
Tiga bulan kemudian.
SMA Rajawali beroperasi layaknya sekolah lain. Kisah pembunuhan yang pernah menghantui dan meneror mereka kini mulai di lupakan, mereka aman dan tentram menjalani hari harinya di sekolah.
Kepala sekolah baru SMA Rajawali akrab di sapa pak Jefri dan kepala asrama putri yang baru akrab di sapa bu' Ani. Kedua posisi di gantikan oleh sosok baru karena dua pendahulunya sudah meninggal.
Pak Jefri adalah sosok pria yang ramah, tidak hanya menjalin hubungan baik dengan guru guru tapi juga dengan murid muridnya itulah sebabnya para guru, staf dan murid muridnya menghormati dan menghargainya setulus hati. Begitupun juga dengan Bu Ani, wanita yang masih berusia sekitar 30 an itu adalah sosok yang penyayang dan perhatian menjadikannya tempat curhat bagi remaja remaja putri yang mempunyai masalah.
Lalu bagaimana dengan hubungan Sean dan Jasmine???
Hubungan mereka kandas. Sean memberikan pengertian yang mendalam terhadap gadis itu membuatnya bisa memahami Sean. Jasmine berusaha melapangkan dadanya, untuk apa ia memaksa Sean mencintainya jika pria itu sudah tidak mencintainya lagi atau memang dari awal Sean memang tidak mencintainya. Gadis itu berusaha menerima kenyataan, ia harus bisa mengelolah pikiran dan hatinya.
Tak terasa semester satu di tahun itu akan di mulai. Para murid murid rajin belajar, mereka bersaing satu sama lain menjadi yang terbaik.
" Pinjamkan aku buku matematikamu" teriak Gilang pada Nanda. Kala itu mereka ada di perpustakaan lantai atas.
Nanda melangkah ke arah Gilang lalu menyodorkan buku matematikanya ke muka pria itu.
" Auuuuuhhhhh" Pria itu meringis, hidungnya sakit terkena ujung buku yang tajam.
" Itu akibatnya karena kau malas menulis" Kata Nanda tak peduli lalu balik menuju kursinya.
Diana yang serius belajar sekilas melirik ke arah mereka kemudian geleng geleng kepala.
Lain halnya dengan Dewi, gadis itu tekun belajar dari ponsel pintarnya.
" Mau ku pinjamkan catatanku" kata Sean. Ia duduk berhadapan dengan Gilang membuatnya terusik oleh tingkah pria itu.
" Tidak perlu" balas Gilang. Ia sudah tahu tabiat Sean jika menyangkut buku pelajaran, ia bisa di kerjain habis habisan membuat nilainya anjlok.
Sean kembali fokus pada aktivitasnya.
Dua jam berada di tempat itu. Mereka berlima membereskan perlengkapan belajarnya lalu turun dari sana kemudian melangkah ke ruang OSIS, salah satu teman osisnya bernama Yolanda sedang sibuk bermedia sosial.
" Kau tidak belajar?" tegur Diana.
" Sudah selesai" jawab Yolanda.
" Walau tidak belajar ia tetap dapat peringkat satu" kata Gilang teringat kalau gadis itu adalah murid paling pintar di kelas 12 Ips 1.
" Kau cemburu yah. Makanya masuk jurusan IPS dong" katanya tersenyum.
" Nggak minat sih. Bakatku memang di IPA, walaupun kemampuanku di bawah rata rata" balas Gilang.
" Niel mana?" tanya Sean sambil meletakkan tasnya di atas meja.
__ADS_1
" Ke toilet, sebentar ia balik" jawab Yolanda. Perkataannya benar, pria yang bernama Niel itu langsun datang.
" Woi panjang umur loh. Baru di bilang langsun nongol" ujar Gilang heboh.
" Yoiii. Semoga" balas pria itu tak kalah hebohnya.
" Pak ketum cari loh nih" Nanda melirik sepintas ke arah Sean.
" Woooo. Ngapain cari cari?" tanya Niel.
