Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Bertemu Irabella


__ADS_3

Fitri menggeliat, ia menggerakkan matanya perlahan . Lehernya sakit dan tubuhnya kedinginan kemudian beberapa detik ia mendapatkan kesadarannya kembali.


Kini matanya sudah terbuka lebar dan di depannya ia melihat dua orang yang tidak di kenalnya. Seorang pria dengan sorot mata tajam dan seorang wanita dengan senyum manisnya.


" Sudah bangun" kata si wanita sambil menyodorkan segelas air putih.


" Kau minumlah. Kami membutuhkanmu jadi isi energimu sekarang" sambungnya.


Si wanita itu melangkah lalu meraih gelas yang di sodorkannya sendiri kemudian membantu Fitri minum.


Gadis berambut merah itu mengumpat dalam hati saat air es masuk ke dalam tenggorokannya. Ia benar benar kedinginan, kantung kemihnya sakit menahan kencing. Fitri menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan tempat itu dengan seksama, ia kini berada di suatu ruangan yang sangat kecil dan gelap. Ia tidak bisa melihat kanan kirinya hanya lampu temaram yang ada di tempat itu yang membuatnya bisa melihat dua orang yang ada di depannya.


" Aku benar benar akan di telanjangi sekarang" gumamnya dalam hati.


Si wanita lagi lagi tersenyum kemudian ia balik ke kursinya.


" Perkenalkan namaku Shanaya dan di sampingku ini namanya Dimas. Aku seorang detektif dan ia seorang polisi, jadi jangan harap kau bisa lolos dari kami. Kami baru akan melepaskanmu jika kau benar benar berkata jujur pada kami. Tapi jika kau tidak berkata jujur secuil pun jangan pernah berharap kalau kami akan membebaskanmu dari sini. Mengerti!!!! Jadi bekerja samalah, tidak ada gunanya kalau kau berbohong" jelas Shanaya.


Fitri diam. Wanita ini menakutkan.


Shanaya membuka buku, ia siap menulis hal penting yang akan Fitri katakan.


" Siapa nama lengkapmu?" tanya Dimas.


" Fitri Naomi"


" Kau sekolah di mana?"


" SMA****** di B***.


" Apa kau kenal dengan Vita?" Dimas masih bertanya.


" Yah. Kami bersahabat sejak SMP"


" Jadi kau sangat tahu Vita yang dulu dan sekarang"


Fitri diam. Kali ini ia ragu apa akan menjawab dengan benar.


" Jujurlah. Kami siap menampelengmu jika kau bohong" Ujar Shanaya.


Dengan berat hati, Fitri mengangguk pelan.


Saat Fitri sedang di interogasi. Denal, Sean, Gilang dan Nanda berada di ruangan yang berbeda. Tapi mereka berempat bisa melihat apa yang sedang terjadi di ruangan kecil itu lewat layar lebar yang tersambung dengan cctv.


***


Beberapa jam saat Fitri belum sadar.


Malam ini Sean menolak untuk minum kopi entah apa yang membuatnya tidak ingin minum cairan hitam itu tapi malam ini ia benar benar tidak ingin menyentuh kopi. Alhasil ia ketiduran, tidak kuat menahan kantuk.


Gilang menyeruput kopinya kemudian menoleh ke arah Sean. Pria itu sudah tidur dengan keadaan duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

__ADS_1


" Temanmu tidur. Kopi membuatmu tahan begadang" kata Denal sambil mengangkat cangkir kopinya.


" Bangunkan dia saat penyelidikan di mulai" pinta Dimas.


" Baiklah" balas Nanda.


" Ia perlu tahu apa yang di katakan oleh Fitri" sambungnya.


Dimas diam. Yah Sean harus tahu.


Di dalam tidurnya, Sean bermimpi. Ia berada di suatu tempat, tempat yang sangat luas tidak ada apa apa di dalamnya selain dirinya sendiri.


" Apa ini?" tanyanya saat ia melihat di atasnya berwarna jingga dan putih.


" Apa itu langit?" Sean mengangkat dagunya memperhatikan apa yang ada di atasnya.


Langitnya di dominasi oleh warnah putih tapi sebuah objek berwarna jingga memanjang ke ujung sana yang ada di tengah tengahnya. Pria itu mengikuti objek jingga tersebut berharap bisa keluar dari situ. Berapa lama berjalan ia masih terus berjalan, tempat ini sangat luas dan kosong. Kakinya terasa nyeri, keringatnya bercucuran dan nafasnya ngos ngosan, ia capek tapi ia belum menemukan jalan keluar. Tak berhenti kakinya terus berpijak di atas pasir yang berwarna putih, tidak ada pijakan lain kecuali pasir putih yang dingin.


" Apa aku terkurung di sini?" katanya putus asa. Ia sudah tidak punya tenaga lagi bahkan berteriak pun ia tidak bisa, bibirnya keluh. Pria itu kemudian berbaring di atas pasir putih, ia akan mendapatkan kembali tenaganya.


