Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Akhir dari Keputusasaan


__ADS_3

" Will ,hentikan ini" kata Bunda Merry mendekat.


" Buat apa aku menghentikannya" balas William sangar.


" Kau sudah tidak normal Will. Ini keterlaluan"


" Lalu apa?, lalu bagaimana?, aku harus bagaimana?"


" Aku mohon, kau sudah terlalu menderita di dunia ini. Izinkan kami pergi dan kau hidup normal dimana saja kau mau. Kami akan pergi dan melupakan semua kejadian ini. Anggap saja ini tidak pernah terjadi" kata Bunda Merry lembut tapi insting waspadanya sangat tinggi.


" Aku harus bagaimana Merry, aku tidak bisa , aku tidak bisa menghilangkan kehendakku. Aku sangat menderita" kata William mengibah.


Bunda Merry terdiam, ia memperhatikan sorot mata itu. Bola mata yang menawan namun sayu, sesuatu yang menggambarkan keputusasaan.


Inilah adiknya, saudara yang paling ia sayangi dan kasihi. Adik sangat baik di masa kecilnya namun entah apa yang membuatnya menjadi monster di masa dewasa.


Ingin ia menangis, meratapi takdir adiknya yang sangat malang. Sungguh kehidupan yang tidak adil yang Tuhan berikan padanya.


Pelupuk Bunda Merry berair tapi tidak ada gunanya, tidak ada gunanya ia menangis di tempat ini dan di situasi genting ini.


" Will" panggil Bunda Merry sepenuh hati.


" Izinkan kami pergi, mereka tidak tahu apa apa. Mereka adalah orang tak bersalah yang tidak sengaja mampir di kehidupan Bella. Malaikat maut mereka tidak ingin menjemput mereka, mereka masih ingin hidup menyongsong kehidupan yang lebih baik dan aku harap kau juga seperti itu Will" jelas Bunda Merry berusaha memberikan pengertian kepada saudara monsternya ini.


" Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" tanya William kesekian kalinya.


" Itu terserah kamu, kau sudah dewasa sekarang sudah punya anak gadis yang cantik. Kau tidak seperti dulu Will, kecil dan manja, semua keputusan ada di tanganmu tapi kau tidak boleh membunuh lagi, tidak boleh berbuat kriminal lagi. Aku akan selalu mendukungmu di setiap langkah benar yang kau lakukan" tutur Bunda Merry lembut. Suaranya khas menggambarkan rasa sayang yang tinggi terhadap saudaranya.


Pria itu menunduk.


" Pergi, pergi kalian dari sini" bentaknya.


" Yah. Kami akan pergi, terimah kasih sudah membebaskan kami"


" Di sana ada Speedboat yang sering digunakan Bella kemari, pakailah itu" kata William.


Dimas tersentak. Ia kaget bukan kepalang melihat tingkah pria itu, sampai saat ini ia tidak bisa memahami dan menyelami pikiran pria yang ada di depannya ini.


Dengan gerakan bola matanya, Bunda Merry mengajak orang orang itu mengikutinya. Hanya sepuluh langkah mereka melangkah, mereka melihat Speedboat lain di sana yang masih bagus dan terawat.

__ADS_1


Mereka berlomba lomba naik ke atas dengan langkah secepat mungkin, mereka sangat khawatir jangan sampai pria itu berubah pikiran dan balik menyerang.


Dengan ekor matanya, Dimas melirik pria itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran tua bangka itu. William menatap tanah dengan tatapan yang kosong.


" Apa ia sedang tidak sadar atau ia berubah jadi orang lain saat ia membiarkan kami pergi. Aneh" pikir Dimas bingung.


Shanaya segera mengambil alih kemudi.


" Kita harus pergi secepat mungkin membawa anak anak ini ke pelabuhan. Aku akan kembali ke sini nantinya!! kita belum tahu di mana keberadaan Sean, Jasmine dan Vita. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini untuk pergi dari sini untuk sementara waktu" kata Shanaya, wanita itu segera menancap gas Speedboat secepat mungkin.


Truussssttttttt.....


Suara speedboat menggema saat itu.


