
" Memangnya di mana Fitri?" tanya Sean. ( sekedar info Fitri pernah muncul di di part 10)
" Ia tinggal di B***. Aku berteman dengannya di media sosial" jawab Gilang mengambil ponselnya dari saku bajunya lalu mencari media sosial Fitri.
" Aku sudah mengirim pesan. Mudah mudahan ia membalas pesanku, ini pertama kalinya sejak aku masuk Sma" sambung Gilang.
Hanya beberapa detik, pesan Gilang di balas.
" Aku sedang di J***** sekarang. Memangnya kenapa?" begitulah balasan Fitri.
" Hei rupanya Dewi keberuntungan ada di pihak kita, Fitri ada di kota ini" ucap Gilang senang.
Gilang kembali mengetik huruf demi huruf kemudian mengirimnya ke Fitri.
Dengan cepat balasan mantan teman baik Vita itu masuk.
" Kita boleh menemuinya nanti malam di warkop 88. Dia tidak punya banyak waktu untuk bertemu dengan kita karena besok pagi ia akan pulang" jelas Gilang.
Mereka bertiga semangat. Semoga Fitri dapat memberikan informasi tentang Vita walau sedikit saja.
Waktu terus berlalu. Cahaya kekuningan sudah mulai muncul di ufuk barat saat ketiga sahabat itu bersiap siap berangkat ke warkop 88 di mana mereka memiliki janji temu dengan Fitri.
Di dalam mobil, Sean terlihat gelisah. Sekali kali ia mengganti posisi duduknya, ia menggosok kedua telapak tangannya lalu menyembunyikan wajahnya kemudian menggosok tangannya lagi, ia mengulangnya berkali kali. Nanda terlihat tenang sedangkan Gilang bertugas di balik kemudi.
Nanda melirik Sean, pria di sampingnya itu tidak tenang sedari tadi. Entah apa yang ada di otaknya sekarang penasaran atau tidak sanggup mendengar cerita Fitri.
Hanya sekitar 20 menit, mereka tiba di tempat tujuan. Keadaan warkop sedang ramai, Gilang mencari cari keberadaan Vita. Lalu terlihatlah seorang gadis dengan warna rambut merah terang melambaikan tangan ke arahnya.
" Di sini" teriak Fitri.
Mereka bertiga menghampiri gadis pirang merah itu.
" Hei, ada apa gerangan kalian mengajakku bertemu. Teman teman SD dan SMP ku " ujar Fitri senang.
" Ada yang ingin kami bicarakan. Tapi sebelum itu kita pesan minuman dulu, aku yang traktir" ucap Sean.
" Oke. Kau tidak berubah, selalu mentraktirku dari dulu" balas Fitri.
Sean memesan cappucino untuk dirinya, latte untuk Nanda, kopi hitam untuk Gilang dan jus avocado untuk Fitri.
__ADS_1
Mereka bersendau gurau sebelum pesanan mereka datang. Setelah pesanan mereka sudah datang mereka mulai masuk ke dalam pembicaraan inti.
" Ri, apa kau masih berhubungan dengan Vita?" tanya Sean memulai pembicaraan yang sebenarnya.
Fitri menggeleng.
" Sudah tidak lagi. Terakhir kali kami berhubungan sejak dia ada di Korea, setelah itu nomor ponsel dan media sosialnya sudah tidak aktif" jawab Fitri.
Ketiga anggota OSIS itu kecewa. Tapi mereka berusaha menepis kekecewaan mereka, mereka masih bisa menggali informasi lain.
" Katamu dia ada di Korea, apa yang dia lakukan di sana?" kali ini Nanda yang berbicara. Pria itu penasaran mengingat Vita berkaitan dengan dokter Mika yang tinggal di Korea.
Fitri mengangkat bahunya.
" Entahlah, tapi katanya ia pergi jalan jalan"
" Bagaimana perasaanmu berhubungan dengan Vita selama ini saat kau tahu kalau ia seorang pembunuh?" tanya Sean lagi.
Fitri diam. Pertanyaan kali ini membuatnya sedih.
" Mungkin karena selama ini aku menganggapnya saudara. Saudariku yang malang, saudariku yang di kutuk semua orang jadi aku selalu ingin di sisinya memberinya hiburan"
" Tentu saja. Dia tetap saudaraku, apapun yang terjadi dan bagaimana pun situasinya dia tetap saudaraku" jelas Fitri terbawa perasaan.
Ketiga pria itu diam. Gadis berambut merah di depannya ini punya rasa persaudaraan yang kuat.