Tiga puluh menit. Capeknya mulai hilang, tenaganya mulai terisi. Tangannya bergerak pelan di atas pasir sekali kali menggenggam pasir putih itu lalu melepaskannya dari tangannya.


Mata Sean melotot, bola matanya menangkap kehadiran lain di sana. Ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


Sean melirik ke bawah, ia belum punya tenaga untuk bangun. Orang itu terus berjalan, semakin dekat dan dekat akhirnya Sean bisa melihatnya dengan jelas, seorang gadis yang memakai drees merah mudah dengan panjang selutut ia menggendong seekor kelinci manis yang bulunya berwarna putih lembut.


Saat gadis itu mendekat, Sean memperhatikannya dengan seksama. Ia tidak mengenalnya walau wajahnya tidak asing namun ia lupa di mana ia pernah melihatnya.


Si gadis duduk kemudian mengulurkan tangannya pada Sean, pria itu meraih tangan si gadis kini mereka duduk berhadap hadapan.


" Apa kau mengenalku?" tanya si gadis.


Sean menggeleng.


" Oh kau tidak mengenalku yah. Kita pernah bertemu loh, kita bertemu saat masih kecil.


Sean memutar otaknya tapi ia benar benar lupa di mana ia pernah melihat gadis ini.


" Aku melupakannya" Sean memegang kepala. Kepalanya mulai sakit.


Si gadis memegang kepala Sean. Entah jurus apa yang di gunakan, nyeri di kepala Sean mulai menghilang.


" Kau" desis Sean.


" Bukan dia yang kau cintai tapi aku. Kau salah orang" kata gadis itu.


Sean kebingungan.


" Dia siapa?" tanya Sean.


" Jasmine maksudmu?" sambungnya.

__ADS_1


" Bukan. Jasmine tidak ada hubungannya di dalam hal ini" jawab si gadis.


" Lalu siapa?"


" Irabella"


Sean semakin bingung. Ini pertama kalinya ia mendengar nama itu.


" Bukan Vita tapi Irabella. Bukan Vita yang memiliki perjanjian denganmu tapi Irabella, kau salah orang seharusnya Vita tidak pernah hadir di dalam hidupmu namun Irabella" jelasnya.


" Siapa Irabella?"


" Gadis kecil yang memiliki perjanjian denganmu"


Sean menggeleng. Ia tidak ingat apapun tentang Irabella. Lagi lagi kepala pria itu sakit, ia menutup mata dengan kasar tidak tahan dengan sakit di kepalanya


" Kalau kau ingin mengingatnya, akan ku perlihatkan. Buka matamu"


Sean membuka matanya lalu terlihatlah di sana, ia melihat dua orang anak. Yang satu laki laki dan lainnya seorang perempuan. Yang laki laki ia mengenalnya sebagai dirinya saat masih kecil tapi seorang perempuan ia hanya samar samar mengingatnya.


" Apa dia yang namanya Irabella" gumamnya.


" Sean kemarilah. Di sini" teriak anak perempuan.


Sean kecil berlari menuju anak perempuan. Mereka berdua mengejar seekor kelinci.


" Bella, cepatlah" teriak Sean kecil saat anak perempuan itu tertinggal jauh di belakangnya.


Mereka tertawa riang sambil berlari pada akhirnya kelinci imut itu berhasil di tangkap.


" Lucu" ucap Bella.


" Dia mirip denganmu" balas Sean kecil.


" Berikan padaku. Akan ku jaga" kata Bella. Tanpa menunggu jawaban Sean ia mengambil kelinci itu.


Perlahan lahan dua anak kecil itu pudar kemudian hilang dari pandangan Sean.


" Tidak, jangan pergi. Aku mohon" Sean memohon. Kini ia tidak bisa menahan sakit kepalanya.


" Sudah selesai. Apa kau sudah mengingatnya?" tanya si gadis.


Sean tidak menjawab. Ia memegang kepalanya kuat kuat, nyeri yang tiada tara menusuk otaknya.


" Berhenti . Aku mohon hentikan" Sean menunduk merapatkan kepalanya di atas pasir putih. Ia memukulnya berkali kali berharap nyeri di kepalanya hilang.


" Ini hanya mimpi. Jadi otakmu tidak bisa bekerja sepenuhnya di sini. Pulanglah ke alam nyata dan berusahalah untuk mengingat semuanya. Walaupun Fitri berkata jujur, masalah ini tidak akan selesai. Pembunuhan masih akan terus berlanjut. Dan kau harus mengingatnya baik baik kunci untuk bertemu denganku adalah Vita, Vita bisa mempertemukan kita"


" Dan satu lagi. Saat ini kau di sukai banyak perempuan tapi hanya ada Irabella di dalam hatimu"


Samar samar, Sean mendengar suara serak memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2