali" kata gadis itu ngos ngosan. Air matanya berair karena tawanya berlebihan.
" Uhhhhhh uhhhhh uhhhhhh" sambungnya lelah.
" Itu balasan dariku karena kau lama menghilang" ujar Sean senang. Dari dulu menjahili Vita adalah kesenangan tersendiri baginya.
" Itu salahmu, seharusnya kau mencariku" balas Vita.
" Harusnya kau yang datang. Walaupun aku mencarimu ke ujung dunia, aku tidak pernah akan mendapatkanmu dengan wajah seperti ini" ujar Sean sambil menunjuk ke wajahnya sendiri.
" Wajahku baguskan, tidak membosankan seperti dulu" Vita mengelus pipinya.
" Bagus sih bagus, tapi sayangnya hidungmu bengkok tuh"
" Haah. Masak sih" katanya kaget sambil memegang hidungnya.
Sean mengangguk.
" Yah. Sejak pertama kali kita bertemu di sekolah, aku tidak suka melihatmu lebih dari satu detik karena hidungmu bermasalah" jelas Sean.
" Dokternya salah perhitungan yah. Terlalu banyak plastiknya yang masuk atau mungkin sangat sedikit, jadi hidungmu bengkok" sambungnya.
" Masak sih. Aku baru sadar kalau hidungku bengkok" Vita meraba raba hidungnya dengan dua jari.
" Kau bohong yah. Bagus kok, tidak ada yang bengkok" ucap Vita heran. Ini pertama kalinya ada orang yang bilang kalau hidung hasil oplasnya bengkok.
" Bukan di situ, di sini yang bengkok" kata Sean mendekat lalu memegang hidung Vita.
__ADS_1
" Yang mana?" tanya Vita tak sabar.
" Yang ini" kata Sean. Tak lama kemudian Sean mencubit hidung Vita dengan keras.
" Auuuuuuhh" Vita meringis.
" Tapi bo'oong. Hahahahaha" Sean tertawa terbahak bahak saat ia berhasil menjahili Vita hari ini kesekian kalinya.
" Tuh kan. Oplasnya baguskan, tidak mungkin Dokter Mika mengecewakan"
Vita gemas. Dengan gesit ia menjitak Kepala Sean.
" Auuuuuuhh" Kini giliran Sean yang meringis. Tidak menyangka gadis itu akan menjitaknya.
" Cari masalah, akan ku balas berlipat lipat" Sean meremas jari jarinya.
Tahu kalau perbuatannya mengundang masalah, Vita segera berlari menjauh. Ia tidak tahu apa yang akan di lakukan Sean setelah ini.
" Jangan lari" Dengan sigap pria itu mengejar Vita.
Mereka berdua lari ke sana ke mari tertawa terbahak bahak mirip anak kecil.
" Auuuuuuhh" Vita memegang dahinya sakit saat ada kekuatan besar dari depan menabraknya. Tidak hanya kepalanya yang sakit tapi pantatnya juga akibat terbentur ke tanah.
" Sakit" ucapnya. Dengan pelan ia mengangkat wajahnya lalu terlihatlah seorang pria memakai mantel hitam yang panjangnya sampai mata kaki menatapnya dengan sinis.
Jantungnya memompa darah dengan cepat saat di belakang pria itu terlihat dua orang juga menatapnya dengan buas.
Badan gadis itu gemetaran melihat tamu tak di undang berdiri dengan gagahnya di depannya.
Ia sangat mengenalnya. Yah, mereka mengenal satu sama lain. Pria yang memakai mantel hitam itu adalah Dimas dan dua orang di belakangnya adalah Denal dan Shanaya.
Lain halnya dengan Dimas dan Denal. Wanita berambut bob yang berdiri di sana tiba tiba mengeluarkan senyuman bukan senyuman memanjakan mata namun senyuman buas karena berhasil menangkap mangsanya.
Nanda yang belum keluar dari persembunyian menyaksikan apa yang terjadi di sana. Jantungnya berdebar debar menunggu kelanjutan adegan itu.
