Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Keponakan Gila


__ADS_3

" Apa nyonya yakin dengan perkataan nyonya?"


" Ya. Aku sangat yakin"


Dimas memandang nyonya Elis dengan seksama, ia yakin kalau wanita di depannya ini bisa di ajak kerjasama. Polisi itu meyakini kalau nyonya Elis tahu banyak seputar SMA Rajawali.


" Dalam beberapa minggu ini, kami selalu menyelidiki kasus ini dan si pembunuh bisa bergerak leluasa di tengah tengah penyelidikan kami. Apa di sekolah itu ada tempat rahasia semacam ruang bawah tanah?" tanya Dimas.


" Aku pernah sesekali mendengarnya. Tapi aku tidak yakin, orang tuaku tidak pernah menceritakannya" jawab nyonya Elis.


" Apa orang tua nyonya masih hidup?"


Nyonya Elis menggeleng.


" Taidak. Mereka sudah lama meninggal dan tanah itu di wariskan pada Maykel"


SMA Rajawali di bangun pada tahun 1995. Tanah yang seluas 2 hektar itu di ambil alih oleh pemerintah untuk membangun fasilitas umum di atasnya. Pada waktu itu Alexander Saputra termasuk salah satu orang penting yang berjasa atas berdirinya SMA Rajawali.


Keluarga Farhana secara terang terangan menolak keputusan pemerintah namun pemerintah setempat mengganti rugi atas lahan itu tapi ganti rugi yang di berikan tidak sesuai dengan harapan keluarga Farhana. Itulah sebabnya keluarga Farhana membalaskan dendam kepada orang orang penting yang mengambil lahannya salah satunya Alexander Saputra.


Setelah satu stengah jam berbincang bincang dengan nyonya Elis akhirnya kedua polisi itu pamit untuk undur diri.


" Terimah kasih atas informasinya nyonya" ujar Dimas.


Nyonya Elis melebarkan senyumnya, mengantar kedua tamunya itu sampai gerbang rumahnya.


Setelah kepergian kedua polisi itu, satpam rumahnya yang bernama Aris memandang majikannya dengan tatapan iba.


" Apa nyonya baik baik saja?" tanya Aris.


" Aku tidak apa apa, jangan terlalu mengkhawatirkanku"


" Tapi nyonya"


Nyonya Elis menatap Aris serius sambil menggelengkan kepalanya. Wanita paruh baya itu membalikkan badannya, seseorang menyambutnya di pintu rumahnya.


" Bibi, berakting dengan sangat baik" pujinya.


" Aku hanya melindungimu"


" Melindungi? kata bibi bukankah tadi bibi mengatakan bukan Vita pelakunya tapi sosok lain"


" Itu hanya basa basi"


" Tapi aku senang bibi melakukannya itu artinya bibi tidak membenci keluarga bibi yang lainnya"


" Aku tidak pernah membenci kalian, tapi aku menyesal kenapa Tuhan menghadirkanku di keluarga monster ini"


" Hahahahaa. Bibi ini terlalu lucu"


Nyonya Elis meninggalkan orang itu di ruang tamu. Ia berjalan menuju dapur kemudian mengambil makan siang di taruhnya di atas nampan lalu membawanya ke salah satu kamar rumahnya.


" Makanlah nak Tasya, kau pasti lapar tadi pagi kau hanya makan sedikit" ujar nyonya Elis.

__ADS_1


" Kau akan baik baik saja nak, jangan takut berlebihan" sambungnya menenangkan.


Tasya mengambil sendok lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan lemah.


Nyonya Elis menatap kasihan gadis ini, sejak keponakan monsternya menculik Tasya tubuh gadis ini menjadi kurus tak terurus. Gadis yang ada di depannya ini mengalami ketakutan yang berlebihan yang membuatnya layaknya orang stress.


Setelah Tasya selesai makan. Nyonya Elis merapikan pernak pernik makan Tasya lalu kembali ke dapur.


Kemudian wanita itu masuk ke dalam kamar keponakannya yang gila itu.


" Lepaskan gadis itu"


" Untuk apa aku melepaskannya" katanya sambil menggigit kuku kukunya yang bersih.


" Dia tidak bersalah"


" Aku tahu dia tidak bersalah. Itulah sebabnya aku tidak membunuhnya"


" Lalu kenapa kau menculiknya?"


