Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Tertangkap


__ADS_3

Vita berjalan terseok terseok, kakinya mulai sakit karena terkena rerumputan liar dan sesekali juga kakinya terbentur ke kayu atau tanah. Kini mereka berdua berjalan pelan di dalam hutan, pencahayaan yang minim adalah kendalah terbesar untuk melarikan diri malam itu.


" Kakiku sakit" keluhnya.


" Tahan sedikit. Sebentar lagi kita sampai di jalan raya " ujar Sean tanpa menoleh, ia terus menarik tangan Vita.


Vita bersabar, ia harus menahan sakit di kakinya supaya mereka tidak tertangkap.


Sedikit lagi mereka sampai di jalan raya. Tiba tiba suara tembakan dari atas sana bergema malam itu bersamaan dengan tubuh Sean jatuh ke tanah.


" Seaaaaaannnnnn" Teriak Vita histeris saat ia melihat pria itu meringis kesakitan memegang pundaknya.


" Cepat lari. Mereka datang" ujar Sean saat melihat ke atas sana. Shanaya berlari ke arah mereka.


" Tidak. Tidak mungkin aku akan meninggalkanmu di sini" ucap Vita. Matanya mulai basah karena air mata.


" Jangan pedulikan aku. Aku tidak apa apa jika mereka menangkapku yang jadi masalah adalah kau. Cepat lari Vita" Sean menekankan kalimat terakhir dengan suara yang tinggi.


Vita mendengar kata Sean tapi langkahnya langsun berhenti saat suara wanita itu terdengar di telinganya.


" Lari saja kau, kalau kau ingin pria itu kehilangan kakinya"


" Jangan dengarkan ancamannya. Lari Vita" Sean teriak teriak tapi sayangnya Vita sudah tidak bergeming dari tempatnya.


" Anak pintar. Berdiri di sana dan pacarmu ini selamat" Shanaya melangkah normal tapi dengan tatapan mematikan kemudian dari belakang muncul juga Dimas dan Denal.


" Tangkap dia" perintah Dimas.


" Jangan, hentikan" Teriak Sean.


Dooor


Satu peluru mendarat di kaki Sean.


" Aaaaaaaahhhhj" Suara Sean bergema malam itu.


" Jangan membantahku. Ini hanya hukuman kecil, aku bisa mematahkan lehermu jika aku mau" kata Dimas dengan mata melotot.


Denal segera memborgol Vita, gadis itu tidak melawan sama sekali.


Hanya 15 menit, mobil polisi datang lalu menaikkan Vita ke atasnya. Tak lama kemudian mobil ambulance juga datang menaikkan Sean ke atasnya.


Di atas ambulance, Sean meringis tiada henti. Dua buah peluru bersarang di tubuhnya.


" Tahan sedikit" ucap seorang suster.


Ada empat petugas kesehatan bersamanya, mereka berempat mengambil kain untuk menyeka darah Sean yang keluar terus menerus.


Sinar matahari pagi mulai tampak saat Sean tiba di Rumah sakit. Dokter dan petugas lainnya segera melakukan pertolongan untuk menghentikan pendarahan pria itu dan mengeluarkan peluru dari pundak dan kakinya.


Dua jam di ruang operasi, tubuh Sean yang masih pingsan di bawa masuk ke dalam kamar VIP di mana ayahnya sudah menunggu.


" Terimah kasih, Dok" ucap ayahnya sopan.


Saat petugas sudah keluar kamar. Ayahnya duduk di atas sofa dengan lemah, ia geleng geleng kepala melihat kelakuan putranya.


Tiga jam menunggu, Sean mulai membuka matanya. Yang pertama ia lihat adalah wajah ayahnya yang di liputi kemarahan.

__ADS_1


" Sudah bangun" sapa ayahnya dingin.


Sean mengangguk. Tidak heran lagi, ayahnya pasti akan marah padanya.


Sean meringis kembali saat sakit di pundak dan kakinya terasa lagi. Namun ia berusaha bangun, pria itu memaksakan dirinya untuk duduk.


Ia berhasil melakukannya, Sean sudah duduk di atas kasur sambil menopang tubuhnya ke dinding.


"Ayah" ucap Sean saat ayahnya berjalan ke arahnya.


Lalu sebuah tamparan berhasil mendarat di wajah pria itu.


Sean memegang pipinya perih, ayahnya tidak segan segan menampar putranya dalam keadaan yang seperti ini. Seharusnya ayahnya tidak melakukan ini, pria paruh baya itu menambah rasa sakit pada tubuh Sean.


" Ayah. Kenapa ayah melakukan ini?, seharusnya ayah memperhatikanku, aku tahu ayah marah padaku tapi tidak begini caranya memperlakukanku dalam kondisi saat ini" jelas Sean.


" Memperhatikanmu katamu setelah kau menolong pembunuh ibumu" bentak ayahnya.


