
" Kita akan ke mana?" tanya Anna lagi.
Bella diam, rencananya dua orang pria itu akan di jadikan santapan bagi hewan peliharaan ibunya. Tapi kali ini ia tidak melihat dan mendengar auman makluk yang bernama Mina itu.
" Apa sebenarnya yang terjadi di sini selama aku tidak ada" pikirnya.
" Apa polisi sudah melangkah sejauh ini?"
" Sialan" Emosi gadis itu membara. Ia segera mengambil revolver dari tasnya, lalu di todongkannya pada Anna.
" Sialan kau. Mengapa bisa Pak Dimas ada di sini" katanya marah.
" Apa kau bodoh. Mana aku tahu?" jawab Anna.
" Mengapa kau marah padaku kalau pak Dimas ada di sini. Aku tidak menahu apa apa tentang itu" sambungnya.
Bella menurunkan revolvernya, ia melangkah kasar ke arah Agra dan Joy.
" Duduk kalian" bentaknya.
Tahu apa yang akan di lakukan oleh Bella, Anna segera berlari dengan sekuat tenaga ia menendang gadis itu sampai terjungkal.
" Lari kalian, biar aku yang mengurusnya" teriak Anna pada Joy dan Agra. Secepat kilat kedua pria itu berlari dengan tangan yang terikat dan mulut yang masih di lakban.
Amarah yang meledak ledak memenuhi gadis monster itu. Sumpah serapah keluar dari mulutnya, sebelum Bella berdiri terlebih dahulu Anna mengoyakkan ikatan yang mengikat tangannya sekuat tenaga.
Ikatan tangannya telah terlepas, kini gadis itu dapat bergerak bebas.
" Hahahahaahahah" tanpa rasa berdosa, Bella tertawa terbahak bahak. Ia menertawai tingkah Anna hari ini.
" Kau sok pahlawan rupanya. Apa kau ingin mengantarkan nyawamu" ujar Bella menghina.
" Kematian ada di tangan Tuhan" Jawab Anna menantang.
Irabella mengangkat revolvernya, dengan gaya yang terlatih ia menembakkan pelurunya ke arah gadis itu.
Satu buah peluru berhasil mengenai tangan gadis itu. Anna menjerit kesakitan, darah segar mengucur dari lengannya.
__ADS_1
" Owh, aku meleset seharusnya dadamulah yang terkena tembakan" kata Irabella tertawa. Ia senang melihat Anna kesakitan.
Dengan menahan rasa sakit, Anna berlari secepat kilat ke arah Bella. Alhasil tubuhnya berhasil menubruk gadis itu sampai terjerembab ke tanah. Revolver terlepas dari tangannya. Dengan sigap Anna akan mengambil benda itu tapi rasa sakit di tangannya membuat pergerakannya lambat, sebelum Anna mengambil benda itu terlebih dahulu Bella menyerang gadis itu membabi buta.
Tanpa kasihan Bella menendang sahabatnya itu di sembarang arah.
" Auuh, auuuh, auuuh" jerit Anna, seluruh tubuhnya sakit kena tendangan tanpa ampun.
Dengan amarah yang menyala nyala, Bella terus terusan memojokkan Anna ke belakang. Gadis itu terpojok semakin ke belakang, tapi saat sampai di tepi jurang Anna berusaha menahan serangan dari Bella. Sekali saja Bella mendorongnya ia pasti sudah di bawah jurang yang kedalamannya 50 meter.
Bella lagi lagi tertawa. Hari ini gadis itu sudah tidak terlihat seperti manusia, auranya sangat berbeda dengan hari hari sebelumnya. Ia berubah total menjadi manusia psikopat.
Anna menjerit saat tangan kasar Bella mencekik lehernya.
" Mati saja kau" hanya sekali tendangan Anna terjatuh ke bawah jurang.
Bella memperhatikan ke bawah. Ia yakin Anna sudah mati karena kepalanya terbentur ke batu, darah segar mengukir batu batu yang ada di bawahnya sedangkan tubuh Anna sudah tak kelihatan. Gadis itu jatuh ke dasar jurang.
