Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Janji


__ADS_3

" Nay...nay...nay...


Suara seseorang menggema di telinga Shanaya. Wanita itu membuka matanya.


" Apa ini?"


Mengapa tiba tiba, ia berada di tempat yang gelap, sangat gelap sehingga ia hanya bisa merasakan detak jantungnya.


" Nay...nay...nay"


Suara itu terulang.


" Siapa itu. Kenapa di sini gelap sekali?" teriak Shanaya.


Wanita itu menggerakkan tangannya ke sana ke mari berharap ia dapat memegang sesuatu tapi sayangnya sepertinya ia berada di ruangan luas yang kosong.


" Aku di mana. Tolong siapa saja" Shanaya menangis dalam hati. Entah kenapa ia sangat takut berada di tempat ini.


Beberapa saat kemudian.


Klek.


Cahaya dengan terang yang sangat sedikit menyinari tempat itu.


" Nay, tolong aku"


Suara seseorang di sana.


" Apa itu?" Shanaya mendengar seperti suara benda yang di seret.


" Tolong aku"


Shanaya mundur ke belakang, was was. Matanya nyalang menatap ke depan. Di mana bunyi itu berasal.


" Nay...


Alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya. Di bawah sinar lampu ia melihat seorang wanita paruh baya berdiri dengan luka yang memprihatinkan. Darah mengucur banyak dari dadanya. Seorang wanita yang mengenakan kaos berwarna oranye.


Kaos oranye.


Bu' Vany.


Tidak mungkin.


" Tidak...tidak...tidak. Aku mohon...aku mohon. Jangan bunuh dia" Shanaya berteriak histeris. Ia berlari sekuat tenaga menggapai wanita itu, tapi sebelum ia mencapainya sebuah kapak menghantam kepala bu' Vany hingga terlepas dari tubuhnya.


" Aaaaaaaahhhhhhhhhhhh" teriakan Shanaya membahana di tempat itu.


" Kurang ajar, kau keparat akan ku bunuh" Shanaya teriak histeris.


Sosok berjubah merah muncul di hadapannya.

__ADS_1


" Sekarang giliranmu" katanya.


***


Tok...tok ...tok..


Shanaya membuka matanya, ternyata hanya mimpi. Sial, ia ternyata bermimpi, mimpi yang sangat buruk.


" Tidak...tidak... ini bukan mimpi. Ini adalah mimpi yang jadi kenyataan".


" Nona...nona...nona kenapa" ucap pembantunya dari luar kamar.


Shanaya bangun dari kasurnya. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Nafasnya ngos ngosan. Mimpi yang sangat nyata.


Wanita itu melompat dari atas ranjang, dengan kasar ia membuka pintu. Ia berlari sekuat tenaga keluar rumah.


" Nona...nona...nona ingin ke mana?" teriak pembantunya sambil mengejar wanita itu.


" Tidak...tidak...tidak. Aku mohon...aku mohon. Jangan sampai terjadi" Shanaya memohon dalam hatinya berkali kali.


Jam menunjukkan pukul 01.00 dinihari . Hujan sudah mulai reda wanita itu berlari menyusuri malam yang gelap.


Lalu..


" Hahahaha. Aku kenapa? apa aku bodoh. Jarak rumahku ke sekolah 2 km. Apa aku akan terus berlari. Sudah terlambat bibi pasti sudah meninggal. Sia sia, tidak ada gunanya. Kalau begini aku hanya mengantarkan nyawaku saja pada pembunuh itu. Benar benar Bodoh. Kenapa kau bisa berpikir bodoh Nay, bukankah kau wanita cerdas. Kenapa kau bisa sebodoh ini" Shanaya menepuk nepuk dadanya. Ia menangis seorang diri di tengah jalan.


Setelah beberapa menit, wanita itu berhasil mengendalikan emosinya. Ia baru sadar saat berlari ia tidak mengenakan alas kaki. Dingin aspal menusuk ke dalam telapak kakinya, tapi ia tidak peduli. Di dalam otaknya hanya satu membalaskan kematian bu' Vany dan menangkap pembunuh itu.


" Hiks..Hiks ..Hiks.."


Shanaya masih terus berjalan, langit benar benar gelap tidak ada cahaya rembulan yang muncul, yang menerangi jalannya hanyalah lampu jalan yang tidak seberapa.