Sean tersentak, ia teringat Vita. Gadisnya itu sudah tertangkap, Vita pasti sudah di sel.


Dengan gerakan yang refleks, niat turun dari tempat tidur malah terjatuh ke lantai.


Ayahnya semakin marah melihat kelakuan putranya.


" Suster" teriak ayahnya.


" Iya pak" seorang suster datang tergopoh gopoh.


" Kunci anak ini di dalam kamar. Jangan buka pintunya tanpa perintah dariku" ujar ayah Sean emosi.


" Tidak ada tapi tapian, ikuti perintahku sekarang. Aku akan membayar 2x lipat dari perawatannya kali ini"


" Baik pak" akhirnya Suster itu menurut.


" Ayah"


Tanpa menjawab anaknya. Pria paruh baya itu melangkah keluar.


**


Bunda Merry menatap lemah kantor polisi saat wanita itu turun dari mobil. Sepuluh menit yang lalu ia mendapat telepon kalau Vita di tangkap. Wajah ceria wanita itu tergantikan, yang ada hanya wajahnya yang sayu dan tak berdaya.


Bunda Merry melangkah ke dalam kantor polisi, Dimas menyambutnya dengan senyuman.


" Ibunya Vita yah?" tanya Dimas meski ia sudah tahu jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Bunda Merry mengangguk.


Dimas menyuruh Denal untuk mempertemukan ibu dan anak itu.


Denal membimbing Bunda Merry masuk ke dalam. Berapa menit berjalan mereka tiba di sebuah sel.


" Vita " suara wanita itu tercekat di tenggorakannya saat ia melihat Vita memakai baju khas tahanan.


Denal menunduk hormat, lalu meninggalkan ibu dan anak itu.


" Bunda maafkan aku" ujar Vita lemah.

__ADS_1


" Tidak sayang, kau tidak bersalah dalam hal ini" Bunda Merry menenangkan.


" Jangan marah pada Fitri yah" ucap Vita lagi. Ia tidak ingin ibu angkatnya itu mempersalahkan Fitri.


" Tidak nak, ibu tidak akan marah pada gadis itu"


" Bunda. Sekarang aku akan hidup di sini, aku tidak bisa ke sekolah lagi" kata Vita, air matanya mulai jatuh.


" Bunda akan mencari cara agar kau bisa bebas. Bunda tidak ingin anak Bunda berada di sini" tutur wanita itu.


Ibu dan anak itu berbincang bincang beberapa lama.


" Waktunya tinggal lima menit" suara Denal memperingatkan.


" Bunda, waktu bincang bincang kita tinggal sedikit. Ada yang ingin aku katakan"


" Katakan saja"


" Bunda janji yah bebaskan aku secepatnya dari sini"


" Tentu saja. Bunda berusaha membebaskankanmu"


Vita menggerakkan mulutnya. Sebuah kalimat rahasia terlontar dari sana.


" Waktunya selesai" kata Denal lalu menuntun Bunda Merry keluar dari sana.


***


Beberapa jam sebelum penahanan Vita.


Nanda menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara walau sekecil saja. Saat Dimas dan rekan rekannya sudah pergi, dengan langkah yang cepat namun tak terdengar Nanda turun dari bukit itu. Ia berjalan ke arah yang berlawanan


Saat tiba di jalan raya, pria itu lari terbirit birit. Ia syok berat hari ini. Nanda berlari dan terus berlari sampai tiba di rumah atau gedung di mana Fitri di interogasi.


Nanda menarik nafasnya, mengatur nafasnya agar rasa lelahnya cepat hilang. Ia berjalan ke arah pintu lalu membukanya kemudian ia masuk ke dalam kamar.


Nanda membuang tubuhnya ke atas kasur dengan nafas yang masih tersengal sengal sedangkan di sampingnya Gilang mengorok keras menandakan kalau tidurnya sangat nyenyak.


Tidak tidur semalaman, akhirnya pria itu tertidur juga. Membayar rasa penatnya hari ini.


Halo halo halo. Tidak terasa Teror di Sekolah sudah update sampai 50an episode .


Author udah baca komen kalian semua tapi belum balas satu per satu. Aku jawab di sini saja yah.


Banyak yang ingin author update part-nya banyak banyak agar rasa penasarannya nggak lama lama tapi sayangnya author hanya bisa update satu bab aja per hari karena di samping author punya anak baby jadi sibuknya minta ampun juga author masih pemula jadi masih mengumpulkan ide untuk lanjut ke part selanjutnya.


Kalau author update banyak banyak per hari sementara idenya nggak ke susun rapi karena buru buru nanti ceritanya jadi membosankan. Jadi sabar aja yah🙏🙏


Tunggu kelanjutan ceritanya.


Jangan lupa, like, komen dan vote.


Dukungan pembaca sangat berharga buat author.


Thank you.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2