Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Dua Bersaudara


__ADS_3

Murid kelas 10 A di liburkan selama dua minggu, hanya itu keputusan yang bisa di ambil oleh aparat kepolisian. Tapi tidak menutup kemungkinan banyak murid 10 A yang minta pindah ke sekolah lain bahkan ke kota lain.


Jasmine misalnya, gadis itu pindah ke kota lain. Sebuah kota metropolitan yang lebih ramai dan lebih modern daripada kota lamanya. Di kota itu Jasmine tinggal di sebuah apartemen, kali ini ia harus belajar hidup mandiri. Orang tuanya tidak menyediakan pembantu untuknya, tapi hal ini lebih baik daripada hidup di kotanya yang setiap hari di hantui malaikat maut.


Di sisi lain.


Sean sedang duduk di sebuah ruangan yang ukurannya tidak luas tapi juga tidak sempit. Di sana hanya ada dirinya dan Vita, mereka duduk berhadap hadapan.


Vita duduk dengan lemas di depannya, baju oranye khas tahanan setia menemani gadis itu.


Sean menatap kasihan pada Vita, ia mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan Vita dengan penuh kasih sayang.


" Kau sedih di sini?" tanya Sean.


Vita mengangguk.


" Tapi tidak ada pilihan lain, tempatku memang di sini" jawabnya.


" Apa kau tahu kabar saat ini. Ada lagi murid di sekolah kita yang terbunuh, dia di bunuh di klub malam" kata Sean.


" Mana aku tahu, berada di tempat ini membuatku buta dan tuli terhadap hal hal yang ada di luar"


" Vita, aku pikir kau sudah tobat tapi ternyata kau masih melakukannya lagi membunuh orang orang yang tidak bersalah"


Gadis itu hanya mengangguk.


" Para polisi meyakini kalau kematian teman kelasmu yang bernama Ilan itu masih di sebabkan oleh pembunuh lama yang ada di sekolah kita. Bagaimana caranya kau melakukan pembunuhan lagi sementara kau ada di tahanan?" pancing Sean. Matanya menatap dalam ke gadis kesayangannya itu.


Vita diam sejenak. Tapi sesaat kemudian ia bisa menguasai ekspresinya.


" Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu saat aku ada di sini. Bisa saja Ilan di bunuh oleh orang lain, orang yang tidak suka dengannya. Apa kau tahu pelaku kejahatan sudah tidak memandang lagi, bisa saja dari keluarganya, temannya atau orang orang yang ada di sekitarnya" tutur Vita.


" Aku sangat ingin hidup di dekatmu lagi. Aku berharap lebih kau bebas dari sini, tapi rupanya kau menyia nyiakan harapanku" ujar Sean.


" Maafkan aku" hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Vita.


" Aku ingin bercerita, apa kau bersedia mendengarkan ceritaku"


" Yah"


" Aku pernah bermimpi, aku berada di suatu tempat yang luas dan kosong di sana yang ada hanya pasir putih lalu langitnya berwarna putih dan jingga. Berapa lama aku berada di tempat itu, seorang wanita datang padaku ia menyebut dirinya sebagai Irabella. Ia menyebut namamu di dalam mimpiku. Apa kau kenal dengannya?" cerita Sean. Bola matanya tak pernah lepas dari Vita.

__ADS_1


Mendengar nama Irabella, Vita tersentak. Keringat bercucuran dari pelipisnya.


" Jam tamu sudah selesai. Pergilah kau dari sini" usirnya lalu berdiri dari kursinya.


Sean segera meraih tangan gadis itu lalu memegangnya dengan erat.


" Berapa lama pun aku di sini, tidak apa apa karena Dimas mengisinkanku. Aku tidak akan pergi kalau kau tidak menjawab pertanyaanku. Mengerti Vita?"


Vita kembali duduk. Gadis cantik itu mulai gelisah.


" Itu hanya mimpi. Mimpi adalah bunga tidur" ucap Vita mengendalikan diri.


" Tidak. Aku yakin kalau mimpiku sebuah kenyataan. Sekarang jawab aku dengan jujur, siapa Irabella?"


