Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Vita, sang Pembunuh


__ADS_3

Tring...


Ponsel Sean bergetar. Ada pesan yang masuk.


" Jangan lupa hari ini. Temui aku cafe Tristan jam 01.00" begitulah isi pesan yang di kirim oleh Dimas.


" Siap" Sean membalas.


Kemudian Keempat teman baiknya di OSIS datang menghampiri ketua mereka, siapa lagi kalau bukan Gilang, Nanda, Diana dan Dewi.


Tanpa aba aba, Sean langsun mengikuti keempat temannya.


" Aku juga ingin mengumpulkan barang barangku, tidak ada gunanya bertahan di sini kalau sekolah sudah kosong. Tapi aku tetap loyal pada sekolah ini, aku akan tetap kembali kalau keadaannya sudah aman" ucap Diana.


" Aku juga" balas Dewi.


Diana dan Dewi memisahkan diri dengan ketiga teman lelakinya, mereka melangkah masuk ke dalam asrama putri.


" Kalian ingin pulang?" tanya Nanda.


Sean mengangguk.


" Ayo, kita beres beres lalu pulang ke rumah" ujar Gilang.


" Aku ingin bertemu dengan Pak Dimas nanti siang. Apa kalian ingin ikut?" ajak Sean kepada dua temannya.


" Untuk apa?" tanya Gilang.


" Dia akan berbicara tentang Vita" jawabnya.


Nanda dan Gilang kaget.


" Jangan pikirkan. Bereskan barang barang kalian. Jam 01.00 kita bertemu di kantor polisi"


Mereka bertiga berpisah, masuk ke dalam kamarnya masing masing.


Di dalam kamarnya, Sean mengumpulkan barang barangnya ke dalam koper. Ada tiga koper besar yang tersedia di sana. Yang dapat memuat pakaian, sepatu, buku, tas dll.


Sean membuka lemarinya lalu memasukkan pakaiannya ke dalam koper dengan rapi. Pria itu teringat Jasmine.


Sean mengambil ponselnya, kemudian menghubungi Jasmine. Hanya berselang beberapa detik, teleponnya tersambung.


Sean bernafas lega mendapat kabar dari pacarnya kalau ia dan sahabatnya Bunga di jemput oleh ibunya menggunakan mobil yang membawanya pulang ke rumah.


Setelah selesai mengumpulkan pernak perniknya, Sean membawa kopernya yang berjumlah tiga sekaligus. Di bawah aula asrama ia bertemu dengan Nanda, Gilang dan pak Edy yang juga sudah siap dengan segala barang barangnya untuk pulang ke rumah.


" Sampai ketemu lagi anak anak" ucap pak Edy lalu keluar dari aula.


" Baik pak. Sampai ketemu lagi" balas mereka bertiga.


Setelah pak Edy pergi.


" Sial. Apa sekolah ini akan benar benar kosong?" tutur Gilang.


Nanda mengangkat pundaknya.


" Entahlah"


Ketiga pria itu melangkah keluar dari sekolah itu. Di gerbang mereka bertemu dengan Dewi dan Diana.

__ADS_1


" Apa kalian di jemput?" tanya Gilang.


" Tidak. Kami menunggu kalian, kita pulang bersama" jawan Dewi.


Nanda memesan grab, hanya beberapa menit. Mobil pesanannya datang, kemudian mereka berlima naik ke atas mobil lalu pulang.


25 menit perjalanan akhirnya Sean tiba di rumahnya. Rumah megah tiga lantai yang hanya di huni oleh empat orang, Sean, ayahnya, pembantunya dan tukang kebunnya. Sean adalah anak tunggal.


Sean membuka pintu.


" Aku pulang"


Pembantunya muncul dari arah dapur.


" Tuan muda sudah pulang. Selamat datang kembali Tuan" sapa pembantunya yang akrab di panggil bik Tina.


" Di mana ayah?" tanyanya.


" Tuan besar belum pulang dari kantor" jawab bik Tina.


" Tolong, bereskan barang barangku" katanya sambil memberikan tiga buah kopernya.


" Baiklah"


" Terimah kasih"


Sean naik ke atas lantai tiga di mana kamarnya berada, ia rindu kasur kesayangannya yang sudah berapa bulan di tinggalkannya.


Pria itu mengambil kunci dari dalam saku celananya.


Cekleek.....


Lalu terlihatlah sebuah ranjang dan kasur yang berukuran jumbo yang di tutupi oleh seprei berwarna merah.


