Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Kelas 10 A


__ADS_3

Sesampainya di Rumah sakit.


" Sus, di mana mayat pria yang di bunuh di klub malam *** ?" tanya Sean pada seorang suster yang ada di situ.


" Dia sudah ada di kamar mayat, menunggu keluarganya datang" jawab sang suster.


Ketujuh anggota OSIS itu segera berlari ke arah kamar mayat.


Sesampainya di sana.


Sesosok tubuh yang terbujur kaku di angkat masuk ke dalam peti. Ada beberapa petugas yang mengurusnya sementara seorang wanita menangis meraung raung di sampingnya.


Tak peduli akan di marahi petugas, Sean segera membuka kain penutup mayat itu.


" Ilan " gumamnya.


Ia mengenalnya. Yah, Sean sangat mengenalnya. Anggotanya yang masuk ke dalam pengurus OSIS beberapa bulan yang lalu. Sean sendiri yang merekrutnya karena pria itu adalah pria cerdas yang dapat di andalkan. Teman temannya sering memanggilnya dengan nama Ilan, murid kelas 10 A. Ia adalah teman sekamar Hendrik.


Salah satu petugas menghentakkan tangannya saat ia membuka kain penutup tanpa isin.


Teman temannya yang sempat melihat wajah Ilan, semuanya kaget. Jadi Ilan korban kemarin malam, pantasan di tangannya ada gelang khusus yang di pakai semua anggota OSIS di SMA Rajawali.


Sean mempercepat langkahnya ke UGD, meninggalkan teman temannya. Ia bertanya kepada petugas yang bertugas di sana.


" Sus, korban yang meninggal di klub *** karena apa yah?" tanya Sean.


" Korban yang bernama Ilan itu?" tanya suster.


" Iya "


" Ia meninggal karena tusukan di dadanya tembus ke jantung. Jantungnya koyak karena benda tajam" terang sang suster.


Setelah selesai memperoleh informasi, ia dan teman temannya menuju rumah Ilan.


Isak tangis terdengar saat Jenasah Ilan tiba di rumahnya. Orang tuanya begitu terpukul mendengar kabar kepergian anak laki lakinya itu. Sang ibu jatuh pingsan tidak kuat menerima kenyataan kalau anaknya sudah tiada sedangkan kakaknya yang bernama Ivan menangis tanpa suara memegang tangan adiknya yang tanpa nyawa.


Sean berdiri dengan tatapan yang kosong, ia sulit menerima hal ini. Ia sangat tidak menyangka kalau adik kelasnya itu meninggal dengan cara di tusuk.


" Ini aneh "


Sean tersentak mendengar suara barusan. Pria itu menoleh ke samping, di sampingnya sudah ada Dimas.


" Bapak, kapan ke sini?" tanya Sean masih dengan wajah yang kaget.

__ADS_1


" Aku lebih dulu datang darimu. Aku sudah ada di sini sebelum mayat Ilan sampai" jawab Dimas.


Sean tidak mengajukan pertanyaan lagi. Matanya kembali menyoroti mayat Ilan yang di tangisi oleh keluarganya.


Dimas melangkah meninggalkan Sean. Pak polisi itu memilih duduk di kursi pelayat yang agak sepi berjauhan dengan pelayat lain. Satu batang rokok ia nyalakan lalu di isapnya dalam dalam.


Dimas menghela nafasnya, rasa lelah menggerogoti tubuhnya. Staminanya sudah di ambang batas sementara ada lagi kasus yang mengejutkan.


Polisi itu berusaha menenangkan diri. Ia harus mendapatkan staminanya Kembali untuk menangani kasus ini.


Sesekali ia menghirup udara kuat kuat lalu menghembuskannya. Mencoba mengembalikan energinya.


" Bapak ingin minum" Sean menyodorkan sebotol air segar.


" Terimah kasih" ucapnya sambil mengambil air itu.


Sean duduk di samping Dimas. Keadaan di rumah Ilan siang itu ramai di datangi penduduk sekitar dan murid murid SMA Rajawali.


" Maafkan aku hari itu. Aku tahu Bapak pasti sangat kecewa padaku" ucap Sean.


