Teror Di Sekolah

Teror Di Sekolah
Harapan Bunda Merry


__ADS_3

Vita membuka lemari bajunya. Lemari dua pintu berwarna putih cream yang di dalamnya di penuhi pakaian wanita dengan bentuk yang berbeda beda dari bermacam macam warna.


" Kau ingin pilih yang mana?" tawar Vita sambil memegang bajunya satu per satu.


Fitri bangun dari tidurnya. Matanya membulat melihat Vita dengan pakaian pakaiannya.


Kemudian Fitri menutup mulutnya dengan kedua tangan.


" Itu semua baju bajumu. Astaga, ini beberapa kalinya aku bilang kau benar benar beruntung"


Vita tersenyum dengan reaksi sahabatnya.


Fitri pun memilih pakaian Vita yang ia suka kemudian mengenakannya. Ia memilih baju tidur yang berwarna ungu dengan motif bernad bear.


" Cantikkan" kata Fitri sambil bergaya di depan cermin yang bisa memperlihatkan seluruh tubuhnya.


" Tentu saja. Pakaianku tidak pernah mengecewakan" Ucap Vita senang.


" Ayo, kita turun. Waktunya makan malam" ajak Vita.


Mereka berdua segera keluar kamar. Kemudian turun ke bawah menuju ruang makan.


Lalu terlihatlah malaikat penolong bagi Vita sedang duduk anggun menghadap ke meja makan yang di atasnya di penuhi peralatan yang beraneka ragam dan bermacam macam lauk pauk yang enak enak.


Fitri menelan ludahnya. Bukan karena ia tidak pernah makan bak raja dan ratu tapi lagi lagi terkesima dengan Bunda Merry yang menyediakan segala kesenangan dan kemewahan bagi Vita.


Malam harinya sekitar jam 19.00. Mereka bertiga makan malam. Sekali kali Fitri melirik ke arah Bunda merry, memperhatikan wanita itu dengan seksama. Sungguh wanita yang berhati mulia, pikir Fitri dalam hati.


Setelah selesai makan malam dan berpamitan dengan Bunda Merry. Kedua sahabat itu segera naik ke atas kamarnya. Di dalam kamar banyak hal yang mereka lakukan seperti membaca buku, bermain game, bergosip dan sebagainya. Tak terasa waktu terus berlalu, jam menunjukkan pukul 23.00 saat Vita sudah berselancar ke alam mimpi.


Tatkala Vita sedang memeluk guling kesayangannya sambil menciptakan sebuah pulau. Lain halnya dengan Fitri, gadis itu masih sibuk bolak balik mengganti posisi tidur mencari kenyamanan. Begitulah seorang Fitri agak susah tidur jika bukan kamarnya sendiri.


" Panas" gumamnya sambil mencari cari benda semacam kipas untuk menghangatkan tubuhnya.

__ADS_1


Ia turun dari tempat tidur, menelanjangi kamar Vita dengan matanya yang super jeli namun sayangnya ia tidak menemukan benda yang di maksudnya. Dengan terpaksa ia keluar kamar menuju balkon rumah Bunda Merry yang luas, di bawahnya air kolam yang jernih berkilau di timpa cahaya bulan.


Malam ini bulan bersinar dengan terang. Malam yang seharusnya gelap gulita menjadi terang karena di sinari cahaya bulan. Fitri berdiri di atas balkon menghadap ke bawah memperhatikan kilauan air.


" Belum tidur" sapa suara keibuan dari belakang.


Tanpa menoleh, Fitri langsun tahu kalau yang datang itu Bunda Merry.


Fitri berbalik kemudian menjawabnya.


" Ia Tante. Tante sendiri belum tidur" kata Fitri sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Bunda Merry mengangguk. Wanita itu berjalan ke arah Fitri sambil memegang sebuah map kuning berbahan kertas, baju panjangnya berkibar di terpa angin malam.


" Aku kaget kalau Vita memiliki sahabat" kata Bunda Merry berdiri di samping Fitri.


" Semua orang pasti memiliki pendapat yang sama dengan apa yang Tante katakan" balas Fitri.


" Aku pikir, kalau Vita selalu sendirian di dunia ini. Ia memiliki keluarga tapi seperti tak punya. Aku selalu bertanya tanya bagaimana kehidupannya sebelum ia datang ke sini selain ia memegang label sebagai seorang pembunuh" ucap Bunda Merry penuh makna. Matanya nyalang menatap ke bawah.


