
Pak Niko merinding saat ia mendengar kematian Rika kemarin, ia tidak menyangka kalau gadis blasteran Belanda itu telah menjadi korban pembunuhan. Para guru dan staf lainnya duduk lesu di dalam kantor, mereka kehabisan cara untuk menangkap dalang di balik peristiwa ini. Sudah ada empat polisi yang di kerahkan namun tidak ada hasil yang berarti justru dua di antaranya terbunuh.
" Bagaimana ini? semakin banyak korban yang berjatuhan. Apa gunanya kalian berada di sini kalau pelakunya tidak segera di temukan" kata bu' Elda marah. Ia memarahi kedua polisi itu.
" Maafkan kami, pembunuh itu adalah orang yang cerdas" balas Dimas menundukkan kepalanya.
Bu' Elda menghela nafasnya berat, guru berusia 50 tahunan itu mondar mandir tidak jelas. Ia adalah guru yang di tunjuk menggantikan posisi pak Alex untuk sementara waktu menunggu kedatangan kepala sekolah yang baru.
Wanita paruh baya itu sebenarnya tidak ingin menyalahkan kedua polisi itu tapi melihat sudah beberapa muridnya yang menjadi korban akhirnya bu' Elda marah marah. Wajahnya merah padam melihat ketidak berdayaan kedua polisi itu.
" Sudahlah tidak ada gunanya memarahi mereka" ujar Pak Tony menenangkan.
Di sisi lain, Sean duduk menyendiri di dalam perpustakan, kemtian Rika adalah pukulan telak baginya. Kenangan bersama gadis itu muncul kembali di otaknya selama sepuluh tahun mereka bersama banyak kisah suka maupun duka di dalam cerita pertemanan mereka.
" Maafkan aku" katanya seorang diri, ia menopang dahinya dengan tangannya. Buliran kristal keluar dari matanya.
Ia ingat waktu itu, Rika yang tak sungkan sungkan menyatakan cinta padanya tapi ia tidak memberikan respon apapun. Setitik pun tidak ada rasa cinta buat Rika di dalam hatinya. Saat Rika pergi ke Belanda dengan segala rasa sakitnya, ia sama sekali tidak merasa bersalah ia justru senang tidak ada lagi orang yang menentang hubungannya dengan Vita. Sean menelepon atau mengirim pesan pada Rika karena merasa muak akibat neneknya selalu memarahinya habis habisan saat neneknya tahu kalau Rika pergi karena dirinya.
Pertemanan mereka selama bertahun tahun tidak menemukan akhir yang bahagia justru menghasilakan sebuah tragedi.
Hingga tiba waktunya Sean mengetahui semua kebenaran tentang Vita. Ia sangat menyesal mengabaikan Rika, Sean memohon pada gadis itu agar ia mau menemuinya lagi Rika mendengarkan permintaannya. Tapi saat Sean akan memperbaiki kesalahannya Tuhan tidak mengisinkannya, Rika sudah di panggil oleh Tuhan.
Sean memegang kepalanya, kepalanya terasa nyeri. Ia merasa sangat bersalah, pria itu menyalahkan dirinya berkali kali mengumpati dirinya sendiri. Andaikan waktu bisa di putar kembali ia tidak akan mengecewakan gadis itu walau sedikit saja namun sayangnya hari ini ia mendapatkan kenyataan kalau ia menggores hati Rika semakin dalam.
" Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa hidup kembali" Sean bergumam layaknya orang gila. Tidak mungkin orang mati akan hidup kembali.
Pria itu mendongakkan kepalanya saat ia merasakan ada seseorang yang datang. Di depannya ia melihat seseorang perempuan sedang memegang sebotol air.
" Ingin minum" tawarnya lalu meletakkan benda bawaannya di atas meja.
__ADS_1
" Santi" ujarnya.
" Kau menangis " ucapnya saat melihat mata pria itu basah.
Sean mengangguk pelan lalu mengambil benda pemberian Santi. Sebotol air minum habis dalam waktu yang singkat.
" Terimah kasih" ucapnya.
" Sama sama. Aku hanya lewat tahu tahunya aku melihatmu sendirian di sini. Ada apa denganmu?" tanyanya.
