
" Sialan" umpat shanaya berkali kali saat ia mendapatkan Speedboat yang mereka tumpangi sudah rusak.
" Sekarang bagaimana ini?" kata Fitri panik.
Shanaya memegang kepalanya. Ia sudah kehabisan cara untuk membawa kedua anak itu keluar dari pulau itu.
" Apa kalian memiliki ponsel?" tanya Shanaya.
Fitri dan Gilang menggeleng.
" Sialan sialan sialan" katanya.
Kemudian mereka bertiga duduk di rumput, melepaskan lelah karena berjalan terlalu jauh.
" Kakiku sakit sekali" keluh Gilang.
" Aku juga " kata Fitri.
" Untung hujan sudah reda. Andaikan masih hujan maka situasinya akan rumit" ujar Gilang.
" Tidak ada gunanya. Situasinya masih rumit karena Speedboat kita rusak" kata Shanaya.
***
Keesokan paginya.
" uhuk uhuk uhuk" Sean terbatuk batuk saat ia sadar, ia sudah berada di dalam bilik bambu yang lumayan luas.
" Di mana ini?" katanya.
Sean melihat ke sekitarnya kemudian turun dari atas dipan. Seluruh badannya sakit bekas tendangan Irabella.
" akkkhh" jeritnya.
Dengan memaksakan diri, ia menelusuri tempat itu. Lalu matanya menangkap sebuah peti yang di cat berwarnah merah.
Sean mendekati peti itu. Penasaran apa yang ada di dalamnya dengan sekuat tenaga ia membukanya, di dalamnya terdapat tiga buah tengkorak.
" Haaahh"
" Sialan, tengkorak siapa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Kemudian ia mencium bau amis. Ia mencari cari asal bau itu. Lalu matanya melihat ada darah yang bentuknya memanjang ke suatu tempat.
" Darah siapa lagi ini" tanyanya lagi. Lalu Sean mengikuti ke mana darah itu menuntunnya.
" Tidak ada jejak lagi"
Sean melihat sana sini, tidak ada yang mencurigakan. Kemudian pria itu mencoba mencari rekan rekan yang lainnya.
Berjalan dan terus berjalan namun ia tidak menemukan rekan rekannya.
" Ke mana mereka pergi yah"
Melihat keberadaan orang lain di sana, pria itu langsun bersembunyi.
" Tuan William" katanya.
" Kenapa bisa ada di sini"
" Bisa mati aku kalau dia melihatku"
Sean mengintip dari persembunyiannya, sepertinya tua bangka itu berjalan menuju gubuk di mana ia terbangun.
Sean mengelus dadanya lega saat pria itu sudah hilang dari pandangannya.
" Dimana Vita" carinya sambil celingak celinguk sana sini.
__ADS_1
Ia berjalan terus tak tentu arah berharap ia bisa menemukan Vita tapi berapa lama berjalan ia tidak menemukan tanda tanda keberadaan Vita.
" Sean" panggil seseorang.
Sean menoleh ia melihat Irabella di sana.
" Bella"
" Kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya.
" Kemanapun aku mau, ini kan milikku" kata Bella sinis.
" Dimana Vita?" tanyanya lagi.
Bella mengangkat pundak.
" Kau ingin bertamu ke rumahku?" tawarnya.
" Untuk apa?"
" Bertamu saja"
" Boleh" jawab Sean basa basi. Ia dalam mode waspada tinggi mengingat gadis ini mematikan.
" Ayo" ajak Bella.
Sean mengikuti ke mana Bella pergi. Berapa lama kemudian mereka memang sampai di rumah di yang di singgahi Sean dkk sebelumnya.
" Jadi ini rumahmu?" tanya Sean basa basi.
" Yah" seukir senyum terpancar dari wajah Bella karena ia yakin kalau Sean sudah datang ke sini.
" Rumah sebagus ini!!! mengapa di buat di hutan?" tanya Sean lagi.
" Karena tidak ada yang menerima kami di luar sana" jawab Bella singkat.
" Tidak ada gunanya. Ujung ujungnya kami akan di benci semua orang"
Sean tidak menggubris, ia sibuk melihat desain dan inteior rumah itu.
" Sangat bagus" puji Sean dalam hati.
Tiba tiba ia teringat Jasmine.
