Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Ternyata Masih Hidup


__ADS_3

Nyonya Shireen tersenyum, ia berhasil mengelabui mereka. Lewat anaknya Irabella ia tahu betul siapa mereka.


Wanita itu mengambil ponsel dari saku bajunya lalu mengirim sebuah pesan kepada putrinya namun sayangnya Irabella tidak membalas pesannya.


Sepuluh menit menunggu, Irabella belum juga menunjukkan batang hidungnya, karena tak sabar wanita itu segera mengikat ketujuh manusia yang pingsan itu lalu keluar dari dalam gua mencari anaknya.


Wanita itu berjalan dan terus berjalan, ia mengunjungi berbagai tempat di mana ia memperkirakan anaknya di sana.


" Tidak ada juga di sini" gumamnya.


Ia masuk ke sebuah bangunan yang agak tersembunyi dan lumayan jauh dari gua. Sesampainya di sana ia hanya melihat seorang wanita berkulit putih pucat sedang membakar ikan di atas tungku.


" Kau datang lagi wanita sinting, keluarkan aku dari sini" ujarnya.


" Dalam mimpimu" balas wanita itu sinis.


" Kau sama seperti anakmu" katanya.


" Tentu saja karena dia anakku"


" Hanya karena aku melakukan operasi plastik pada Vita kau juga menangkapku?"


" Yah. Karena kami ingin membungkam mulut mulut orang yang bisa membuka kedok kami"


Mendengar hal itu, Dokter Mika tertawa terbahak bahak.


" Hahahaahahahahahahahaahahah"


" Apa katamu wanita sinting, menurutmu penyamaran Vita belum terbongkar?? setelah sekian lama dan korban terus berjatuhan , apa kau pikir polisi akan terus berdiam diri dan menyerah" ejek Mika.

__ADS_1


Nyonya Shiren diam, ia berharap semoga Mika tidak tahu kalau ada tujuh orang yang ingin menangkap Irabella sedang berada di pulau ini.


" Apa yang kau pikirkan?" tanya Mika.


" Tidak apa apa. Aku hanya mencari putriku"


" Dia sudah pergi sedari tadi, dia mungkin sudah keluar dari pulau ini" kata Mika.


Nyonya Shireen meninggalkan dokter Mika yang hanya seorang diri di bangunan itu.


Sepeninggal Nyonya Shireen, Dokter Mika segera memakan ikan bakarnya dengan lahap.


" Ciiiihhh, sampai kapan aku ada di sini. Berada di sini aku sudah tidak bisa melakukan perawatan lagi, kulitku mulai kusam dan hitam"


" Aaah tapi itu lebih baik daripada jika mereka harus membunuhku"


" Apakah sampai tua" pikirnya.


Dokter Mika memperhatikan lagi bangunan yang ia tempati selama beberapa bulan ini, sebuah rumah yang interior dan desainnya sangat bagus tidak cocok berada di hutan antah berantah tapi lebih cocoknya berada di perumahan elit masyarakat metropolitan.


Dokter Mika bangkit dari kursinya, ia masuk ke dalam kamar kemudian membaringkan tubuhnya. Ia tidak melakukan pekerjaan apapun tapi tubuhnya pegal dan capek. Hal ini sama jika ia lembur sampai malam di rumah sakit, jika ini Seoul ia pasti akan duduk santai di kursi pijatnya tapi sayangnya ini hanyalah pulau tak berpenghuni kecuali di huni oleh dua monster jahat.


Gelisah berbaring, wanita itu bangun dari tidurnya. Ia duduk di depan cermin yang ada di sana, ia memperhatikan wajahnya yang selama ini hanya di cucinya dengan sabun.


Tapi hal ini lumayan, Irabella masih memberikannya sabun mandi sepertinya gadis itu tidak memiliki niat untuk membunuhnya.


Berbulan bulan di jadikan sandera bukan berarti ia pasrah di kurung di pulau itu, bukan berarti ia menerima nasibnya harus menjadi tahanan gadis tak punya hati itu. Setiap hari bahkan setiap detik ia memikirkan bagaimana caranya ia bisa keluar dari sana tapi dari ribuan cara yang ia pikirkan tidak ada satu pun yang menjanjikan, keluar dari rumah ini saja tidak bisa apalagi keluar dari pulau ini.