Dengan posisi terduduk, Bunda Merry memperhatikan William yang masih berdiri mematung di sana.


Sraaaaaasssss.....


Tubuh Bunda Merry bergetar hebat saat ia melihat darah dalam jumlah yang banyak keluar dari tubuh pria itu.


Detik itu juga, suara Bunda Merry mampu mengalahkan deru ombak.


" Willlllllllllllllliiiiiiiiiiiiaaaaaaammmmm"


Dimas segera memeluk tubuh wanita itu dari belakang, menghadang pergerakan refleks bunda Merry yang ingin melompat dari atas Speedboat.


Speedboat sudah pergi jauh dari sana. Namun arah pandang ke pulau itu masihlah jelas.


Di sana tubuh William sudah ambruk ke tanah dengan benda tajam bersarang di perutnya. Laki laki itu menusuk sendiri tubuhnya dengan benda tajam yang sudah ia gunakan untuk bersenang senang dengan cara mengambil nyawa orang lain.


Melihat kejadian di sana, melihat Tuan William meregang nyawa. Fitri menangis, ia tidak tahu sekarang. Ia bingung apa ia menangis karena bahagia bisa lepas dari cengkeraman tua bangka itu atau karena ia memiliki rasa kasihan yang mendalam terhadap pembunuh berdarah dingin itu.


" Ya Tuhan, Ampuni segala dosa dosanya" Fitri membungkus wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kepalanya pusing, begitu banyak hal hal yang membuat jantungnya memompa darah dengan cepat.


Bruukkk.


Gadis muda itu pingsan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Lain halnya dengan Shanaya, detektif wanita itu tidak mengalihkan pandangannya dari depan. Telinganya hanya mendengar apa yang terjadi di belakang tanpa ingin melihat.


***


" Sialan" Sean menggaruk wajahnya frustasi. Otaknya tidak bisa berfikir dengan jernih, alhasil ia malah kembali ke sungai di mana ia menemukan mayat Melly beberapa waktu yang lalu.


" Sebenarnya di mana Vita?" tanya Sean pada dirinya sendiri.


Pria itu jatuh terduduk di pinggir sungai, ia memiliki rasa tanggungjawab yang besar di tempat ini. Bukan hanya Vita tapi Jasmine dan Yoona juga yang harus ia selamatkan.


Sean membuka selembar kertas yang ada di tangannya dengan kasar.


Kepalanya pusing dan penglihatannya mulai kabur.


" Sialan" pria itu berkali kali mengumpat. Kemudian ia memukul mukul kepalanya agar kesadarannya tetap terjaga.


" Aku tidak boleh kalah, aku tidak boleh menyerah. Bisa rumit ceritanya" Sean menyemangati dirinya sendiri.


Pria itu memegang perutnya. Rasa lapar mulai ia rasakan, ia sudah lupa sejak kapan ia tidak makan.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, otak pria itu berpikir keras. Dimana ia harus mendapatkan makanan.


Sean memperhatikan sana sini berharap ada buah yang bisa mengganjal perutnya yang keroncongan.


Tapi sejauh mata memandang, tidak ada apa apa yang ada hanya Padang rumput dan pohon yang tidak memiliki buah sama sekali.


Sean lagi lagi berpikir. Tidak ada pilihan lain agar ia tidak mati kelaparan, ia harus pergi ke rumah itu. Rumah mewah yang ada di dalam hutan milik keluarga pembunuh.


Sean berbalik arah ia harus mengisi perutnya dulu agar ia memiliki tenaga untuk menyelesaikan permainan yang Bella buat.


Karena ia sudah pernah melewati tempat itu, dengan mudah ia sampai di rumah tersebut. Untung di tengah jalan tidak ada halangan jadi ia sampai di rumah itu secepat yang ia mampu.


Sean langsun menuju arah belakang rumah, dimana dapur berada.


Dengan mengendap endap, pria itu membuka pintu melewati ruangan demi ruangan dan akhirnya sampailah ia di dapur.


Saat ia melihat tidak ada orang, Sean segera mengambil semua makanan yang ada di sana lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.


" Setidaknya masih bisa di makan beberapa hari ke depan" katanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2