Beberapa menit berjalan, ia terduduk. Kedua tangannya menopang di atas aspal sedangkan wajahnya menunduk. Tak henti hentinya butiran kristal mengalir dari pelupuk matanya. Ini adalah kenyataan yang sangat pahit, bibi yang sangat di kasihi dan di hormatinya kini telah tiada sedangkan ia tidak bisa melakukan apa apa.


" Aku janji, aku janji akan menangkap pembunuh itu dan melemparkannya ke dalam penjara jika perlu ia harus mati mempertanggungjawabkan perbuatannya" Shanya berteriak. Tenggorokannya terasa kering akibat teriakannya barusan.


" uhuk...uhuk...uhuk"


Wanita itu mengepalkan tangannya kuat kuat. Ia memukul jalanan berkali kali. Darah segar menetes dari sana. Tapi ia tidak peduli yang dia inginkan hanyalah menangkap pembunuh itu.


" Nona...nona" Shanaya mengangkat wajahnya. Ia melihat pembantunya berlari menghampirinya.


" Nona kenapa?" tanyanya.


" Tidak apa apa. Kenapa kau repot repot mengejar ku sampai ke sini"


" Aku mengkhawatirkan nona. Tiba tiba nona berteriak dari dalam kamar kemudian berlari ke jalan raya. Apa ada masalah nona?"


" Jangan khawatir. Aku baik baik saja" Shanaya bersifat tak acuh. Ia berjalan cepat meninggalkan pembantunya.


***

__ADS_1


" Huaaaahhh... Jam berapa sekarang?" Gilang membuka matanya. Ia turun dari ranjang, kemudian menengok ke atas ranjang Nanda.


" Heh. Ke mana pria itu?" gumamnya seorang diri.


Gilang tidak peduli, ia melirik jam berbentuk bulat yang tergantung di dinding. Jam 03.00 subuh. Sudah waktunya ia bangun, pria itu sangat senang bermain game di waktu subuh. Kemudian ia menyambar handphonenya lalu memainkan game favoritnya.


Waktu terus berlalu.


Beberapa detik, menit ,jam.


Gilang meregangkan otot ototnya. Seluruh badannya sakit entah kenapa. Ia hanya menggerakkan jemarinya dengan lincah tapi kenapa seluruh badannya sakit.


Ia melihat jam yang terpampang di handphonenya. Sudah jam 05.00 pagi.


Tapi kenapa si Nanda belum kembali?


" Ke mana sebenarnya perginya pria itu?"


Deg..


Sialan. Kenapa bisa ia lupa keadaan akhir akhir ini di sekolah. Ada pembunuh yang berkeliaran di sekolahnya. Suasana sekolah sekarang sangat mencekam dan menakutkan, kenapa bisa ia tidak mempedulikan sahabatnya itu.


lalu jari jemarinya dengan lincah mencari nomor kontak Sean. Ia harus menghubungi Sean kalau Nanda menghilang. Bisa saja teman sesama osisnya itu menjadi incaran pembunuh.


Nihil. Berkali kali ia menghubungi Sean, tapi sang ketua OSIS itu menonaktifkan hpnya.


Sialan. sialan. sialan


Gilang mengumpat dalam hati. Seharusnya Sean tidak menonaktifkan hpnya agar ia selalu bisa di hubungi dalam keadaan yang genting.


Tok...tok...tok.


" Gilang"


Gilang menoleh ke arah pintu. Ia bernafas lega, suara itu milik Nanda. Pria itu segera membuka pintu dengan kecepatan tinggi, lalu menarik Nanda masuk ke dalam.


" Kau ke mana saja?. Aku pikir kau sudah di tangkap oleh pembunuh itu" cecar Gilang.


" Nanti saja pertanyaannya. Aku sangat capek sekarang" Nanda merebahkan tubuhnya di atas kasur. Baju sekolah masih melekat di tubuhnya.


" Apa kau habis di kejar, bajumu sangat kotor dan basah?"


" Aku bilang nanti saja pertanyaannya. Tolong buatkan aku kopi hangat" pinta Nanda.


" Baiklah pak bos" dengan sigap Gilang melakukan apa yang di minta oleh Nanda.


Dua cangkir kopi tersedia. Satu untuk Nanda dan satunya untuk Gilang. Gilang meletakkan dua cangkir kopi tersebut di atas meja.


Nanda bangun dari tidurnya.


" Aku akan bercerita, apa yang ku alami malam ini. Kau pasti akan kaget dan takut" kata Nanda memulai ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2