Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Pelarian


__ADS_3

" Ada yang ingin kau katakan?" tanya Dimas.


" Aku jadi bingung, dimana Vita?. Aku tidak pernah melihatnya" jawab Sean.


" Entahlah. Kalau kau saja yang siswa di sana tidak pernah melihatnya apalagi aku yang notabenenya orang luar"


Sean memegang kepalanya pusing. Ia sulit berpikir dengan jernih.


" Aku punya pertanyaan lain?" ujar Dimas.


" Katakan"


" Aku dengar kalau kau punya pacar di sekolah namanya Jasmine. Aku pernah melihatnya"


" Bagaimana menurutmu?" Sean balik bertanya.


" Dia cantik. Tapi aku yakin kalau kau tidak mencintainya" jawab Dimas.


Sean mengangkat wajahnya. Ia menatap Dimas lekat lekat.


" Apa maksudnya, kalau mau jujur aku sudah bucin sekarang" ucap Sean tanpa rasa malu.


" Aku rasa bukan karena itu. Akan ku katakan penilaian ku tapi kau jangan menangis"


Sean tertawa. Sejenak ia melupakan tentang surat yang di tulis oleh bu' Vany, polisi ini rupanya pandai menilai orang.


" Katakan saja"


" Kalau aku juga boleh jujur, kau menjadikan dia sebagai pelarian. Kau sampai saat ini belum bisa menerima kenyataan tentang Vita yang seorang pembunuh bahkan dia membunuh ibumu. Otakmu dan hatimu mengatakan hal yang bertolak belakang tentang Vita, otakmu menolaknya mati matian, pria mana yang mau mencintai seorang gadis yang sudah membunuh ibu kandungnya sedangkan hatimu sudah menjadi budak cinta, apapun yang terjadi kau tetap mencintainya. Tapi asal kau tahu satu hal, keinginan hati bisa melumpuhkan keinginan otak itulah kenapa banyak orang yang kehilangan arah jika menyangkut masalah perasaan. Kau menjadikan Jasmine dunia fantasimu, Di dalam dunia fantasimu kau menganggap Jasmine adalah vita".


Dimas bangkit dari duduknya, ia menepuk pundak Sean.


" Aku harap kau tidak menangis" katanya memakai topinya lalu keluar dari sana.


Sean tertawa.


" Mana mungkin aku menangis"


Melihat rekan bicaranya sudah pergi, Sean juga bangkit dari duduknya keluar dari tempat itu.


Ia naik ke atas mobilnya lalu pulang ke rumah.


Sesampai di dalam kamarnya. Ia berdiri di depan cermin menatap wajahnya, bertanya kepada dirinya sendiri. Apa yang harus ia lakukan? dulu ia sangat berambisi menangkap pembunuh di sekolahnya tapi sekarang ambisinya sudah hilang, yang ada hanya keraguan bertemu dengan Vita.

__ADS_1


Dan apa ini, butiran kristal jatuh dari pelupuk matanya. Pipinya sudah mulai basah.


Perkataan Dimas benar, ia menangis.


Tidak ada orang lain bersamanya. Sean menangis seorang diri di dalam kamarnya.


Tok...tok...tok..


Pintunya di ketuk.


Dengan cepat Sean menghapus air matanya.


" Silahkan masuk. Tidak di kunci" teriaknya dari dalam.


Pintu terbuka. Terlihatlah kedua teman baiknya di depan pintu.


" Kalian datang?" tanya Sean basa basi.


" Tentu saja. Sebenarnya kami ke cafe, tapi kami tidak menemuimu melihat pembicaraanmu dengan pak polisi itu sangat serius. Memangnya apa yang kalian bicarakan?" Ucap Gilang sambil membuang pantatnya ke kasur.


" Kita tidak perlu tahu. Mungkin rahasia" tutur Nanda duduk di atas sofa berwarna coklat.


" Mau tahu atau tidak" balas Sean.


Sean menarik nafasnya dalam dalam.


" Kalian perlu tahu karena ini juga menyangkut masalah sekolah kita" Sean mulai bercerita.


Dia menceritakan semuanya tentang surat yang di tulis bu' Vany, persepsi Dimas tentang dirinya yang berkaitan dengan Vita dan Jasmine.


Nanda dan Gilang melongo mendengar cerita Sean.


" Jadi Vita ada di sekolah kita. Pembunuh berdarah dingin itu menyamar jadi siswa baru tahun ini" ujar Gilang kaget.