" Yah begitulah. Tapi lupakan, itu masa lalu" ujar Dimas.


" Apa kau kenal pria yang meninggal itu?" sambungnya.


" Menurutmu siapa pembunuhnya?" tanya Dimas.


" Mana aku tahu, aku tidak curiga pada seseorang"


" Apa menurutmu Vita berbohong?" tanya Dimas lagi.


Sean tersentak. Ia menoleh ke arah Dimas.


" Maksud Bapak?"


" Aku selalu bertanya tanya, apakah Vita pelakunya atau bukan. Walaupun ia pernah membunuh tapi tidak menutup kemungkinan ia khilaf. Sebenarnya dari dulu aku tidak yakin kalau Vita pelakunya di dalam kasus yang terjadi di sekolah kalian. Aku pernah berhadapan dengan pembunuh itu di atas bukit saat kita membawa Fitri dari warkop 88, kau tahu dia memakai penutup tapi bibirnya kelihatan dan bibirnya itu berbeda jauh dengan Vita" jelas Dimas.


Sean diam tapi jantungnya bergerak cepat. Kalau apa yang di katakan Dimas benar, ia pasti senang. Ia senang karena Vita akan bebas dari penjara, pria itu berharap lebih akan kata kata Dimas. Ia berdoa dalam hati semoga bukan Vita pelakunya.


Tapi jika hal itu benar??? kenapa Vita berbohong. Kenapa gadis itu mengakui telah membunuh penghuni Sma Rajawali ataupun polisi.


Sean mencoba menerka nerka, mengapa gadis itu mengakui hal yang tidak ia lakukan tapi sayangnya ia sama sekali tidak menemukan jawabannya. Ia hanya berkesimpulan pasti ada alasan kuat di belakangnya.


" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sean kemudian.

__ADS_1


" Tentu saja kita akan mengejar dan menangkap pembunuhnya. Tapi aku harap kali ini kau jangan menghianatiku" kata Dimas.


" Aku yakin itu. Aku akan patuh padamu" ujar Sean mantap.


Denal melangkah ke arah mereka lalu duduk di samping Dimas, jadilah Dimas ada di tengah tengah Sean dan Denal.


" Apa kalian memiliki insting yang sama denganku, kalau pembunuh sebenarnya belum tertangkap" kata Denal.


Dimas mengangguk diikuti oleh Sean.


" Kali ini akan jadi lebih sulit" tutur Dimas.


" Aku sudah bertemu dan berbicara dengan salah satu keluarganya. Katanya Ilan bukanlah tipe pria yang suka ke klub malam, ini pertama kalinya pria itu ke sana walaupun ia penggemar majalah dewasa" jelas Denal.


" Aku yakin kalau Ilan sengaja di jebak oleh seseorang. Pria itu sudah lama di incar" sambungnya.


" Dia murid 10 A kan?" tanya Dimas.


" Yah " Jawab Sean.


" Ini berbahaya. Kita harus mengamankan siswa 10A, sebelum murid murid di kelas itu di habisi" Dimas berdiri.


" Sean, hubungi murid murid di kelas itu dan suruh mereka semuanya ke kantor polisi. Aku tidak mau tahu, pokoknya kumpulkan mereka di kantor polisi" tegas Dimas.


" Baik pak" Sean meninggalkan tempat itu.


***


Semua siswa kelas 10A berada di kantor polisi yang berjumlah 24 orang. Sebenarnya siswa kelas 10A berjumlah 30 orang tapi lima di antaranya sudah meninggal dan satunya lagi berada di penjara.


Riuh ramai suara mereka siang itu saat mereka sadar sesadar sadarnya kalau semua murid yang di bunuh ternyata murid di kelas mereka.


" Aku ingin pindah saja deh"


" Aku takut. Bagaimana kalau kita pindah tapi pembunuh itu masih mengincar kita"


" Tidak akan. Aku yakin kita aman kalau sudah pindah"


" Aku akan pindah ke kota lain"


" Aku akan pindah ke negara lain"


Begitulah kata kata yang keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


__ADS_2