" Dia sendiri yang masuk ke sarangku"


" Lepaskan dia"


" Kalau aku melepaskannya, aku akan ketahuan"


" Kita bisa membungkamnya"


" Aku akan berbicara padanya untuk tutup mulut" sambung nyonya Elis meyakinkan.


" Kalau dia tidak tutup mulut?"


" Kau bisa membunuhku"


Mendengar perkataan bibinya itu, sosok tersebut tertawa terbahak bahak.


" Hahahaahahaha. Rupanya bibi sudah bosan hidup yah, baiklah kalau itu kemauan bibi"


Nyonya Elis bergidik ngeri mendengar tawa keponakannya itu yang sudah seperti Ratu iblis.


" Dia bisa membebaskanmu nak dengan satu syarat" kata wanita itu kemudian saat tiba di kamar Tasya.


" Syarat apa tante?" tanya Tasya lemah.


" Kau tidak boleh membongkar identitasnya dan menceritakan yang sebenarnya kepada orang lain termasuk orang tuamu" jelas nyonya Elis." kalau sampai ada orang lain yang mengetahuinya dia akan membunuhku"


Tasya menangis mendengarnya.


" Aku janji tidak mengatakan apapun untuk menyelamatkan nyawa tante"


" Baiklah nak, nyawaku di pertaruhkan di sini. Keponakanku itu tidak segan segan membunuh siapa saja yang menghalanginya"


Tasya manggut manggut. Nyonya Elis memiliki rasa keibuan yang luar biasa membuat Tasya nyaman bersamanya.

__ADS_1


" Dengar itu baik baik, jangan sampai membuatku mencabut nyawa bibiku yang ku sayang ini" kata sosok itu yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu.


Tasya mengangguk. Ia susah payah menelan salivanya sedangkan keluarganya sendiri, sosok ini tidak segan segan membunuhnya apalagi orang lain. Tapi yang menjadi pertanyaan besar bagi Tasya, kenapa sosok ini tidak membunuhnya.


Nyonya Elis menuntun Tasya untuk membersihkan diri, ia berencana memulangkan gadis itu besok pagi sementara berpikir keras alasan apa yang tepat yang akan gadis itu katakan pada orang tuanya selama menghilang beberapa waktu.


Malam harinya sosok jahat itu masuk ke dalam kamar Tasya.


" Di mana gadis itu" katanya mencari cari sosok Tasya.


" Kau mencarinya, dia ada di balkon rumah" ujar nyonya Elis yang kebetulan lewat di sana.


" Terimah kasih bibi"


Nyonya Elis berdecih.


" Ciih, sejak kapan anak ini tahu sopan santun" wanita itu mengendap endap mengikuti keponakannya. Jangan sampai ponakan gilanya itu melakukan hal yang tidak di inginkan.


Sesampainya di balkon rumah.


" Kau belum tidur" sapanya dengan manis.


Tasya menoleh, dia mendapati sosok itu di sana tersenyum namun Tasya tahu kalau senyum yang di buat buat.


" Iya"


" Bersemangatlah. Kau besok sudah pulang"


Sosok itu mendekat berdiri di samping Tasya yang sedang melihat keindahan kota dengan lampu yang kerlap kerlip.


" Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Tasya kemudian.


" Kau tidak perlu tahu" sosok itu melihat Tasya dengan ekor matanya." Dia baik baik saja berbicara denganku, ia tidak takut lagi" gumamnya dalam hati.


" Kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Tasya lagi.


" Karena aku anak baik"


Tasya bingung " Apa maksudnya?"


" Kau tidak takut lagi denganku?"


" Entahlah. Aku senang bisa pulang, aku rindu sekolah, keluargaku dan Seseorang"


" Siapa seseorang itu?"


" Orang yang berharga bagiku" Tasya melirik mencoba reaksi dari sosok di sampingnya itu.


Sosok itu terdiam, ia tahu seseorang siapa yang di maksud oleh Tasya. Tanpa Tasya ketahui sosok itu menangis dalam diam.


Nyonya Elis yang memandang mereka dari jauh merasa iba melihat keponakannya itu. Nyonya Elis tahu betul arti kata anak baik yang di ucapkan keponakannya itu.


Itulah kata yang sering di katakan orang tuanya padanya untuk mendengarkan permintaan orang tuanya. Dia anak baik karena sudah menuruti kehendak orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2