
" Kita lanjut atau bagaimana?" tanya Nanda.
" Kita akan lanjut, tapi kita akan lewat mana karena ada dua sungai" kata Shanaya.
" Kita akan lewat darimana arah datangnya kelelawar ini" ujar Dimas.
" Baik"
Mereka berempat melanjutkan perjalanan.
" Hei, ada perahu di sini" kata Nanda.
Dimas memperhatikan perahu tersebut, sudah kotor. Pasti dalam jangka lama perahu ini tidak di gunakan.
" Masih bagus tidak?" Shanaya memperhatikan benda itu.
" Ini masih bagus, kita pakai saja yah. Kalau ada perahu di sini itu artinya ke sana sungainya makin dalam" ujar Dimas.
Mereka berempat naik ke atas perahu dan pici juga yang lengkap dengan sampannya.
Di atas perahu mereka berbincang bincang sambil menyorotkan senternya sana sini.
" Menurut kalian, ini perahu milik siapa?" tanya Sean.
" Milik si pembunuh mungkin" ujar Nanda.
" Bisa saja. Kalau benar ini milik si pembunuh berarti dalam jangka waktu yang lama pembunuh itu tidak berkeliaran di sini terbukti perahunya kotor dan tak terawat" jelas Dimas.
" Di surat ini tertulis kalau Irabella Farhana mencintai Sean. Kau tahu Sean siapa Irabella?" tanya Shanaya.
Sean menggeleng.
" Aku tidak tahu. Dia pernah muncul di mimpiku, dia mengatakan kalau kami pernah bertemu waktu masih kecil. Tapi aku tidak ingat apa apa" jawab Sean.
" Apa kau tidak bisa mengingat wajahnya di dalam mimpimu?" tanya Shanaya lagi.
" Tidak, aku tidak bisa mengingat wajahnya sama sekali"
" Aku turut prihatin karena kau selalu di cintai seorang pembunuh" ujar Dimas.
Shanaya tertawa mendengarnya.
" Iyakan. Vita seorang pembunuh dan juga Irabella seorang pembunuh untung Jasmine bukan pembunuh yah. Andaikan Jasmine pembunuh maka kau pria yang sangat sial hidup di dunia ini" kata Dimas.
Kata kata Dimas membuat rekan rekannya yang ada di situ tertawa.
" Sungainya semakin dalam" ujar Nanda saat ia menurunkan sampannya ke bawah air.
" Yah. Untung ada perahu, kalau tidak, anjing bodoh ini akan menyulitkan ku" kata Dimas.
Sean menyorotkan senternya ke depan lorong sungai ini masih panjang. Suara kelelawar di atasnya bersahut sahutan satu sama lain.
" Aku merinding" kata Nanda.
Berapa lama mendayung. Mereka akhirnya keluar dari lorong gua itu, kini mereka ada di hutan.
Dimas dan rekan rekannya turun dari perahu.
" Sungainya lumayan panjang yah. Sembunyikan perahu itu" ajak Dimas. Para pria yang ada di situ menarik perahu tersebut ke dalam semak semak.
__ADS_1
" Ke sini, ada cahaya di sana" kata Shanaya.
" Sembunyi" tiba tiba wanita itu berbalik saat ia merasakan ada seseorang yang mendekat.
Secepat kilat Dimas menggendong anjingnya. Mereka berempat bersembunyi di dalam semak semak.
" Suara wanita" bisik Shanaya saat mereka mendengar ada seseorang yang bernyanyi.
" Itu Nyonya Shireen" kata Dimas.
Nyonya Shiren berjalan dari arah sana sambil membawa sebuah obor. Di tangan kirinya sebuah ember yang lumayan besar di tentengnya.
Dimas dan rekan rekannya yang ada di sana memperhatikan wanita itu.
Nyonya Shireen hanya mendekati sungai, menimba air lalu pergi lagi ke arah di mana ia datang tadi.
Dua puluh menit saat Mereka berempat merasa kalau wanita itu sudah pergi jauh. Mereka segera keluar dari persembunyiannya.
" Ada jalan lain menuju tempat ini terbukti jika wanita itu melewati sungai ini pasti ada perahu lain di sini. Tidak mungkin wanita itu akan berenang kemari" tutur Dimas.
" Yah"
" Ayo kita pergi. Di sana ada cahaya" ajak Shanaya.
Mereka berempat dan pici berjalan ke arah cahaya tersebut. Semakin ke sana cahaya itu semakin dekat dan kini mereka terkaget kaget melihat apa yang ada di sana.
