
"Sekarang kita akan ke mana?" tanya Nanda. Mereka berempat berhasil keluar dari rumah itu karena hari sudah mulai siang. Kini mereka terlunta lunta di hutan.
" Apa kita akan memanggil ketiga rekan kita yang masih di tenda" kata Sean.
" Hal itu tidak mungkin" Dimas sendiri mulai bingung saat mereka sudah di hutan. Tidak ada persiapan sama sekali.
" Kalian" ujar Seseorang yang baru datang.
Keempatnya menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang gadis dengan wajah yang sayu tapi kecantikannya tetap terpancar.
" Vita" Sean terkaget kaget melihat Vita ada di sini. Gadis itu membawa sebuah karung.
" Syyuuut. Jangan ribut, nanti kalian ketahuan" kata Vita sambil menaruh jari telunjuknya di mulut.
" Mengapa kau bisa ada di sini?" tanya Sean. Ia masih belum percaya kalau gadis di depannya ini adalah pacarnya.
" Akan ku ceritakan. Tapi sebelumnya, ikuti aku tempat ini belum aman" ucapnya sambil berjalan ke tempat lain.
Dimas dan ketiga rekannya mengikuti ke mana gadis itu membawanya. Vita bukanlah orang jahat, gadis itu ada di pihak mereka.
Saat sampai di sebuah tempat yang tersembunyi dan agak jauh dari rumah itu. Vita membuka karungnya, di dalamnya terdapat dua buah tenda, peralatan masak dan makanan.
" Kau membawa semua ini?" tanya Shanaya.
" Yah"
Mereka segera membuat tenda di situ dan memasak sarapan pagi.
" Kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa kau bisa ada di sini?" tanya Sean.
" Aku meminta kepada pak Vikal untuk membebaskanku karena aku yakin kalau kalian pasti tidak akan diam di dalam kasus ini. Pak Vikal mendengarkan permintaanku saat ku katakan kalau pacarku melakukan hal yang berbahaya di luar sana yang berkaitan dengan kejahatan keluargaku. Keluar dari penjara, aku datang ke Tante Elis lalu Tante menceritakan semuanya, aku keluar dari penjara sehari setelah kalian datang ke rumah Tanteku. Untung adik gilaku itu tidak ada di sana, jadi aku mengikuti kalian ke sini" Vita mulai bercerita.
" Adikmu maksudmu Irabella ada di rumah Tante Elis?" tanya Dimas.
" Yah. Menurut penuturan Tante Elis kalau Irabella sudah tinggal di sana sejak duduk di kelas 2 SMP".
" Jadi wanita itu berbohong selama ini. Ia menampung Bella di rumahnya" ujar Shanaya.
__ADS_1
" Jangan berprasangka buruk. Bukan tanpa sebab Tanteku melakukan hal itu, di karenakan Bella bisa membunuhnya jika tidak menuruti kehendaknya. Jadi Tanteku selama ini sangat tertekan atas kehadiran Bella di rumahnya. Sewaktu kalian datang ke sana menanyakan tempat rahasia kelurga kami, Tante Elis sebenarnya sudah tahu tentang pulau ini tapi ia hanya memberikan simbol pada kalian karena pada hari itu Bella ada di rumah" jelas Vita.
" Pantasan hari itu Nyonya Elis sangat gelisah. Dari gerak geriknya ia ingin kami cepat pergi dari rumahnya" ujar Shanaya.
" Jadi kau sudah tahu wajah adikmu?" tanya Sean.
" Yah, lewat fotonya. Saat aku datang ke sini Bella tidak ada di pulau ini, ia masih ada di kota. Aku hanya bertemu dengan ayah dan ibu tiriku"
" Jadi ayahmu ada di sini?" tanya Dimas.
" Yah"
Dimas ingat tadi ia mendengar langkah kaki seorang pria, ia yakin kalau itu ayahnya Vita.
" Lalu bagaimana pendapat mereka padamu?" kini giliran Nanda yang bertanya.
" Mereka tidak curiga sama sekali karena ayah berkeyakinan kalau seorang pembunuh tidak pernah bertobat. Mereka percaya padaku"
" Lalu bagaimana dengan ibu tirimu?"
Dimas mengambil ponselnya dari saku bajunya lalu menghubungi Denal. Saat memperoleh informasi dari Denal kalau posisinya masih aman, Dimas menghela nafas bersyukur. Semoga mereka selalu aman.
" Jadi kita akan menunggu Bella yah. Kita akan menangkapnya di sini, apa kalian punya rencana?" tanya Shanaya.
