
Mereka berdua menyusuri sungai tersebut dengan Dimas yang menggendong anjingnya. Semakin ke sana sungainya semakin dalam. Saat air sungai sudah sampai di atas pinggang mereka berdua menghentikan aktivitasnya.
" Ke sini" ajak Dimas pada Sean.
Kedua pria itu melepas penat di pinggir sungai. Di dinding batu itu masih ada undakan yang bisa di tempati untuk duduk.
" Kita tidak punya persiapan untuk hal ini, hubungi Denal katakan posisi kita dan katakan perlengkapan yang kita butuhkan" ujar Dimas.
" Baiklah"
Sean mengambil ponselnya dari saku mantelnya. Jaringan telepon masih ada, ia masih bisa menghubungi rekan rekannya.
Setelah di hubungi oleh Sean, satu jam kemudian Nanda dan Shanaya yang datang.
" Tidak ada gangguan?" tanya Dimas.
" Yah, semuanya berjalan mulus" kata Shanaya.
" Bagaimana keadaan ketiga rekan kita yang ada di tenda?" tanya Dimas lagi.
" Mereka baik baik saja, ada Denal yang menjaga mereka"
" Lalu bagaimana dengan Gilang, apa dia sudah sadar?" tanya Sean.
" Yah. Dia sadar hanya beberapa menit saat kalian pergi dari sana" ujar Shanaya.
Keempat orang itu mengenakan pelampung, mereka akan menyusuri sungai itu yang semakin ke sana semakin dalam dan gelap.
" Di sana sudah beratap batu yah. Ini terakhirnya kita melihat langit" ucap Nanda.
" Yah. Lalu bagaimana dengan pici?" tanya Shanaya.
" Aku akan mendengeknya" jawab Dimas.
Selesai mereka menggunakan pelampung, kelima orang itu segera melangkah. Pici yang tak suka air mau tak mau harus di dengek oleh tuannya.
" Dingin" keluh Nanda.
Bunyi arus sungai menemani mereka, kelelawar malam beterbangan di atas kepala mereka.
" Dari mana asalnya kelelawar itu. Apa mereka datang dari arah sana atau di sini sarangnya??" Nanda bertanya tanya.
Shanaya mengarahkan senternya ke atas kepalanya tapi ia tidak melihat ada sarang kelelawar.
" Kelelawarnya datang dari sana, di sini bukan rumahnya" jelas Shanaya.
Mereka terus menyusuri sungai itu. Dingin dan gelap mengiringi langkah mereka. Tapi kali inj mereka sudah dalam posisi berenang karena sudah tidak ada lagi pijakan di bawahnya.
__ADS_1
" Ini sulit"
Shanaya memimpin di depan, Nanda dan Dimas di tengah kemudian Sean di belakang. Pak polisi itu berada di tengah karena pici yang di dengeknya menyulitkan ruang geraknya.
" Ada sandal di sini" ujar Shanaya saat di depannya ia melihat satu buah sandal yang mengapung.
Wanita berambut bob itu meraih benda tersebut. Ia melihatnya dengan teliti, terlihat usang di makan waktu.
" Dari ukurannya terlihat seperti sandal perempuan" ucap Shanaya.
" Kira kira sandal siapa yah?" tanya Nanda.
" Entahlah"
Benda itu di masukkan ke dalam ransel kecil yang sempat di bawahnya.
Mereka terus bergerak ke depan.
" Di sana ada lagi benda" kata Shanaya, ia menyorotkan senternya ke benda itu.
" Tengkorak kepala" ujar Shanaya.
" Hih"
" Siapa lagi tengkorak itu" Nanda bergidik ngeri.
" Sebentar lagi, sudah ada pijakan di bawahnya" kata Shanaya saat ia merasakan kakinya berpijak di bawah tanah
Dengan perjuangan yang menggebu gebu untuk bisa melewati sungai itu akhirnya mereka tiba di tempat lain. Di tempat ini sungai itu bercabang, ada tiga cabang di sana.
" Ternyata sungai ini memiliki dua hilir yah" kata Sean setelah lama tidak berbicara. Hanya Shanaya dan Nanda saja yang sering membuka mulut saat mereka berempat melintasi sungai sedangkan Dimas dan Sean lebih banyak diam.
" Di sini atap batu itu tidak ada, bulannya kelihatan" kata Nanda.
Pici turun dari belakang Dimas, anjing berbulu cokelat itu kembali mengendus endus tempat itu.
" Gong gong gong " suara gong gongan Pici.
Dimas mendekati anjingnya, ia melihat apa yang di lihat oleh pici.
Lima tengkorak manusia yang tulang tulangnya berserakan.
Ketiga rekan Dimas yang ada di sana mengikuti arah pandang pak polisi itu.
" Pasti mereka mayat kelima orang suruhan Nyonya Elis" Shanaya berpendapat.