" Poster prakarya sudah selesai?" tanya Sean menusuk.
Mendengar hal itu, niel cengengesan. Ia belum mengerjakannya.
" Belum, lupa akunya"
" Lupa atau malas?"
" Lupa dong. Memangnya kau pernah melihat aku malas mengerjakan tugas yang kau berikan" ujar Niel.
Sean manggut manggut.
" Lain kali, jangan lupa yah"
" Seriusnya" tegur Dewi saat melihat Yolanda memelototi ponselnya dengan intens.
Gadis itu tidak mendengar Suara Dewi.
" Woiiii " Kali ini Nanda yang penasaran, ia menepuk bahu Yolan.
Yolanda kaget.
" Apaan"
" Aku bilang, kau serius sangat" kata Dewi sekali lagi.
" Aku kaget tahu" ucap gadis itu sambil mengelus dadanya.
" Kalian baca beritanya tidak. Seorang pria yang masih muda tewas di night klub kemarin malam" kata Yolan. Ia barusan membaca berita heboh di Internet.
" Coba kalian periksa deh" sambungnya.
Keenam orang itu yang ada di sana membuka internet masing masing lalu membacanya dengan teliti.
" Menjijikkan, ia mati dengan cara yang mengenaskan" Diana bergidik ngeri.
__ADS_1
" Itulah akibatnya jika ia suka bermain dengan perempuan" kata Dewi.
" Tidak ada fotonya yah" Nanda mengotak atik layar ponselnya.
" Ada sih. Tapi wajahnya di blur" kata Yolanda.
" Pembunuhnya sudah di temukan?" tanya Gilang.
" Apa kau tidak bisa membacanya?" balas Niel sambil menjitak kepala Gilang. Jelas jelas artikel itu mengatakan kalau pembunuhnya sedang dalam pencarian.
" Aku tidak konsen soalnya karena aku fokus pada gelang yang di pakainya. Kayak kenal tuh gelangnya" ujar Gilang mengelus elus kepalanya.
Sean memperhatikan foto korban yang wajahnya di blur itu. Kemudian ia tersentak kaget saat melihat benda yang di maksud oleh Gilang.
" Ini " Suara Sean tercekat di tenggorokan.
" Gelang persatuan OSIS kita" Diana meneruskan perkataan Sean.
" Apaaaaaa" Nanda tak kalah terkejutnya.
" Yah. Kalian benar ini gelang persatuan kita" Dewi heboh saat ia bisa melihat apa yang di maksud oleh Gilang.
" Berarti ia teman dekat kita" sambungnya masih dengan suara yang heboh.
" Aku tidak memperhatikannya padahal sejak tadi aku membaca artikel ini berulang ulang" Yolanda terkaget kaget.
Sean bergegas, ia buru buru masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya.
" Kau ingin ke mana?" tanya Dewi saat Sean keluar dari kamar mandi.
" Ingin ke sana" kata Sean. Tanpa mempedulikan teman temannya ia segera keluar dari ruangan itu.
Keenam temannya yang ada di dalam buru buru mengejar Sean.
Secepat kilat, pria itu memesan grab. Hanya berselang beberapa menit grab pesanannya datang. Ketujuh anggota OSIS itu segera menuju klub malam yang di maksud. Jam menunjukkan pukul 11.00 pagi saat mereka bertujuh berangkat ke sana.
Hari ini adalah hari Minggu. Jadi korban yang ada di artikel itu kemungkinan besar adalah siswa SMA Rajawali berhubungan hari Sabtu murid murid di asrama diizinkan untuk pulang.
Lima belas menit. Mereka tiba di sana namun sesampainya di sana hanya ada segelintir orang yang terlihat. Garis kuning polisi melingkari tempat itu.
" Kemana di bawanya korban yang meninggal kemarin malam pak?" tanya Sean pada salah satu orang yang ada di sana.
" Sudah di bawah ke Rumah sakit" jawabnya.
Ketujuh murid murid itu segera naik ke atas taxi menuju Rumah sakit yang di maksud.
__ADS_1