Rumah.
Rumah megah dengan desain yang modern.
" Hah, ada rumah di dalam hutan. Rumah sebagus ini di bangun di dalam hutan?? lebih cocoknya di daerah perkotaan. Pikiran pembunuh memang aneh" ujar Shanaya.
" Tentu saja. Di dalam sanalah markas pembunuh" jawab Dimas.
" Ikuti aku" sambungnya.
Dimas segera berjalan mengendap endap. Pak polisi itu mengajak rekan rekannya untuk mencari jalan lain. Di belakang rumah mereka menemukan pintu lain yang tidak tertutup.
Nanda menelan ludahnya saat mereka masuk ke rumah itu.
" Di sini tidak terlihat seperti rumah tapi terlihat seperti penjara yang sudah lama tak terpakai" kata Dimas.
Shanaya menyorotkan senternya ke dalam ruang ruang kecil yang terlihat seperti sel.
Kreeekk.....
Suara pintu tua yang terbuka di atas sana.
Mereka berempat kocar kacir mencari tempat persembunyian.
" Kesini kalian" ujar Shanaya.
Rekan rekannya mengikutinya mereka bersembunyi didalam suatu ruangan yang lumayan terang. Balon lampu yang cukup besar tergantung di atas sana.
TAP TAP TAP TAP.
Suara langkah kaki yang berat namun tegas.
Dimas memasang telinganya, ia menajamkan pendengarannya mendengar suara langkah kaki tersebut.
__ADS_1
" Itu suara langkah laki laki" pikir Dimas.
Sepuluh menit, suara langkah itu menghilang. Saat keadaan sudah aman Dimas bangkit dari duduknya.
" Diam di sini, aku dan Shanaya akan menggeledah ruangan ini"
Sean dan Nanda terpaksa harus berdiam diri di tempatnya sedangkan Dimas dan Shanaya akan memeriksa ruangan itu.
Dimas memperhatikan sekitarnya, ia melihat tumpukan buku yang sudah tua dan lapuk. Pak polisi itu memperhatikan buku tersebut dengan jeli. Siapa tahu ada yang mencurigakan di antara buku buku itu.
Matanya menangkap sebuah buku yang ada di pojok rak. Buku itu berbeda dengan buku buku lainnya, masih baru dan jarang di buka.
Dimas mengambil buku tersebut, ia memperhatikannya dengan teliti.
" Tidak ada nama kepemilikan di sini"
" Ini buku mata pelajaran Fisika kelas 10 SMA Rajawali" katanya.
Dimas membuka lembaran demi lembaran buku itu lalu di lembaran ke tiga ratus ia mendapatkan sebuah kertas.
Polisi itu membuka lipatan kertas tersebut lalu membacanya.
" Apa ini?"
" Ini daftar rangking 10 besar siswa baru di SMA Rajawali dalam mengikuti tes masuk" ucapnya.
Dimas melangkah mendekati Sean dan Nanda.
" Coba lihat ini" kata Dimas lalu memberikan kertas itu.
" Ini!!! Perangkingan murid baru, Bu Elda yang menyimpan kertas ini. Mengapa ada di sini??? kami pernah stengah mati mencarinya di ruangan Bu elda soalnya akan di baca pada waktu penyambutan siswa baru" kata Sean.
" Pembunuh itu sudah pasti mencurinya" ujar Dimas.
" Tapi untuk apa??" tanya Sean. Tapi pertanyaannya langsun terjawab saat melihat nama nama yang tertera di sana.
Di urutkan dari rangking 10 sampai 1.
Anynda Siska
Maharani Arara
Enjoy Pramana
Rika Helstein
Janeta Rina
Ilan Fernandes
Alfina Melly
Agra Kesuma
Yoona Sofia
Jasmine Fradella
" Aku mengerti, mengapa hanya siswa 10 A yang menjadi korban karena pembunuh itu mengincar rangking 10 besar saat tes masuk di adakan" jelas Sean.
__ADS_1
" Sudah ada lima orang yang terbunuh masih ada lima lagi. Seingatku siswa kelas 10 A yang jadi korban itu di mulai dari Siska ( rangking 10), Rara ( rangking 9), Rika ( rangking 7), Janeta ( rangking 6), dan Ilan ( rangking 5). Pembunuh itu memilih dari urutannya yaitu urutan 10 sampai 1. Pria yang bernama Joy ini ( si rangking 8) sampai sekarang masih hidup karena pada waktu itu ia lolos dari pembunuhan walaupun ia sudah jadi incaran" sambungnya.