
Matahari sudah terbenam, jam menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat namun Dimas belum beranjak dari tempatnya. Rasa sakit yang terkira masih mendera tubuhnya. Dimas memandang ke atas langit untung ada bulan yang membantu penglihatannya di malam hari.
" beberapa hari ini terlihat bulan" gumamnya.
Ia bingung jika bulan bersinar di malam hari biasanya tidak turun hujan tapi ini berbanding terbalik.
Hujan sudah berhenti dari tadi kini Dimas tidak hanya menahan rasa sakit tapi juga menahan dingin karena seluruh tubuhnya basah kuyup.
Dimas menajamkan pendengarannya tidak ada tanda tanda ia mendengar ada keberadaan orang lain di sekitarnya.
Tidak ada gunanya meminta pertolongan, tidak ada yang bisa menolongnya di sini.
Dengan mengumpulkan semua kekuatannya Dimas berusaha berdiri. Ia tidak bisa hanya duduk di sini, bisa bisa ia mati di tempat tanpa melakukan apa apa.
Dengan langkah yang tertatih tatih, pak polisi itu berjalan tanpa arah. Ia tidak tahu seluk beluk tempat ini, ia hanya berjalan dan berjalan bingung ingin ke mana.
" Hah" ia langsun menoleh ke belakang saat ia merasakan ada yang memegang pundaknya.
Seorang Wanita.
Dimas memperhatikannya, sepertinya ia mengenal wanita ini. Ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
" Bunda Merry" katanya kemudian.
" Yah ini aku. Kau baik baik saja?" tanyanya.
" Aku tidak baik. Tua Bangka itu menyerang ku membabi buta" ucap Dimas.
" Begitulah adikku. Ia memang sudah jadi iblis" kata Bunda Merry.
Kini Dimas yang menganga mendengarnya.
" Jadi kalian bersaudara?" tanya Dimas memastikan.
" Yah" jawab Bunda Merry singkat.
" Kau sepertinya terluka yah?? tapi di sini tidak ada obat obatan. Diam di sini dan aku akan mencarikan mu obat" sambungnya.
" Apa kau melihat rumah Bella di sini?" tanyanya lagi.
" Aku pernah ke sana tapi aku lupa jalan ke sana. Tapi aku yakin kalau tidak jauh dari sini" jawab Dimas.
" Baiklah. Aku akan ke sana mencari obat"
__ADS_1
" Bunda yakin akan pergi di sana?"
" Tidak apa apa aku akan berhati hati" ucap Bunda Merry lalu berlalu meninggalkan Dimas.
Bunda Merry mengambil ponselnya untung ponselnya tidak kena hujan. Kemudian ia menyalakan senter ponselnya untuk menerangi langkahnya.
Berjalan dan terus berjalan. Dengan bermodalkan insting ia akhirnya tiba di rumah yang di maksud Dimas.
" Jadi di sini rumahnya, rumah yang bagus tapi di bangun di dalam hutan. William memang sudah gila" katanya.
Bunda Merry mematikan senter ponselnya, ia harus masuk diam diam ke sana akan jadi masalah kalau adiknya atau keluarga adiknya melihatnya di sini.
Bunda Merry memperhatikan rumah itu, ia yakin kalau ada orang di dalam sana. Ia mendekati pintu depan rumah itu, tidak di kunci. Bunda Merry memperhatikan sekelilingnya sebuah ruangan yang besar di desain dengan gaya modern.
" Bagus" gumamnya.
Ada lima buah sofa dengan ukuran yang jumbo dan lampu lampu kristal bertebaran di langit langit rumah.
Bunda Merry mengendap endap, di sana ia melihat sebuah tangga yang di lapisi karpet berwarna merah. Ia mendekati tangga tersebut lalu naik ke atasnya ia penasaran apa yang ada di atas sana.
" Wow" pujinya. Matanya berbinar melihat dekorasi di lantai dua.
Ada tiga lemari kaca di sana yang di dalamnya terdapat teko teko kecil dengan motif yang berbeda beda.