" Tidak ada apa apa" Sean menggelengkan kepalanya. Tapi ia merasa heran kenapa adik kelasnya ini tidak memanggilnya dengan sebutan kakak. Namun Sean tidak mempermasalahkannya mungkin Santi bukan orang yang sering menggunakan kata itu.
" Kelihatannya kau sedih sekali. Kalau kau punya masalah tidak apa apa kau ceritakan padaku, siapa tahu aku punya solusinya" kata Santi dengan wajah yang datar.
Sean tersenyum terpaksa.
" Tidak perlu, anggap saja apa yang kau lihat tadi tidak terjadi"
" Boleh ku bantu" tawarnya lagi.
Sean sedikit kesal rupanya gadis ini keras kepala untuk mengetahui masalahnya.
" Tidak perlu Santi, terimah kasih atas tawaran baikmu"
" Kau serius tidak mau bantuan" tawarnya tanpa menyerah.
Kepala Sean semakin sakit, di balik penampilan kalemnya ternyata gadis ini memiliki sifat kepala batu.
" Apa tentang gadis yang meninggal semalam" sambungnya.
__ADS_1
Sontak Sean terkejut, dari mana ia tahu.
" Apa gadis itu orang yang berharga bagimu mungkin semacam kau mencintainya tapi kau tidak menyadari perasaanmu"
Sean tertohok atas perkataan adik kelasnya ini, berani sekali orang yang lebih muda darinya membuka kisah masa lalunya dengan kata kata yang menyinggung.
" Maafkan aku, aku terlalu dalam mencampuri urusanmu" ujar Santi merendah saat ia melihat perubahan air muka Sean menjadi menakutkan.
Sean baru saja ingin membuka mulutnya tapi Santi lebih dahulu berbicara.
" Ku sarankan padamu agar kau belajar menghargai perasaan perempuan jangan sampai hari ini terjadi lagi" ujarnya sinis lalu meninggalkan Sean.
Sang ketua osis itu mengepalkan tangannya kuat kuat. Perkataan Santi barusan sangat merendahkan harga dirinya, ia salah menilai perempuan berkacamata itu ternyata gadis kutu buku itu sekali bicara lidahnya setajam pisau.
Tapi beberapa detik kemudian, Sean merenung kata kata Santi. Perkataan Santi memang benar, ia yang terlalu egois tidak menghargai perasaan Rika padanya.
" Sial" katanya emosi. Entah apa yang membuatnya marah. Apa karena Santi menyinggungnya secara terang terangngan atau ia terlambat menyadari perasaannya.
Santi keluar dari dalam perpustakaan dengan perasaan lega. Ia sangat jengkel melihat pasangan kekasih yang angkuh itu, Sean dan Jasmine mereka memiliki sifat yang tidak jauh berbeda. Keduanya suka merendahkan orang lain, sudah lama ia ingin memberi pelajaran pada kedua insan itu tapi mengingat wajah Jasmine saja ia sangat muak apalagi berbicara padanya.
Memojokkan Sean hari ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri baginya. Ia sangat ingin melihat wajah sombong pria itu berubah menjadi wajah anjing yang lemah bersujud pada lawannya.
Entah kenapa pembawaan Santi yang jarang bicara tiba tiba ingin menyinggung orang yang di bencinya terus menerus mungkin karena melihat pria itu menyia nyiakan gadis baik hati lalu memilih gadis yang angkuh.
" Ciih" ujarnya Sebal.
Jasmine dan Rika.
Jasmine terlalu sombong sedangkan Rika samgatlah rendah hati. Ia baru mengenal Rika saat ia masuk ke sekolah ini tapi Santi segera tahu kalau gadis itu adalah gambaran seorang malaikat.
__ADS_1
" Rupanya si ketua osis itu memilih perempuan dari fisiknya" katanya berkacak pinggang.
" Pria yang tepat untuk di beri pelajaran" katanya lagi. Santi membetulkan kacamatanya. Bola matanya jika di lihat dari dekat sangatlah indah namun sayangnya tidak banyak yang mengetahuinya.