
" Eh tunggu dulu, sekarang sudah jam 05.00 pagi. kalau ceritanya panjang nanti saja. Kita bisa terlambat masuk kelas. Jam pertama Bu' Ira yang masuk kita akan kena semprot habis habisan kalau terlambat" sela Gilang kala mengingat guru muda Biologi yang terkenal cerewet.
" Oky. Baiklah ceritanya tidak jadi, aku akan tidur stengah jam saja. Setelah itu kau harus membangunkan ku" tutur Nanda mengganti baju sekolahnya yang kotor lalu beranjak ke kasur dan membaringkan tubuhnya.
***
Flashback.
Jam 12.30 ( Malam)
Bu' Vany tersentak melihat tangan kanannya. Dua jarinya, jari manis dan jari kelingking sudah terlepas dari tangannya. Rasa sakit yang luar biasa di rasakan oleh wanita paruh baya itu. Ia ingin berteriak kesakitan namun sebuah tangan dari belakang tiba tiba membekap mulutnya.
Deru nafas penjaga asrama putri itu tidak beraturan, detak jantungnya bergerak naik turun dengan cepat dan keringat bercucuran dari pelipisnya. Hawa panas meliputi tubuhnya menandakan ketakutan yang sangat mendalam. Kedua bola matanya melirik melihat siapa gerangan yang membekapnya dari belakang.
Sosok tersebut menyeringai. Senyum sinis dan aura membunuh terpancar dari tubuhnya.
Bu' Vany sudah pasrah pada keadaan. Dia akan mati malam ini, ia tidak bisa memenuhi janjinya kepada kedua putrinya untuk bisa bertemu dengan mereka.
Sosok mengerikan ini menembak tangannya dengan bantuan alat peredam sehingga suara tembakan tidak terdengar. Tentu tidak ada yang mendengarnya, tidak ada yang datang menolongnya dia benar benar akan mati malam ini.
Lalu sebuah pisau dapur di tusuknya di leher Bu' Vany. Hanya berselang beberapa menit, wanita paruh baya itu meregang nyawa.
Lagi dan lagi, sosok itu tersenyum sinis. Kemudian ia mengambil secarik kertas yang di tulis oleh bu' Vany lalu meremasnya.
" Jadi begitu. Untung aku cepat bertindak" katanya buas.
Syyuuut...
Sosok berjubah tersentak. Secepat kilat ia menoleh ke belakang. Sial ia kebobolan pintunya tidak ia tutup, dan siapa yang lewat barusan. Ia sangat yakin kalau itu manusia dan orang tersebut pasti sudah melihat perbuatannya.
" Jangan jangan polisi?" katanya pelan.
Sosok misterius itu berjaga jaga, ia memegang pistolnya kuat kuat. Kalau orang itu melihatnya maka dia harus mati malam ini. Tidak ada kata ampun bagi orang orang yang akan membongkar kedoknya.
Sang sosok berjalan pelan dan hati hati keluar dari kamar penjaga asrama putri menuju aula asrama.
Beberapa lama mencari. Namun nihil, ia tidak menemukan orang barusan. Ia melihat dengan seksama ke dalam lorong asrama lantai satu, memperhatikan pintu kamar satu per satu. Namun ia tidak menemukan tanda tanda yang mencurigakan.
Sosok itu menenangkan dirinya. Kemudian ia keluar dari gedung asrama putri melewati taman menuju ke gedung asrama putra. Targetnya kemudian adalah cowok keren yang mendiami kamar no.96.
***
__ADS_1
Jam 02.00
Shanaya menangis sejadi jadinya di dalam kamar. Mimpinya adalah kenyataan, ia ingat kemarin sore ia menemui bu' Vany dan wanita paruh baya itu mengenakan kaos berwarna oranye.
" Dia benar benar diincar malam ini. Andaikan kemarin aku tidak pulang, andaikan malam ini aku ada bersamanya. Bibi pasti masih hidup, bibi pasti tidak menjadi korban pembunuhan"
" Apa yang harus ku katakan pada Mersy dan Marsha. Mereka pasti sangat sedih mengetahui orang tua satu satunya sudah meninggal"
" Hiks...Hiks...hiks...
" Tidak. tidak! aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh cengeng" wanita berambut Bob itu mengusap air matanya lalu menuju westafel membasuh wajahnya dengan air dingin.
