
Sore sebelum keberangkatan mereka ke kota pinggir pantai. Dimas membuka google maps, ia mencoba mencari pulau itu di internet.
" Dapat" desis Dimas. Ia bersorak kegirangan saat melihat gambar pulau itu di internet lengkap dengan informasinya.
" Pici , sekarang waktunya melakukan ekspedisi" katanya sambil mengelus elus anjing kesayangannya.
Anjing berbulu cokelat itu hanya menggoyang goyangkan ekornya.
" Bantu kami yah. Kau harus menajamkan penciumanmu"
Dua hari kemudian. Mereka bertujuh di tambah seekor anjing sampai di dermaga, butuh waktu dua hari melakukan perjalanan darat dari kotanya sampai ke kota pinggir pantai.
Malam hari sekitar pukul 19.00. Mereka sudah ada di pinggir pantai, beberapa hari yang lalu polisi itu sudah menyewa Speedboat yang akan mereka tumpangi menuju pulau misterius itu.
Pemilik Speedboat heran saat mereka mengatakan ingin menuju pulau tersebut.
" Untuk apa kalian ke sana?" tanyanya kebingungan.
" Kami ingin melakukan sebuah ekspedisi" jawab Dimas.
" Tidak pernah ada orang yang ke sana loh karena di sana menakutkan selalu terdengar auman binatang buas" jelas pemilik Speedboat tersebut.
" Karena hal itulah kami ke sana" kata Shanaya.
" Ngomong ngomong, apa Bapak tahu info lain tentang pulau itu?" tanya Dimas. Ia ingin mengorek informasi dari pulau itu.
" Tidak ada yang menarik di sana, kecuali jika anda penjelajah mungkin pulau itu sangat menarik. Dulunya pulau itu di beli oleh keluarga konglomerat tapi entah kenapa pulau itu di tinggalkan mungkin karena terlalu jauh dari keramaian" jelasnya.
" Jadi tidak ada manusia di sana yah?"
" Iya. Hanya suara auman binatang buas yang terdengar kalau kita mendekati pulau itu"
" Jadi begitu. Tapi bagi penjelajah seperti kami, hal itulah yang menarik" timpal Dimas.
Pemilik Speedboat itu manggut manggut, ia tidak bertanya lebih lagi.
Ketujuh orang itu akhirnya naik ke atas Speedboat dan pici juga. Denal yang mengemudi karena terlalu berbahaya kalau pemilik Speedboat itu ikut, Dimas tidak ingin orang itu mencampuri urusan mereka.
Angin malam yang dingin menyambut mereka saat mereka sudah ada di dalam laut. Tapi hal itu hanya masalah kecil di dalam sana ada mara bahaya yang mengintai mereka.
Denal memperhatikan GPS kapal dengan seksama.
" Tempatnya lumayan jauh dari sini, tempat yang cocok di jadikan persembunyian" ujar Denal.
" Yah" Shanaya menimpali.
" Aku tidak menyangka kalau akan berurusan dengan monster di dalam sana. Ini jauh dari perkiraan kita" sambungnya.
" Berhati hatilah, kita tidak tahu apa yang ada di sana. Kita hanya tahu kalau cuma ada nyonya Shireen" ucap Dimas.
Butuh waktu tiga jam untuk tiba di pulau itu. Mereka berlabuh saat jam menunjukkan pukul 22.02.
__ADS_1
Para pria yang ada di sana bersusah payah menarik Speedboat ke pinggir pantai.
" Berat "
" cepat sedikit lagi"
" Pelankan suara kalian" tegur Shanaya saat para pria itu ribut.
Akhirnya Speedboat yang berat itu berhasil di ikat di sana agar ia tidak di hanyutkan oleh air dan angin.
" Grrraaaaaaahhhhhh"
Ketujuh orang itu tersentak mendengar suara barusan.
" Auuummmmmmm"
Fitri merinding. Keringat dingin jatuh dari pelipisnya.
" Suara binatang buas. Itu seperti suara singa" ujar Dimas.
" Berhati hatilah. Persiapkan diri kalian" sambungnya.
Dengan sigap. Denal dan Shanaya mengambil beberapa pistol dari tasnya lalu memberikan masing masing satu buah kepada anak anak yang ada di sana.
" Caranya cukup mudah. Tarik saja pelatuknya seperti ini" Shanaya menjelaskan.