" Aku pulang"


Sean membuang tubuhnya ke atas kasur. Ia melipat kedua tangannya di bawah kepala lalu melihat langit langit kamarnya dengan seksama. Ia teringat kembali perkataan Dimas padanya, apa sebenarnya yang ingin di bicarakan polisi itu tentang Vita.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam pertemuannya dengan Dimas. Sean bersiap siap untuk berangkat ke cafe Tristan di mana tempat perjanjiannya dengan pak Polisi.


Dengan gelisah, ia membuka garasi rumahnya lalu mengambil sebuah mobil. Kemudian dengan kecepatan sedang ia menuju cafe Tristan.


Cafe Tristan.


Jantungnya berdebar debar saat pria itu masuk ke dalam cafe dan melihat Dimas sedang duduk di sana melambaikan tangan ke arahnya.


" Sudah lama di sini? " senyum tersungging dari bibirnya.


" Baru sekitaran lima menit. Mau minum apa, akan ku traktir" tawar Dimas.


" Cappucino. Terimah kasih " jawabnya tanpa basa basi.


" Baiklah" Dimas memesan kopi hitam untuk dirinya dan cappucino untuk Sean.


" Kita akan berbicara langsun ke intinya, setelah minuman kita datang" ujar Dimas.


Sean mengangguk.


Tak lama kemudian, minuman pesanannya datang.

__ADS_1


Sean mengaduk cappucinonya, ia mengangkat kepalanya menatap Dimas dalam dalam.


" Vita, jadi gadis itu mantan pacarmu?" tanya Dimas memulai pembicaraannya.


" Iya" jawab Sean singkat.


" Hanya kita berdua di sini, kau harus jujur padaku. Aku janji tidak akan membocorkannya kalau di pembicaraan kita kau mengatakan apa yang tidak perlu di ketahui oleh orang lain" kata Dimas menenangkan.


" Baiklah"


" Sudah berapa lama kau kenal gadis itu?"


" Mulai dari kelas satu SMP"


" Aku dengar kalau ia sudah membunuh ibumu"


Sean gusar. Tapi ia harus menjawab jujur pertanyaan polisi itu padanya, ia harus menguatkan dirinya hari ini masa lalunya yang seharusnya ia lupakan akan di ungkit kembali.


" Ya"


" Apa kau masih mencintainya?"


Sean tersentak, badannya gemetar mendengar pertanyaan Dimas barusan.


Polisi itu tersenyum.


" Tenangkan dirimu"


Sean mengangguk berkali kali, ia lemah sekarang.


" Aku tahu, cinta pertama tidak mudah di lupakan walaupun dia sangat mengecewakan sekalipun. Aku juga pernah merasakannya"


Sean lagi lagi mengangguk dengan menutup matanya.


" Sungguh, mantan pacarmu masih sangat belia. Saat ia sudah menjadi seorang pembunuh" ujar Dimas sambil mengaduk kopinya.


" Apa sebenarnya yang ingin bapak bicarakan?" tanya Sean tak sabar.


" Beberapa hari sebelum kematian bu' Vany. Ia menulis sebuah surat, surat tersebut ia simpan di dalam laci kamarnya. Di dalam surat itu tertulis kalau Vita ada di antara kita, dia siswa baru tahun ini" jelas Dimas.


"Apaaa..."


Sean kaget bukan kepalang, tanpa sengaja saking kagetnya ia menyenggol gelas cappucinonya kemudian berserakan ke lantai.


" Tidak mungkin"


" Begitulah isi surat almarhumah" tutur Dimas.


Polisi itu mengambil selembar kertas dari saku bajunya lalu memberikannya pada Sean.


Sean meraih surat tersebut lalu membacanya dengan seksama.


Surat tersebut berbunyi.


" Vita, sang pembunuh ada di antara kita. Dia siswa baru tahun ini, ia duduk di kelas sepuluh. Kalau kalian ingin tahu kebenarannya kalian bisa menghubungi Mika, salah satu dokter kecantikan yang ada di RS*** Korea Selatan. Informasi ini, aku dapat dari Mersy kemarin malam"


Tangan Sean gemetaran, apa benar Vita ada di sekitarnya. kalau itu benar, mengapa ia tidak pernah melihat Vita selama ini.


Dan kalau apa yang tertulis di dalam surat itu benar. Apa dia sudah siap sekarang, siap untuk apa?

__ADS_1


Bertemu dengan Vitanya!!!


__ADS_2