" Tidak Sean. Pergilah dari sini" gadis itu mulai menangis.


" Aku tidak merubah keputusanku. Aku tidak akan pergi kalau kau tidak jujur"


Tangan Sean terangkat, ia menggenggam wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya.


" Kau mencintaikukan? seharusnya kau menghargaiku sebagaimana seorang istri menghargai suaminya"


" Dan satu lagi, sudah ku katakan tadi kalau aku sangat berharap dan berharap kalau kau bebas dari sini " sambung Sean.


" Dia saudariku" jawab Vita pada akhirnya.


" Saudarimu" Sean kaget.


" Aku tidak tahu kalau ternyata kau punya saudara"


" Yah. Irabella adalah saudaraku tapi kami berbeda ibu"


Sean mengacak rambutnya. Otaknya di penuhi oleh rasa penasaran tentang keluarga Vita yang selama ini tidak di tahunya sama sekali.


" Lalu di mana ibumu dan juga ibu Irabella?" tanya Sean yang benar benar tidak tahu akan orang tua Vita.


" Ibuku sudah meninggal saat usiaku masih delapan bulan. Tiga bulan kemudian saat usiaku masih sebelas bulan, ayahku menikah lagi di situlah Irabella terlahir" jelas Vita.


" Lalu di mana Irabella?" tanya Sean lagi, ia semakin penasaran.


" Aku tidak tahu. Kami di pisahkan saat masih kecil, usiaku lima tahun dan Irabella tiga tahun"

__ADS_1


" Apa selama ini, kau tidak pernah mendengar kabar tentang adikmu dan ibunya?" Sean lagi lagi bertanya. Ia pernah berpacaran dengan Vita tapi ia sama sekali tidak tahu cerita yang satu ini.


" Aku pernah dengar cerita dari Tante Elis kalau ibu tiriku dalam kondisi yang tidak waras. Ia di asingkan di suatu tempat rahasia keluarga kami, tapi aku tidak tahu dimana letak tempat itu"


Sean diam. Ia mencoba menyelami cerita Vita.


Tiga menit kemudian, keduanya terdiam masing masing sibuk dengan pikirannya.


Sean berdiri dari kursinya lalu tersenyum ke arah gadis itu.


" Aku pikir waktu temu kita hari ini sampai di sini. Aku akan datang menemuimu lain kali, jaga kesehatanmu yah".


Tanpa Vita sadari, Sean mengecup pipinya. Kemudian pria itu meninggalkan Vita yang menganga seorang diri.


Di luar, Dimas masih menunggu dengan sabar. Pak polisi itu bangkit berdiri saat melihat Sean berjalan ke arahnya.


" Apa yang ia katakan?"


" Akan ku ceritakan. Tapi pertama kita harus mencari tempat yang aman dan kedua Bapak harus mentraktirku kopi" kata Sean.


Karena di liputi rasa penasaran setinggi langit akhirnya Dimas mengikuti permintaan anak itu.


**


Jam menunjukkan pukul 20.00. Saat Sean dan ketiga temannya berada di rumah Dimas, di sana juga terlihat Shanaya dan Denal. Mereka berenam akan melakukan tugas yang kali ini jauh lebih sulit dari sebelumnya.


" Ngomong ngomong di mana gadis yang bernama Fitri itu?" tanya Denal.


" Ia sudah pulang ke kotanya" jawab Shanaya.


Tring...tring...tring...


Suara ponsel Shanaya.


Shanya mengambil ponselnya.


" Halo" sapa wanita berambut bob itu.


" Oh begitu" katanya lalu memutuskan panggilannya.


" Siapa?" tanya Dimas.

__ADS_1


" Ternyata Fitri belum pulang, ia masih ada di sini. Katanya ia ingin bergabung dengan kita" jawabnya lalu meraih kunci mobil menjemput gadis berambut merah itu.


" Kita tunggu Shanaya saja yah. Detektif itu semakin bersemangat karena ia punya rekan perempuan dalam investigasi kali ini. Anggap saja kalau Fitri menggantikan posisi Vita sebagai informan yang berharga" kata Dimas.


__ADS_2