
Dimas terlihat lesu di depan mayat Bu' Vany. Dia sangat tidak menyangka kalau wanita itu akan menjadi korban pembunuhan. Pagi ini sekitar jam 06.02, mayat Bu' Vany pertama kali di temukan oleh Yulpi tergeletak bersimbah darah dengan luka tusukan di lehernya.
Denal memeriksa dengan teliti, ada dua jari yang putus dari tangan kanannya dan berhamburan di bawah meja.
" Apa yang kau temukan?" tanya Dimas.
" Aku pikir, wanita ini di tembak dengan bantuan alat peredam sama dengan korban Rara" jawab Denal.
Dimas menghela nafasnya. Otaknya bekerja keras mengira ngira, siapa sebenarnya dalang di balik kejadian ini.
Jenasah Bu' Vany di masukkan ke dalam kantong jenasah, di naikkan ke ambulans lalu di bawah ke rumah sakit terdekat.
" Setahuku kalau beliau sendirian di rumah. Apa dia tidak punya keluarga?" tanya Dimas lagi.
" Beliau punya dua anak perempuan tapi kedua anaknya bekerja di luar negeri" jawab pak Edy.
" Berikan aku nomor ponselnya. Akan ku hubungi"
" Baiklah"
Pak Edy mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya lalu memberikan kontak ponsel Mersy kepada Dimas.
Kejadian ini membuat SMA Rajawali heboh kembali. Semua siswa ketakutan, sudah banyak yang minta pindah ke sekolah lain bahkan ada yang langsun mengumpulkan barang barangnya tanpa pamit ia keluar dari asrama. Tidak peduli lagi dengan sekolah menakutkan ini.
" Hanya orang bodoh yang bisa bertahan di sini"
" Ayo kita pindah di sini. Kita akan mati kalau di sini terus"
" Pindah pindah pindah"
" Polisi bodoh, tidak bisa menangkap pencurinya"
" Aku tidak mau mati"
" Blalala blalalalalaa blaaaaaaallllaaaaa blaaaalaaaa blaaaaaaaaaa blaalalalala"
Begitulah kata kata yang terlontar dari mulut mereka.
Riuh ramai suara pagi itu. Berbagai macam kata kata yang keluar dari mulut penghuni Sma Rajawali. Semua siswa sibuk mengumpulkan barang barangnya untuk keluar dari sekolah ini.
__ADS_1
" Kau ingin keluar juga?" tanya Bunga.
" Apa kau bodoh bertanya begitu, tentu saja kita akan pindah. Semua murid di sini pasti pindah, kita akan mengantarkan nyawa kita pada pembunuh itu kalau tetap di sini" jawab Jasmine sambil mengumpulkan baju bajunya ke dalam koper.
Bunga tertunduk lesu, dia memang bodoh bertanya apa yang tidak perlu di pertanyakan.
Kedua sahabat itu sibuk mengumpulkan barang barangnya seperti murid murid yang lainnya.
Para guru dan para staf berkumpul di dalam kantor. Mereka sama dengan yang lain, tidak ada semangat, putus asa, frustasi, sedih, lelah, cemas, bimbang ,takut.
Beberapa menit kemudian, bu' Elda selaku pengganti kepala sekolah sementara bangkit dari duduknya.
" Ibu, mau ke mana?" tanya Bu ' Maya.
" Kita harus menyelamatkan sekolah ini?" jawabnya.
" Bagaimana caranya?"
Bu' Elda berjalan ke dalam ruangan OSIS.
" Sean" panggilnya.
" Iya Bu" jawabnya.
Di dalam ruangan itu, ada beberapa anggota OSIS yang berkumpul termasuk Gilang, Nanda, Dewi, Diana dan masih beberapa lagi anggota lainnya. Mereka duduk di kursi masing masing saling berhadapan dengan meja memanjang di tengahnya.
Pengganti kepala sekolah sementara itu, menarik salah satu kursi yang ada di sana kemudian masuk ke dalam kumpulan anak anak muda itu, lalu duduk tepat di samping Sean.
" Nak, aku tahu kalau kau bisa berpikir jernih di dalam keadaan seperti ini. Otakmu tidak akan kacau hanya karena keadaan yang menakutkan. Sekarang nak dengarkan aku, aku sangat menghargai jasa dan kerja keras pamanmu. Aku tidak ingin pamanmu di sana menangis melihat situasi saat ini dan aku ingin sekolah ini tidak hilang begitu saja dan kau pasti memiliki pemikiran yang sama denganku bukan? sekarang jawab aku apa yang harus kita lakukan untuk membuat sekolah ini tetap hidup?" tanya Bu' Elda dengan kata penuh makna yang mendalam.
