Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Tatapan Seorang Pembunuh


__ADS_3

Bunda Anissa menangis tersedu sedu menyambut1 kepulangan anak semata wayangnya itu begitupun suaminya. Keluarga besar Tasya menyambut kepulangan gadis itu dengan sukacita.


" Kau baik baik saja sayang. Apa ada yang sakit?" tanya ibunya dengan kasih sayang.


" Tidak ada ma, aku baik baik saja" jawab Tasya berusaha mengeluarkan senyum terbaiknya.


Tasya dengan langkah yang gontai memasuki kamarnya yang sudah satu minggu ini di tinggalkannya. Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya yang hangat.


" Aah, akhirnya aku bebas, aku pikir aku akan mati di penjara bawah tanah itu" Tasya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Serasa mimpi ia masih bisa bertemu orang tuanya.


Gadis berusia 16 tahun itu berhasil meyakinkan orang tuanya dengan alasan kalau ia mengejar mantan kekasihnya ke luar kota tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tasya sendiri ingin muntah saat mengeluarkan alasan konyol itu tapi mau bagaimana lagi? ia harus berbohong dengan sempurna supaya nyawa nyonya Elis tetap aman.


Tasya teringat sosok yang menculiknya itu, sosok itu bisa menampilkan sifat yang bertolak belakang. Bintang film saja tidak akan mampu menampilkan sandiwara dengan sempurna tapi sosok tersebut mampu bersandiwara dengan baik tanpa seorang pun tahu.


" Sungguh Ratu akting"


Sebenarnya Tasya sangat penasaran mengapa sosok itu tega melakukan hal semengerikan itu dengan membunuh petinggi SMA Rajawali dan murid murid yang bersekolah di sana khususnya kelas 10 A.


" Kelas 10 A? pantasan dia tidak membunuhku, targetnya hanya murid kelas 10 A. Tapi apa alasannya?" pikir Tasya sambil melihat langit langit kamarnya.


Tasya teringat ruang bawah tanah SMA Rajawali. Tidak ada seorang pun tahu kalau sekolah itu memiliki ruang bawah tanah yang di huni oleh monster jahat yang bisa kapan saja membunuh para penghuni sekolag. Selama 20 tahun sekolah itu berdiri, ruang bawah tanah itu tidak pernah terekspos. Sekolah favorit yang menampung para penerus bangsa yang memiliki kemampuan di atas rata rata ternyata menyimpan sebuah misteri.


Kepulangan Tasya membuat heboh muris murid SMA Rajawali. Awalnya mereka semua berpikir kalau gadis itu di culik oleh pembunuh yang berkeliaran di sekolah mereka tapi ternyata kabar mengejutkan dan menggelikan kalau Tasya mengejar mantan kekasihnya ke luar kota.


" Haah. Apa maksud gadis itu katanya dia mencintai Sean. Tapi rupanya masih tergila gila pada mantan kekasihnya" omel Jasmine dengan tampang menghina.


" Mungkin karena Sean menolaknya jadi ia kembali mengejar masa lalunya" balas Bunga terbahak.


" Lucu sekali dia"


" Benar benar buat malu" Jasmine tak henti hentinya menghina kakak kelasnya itu.


" Namanya cinta itu buta"


" Hahahahaah" Jasmine dan Bunga sama sama tertawa dengan keras.


" Apa yang kalian tertawakan?" tegur Anna.

__ADS_1


" Tidak ada" ujar Bunga bohong.


Jasmine menoleh ke asal suara, ia melihat Anna dan Santi.


" Hai, pestamu sangat berkesan hari itu. Aku bangga kau mengundangku" ucap Jasmine.


" Terimah kasih atas pujiannya. Mana mungkin aku melupakanmu" balas Anna.


Jasmine tersenyum, ia senang orang orang selalu mengingatnya. Sesekali ia melirik ke Santi, pikiran merehmekan lagi muncul di otaknya.


" Seberapa dekat kalian?" tanya Jasmine.


" Sangat dekat bahkan sudah seperti saudara" jawab Anna.


" Oooh" Jasmine manggut manggut. Ia tidak menyangka kalau cewek kampungan seantero Rajawali ini bisa menaklukkan hati orang berkelas macam Anna.