Bunda Merry mendekati kamar yang paling dekat dengannya. Tidak terkunci, wanita itu masuk kesana. Ia sangat penasaran dengan rumah adiknya yang ada di dalam hutan ini.
" Sepertinya kamar ini tidak ada penghuninya"
Ia keluar lagi lalu masuk ke kamar yang lainnya.
Wanita itu memperhatikan sekelilingnya.
" Apa ini kamar Bella?" tanyanya saat ia melihat ada banyak boneka boneka kelinci dengan ukuran kecil di susun dengan rapi di atas meja.
" Kalau ini perlu di geledah" katanya.
Bunda Merry membuka lemari Bella satu per satu. Ia menemukan banyak sekali buku buku yang di kumpulan Bella sejak masih kecil sampai sekarang. Bunda Merry membuka buku buku itu tidak ada hal yang berarti palingan pelajaran Bella di sekolah.
Ia membuka laci yang lainnya dan kini ia mendapatkan dua lembar foto.
Foto yang satunya di mana ada dua anak kecil tersenyum ke kamera sama sama menggendong seekor kelinci.
Bunda Merry memperhatikan Foto itu.
__ADS_1
" Vita" gumamnya. Bunda Merry melihatnya dengan teliti.
" Bukan. Ini bukan Vita tapi Bella, mereka sewaktu kecil memang sangat mirip. Mereka mewarisi wajah ayahnya"
Tanpa sadar Bunda Merry mengelus foto Bella kecil itu.
Ia melihat bocah laki laki yang berfoto bersama dengan keponakannya.
" Siapa bocah ini?" tanyanya.
" Kayak kenal" Bunda Merry memperhatikannya lagi.
" Sean" katanya kemudian.
" Jadi mereka sudah kenal sejak kecil"
Bunda Merry melihat Foto yang lainnya. Di foto ini ia melihat sekumpulan anak anak remaja yang berfoto, dua di antaranya adalah Sean dan Vita.
Sekumpulan anak remaja menghadap ke kamera dengan gaya masing masing sementara di belakangnya banyak orang orang berkeliaran yang kebetulan di jepret oleh kamera.
" Apa foto ini di ambil saat mereka sedang berjalan jalan" katanya.
Bunda Merry memperhatikannya. Di antara orang orang yang berkeliaran itu, matanya menangkap satu sosok yang familiar.
" Bella"
Bella ada di foto itu tapi ia tidak masuk kumpulan anak anak yang sedang berfoto. Bella hanya berdiri di sana memandang ke arah lain dengan wajah yang sayu.
Setelah puas melihatnya Bunda Merry menyimpan kembali benda itu di laci. Kemudian ia membongkar laci laci yang lain. Di laci yang lain ia menemukan foto lagi, sebuah foto yang memperlihatkan Bella memakai lingeria berfoto bersama dengan lima orang yang tidak di kenalnya dan di foto itu ada dua perempuan yang tidak ia kenal dan dua orang laki laki. Mereka semuanya duduk di atas sofa dengan Bella di tengahnya.
" Apa foto ini di ambil di rumah ini?" katanya. Bunda Merry yakin kalau foto ini di ambil di bawah ruang tamu lantai satu terbukti dari sofa yang di duduki oleh orang orang yang ada di foto itu dan interior rumah yang ada di sekelilingnya. Ia membuka laci lain lagi dan kini ia menemukan sebuah map, sekilas ia membuka map itu saat sadar kalau banyak informasi penting di map itu. Wanita itu mengambilnya lalu di masukkanya ke dalam bajunya.
Bunda Merry akan keluar dari kamar Bella saat matanya menangkap sebuah buku kecil yang terletak di samping pot Bunga. Wanita kembali membukanya.
" Hal penting" katanya lalu memasukkan benda itu juga ke dalam bajunya.
Bunda Merry mengendap endap keluar dari kamar Bella. Kini ia akan masuk ke kamar lain.
" Terkunci" Bunda Merry mencoba membuka pintu kamar tersebut tapi sayangnya tidak bisa.
Penasaran apa yang ada di dalamnya. Wanita itu melongok ke dalam lubang kunci dan alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang tertidur di dalam.
" Dokter Mika"
__ADS_1