" Saudaramu itu ternyata hobi membunuh yah" Gilang buka suara. Dari tadi ia hanya mendengar pembicaraan ketiga temannya.
" Aku selalu kasihan padanya. Dia butuh psikiater di sampingnya tapi sayangnya keluarganya selalu menekannya" ucap Fitri.
" Kenapa kau bisa tahu kalau keluarganya selalu menekannya?" tanya Nanda.
" Karena sewwktu ia masih punya kabar, ia sering bercerita padaku" jawab Fitri.
" Apa kau yakin kalau ia tidak berbohong?" Sean bertanya lagi.
" Tentu saja dia tidak bohong. Perasaan perempuan sangat peka, mereka dapat memahami satu sama lain tanpa berbicara sekalipun" jelas Fitri.
Sean diam. Apa bisa seperti itu?, katanya dalam hati.
__ADS_1
" Apa kau dengar cerita tentang sekolah kami, SMA Rajawali?" Tanya Gilang.
" Yah. Aku mengikuti kasusnya, kalian berspekulasi kalau Vita datang ke sekolah itu menyamar jadi siswa kelas sepuluh lalu membunuh teman temannya" jawab Fitri.
" Bagaimana pendapatmu?" kali ini giliran Nanda yang bertanya. Terlalu banyak pertanyaan yang di tujukan ketiga anggota OSIS itu kepada si gadis berambut merah.
" Aku tidak tahu. Tapi instingku mengatakan kalau Vita sudah tidak membunuh lagi"
" Lalu menurutmu siapa yang berkeliaran di sekolah kami mencari korban. Sudah banyak bukti bukti yang mengarah ke Vita" terang Gilang.
" Entahlah. Aku tidak tahu"
Sean diam. Matanya tenang menganalisa Fitri, apa gadis ini sudah jujur atau ada kebohongan atas perkataannya. Sang ketua OSIS itu tidak serta merta percaya kepada gadis ini, bisa saja ia berbohong mengingat Fitri adalah teman baik Vita bahkan mereka sudah seperti saudara bisa saja Fitri melindungi sahabatnya.
" Ri, apa kau sudah jujur?" tanya Sean tiba tiba.
Ketiga teman bicaranya tersentak akan pertanyaan Sean barusan. Sangat jelas kalau Sean tidak mempercayai Fitri.
" Jadi menurutmu aku bohong?"
" Aku yakin ada yang kau sembunyikan. Aku mohon berbicara jujurlah Ri, kalau Vita tidak segera di tangkap akan ada lagi korban yang berjatuhan. Apa kau tidak kasihan? sudah banyak korban selama ini, mereka yang tidak bersalah harus kehilangan nyawanya sementara Vita masih bisa berkeliaran. Kalau kau menganggapnya sebagai saudara tidak begini caranya mendukungnya, kalau kau menyembunyikannya sama saja kau membiarkan saudaramu jatuh ke dalam jurang" mohon Sean tanpa basa basi.
Fitri menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar.
" Sean, hatiku mengatakan kalau bukan Vita pelakunya. Aku hanya mengatakan kata hatiku"
" Baiklah kalau begitu. Anngap saja kalau Fitri tidak tahu apakah Vita pelakunya di dalam kasus ini" ucap Nanda menengahi.
" Sekarang aku yang bertanya tapi Ri kau harus menjawabku dengan jujur karena ini menyangkut keselamatan kami di SMA Rajawali. Tadi kau berkata soal perasaan kan, aku harap kau mengerti perasaan kami sekarang ini, hidup di tengah tengah pembunuh di hantui ketakutan dan kecemasan. Sekarang jawab aku dengan jujur, apa tujuan sebenarnya Vita datang ke Korea? kau pasti tahu" Nanda bertanya dengan tatapan menusuk.
Fitri diam.
Nanda memperhatikan Fitri. Ia dapat membaca gerak gerik gadis itu. Dan benar ada yang di sembunyikan oleh gadis berambut merah itu.
Tapi sesaat kemudian, Fitri bisa menguasai keadaan.
" Hahahaha. Hei kalian, apa sekarang ini kita bermain polisi polisian. Kalian polisi dan aku penjahatnya, sadar tidak kalian mengenterogasi aku seperti penjahat" ujar Fitri sambil tertawa. Saking lucunya, matanya berair karena tertawa.
Beberapa detik kemudian, seseorang membekapnya dari belakang sampai gadis itu pingsan.
__ADS_1
" Hah" ketiga anggota OSIS itu kaget bukan main. Saking seriusnya sampai mereka tidak sadar ada kehadiran lain di sekitarnya.