Sean mengangguk.


" Tidak mungkin. Apa menurut kalian, ada penyamaran seseorang yang bisa sangat sempurna sampai tidak bisa di kenali" sela Nanda.


" Entahlah. Tapi sebuah surat yang di tulis oleh bu' Vany mengatakan hal yang demikian"


" Di mana surat itu?" cari Nanda.


" Pak Dimas memegangnya" jawab Sean.

__ADS_1


" Sampai detik ini. Aku tidak pernah melihat adik kelas kita yang fisiknya mirip dengan Vita" Gilang menepuk nepuk dagu dengan jari telunjuknya.


" Aku juga. Tapi caranya hanya satu yaitu menemui dokter Mika" jelas Sean.


" Dimana dokter Mika sekarang?"


" Mungkin ada di Korea. Tapi pak Dimas mengatakan sewaktu waktu dia datang ke Indonesia karya ayahnya orang indo" jelas Sean lagi.


Tring...


Notif pesan Sean berbunyi. Ia segera membacanya.


" Memangnya pesan apa yang masuk di ponselmu, kenapa mulutmu terbuka lebar. Tidak bagus kelihatannya loh, kau seperti anjing yang kelaparan. Hahahahaah?" tanya Gilang sambil tertawa saat melihat Sean membaca pesannya dengan mulut yang ternganga.


" Pak Dimas mengirim pesan. Sudah satu Minggu dokter Mika menghilang, keluarganya pusing mencarinya"


" Apaaaaaaa..." Nanda dan Gilang teriak bersamaan.


" Keparat. Si Vita itu ternyata sangat pintar" ujar Gilang emosi.


Sean mengepalkan tangannya kuat kuat. Emosinya memuncak. Kemarahannya sudah naik ubun ubun, ini tidak bisa di biarkan. Apapun yang terjadi, ia harus menangkap Vita. Gadis sinting itu sudah keterlaluan, apa ia menjadikan membunuh sebagai hobinya. Kenapa ia dengan mudahnya membunuh orang lain yang tidak bersalah, lalu bagaimana nasib dokter Mika. Walaupun sang dokter belum di ketahui di mana keberadaannya dan apa yang terjadi dengannya sekarang ini tapi jika berurusan dengan Vita bisa saja ia kehilangan nyawanya.


" Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nanda tenang. Ia berusaha menenangkan dirinya di situasi saat ini. Di antara mereka bertiga Nandalah yang paling bisa mengendalikan emosinya.


" Apa maksudmu tentu menangkap Vita"? ujar Sean dengan wajah merah padam.


Sang ketua OSIS itu benar benar marah. Bagaimana tidak? karena saat ini hanya dokter Mikalah yang bisa membongkar kedok Vita di sekolahnya yang sampai sekarang ini penyamarannya tidak di ketahui. Tapi dokter Mika menghilang jadi informasi tentang Vita menjadi semakin abu abu.


Nanda masih duduk dengan tenang di atas sofa Sean yang empuk sambil menyilangkan kakinya. Ia terlihat santai tapi otaknya berpikir keras.


" Aku ingat satu hal" Nanda buka suara.


Sean dan Gilang menoleh. Mereka berharap Nanda punya rencana yang bagus.


" Apa kalian ingat Fitri. Teman baik Vita, walaupun aku baru mengenal kalian di SMA, tapi aku kenal baik dengan teman SMP kalian Fitri. Dari Fitri jugalah aku mengenal Vita" ucap Nanda. Nanda berbeda SMP dengan Sean dan Gilang tapi Fitri dan Nanda berasal dari SD yang sama.


Sean diam. Ia teringat Fitri, sahabat baik mantan kekasihnya. Perkataan Nanda Benar, mungkin dia bisa mendapat informasi penting dari Fitri. Ia harus mencari gadis itu, kenapa bisa ia melupakan tentang Fitri? Sean memegang kepalanya. Terlalu banyak masalah sampai sampai ia lupa akan salah satu informan yang berharga.


" Mudah mudahan informan yang satu ini tidak sama dengan nasib dokter Mika" ujar Sean.


" Kita belum tahu. Apakah Fitri tahu keberadaan Vita sekarang, tapi walaupun begitu kita harus mencarinya" tutur Nanda.


" Aku tahu di mana ia" ucap Gilang.

__ADS_1


__ADS_2