" Aku memiliki sebuah rencana tapi kau Vita kau harus membantu kami, mengatakan pada kami seluk beluk rumah itu. Kita akan menangkap Bella di sana"
" Yah. Aku baru satu hari di sini, tapi aku berkeliling penuh di rumah itu. Aku mulai hafal seluk beluknya" kata Vita.
" Kira kira kapan Bella datang ke pulau ini?"
" Kata ibu tiriku. Hari ini ia sudah ada di perjalanan" jelas Vita.
" Semakin cepat semakin bagus. Persiapkan diri kalian, kita akan membekuk Irabella di sini"
***
Di sisi lain.
__ADS_1
Di tengah laut, di atas Speedboat.
Dua orang gadis dan dua laki laki berada di atasnya. Seorang gadis yang memiliki kaki putih jenjang sedang duduk di atas speedboat dengan anggunnya sedangkan satu gadis lainnya sedang duduk juga dengan tangan yang terikat dan dua orang pria berbaring di bawah lantai speedboat dengan kondisi tak sadarkan diri.
Bunyi ombak mengiringi perjalanan mereka ke pulau itu.
" Lepaskan aku" kata Anna. Ia sudah berulang kali mengatakan kalimat itu.
" Mengapa aku harus melepaskanmu?" tanya Santy tersenyum manis.
" Karena aku ini sahabatmu"
Santy tertawa. Penampilan gadis culun itu sangat cantik hari ini, deretan gigi rapinya yang berwarna putih kelihatan. Tapi pagi ini Anna melihatnya sebagai wujud nenek lampir.
" Jangan pernah berpikir karena kau ini sahabatku aku bisa melepaskanmu begitu saja" katanya dengan senyum yang menyeringai.
" Yah, aku hanya mengeluarkan permintaan tolong ku. Kalau kau tidak mendengarku tidak masalah. Selama ini kau hanya berpura pura menjadi sahabatkukan?? tapi aku sangat tulus berteman denganku" terang Anna.
" Hahahahahaha" gadis cantik itu tertawa. Ia menghembuskan asap rokoknya beberapa kali.
" Sayangku Anna. Kau ini memang ingin mati yah, sudah lama kau ini tahu kalau aku ini monster masih saja kau mau berteman denganku" ujar Gadis itu dengan sangar.
" Karena selama ini aku tidak pernah tahu kalau ternyata ada sahabat yang tega mencelakai sahabatnya" tutur Anna. Nyawa gadis itu sudah ada di ujung tanduk tapi ia tetap duduk dengan tenang dan santai.
" Mana mungkin orang sepertiku tahu arti dari persahabatan. Kau memang gadis yang bodoh"
" Pilihan yang tepat. Jasmine memang memiliki pilihan yang tepat tidak mau berteman denganmu" balas Anna.
" Kau tahu sayang. Aku memilih korban di sekolah kita tidak secara acak tapi aku memilihnya mulai dari rangking 10 sampai 1. Hari ini aku sudah mendapatkan si rangking 3, tinggal dua lagi dan ku pastikan Jasmine yang terakhir ku bunuh dengan cara yang berbeda dengan rangking rangking lainnya" kata Gadis itu. Aura pembunuh menyelimuti tempat itu.
" Kau tahu, sebenarnya aku ini di atas segalanya dari Jasmine. Aku ini lebih kaya darinya, aku ini lebih cantik darinya dan aku ini lebih pintar darinya. Asal kau tahu yah sebenarnya aku yang mendapatkan peringkat 1 dari 300 siswa baru, Jasmine hanya ada di urutan kedua. Tapi aku menemui bu' Elda kalau aku tidak ingin jadi rangking 1. Andaikan aku tetap di posisiku sebagai rang 1 maka sudah pasti Siska si rang 10 itu tidak akan terbunuh karena pada dasarnya ia hanya ada di rang 11, tapi mau bagaimana lagi aku sudah mengambil keputusan dan lagian Siska juga sudah mati" ujarnya tanpa dosa.
" Bu Elda. Jadi kau bekerjasama dengan Bu Elda?" tanya Anna tak percaya.
" Tentu saja. Menurutmu?? mengapa selama ini aku tidak pernah tertangkap saat aku melakukan aksiku di sekolah kita karena ada orang dalam yang membantuku" kata Santy alias Irabella sambil tertawa terbahak bahak.
" Dan satu hal lagi. Pada awalnya aku menyuruh Bu Elda mengurutkan sampai rangking 15, tapi karena kakakku Vita ada di rang 13. Jadi ku urungkan niatku, aku tidak ingin membunuh kakakku tapi jika ia macam macam di dalam hal ini aku tidak akan segan segan membunuhnya" sambungnya.
__ADS_1