Sama halnya dengan Sean. Pria itu kaget bukan kepalang saat sadar siapa yang datang. Ia bingung bagaimana mereka bisa tahu kalau Vita ada di sini.
" Kejar kejarannya sudah selesai?" ujar Dimas tak bersahabat.
__ADS_1
" Tidak, kalian tidak boleh menangkapnya begitu saja" bela Sean. Pria itu mendekati Vita lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
" Apa yang kau lakukan. Bukankah berapa bulan ini kita bersama untuk menangkap sang pembunuh, apa kau akan menyia nyiakan kerja kerasmu?" kata Shanaya tak terima perilaku Sean saat ini.
" Kalian masih perlu menginterogasinya, tidak sopan kalau kalian langsun memborgolnya" kata Sean lagi saat ia melihat Denal berjalan pelan ke arah mereka sambil membawa sebuah rantai di tangannya.
" Tidak ada kata sopan untuk penjahat, hanya kau yang berlaku sopan padanya karena kau ini mencintainya" bentak Dimas.
" Dia sudah membunuh ibumu dan kau masih bisa membelanya. Apa sebenarnya yang ada di dalam otakmu? dasar pria yang di butakan oleh cinta" sambungnya masih dengan nada yang sama.
" Tidak, tidak akan ku biarkan. Aku tidak akan membiarkan kalian membuangnya ke dalam penjara" Sean memeluk Vita semakin erat. Matanya teliti memperhatikan gerak gerik ketiga orang itu.
Dimas emosi. Mukanya merah padam melihat tingkah laku Sean.
" Bukankah sejak lama ia sudah di buang. Sejak lama ular ini sudah terbuang, tidak ada gunanya memungutnya. Ular tetap ular, walaupun ia sudah menjadi bangkai tidak ada yang ingin menguburnya dengan layak" Shanaya memperkeruh situasi dengan kata kata pedasnya.
Mendengar hal itu, Vita menangis. Wanita berambut bob itu menyakitinya sampai ke pembuluh darahnya.
" Waktumu hanya satu menit, lepaskan gadis itu" kata Dimas dengan suara yang berat.
" Tidak akan. Kalian pikir aku akan mengubah keputusanku" balas Sean. Matanya menatap Dimas dengan dingin.
" Baiklah kalau itu maumu, akan ku ambil gadis itu darimu dengan cara yang menyakitkan" ujar Dimas lalu mengambil sebuah pistol dari saku mantelnya.
" Sudah ku duga kalau akan jadi seperti ini. Aku akan menembak kaki kawan kerjaku sendiri, kau menghianati kami. Aku harap kau tidak marah padaku" ujarnya. Tanpa pikir pikir pak polisi itu mengeluarkan tembakan ke arah Sean.
Dengan gesit Sean menghindar. Secepat kilat pria itu menarik Vita, membawanya pergi dari ketiga orang itu.
Dimas mengumpat berkali kali saat tahu tembakannya meleset. Ia menghentakkan kakinya kuat kuat, giginya gemeletuk. Dengan amarah yang memuncak ia berteriak.
" Kejar mereka" katanya marah.
Kemudian Denal dan Shanaya mengejar Sean dan Vita.
Dimas meremas jari jarinya. Awalnya ia memang sudah menduga kalau Sean akan membela Vita, tapi Dimas tidak pernah menyangka kalau Sean nekad melawan perintahnya.
" Tunggu saja. Aku akan membuang pacarmu itu ke dalam penjara sampai kau menangis darah pun tidak akan ku lepaskan" Dada polisi itu naik turun. Kemarahannya sudah sampai di ubun ubun.
Di balik pohon, Nanda duduk sambil memeluk lututnya. Ia tidak boleh keluar menunjukkan dirinya, kalau ia tidak ingin mendapat amukan maut dari Dimas. Malam ini polisi itu bisa mencincangnya jika Dimas tahu kalau ia mengikuti Sean dan tidak bisa melakukan apa apa.
__ADS_1
" Jangan sampai ketahuan" Nanda menunduk takut.