" Tidak usah di ceritakan, aku sangat kasihan padanya"


" Apa kau memiliki rencana buat Vita?" sambungnya.


Fitri menoleh ke arah Bunda Merry. Ia bingung dengan apa yang di katakan wanita di sampingnya itu.


" Kau bingung?" tanyanya.


Fitri mengangguk.


" Aku ingin Vita hidup normal seperti anak anak lainnya. Aku ingin ia jatuh cinta, punya pacar, sekolah, belajar seperti remaja remaja pada umumnya bukan di hantui dengan teror teror masa lalunya" jelas Bunda Merry.


" Apa yang Tante rencanakan?" tanya Fitri.

__ADS_1


" Aku ingin mengubah Vita" jawabnya.


" Aku tidak mengerti apa yang Tante maksud"


" Mengubah semua apa yang ada di dalam diri Vita. Sehingga semua orang tidak mengenalnya sebagai Vita atau sebagai mantan seorang pembunuh" jelas Bunda Merry lagi.


" Caranya?"


Bunda Merry menyodorkan map yang di pegangnya ke Fitri.


Fitri meraih map tersebut kemudian membukanya. Di dalamnya terdapat dua lembar surat, lalu membacanya dengan teliti.


Jadi ini rencana yang di maksud Bunda Merry. Rencana untuk mengubah semua yang ada di dalam diri Vita. Mengubah identitasnya dan mengubah fisiknya sehingga semua orang tidak mengenalinya.


Operasi plastik!!!


Fitri menganga sekian detik, saking tidak percayanya. Bunda Merry benar benar memiliki ide yang briliant.


" Bagaimana menurutmu. Apa kau setuju?" Bunda Merry menunggu pendapat Fitri.


" Terserah Tante. Aku setuju setuju saja, Tante yang sangat tahu apa yang terbaik buat Vita" Fitri memberi pendapat, mempercayakan semuanya kepada Wanita paruh baya itu.


" Itu yang aku pikirkan beberapa hari ini. Aku rasa rencana inilah yang paling cocok buat Vita. Lagi pula aku ingin ia bersama lagi dengan pria yang di cintainya" terang Bunda Merry, bola matanya memancarkan rasa kasihan yang mendalam.


Fitri tersentak mendengarnya. Bersama dengan pria yang di cintainya? Sean. Jadi ia masih mencintai Sean, selama ini ia tidak melupakan Sean. Jadi ia benar, ia mencintai Sean apa adanya, ia mencintai Sean terlepas dari dendam keluarganya.


Tak tahan, Fitri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sahabat satu satunya yang di miliki Vita di dunia ini menangis tanpa suara. Dadanya naik turun menahan gejolak hatinya yang tak menentu, tangisannya sangat pilu siapapun yang mendengarnya pasti akan meneteskan air mata.


Tapi wanita di sampingnya itu adalah wanita yang paling pengertian di muka bumi ini. Ia tidak perlu mengeluarkan air mata untuk memahami perasaan Fitri. Ia hanya diam membisu menatap indahnya bulan di atas langit cakrawala.


" Aku harap, kau bisa mengerti Mika" gumamnya dalam hati. Bunda Merry menyebut satu nama harapannya di dalam lubuk hatinya, ia berharap banyak pada nama ini. Nama yang bisa mengubah Vita seutuhnya, nama yang bisa mengubah Vita terbebas dari bayang bayang masa lalu.


Berapa lama menangis tanpa suara, Fitri tidak bisa menahannya. Hatinya terlalu rapuh, ia terlalu mengerti Vita, ia terlalu menyayangi saudaranya. Fitri tidak bisa menahannya lagi, gadis itu terduduk lemas menumpahkan segala gejolak hatinya. Ia menangis, kepalanya sakit, dadanya sakit dan matanya capek mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Bunda Merry diam. Ia hanya menatap surat tersebut, menatap isi perjanjiannya dengan Dokter Mika. Banyak syarat yang di minta Bunda Merry berkaitan dengan operasi plastik yang akan di jalani Vita. Dokter Mika harus pandai menyimpan rahasia.


" Jangan menyia nyiakan harapanku, Mika"


__ADS_2