" Baiklah"
" Mengerti"
" Aku akan berada di depan dengan Sean dan Denal Shanaya kalian harus berjaga jaga di belakang sisanya berada di tengah. Jangan gegabah perhatikan sekitar kalian" jelas Dimas.
" Dan satu hal lagi. Kalian tidak boleh berpisah dengan teman teman kalian, kalian harus memperhatikan dan menjaga satu sama lain" sambungnya.
" Yah"
" Oke"
" Baik"
" Siap"
Kemudian dengan posisi yang di maksud oleh Dimas, mereka menyusuri pulau itu.
Senter menyorot dengan tajam menerangi jalan mereka. Malam ini bulan menampakkan dirinya tapi cahaya bulan saja tidak cukup menerangi jalan mereka.
Mereka bertujuh melangkah pelan dan sangat hati hati. Auaman binatang buas tadi cukup mengejutkan.
" Apa kalian yakin kalau itu suara Singa?" tanya Shanaya.
" Sepertinya. Tapi kita belum bisa memastikannya bisa saja itu suara binatang lain" jawab Dimas.
__ADS_1
Mereka berjalan dan terus berjalan. Mereka melewati semak semak, bunyi jangkrik dan burung hantu menyertai langkah mereka.
Pici, anjing yang di bawa oleh Dimas melakukan tugasnya. Ia mengendus sana sini mencari keberadaan manusia.
" Ini mengesalkan terlalu banyak semak semak" kata Fitri memegang tangannya saat semak tajam menggores tubuhnya.
" Tahan. Lukamu tidak terlalu dalam" kata Shanaya saat ia sempat melihat luka Fitri.
" Semak semak ini lumayan panjang" ucap Nanda.
Mereka dengan sabar menyusuri tempat itu.
" Sialan panjang sekali" umpat Gilang, sudah hampir dua jam tapi mereka masih ada di dalam semak semak.
" Sedikit lagi" ujar Dimas saat di sana ia melihat ada beberapa pohon yang berjejer.
" Keluar" ucap Sean lega.
Kini mereka berada di Padang rumput yang di hiasi oleh beberapa pohon yang menjulang tinggi.
" Kita istirahat dulu di sini. Tunggu matahari terbit untuk melanjutkan perjalanan, kita butuh energi" kata Dimas.
Denal mengumpulan beberapa kayu yang ia temui di tempat itu lalu menyalakan api unggun.
Akhirnya satu per satu mereka membuka tasnya mengambil sleeping bagnya. Mereka ingin melepas penat dengan tidur.
" Kita gantian berjaga jaga yah. Aku dan Nanda pertama kali menjaga kalian selama dua jam lalu Shanaya dan Gilang menggantikan kami jika dua jam berlalu. Yang tidak berjaga jaga butuh waktu empat jam untuk tidur. Saat ini pas jam 01.00 kalian boleh bangun di jam 04.00" jelas Dimas.
" Oke "
" Baik "
" Siap"
Begitulah jawaban yang terlontar dari mulut mereka.
Kelimanya segera tidur. Rasa lelah dan capek membuat mereka langsun terbang ke alam mimpi. Lain halnya dengan Dimas dan Nanda, mereka berdua berusaha mengusir rasa kantuknya untuk menjaga teman teman mereka.
Dimas duduk bersandar di pinggir pohon sambil mengelus anjing kesayangannya yang juga sudah ngorok sedangkan Nanda sibuk membuat kopi panas.
" Silahkan minum pak" tawarnya.
" Terimah kasih" Dimas mengambil kopi pemberian Nanda, meniupnya beberapa kali lalu meneguknya pelan.
" Auuuman binatang itu sudah tidak terdengar lagi yah" ujar Nanda sambil menoleh sana sini.
" Yah. Aku harap binatang itu tidak menemukan kita di sini, akan jadi masalah kalau binatang itu menemukan kita" kata Dimas.
" Aku sangat penasaran, apa sebenarnya yang tersembunyi di sini" ucap Nanda.
" Entahlah, mungkin ada sesuatu yang berbahaya di dalam sana"
__ADS_1
" Aku merinding" Kata Nanda sambil mengelus elus tangannya. Buku kuduknya berdiri.
Mata Dimas nyalang memperhatikan sekitarnya yang hanya samar samar di bawah cahaya bulan.