Santi menelan ludah pahit, ia tahu arti tatapan Jasmine tatapan yang selalu menghinanya. Ia tidak pernah melihat gadis itu dengan tatapan yang menyenangkan baginya, selalunya tatapan yang membuat hatinya sakit macam tertusuk ratusan tombak. Sekali saja, ia ingin Jasmine menghargainya tapi sayangnya separuh kali pun Santi tidak pernah merasakannya.


Bunga mematung di tempatnya, ia memandang kasihan ke arah Santi. Gadis itu selalu merasa terpojok kalau Jasmine bersamanya.


" Kami akan pergi, sampai jumpa" ujar Anna lalu menarik tangan Santi menjauh.


" Apa alasannya? sampai segitunya kau bersikap pada Santi?" tanya Bunga.


" Entahlah, aku hanya tidak menyukainya" jawab Jasmine acuh tak acuh.


" Hentikan ini Jasmine, sampai kapan kau selalu menghinanya. Apa kau tidak kasihan padanya, ia selalu rendah diri karenamu" tegur Bunga.


" Hai kenapa kau membelanya"


" Aku membelanya karena dia pantas di bela"


" Kau ini kenapa? aku yang sahabatmu atau gadis cupu itu" bentak Jasmine.


" Kau sahabatku tapi kau selalu merendahkan orang lain sedangkan dia hanya teman biasa bagiku tapi dia selalu rendah diri karena kau. Kau selalu dan selalu menghinanya. Aku lebih menghormati Santi daripada kau yang gila pujian ini" teriak Bunga terbawa emosi.


" Beraninya kau" balas Jasmine lalu menarik rambut Bunga.

__ADS_1


"Auuuhh" Bunga meringis memegang kepalanya yang sakit.


" Jangan cari masalah denganku Bunga, kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga menyukai Sean" teriak Jasmine." Aku lebih pantas buat Sean daripada kau, derajatku lebih tinggi sedangkan kau, kau hanyalah anak jalanan yang meraih keberuntungan karena di adopsi oleh keluarga kaya"


" Kau menghinaku" Bunga menurunkan suaranya.


" Kalau iya, memangnya kenapa? kau bisa apa. Hah" Jasmine mengangkat tangannya ingin menampar Bunga tapi sebelum mengenai wajah Bunga. Jasmine tersentak melihat tatapan yang di keluarkan oleh Bunga.


" Lakukan"


Jasmine menelan ludahnya kasar, ini pertama kalinya ia melihat Bunga tang seperti ini. Tatapan macam apa itu? ia tidak percaya kalau sahabat satu satunya itu bisa mengeluarkan tatapan semenakutkan itu karena ia sering menonton film film bergenre horror jadi Jasmine tahu betul siapa yang bisa memiliki tatapan macam itu.


Tatapan itu adalah tatapan seorang pembunuh.


" Kau " kata kata Jasmine berhenti di tenggorokannya.


Tanpa sepatah kata pun, Bunga melangkah meninggalkan Jasmine seorang diri.


Tap...tap...tap...


Bunyi sepatu Bunga bergema di lorong asrama siang itu.


Jasmine mati kutu di tempatnya, dalam beberapa detik ia tidak bisa mengeluarkan nafasnya. Ia masih belum percaya apakah orang yang barusan melihatnya dengan sadis adalah Bunga sahabatnya.


" Tidak mungkin" ucap Jasmine kemudian.


" Jangan jangan. Ah tidak mungkin" Jasmine membuang pikiran negatifnya jauh jauh. Tidak mungkin Bunga pelakunya.


" Bunga hanya marah karena aku mengingatkannya pada masa lalunya yang seharusnya ia lupakan. Ah aku benar benar bodoh kenapa aku mengatakan hal itu pada Bunga tentu saja ia marah. Apa aku minta maaf saja yah" pikir Jasmine lagi.


Sebenarnya ia gengsi untuk minta maaf tapi karena ini sahabatnya ia harus melakukannya.


***


Di kantor polisi pusat kota, Dimas duduk serius sambil menatap daftar murid yang terbunuh di SMA Rajawali.


" Mereka semua kelas 10 A. Targetnya adalah kelas unggulan yang di isi oleh siswa baru" gumam Dimas.

__ADS_1


" Siapa lagi target selanjutnya?"


" Apa dia membunuh murid 10 A secara acak atau ada benang merah di antaranya" Dimas berpikir keras.


__ADS_2