" Jasmine. Aku hampir melupakannya, apa ia bersama dengan Vita" pikir Sean.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Bella.
" Tidak ada" kata Sean bohong.
" Apa kau mencari Vita dan Jasmine" tebak Bella.
Sean tersentak.
" Dimana ia bisa tahu?" pikirnya.
" Tentu saja aku tahu karena dia pacar pacarmu kan" tebak Bella lagi. Ia benar benar bisa membaca pikiran Sean.
" Dia baik baik saja kok. Tak usah di pikirkan" kata Bella tersenyum. Tapi seukir senyum yang muncul di wajahnya membuat Sean merinding.
" Apa kau yakin mereka baik baik?" tanya Sean serius. Wajah pria itu berubah drastis, terasa padam dan mencekam.
" Yah aku sangat yakin" ujar Bella lalu tertawa.
" Mengapa wajahmu seserius itu. Apa kau pikir aku bohong?" tanya Bella.
" Susah bagi orang orang untuk mempercayai seorang pembunuh begitu juga bagiku" ucap Sean tegas.
__ADS_1
" Vita juga mantan seorang pembunuh kan. Mengapa kau percaya padanya?" tanya Bella menusuk.
" Karena dia bertobat dari masa lalunya" balas Sean.
" Hahaha hahaha hahahah" Bella tertawa dengan keras.
" Kau sangat takut kehilangan pacarmu itu yah. Hahaha hahahaha hahahah" katanya terbahak bahak sambil memegang perutnya. Matanya berair karena tawanya berlebihan.
" Sudah selesai" kata Sean. Entah mengapa Bella merasakan atmosfer yang gelap dari pria itu.
Tak gentar, Bella semakin mempermainkan Sean.
" Uppppsss. Aku juga tidak tahu apa ia masih hidup atau tidak, cari saja dia" ujar Bella sangar.
" Tentu saja aku akan mencarinya" ucap Sean sarkas sambil melangkah menuju pintu.
Pria itu ingin membuka pintu tapi sayangnya pintunya terkunci.
" Sialan, ini jebakan" umpat Sean dalam hati, ia menyesal menuruti ajakan Bella.
" Terkunci yah" kata Bella dari belakang, senyuman tidak berhenti dari wajahnya.
" Buka pintunya" bentak Sean.
" Bukan aku yang mengunci pintunya loh" ujar Bella.
Ya benar. Memang bukan Bella yang menutup pintunya, ada orang lain di rumah ini yang sengaja menutup pintu itu dari luar rumah. Mengapa luar rumah?? karena Sean tidak melihat ada yang mengunci pintu itu dari dalam rumah.
" Ayo kita main game?" tawar Bella.
Sean menatap sinis gadis itu.
" games apa?" balas Sean.
" Vita masih hidup dan masih ada di suatu tempat. Amb Ini" kata Bella sambil menyodorkan suatu denah.
" Apa ini?" tanya Sean.
" Itu denah di mana Vita berada. Gambar yang berbentuk manusia itu adalah lokasi di mana Vita berada. Aku memberikanmu waktu 40 menit, jika kau gagal menyelamat Vita maka ia pasti akan mati" jelas Bella.
" Sialan kau" umpat Sean.
" Hahahahahaha. Memang begitu" katanya sambil menjulurkan lidahnya.
" Tidak ada pilihan lain. Jika kau ingin Vita masih hidup maka turuti kata kataku" kata Bella.
" Buka pintu rumah ini" ucap Sean.
" Tidak boleh, kau harus mencari jalan lain"
" Ciiihhh" dengan kasar pria itu naik ke atas lantai dua lalu melompat dari jendela.
" Wah, aku tidak pernah berpikir menutup jendela" gumam Bella namun tidak masalah ia yakin kalau Sean membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan Vita mengingat ia tidak mengenal seluk beluk pulau ini.
Bella memandang Sean ke bawah, rupanya pria itu cepat mengerti alur denah yang di bawahnya.
" Ini tidak boleh terjadi" pikir Bella.
Bella turun dari lantai dua kemudian keluar rumah mengikuti Sean.
Berapa menit kemudian.
Bella tersenyum saat ia melihat Sean pergi ke arah lain.
" Kau tidak membacanya dengan baik yah" gumam Bella dalam hati.
" Akan ku pastikan kalau Vita itu akan mati"
__ADS_1