Sean menarik nafasnya, dengan penuh wibawa ia menjawab pertanyaan salah satu gurunya itu.
" Kita tidak bisa menghentikan anak anak yang ingin keluar dari sekolah ini, itu adalah keputusan mereka. Mereka mengambil keputusan yang benar yaitu keluar dari sini untuk tetap hidup. Tidak ada yang ingin mati sia sia di dalam masa mudanya begitu juga denganku. Mereka ingin menghabisi masa muda mereka, masa indah mereka dengan aman dan tentram. Nongkrong dengan teman, ngopi dengan teman, ngeteh dengan teman, pacaran, belajar, bertengkar, tertawa riang itu seharusnya kehidupan mereka di sini bukan setiap siang dan malam di hantui oleh kisah pembunuhan. Ibu betul aku tidak ingin kerja keras pamanku selama ini sia sia, aku tidak ingin sekolah ini hilang dan aku ingin sekolah ini tetap ada dan hidup" jawab Sean panjang lebar.
" Lalu apa yang harus di lakukan?" seloroh Diana.
" Hanya ada satu cara, membiarkan murid murid tetap pergi, menangkap pembunuh itu kemudian memulangkan murid murid SMA Rajawali ke sini jika keadaan sudah aman" jawab Sean.
" Jadi maksudmu, kita hanya akan memindahkan mereka dengan sementara?" tanya Gilang.
__ADS_1
Sean mengangguk.
Bu' Elda diam, ia menimbang nimbang keputusan Sean.
" Lalu bagaimana jika tidak ada yang ingin kembali di sini? Walapun pembunuhnya sudah tertangkap, walaupun suasananya kembali aman dan tentram pasti mereka tetap memiliki kenangan buruk tentang sekolah ini" tanya Yolanda.
" Itu urusan belakang. Asalkan polisi fokus menangkap sang pembunuh kemudian kita mencari cara, apa yang harus kita lakukan memulangkan para siswa ke sini jika keadaannya sudah terkendali" jawab Sean.
Tanpa menunggu pertanyaan temannya lagi, Sean berdiri ia melangkah menuju mikrofon yang ada di teras kantor yang menghadap ke lapangan.
" Teman teman, adik adik sekalian. Dengarkan aku, aku tahu apa yang kalian rasakan. Takut, cemas, ingin segera keluar dari sini. Tapi polisi akan berusaha keras menangkap pembunuhnya setelah tertangkap kalian boleh kembali. Sekolah ini tidak akan menghilangkan eksistensinya sebagai sekolah favorit di kota ini. Hanya masalah waktu saja pembunuhnya pasti akan tertangkap, percayalah" terang Sean penuh wibawa dengan lebih menekankan kata terakhir.
Sang sosok misterius tersentak, suara Sean barusan berhasil membuat tubuhnya bergetar.
" Ciiiihhh, pria ini tidak pernah berubah dari dulu selalu bisa membuat lawannya bergetar hanya dengan kata katanya"
" Tapi aku tidak boleh takut. Kita lihat saja apa yang bisa kau lakukan Kamasean Saputra" katanya menyeringai.
Tapi sang sosok kembali menelan ludahnya kasar saat Sean kembali berbicara.
" keadaan ini pasti akan kembali normal, percayalah pembunuhnya pasti akan tertangkap dan kita sama sama akan membuangnya ke dalam penjara"
" Kau menakuti ku yah. hihihihi"
Sean tersenyum, ia yakin kalau si psikopat sedang mendengarnya sekarang entah ia bersembunyi di dalam asrama atau di lubang tikus Sean tidak peduli asalkan pelakunya bisa mendengar suaranya.
" Apa kau takut sekarang. Ayolah, aku pasti akan menangkapmu dan membalaskan kematian paman dan ibuku" kata Sean dalam hati.
Sang sosok sangat senang saat melihat para siswa keluar dari lokasi sekolah tanpa peduli dengan kata kata ketua OSIS mereka.
Terimah kasih sudah membaca karya author.
Jangan lupa like, komen dan vote.
Dukungan sekecil apapun sangat berharga buat author.
Tunggu lagi part selanjutnya.
Salam sayang ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1