
Tiga hari kemudian.
Riuh ramai keadaan di pengadilan hari itu. Para keluarga korban mengamuk di dalam ruangan tidak menerima keputusan hakim. Hukuman 20 tahun penjara yang di jatuhkan kepada Vita tidak membuat para keluarga korban puas yang mereka semua inginkan gadis itu di hukum mati.
Puluhan polisi di kerahkan untuk membuat keadaan aman dan tenang. Dua jam berlalu keadaan bisa di kendalikan, para keluarga korban akhirnya bisa menenangkan dirinya masing masing dan dengan lapang dada mereka bisa menerima keputusan hakim.
Hakim tidak mengubah keputusannya. Hukuman 20 tahun penjara tetap di jatuhkan pada gadis itu bukan hukuman mati seperti yang di inginkan keluarga korban.
Hari ketiga persidangan, Vita tidak hadir di sana. Keadaan ini sesuai permintaan Dimas, polisi itu sudah tahu bagaimana reaksi keluarga korban sehingga Dimas memohon kepada hakim atau jaksa untuk tidak menghadirkan Vita. Gadis itu akan menjadi amukan massa kalau ia hadir di sana.
Bunda Merry menunduk dengan lemah. Tidak ada usahanya yang berhasil, lima pengacara yang ia kerahkan tidak ada yang berhasil membela Vita di pengadilan. Selain takut pada keluarga korban juga tidak ada alasan yang kuat untuk membuat gadis itu lolos dari hukuman.
Persidangan Vita selama tiga hari di siarkan secara live di seluruh negeri. Semua masyarakat mengutuknya, semua masyarakat di seantero negeri menyumpah serapah gadis itu.
Ini pertama kalinya dalam sejarah negara mereka. Seorang gadis yang usianya masih remaja melakukan pembunuhan berantai.
Bunda Merry melangkah gontai dari ruang persidangan. Wanita itu sudah tidak memiliki cara lagi membebaskan Vita.
***
Satu Minggu kemudian.
SMA Rajawali ramai kembali. Sekolah itu bisa beroperasi kembali saat murid muridnya kembali ke sana. Hanya 5 persen murid muridnya yang pindah ke sekolah lain, sisanya masih loyal pada sekolah lamanya.
Begitupun dengan Jasmine, ia kembali ke SMA Rajawali. Tidak hanya Jasmine tapi Anna, Santi, Hendrik, Andre ( Semua tokoh yang ada di cerita ini kembali kecuali Vita alias Bunga). Keadaan bisa terkendali dengan baik dan teratur saat Vita di penjara.
Nanda menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, hampir satu bulan kamar asramanya kosong melompong tidak ada kehidupan di sana.
" Aku kangen" kata pria itu sambil mengelus elus kasurnya.
Gilang keluar dari kamar mandi, ia mengacak acak rambutnya yang masih basah.
" Kau tidak mandi yah saat datang ke sini?" tegur Nanda.
Gilang mengangguk.
" Dasar berantakan" sambung Nanda lagi.
Gilang meraih handuk kecilnya lalu ia melempar benda itu ke muka Nanda.
__ADS_1
Handuk kecil itu berhasil mendarat di wajah Nanda. Pria itu mengambilnya lalu melemparnya ke sembarang tempat.
Tak lama kemudian, kedua sahabat itu bergulat di atas tempat tidur.
Tok...tok...tok.
Suara ketukan terdengar.
Nanda dan Gilang menghentikan perkelahian kecilnya saat suara ketukan terdengar.
Gilang melangkah ke arah pintu kemudian membukanya lalu terlihatlah dua gadis yang sangat di kenalnya berdiri di depan pintu.
" Kenapa kemari? memangnya kalian di isinkan masuk?" tanya Nanda dari belakang.
" Pak Edy belum datang jadi para gadis bebas keluar masuk di asrama putra" jelas Dewi.
" Kami datang ke sini untuk mengajak kalian nongkrong. Kita sudah lama tidak kumpul bareng" ucap Diana.
" Oh benar juga" Wajah kedua pria itu berbinar binar.
Setelah Nanda dan Gilang sudah bersiap siap, mereka berempat menuju taman belakang asrama. Dua kantong plastik di tenteng oleh Dewi di dalamnya berisi buah buahan segar, camilan dan minuman.