Bella melangkah dari sana. Kini ia harus mencari kedua pria yang melarikan diri itu, mereka tidak boleh hidup. Mereka harus mati hari ini.
***
" Kalian mendengar bunyi itu. Suara apa itu yah?" Fitri bertanya tanya.
" Entahlah" jawab Gilang.
" Jangan alihkan perhatian kalian, kita fokus kepada orang itu" tapi Denal langsun diam saat sadar pria yang di ikutinya sudah tidak kelihatan.
" Kemana perginya?" Denal melihat ke sana ke mari.
" Cepat sekali dia menghilang"
Mereka bertiga tetap melangkah, mereka mencari cari keberadaan sosok pria setengah abad yang di buntutinya.
Fitri celingak celinguk tanpa sadar sebuah balok hampir menghantam kepalanya, tapi dengan sigap Denal menahannya.
" Jadi kau sembunyi di sini rupanya Tuan William Farhana" kata Denal. Di depannya seorang pria dengan garis garis kerutan tersenyum sinis.
__ADS_1
" Ada serangga yang masuk di sarangku, sudah pasti serangga serangga ini akan mati" katanya dengan suara berat.
Fitri bergetar melihat pak tua yang ada di depannya. Jadi ini dia sosok ayahanda Vita, sosok pembunuh berdarah dingin. Sudah tak terhitung lagi nyawa yang menghilang di tangannya.
" Kami datang untukmu pak tua" ujar Denal sopan.
" Jangan berlaku sopan. Bagaimana pun sopannya kalian, hal itu tidak mempan pada seorang pembunuh" jelasnya.
" Ya ya ya ya. Kami salah rupanya" Denal melompat ke belakang saat Pak tua itu menggerakkan balok di tangannya.
" Apa kalian takut"
Dengan tubuh yang sudah memasuki usia uzur tapi kekuatan William tidak hilang. Semakin tua, keinginan membunuh di dalam dirinya semakin menggebu gebu.
Dengan jurus yang terlatih ia menyerang Denal. Dengan sigap Denal menangkis semua serangan yang ditujukan padanya.
Polisi itu mengumpat dalam hati saat serangan pria jahat itu berapa kali mengenai tubuhnya.
Gilang berlari ingin membantu Denal tapi hanya sekali serangan, Gilang terlempar sedangkan Fitri hanya berdiri mematung melihat perkelahian para pria itu.
" Ini berbahaya" pikir Fitri.
Fitri menelan ludahnya saat matanya menangkap orang lain yang datang. Ia hanya beberapa kali melihat orang itu tapi ia yakin kalau orang inilah Irabella Farhana, sosok pembunuh sama seperti ayahnya.
Gilang terkejut bukan main melihat Bella hari ini. Bukan tanpa alasan Pria itu terkaget kaget karena Gilang sangat tahu siapa gadis ini. Adik kelasnya yang pendiam dan ke mana mana selalu menenteng buku bacaannya.
Santy.
Dengan penampilan yang sangat berbeda. Kali ini Santy sangat cantik dan cerah, Gilang terpana melihatnya. Jadi begini rupa Santy yang sebenarnya, tapi pria itu bergidik ngeri saat gadis itu mengeluarkan senyum mematikan.
" Tidak mungkin"
Apanya yang tidak mungkin. Walau Gilang sulit percaya kalau Santy adalah sosok pembunuh di sekolahnya ia harus menerima kenyataan ini. Memang benar Santy adalah cewek monster yang sudah mengambil nyawa teman temannya.
Bella mengangkat revolvernya, ia ingin membunuh Denal terlebih dahulu.
" Jangan, hentikan" teriak Gilang saat gadis itu mengarahkan revolvernya ke arah Denal.
__ADS_1
Tapi terlambat, dengan pergerakan yang di kunci oleh William. Dua buah peluru menembus kepala polisi itu, detik itu juga Denal kehilangan nyawanya di sana.
Melihat rekannya sudah mati, Fitri berteriak sekuat tenaga. Tidak menyangka pak polisi itu akan menemui ajalnya di sini. Gilang segera meraih tangan Fitri, dengan langkah yang cepat mereka berdua lari dari tempat itu.