" Tentu saja. Sudah tidak pertanyakan lagi" kata Dimas.
__ADS_1
" Pantasan tidak ada kabar, ternyata kelimanya sudah mati. Lalu sandal ini pasti sandal salah satu dari mereka" ujar Shanaya lagi sambil mengambil satu buah sandal dari dalam ranselnya. Wanita itu meletakkannya di samping tengkorak tersebut.
" Mengerikan"
Mereka kembali melihat lihat tempat itu, siapa tahu mereka menemukan petunjuk di sana.
" Apa ini?" kata Nanda saat ia melihat sebuah benda yang di himpit oleh batu.
Dimas mendekati Nanda lalu mengangkat batu itu, di bawahnya ada selembar kertas di bungkus plastik yang sudah usang dan kotor.
Pak polisi itu membuka plastik tersebut lalu membuka lipatan kertasnya.
" Masih layak untuk di baca" tanpa membaca surat itu, pria itu memberikannya pada Shanaya.
" Coba kau yang baca dan kami mendengarkan" pinta Dimas.
Shanaya meraih kertas tersebut lalu membacanya di depan rekan rekannya.
Di surat itu tertulis.
Namaku Widya Tania.
Aku adalah seorang detektif. Kali ini aku beserta keempat rekanku melakukan sebuah tugas khusus yaitu mencari dan membongkar sebuah kejahatan yang sudah lama berakar di pulau ini.
Beberapa waktu yang lalu seorang wanita yang bernama Elis Farhana meminta kami untuk menyelidiki salah satu keponakannya seorang pembunuh yang bersembunyi di pulau ini. Aku menyetujui permintaannya sehingga kami membentuk sebuah tim. Aku yang memimpin tim ini dan ada empat orang anggotaku, kami ada dua orang perempuan dan tiga orang pria.
Pada awalnya, aku sangat bersemangat di dalam kasus ini karena inilah pekerjaanku, tidak hanya sebagai pekerjaan tapi aku menjadikan detektif sebagai hobiku.
Satu minggu berada di pulau ini, kami hampir mencapai pintu kemenangan. Pengumpulan bukti dan fakta tentang sang pembunuh semuanya sudah rampung, tinggal sedikit lagi kami akan menyelesaikan tugas ini.
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Hari ini, malam ini aku berada di sini bersembunyi dari kejaran sang pembunuh. Dia benar benar psikopat gila, dia bagaikan salah satu pemimpin neraka, keempat temanku di bantai saat kami sudah bersiap meninggalkan pulau ini. Aku seorang detektif tapi ini pertama kalinya aku melihat manusia di bantai oleh manusia, sungguh tak punya hati pembunuh itu membantai keempat temanku di depan mata. Aku berhasil lolos, aku melarikan diri dengan air mata yang tak terbendung dan ketakutan yang menjalar di setiap nadiku tapi pembunuh itu mengejar ku sampai ke sini, ia benar benar tidak memberi ampun kepada calon korbannya. Aku tidak siap dalam hal ini, aku tidak siap mati tapi aku akan mati. Yah aku akan mati di tempat ini.
Aku menulis surat berharap ada orang bisa membacanya tapi jika ada yang bisa membacanya maka kalian sama seperti kami, mengantarkan nyawanya kepada sang pembunuh. Tapi aku berharap banyak semoga lingkaran kejahatan ini cepat di musnahkan, lingkaran kejahatan yang di lakukan oleh ibu dan anak.
Suara tapak kaki sudah terdengar, pembunuhnya mendekat ke sini sebentar lagi aku akan mati. Sebelum aku mati aku akan menulis sebuah kenyataan pada kalian.
Gadis pembunuh itu bernama Irabella Farhana. Dia yang membunuh orang dan juga membantai teman temanku, ia melakukan aksinya bersama dengan ibunya tapi percayalah ibunya adalah wanita yang sangat baik. Ia hanya tunduk pada anaknya.
Irabella Farhana adalah gadis polos namun mematikan yang bersekolah di SMP Cenderawasih. Ia hanya merubah penampilan dan namanya jika berada di luar sana, gadis pembunuh itu hanya mencintai satu pria di dunia yaitu Kamasean Saputra. Selama satu Minggu di pulau ini, aku dan Bella berteman walaupun itu sebuah kepalsuan.
Aku tidak tahu siapa namanya kalau ia berada di luar pulau ini tapi yang jelas ia memiliki tato kalajengking di perutnya.
Aku berharap ada yang bisa membacanya.
Shanaya menyeka air matanya saat selesai membaca surat itu. Wanita berambut bob itu berdoa untuk ketenangan arwah Wydia dan rekan rekannya.
" Jadi ia mati di sini, di tempat ini " kata Dimas.
__ADS_1
Sedangkan Sean, pria itu mematung mendengar isi surat tersebut.