" Apa kabar dengan Sean?" tanya Diana kemudian.
" Entahlah, kami menghubunginya berkali kali tapi tidak di angkat, kami juga tadi mencarinya ke kamarnya tapi pintunya masih terkunci mungkin ia belum datang" jawab Nanda.
" Bagaimana perasaannya saat ini yah?" Dewi bertanya tanya.
Gilang mengangkat pundaknya, ia sama sekali tidak tahu jawaban atas pertanyaan Dewi.
" Aku hampir mati kaget loh. Saat mengetahui kebenarannya, ternyata adik kelas yang humoris itu adalah Vita" tutur Diana.
" Yah, tidak ada seorang pun yang menyangka. Kita tidak pernah mengenalnya selama ini karena ia melakukan operasi plastik" terang Nanda.
" Lalu bagaimana reaksi Sean saat ia mengetahuinya?" tanya Diana.
" Pada awalnya, aku pikir Sean tidak terpengaruh sama sekali. Ia masih tetap tunduk pada pak Dimas tapi ternyata ia membela gadis itu mati matian sampai ia tertembak dua kali pun, ia tetap tidak mengubah keputusannya. Ia benar benar cinta mati pada mantannya itu" jelas Nanda.
" Yang lebih mengherankan lagi, ia bisa bertemu dengan Vita di atas sebuah bukit hanya karena percaya pada bintang" sambungnya sambil geleng geleng kepala.
__ADS_1
" Aku kira Sean tidak pernah pacaran, Jasmine adalah cinta pertamanya ternyata pria itu punya gadis yang sangat di cintainya dahulu " ucap Dewi.
" Yah, dia sangat mencintai Vita lebih dari apapun. Andaikan aku yang berada di posisinya, aku sudah pasti membalas perbuatan Vita berkali kali lipat karena sudah membunuh ibuku" kata Gilang.
****
Sean mengumpulkan barang barangnya ke dalam beberapa buah koper yang berjejer. Hari ini ia akan kembali ke asrama, pria itu sibuk memilah kembali barang barangnya yang akan ia bawa.
" Kalau tubuhmu masih sakit tunda saja niatmu. Besok baru kau pergi" tegur ayahnya di depan pintu.
Sean menoleh ayahnya.
" Hari ini aku akan ke sana, aku sudah tidak apa apa"
" Kau yakin"
" Iya"
" kau sangat terburu buru yah atau jangan jangan kau sudah tidak sabar bertemu dengan pacarmu di sekolah" ujar ayahnya.
Sean kaget. Selama beberapa hari ini ia melupakan Jasmine.
Tak menjawab ayahnya, pria masih sibuk dengan kegiatannya.
" Ayah sangat bangga kalau kau datang membawa gadis itu ke rumah" ucap ayahnya lalu beranjak pergi.
Sean menarik nafasnya kuat kuat lalu menghembuskannya. Entah kenapa ia baru ingat Jasmine sekarang selama beberapa hari ini ia tidak mengingatnya sama sekali mungkin karena sudah ada Vita, Vitanya sudah kembali jadi tidak ada lagi perempuan lain di hatinya.
Sean melipat baju bajunya satu per satu lalu menyusunnya dengan rapi ke dalam koper. Setelah selesai pria itu menguncinya lalu membawa koper kopernya, sopir ayahnya yang juga bekerja sebagai tukang kebunnya sudah menunggu dari tadi.
" Sudah lama" sala Sean.
" Baru Lima menit menunggu tuan" katanya sopan.
Sopirnya itu mengangkat barang barang Sean ke dalam bagasi mobil. Setelah selesai ia naik ke atas mobil lalu memacu mobil dalam kecepatan yang sedang.
Di atas mobil, Sean duduk sambil menopang tangannya dengan dagu. Matanya menerawang jauh ke luar, ia bertanya tanya bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Jasmine setelah ini. Perkataan Dimas tempo hari itu benar kalau ia tidaklah mencintai gadis itu terbukti setelah bertemu dengan Vita, Sean melupakan Jasmine.
" Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
__ADS_1
Sopirnya yang kaget mendengar tuannya berbicara sendiri melirik tuannya itu lewat kaca spion.