Rumah yang di tinggali Dokter Mika ada dua tingkat, walaupun berada di hutan antah berantah tapi rumah itu terurus layaknya di daerah perkotaan. Setiap sore Nyonya Shiren mengurusnya dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Perabotan yang ada di dalamnya juga bagus cuma terkesan kuno karena rumah ini di bangun dua puluh tahun yang lalu, 10 tahun setelah pulau ini di temukan langsun di beli oleh keluarga Farhana.


Dokter Mika melipat kedua tangannya, ia berdoa pada Tuhan berharap Tuhan menunjukkan mujizat padanya untuk keluar dari pulau ini. Sejak berada di pulau itu ia rajin berdoa hal yang tidak pernah di lakukannya saat berada di Seoul. Jangankan berdoa, ingat Tuhan saja tidak pernah. Kini ia sadar ia mendapatkan hukuman dari Tuhan. Perkataan orang orang memang betul, Tuhan punya cara untuk menegur umatnya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Mana ia tahu kalau ia akan di kurung di pulau ini. Hal ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pertama kali saat Bunda Merry datang padanya, wanita itu sudah memberitahukannya kalau bisa saja ia menerima resiko atas operasi plastik yang akan di lakukannya pada Vita tapi karena Bunda Merry memberikan imbalan yang lebih besar dari pada pasien pasiennya yang sebelumnya, ia tidak memikirkan perkataan Bunda Merry. Ia pikir mana mungkin ia akan di kejar sampai ke negeri ginseng.


Tapi apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi. Ia sedang duduk santai di dalam kamarnya saat lima orang yang tak di kenalnya datang dan membekapnya. Saat itu ia sudah tidak ingat apa apa lagi dan saat ia membuka matanya ia sudah berada di rumah ini.


Pada awalnya ia tidak tahu mengapa ia bisa ada di sini tapi saat gadis itu datang memperkenalkan dirinya sebagai Irabella dan juga memperkenalkan dirinya sebagai adik dari Vita, ia baru mengerti dan mengingat kata kata Bunda Merry pada waktu itu. Ia telah di tangkap, ia telah ada di dalam kandang singa sebentar lagi ia akan menemui ajalnya.


Wanita yang berprofesi sebagai Dokter itu ketakutan, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Dalam beberapa hari dan beberapa Minggu ia selalu di landa kecemasan namun seiring berjalannya waktu ia mulai memposisikan dirinya saat melihat kemungkinan ia hanya di jadikan tahanan tidak untuk di bunuh.


Dokter Mika bersyukur karena hal itu. Setidaknya ia tidak kehilangan nyawanya di tempat ini.


***


" Di mana anak itu?" Nyonya Shireen celingak celinguk mencari keberadaan putrinya.


" Mungkin perkataan Dokter itu benar, Irabella sudah keluar dari pulau ini"


Lelah mencari akhirnya Nyonya Shireen kembali ke gua di mana Dimas dan rekan rekannya berada.


Tapi alangkah terkejutnya ia, saat ia melihat hewan peliharaannya tergeletak tak berdaya di depan gua. Wanita itu segera berlari memeriksa nadi kucing besar itu.


Tak ada. Sudah tidak ada kehidupan di sana, hewan peliharaannya yang bernama Mina itu sudah mati dengan lima buah peluru menembus jantungnya.


Nyonya Shireen berlari ke dalam gua. Sesuai dugaannya, ketujuh orang itu sudah menghilang yang ada hanya gelas gelas kopi yang berceceran sana sini. Ketujuh orang itu menghilang bersama dengan tali tambang yang mengikat tubuhnya.


" Sial, sial, sial" wanita itu mengumpat berkali kali. Ia kecolongan. Ia memandang enteng Dimas dan rekan rekannya, ia lupa jika ketujuh orang itu datang kemari sudah pasti mereka bukankah orang yang mudah di perdaya.

__ADS_1


__ADS_2