Shanaya melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
" Aku tidak boleh kalah. Mengapa aku harus kalah pada anak SMA. Aku ini lebih kuat, orang orang mengenalku sebagai wanita cerdas masakan aku akan kalah pada anak bau kencur. Memang bibi sudah meninggal, tapi aku tidak boleh menyalahkan diriku atas kematian bibi. Ini semua adalah jalan hidup bibi. Bibi sudah di takdirkan mati di dalam keadaan yang seperti ini"
Beberapa lama, meyakinkan dirinya. Akhirnya wanita itu dapat mengembalikan keberanian dan kecerdasan di dalam dirinya. Yah, Shanaya adalah wanita mudah berbakat yang di takdirkan dengan otak yang cerdas.
Wanita itu keluar dari dalam kamar mandi. Ia menuju dapur membuat teh hangat, kemudian duduk dengan tenang di atas balkon rumahnya. Entah apa yang di pikirkan olehnya.
****
Sean beranjak dari kasur. Karena dingin,malam ini ia sudah berapa kali buang air kecil. Lagi dan lagi ia di bangunkan oleh air seninya.
" Sial. Nyenyak nyenyaknya tidur. Malah bangun lagi" umpatnya.
Setelah selesai dengan kegiatannya. Pria itu keluar kamar mandi, ia melirik jam dinding ternyata sudah pagi. Ia mengambil handphonenya. Baterainya habis kemudian ia menchargernya.
Sean mengambil tas sekolahnya lalu memasukkan buku empat buku tulis dan empat buku paket. Kemudian menyetrika seragam sekolahnya, menyediakan sepatu dan kaos kaki. Saat semuanya sudah tersedia, ia kemudian mengambil handphonenya lalu mengaktifkannya.
" Panggilan tak terjawab dari Gilang, kenapa pria itu menghubungiku?" Sean menelepon balik dalam keadaan hp tercarger.
Hanya beberapa detik, Gilang menjawabnya.
" Tadi kau menghubungiku. Memangnya kenapa?" tanya Sean.
" Yah. Nanda barusan pulang entah dari mana seragamnya kotor. Tadi saat aku menghubungimu dia belum pulang. Aku takut terjadi hal yang buruk padanya" jawab Gilang.
" Syukurlah, kalau ia sudah pulang. Apa yang di lakukannya sekarang?"
" Tidur"
__ADS_1
" Biarkan saja ia istirahat. Nanti akan ku mintakan izin"
" Baiklah"
Sean menutup teleponnya. Jantungnya memompa dengan cepat. Apa sebenarnya yang terjadi pada Nanda, Gilang mengatakan kalau Nanda baru pulang ke kamar jam 05.00 pagi dengan keadaan yang kotor dan basah. Apa ia juga sedang diincar, apa ia barusan melarikan diri dari pembunuh itu?.
Banyak pertanyaan yang muncul di otak Sean. Dan ia sendiri pusing memikirkan jawabannya.
Tring...tring ...tring...
Ponselnya berbunyi. Nama Dimas terpampang di sana.
" Halo, Selamat pagi. Kau sudah bangun" sapa seseorang dari seberang sana.
" Yah. Mana mungkin aku bisa menjawab teleponmu kalau aku belum bangun" ujar Sean.
" Jawaban yang sempurna" balas Dimas.
" Ngomong ngomong. Apa kalian berpatroli tadi malam?" sambungnya.
" Tidak" jawab Sean singkat.
" Uhmm. Baiklah. Sepulang sekolah kau boleh menemuiku di kantor polisi. Ada yang ingin ku bicarakan"
" Tentang apa"
" Tentang Vita"
Deg ...
Sean tersentak mendengarnya.
" Kenapa polisi ini membicarakan tentang Vita. Atau jangan jangan Vita benar benar ada di sini" pikirnya dalam hati.
" Oke " balas Sean
Kemudian sambungan telepon terputus. Sean menghela nafas, apa yang ingin di bicarakan polisi itu tentang Vita. Apa mereka sudah tahu siapa dalang di balik pembunuhan ini. Apakah itu Vita?
Sean mengusap wajahnya kasar. Kalau itu benar jadi Vita ada bersamanya saat ini, memperhatikannya cuma ia tidak melihat keberadaannya. Kalau begitu ia belum siap bertemu dengan Vitanya.
Sementara di sisi lain, Dimas tersenyum simpul. Dia tahu benar kalau Sean lemah dengan nama itu.
__ADS_1