Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.1 Kecelakaan


__ADS_3

“Dedrik, kondisi suamiku semakin buruk, kamu harus segera datang ke sini untuk membantunya,” ujar Letisya –istri muda Tuan Alfredo– dari ujung sambungan telepon.


“Tapi, bagaimana dengan Tuan Ervin? Dia membutuhkan saya di sini, Nyonya,” balas Dedrik.


“Di sana sudah ada Roland yang akan membantunya. Cepatlah datang, aku sangat membutuhkan bantuanmu,” desak Letisya dengan suara yang terdengar tak berdaya.


Dedrik semakin bingung, dia ditugaskan untuk menjaga Ervin, tetapi dirinya juga tidak bisa melewatkan kesempatan ini untuk mencari donor mata untuk Ervin.


“Sebaiknya aku jalankan rencana mendiang Nyonya Davina sebelum pergi ke Texas.”


❤️‍🩹


“Makasih ya, Bu, udah mau dateng ke sini buat dampingin aku wisuda,” ujar Laras sambil berjalan meninggalkan gedung tempat dirinya dan banyak mahasiswa lainnya melakukan wisuda.


“Kamu itu masih anak ibu, Laras, jadi gak perlu sungkan untuk minta tolong sama ibu, ya,” jawab Bu Sri –ketua panti asuhan di mana Laras dibesarkan—sambil mengusap pelan lengan Laras yang berjalan di sampingnya.


Siang itu, Laras dan Bu Sri pulang menuju ke panti asuhan untuk merayakan wisuda Laras bersama dengan anak panti lainnya.


Larasati, dibawa ke panti oleh warga pada umurnya yang baru tujuh tahun karena kehilangan kedua orang tuanya di sebuah taman hiburan. Kini, dia sudah berusia 22 tahun. Perempuan cantik berkulit putih pucat dengan bentuk tubuh ramping dan rambut coklat yang ditata rapih itu, kini tumbuh menjadi gadis lembut dan penyayang. Dia juga pekerja keras, mengingat hidupnya yang hanya sebatang kara.


Sebenarnya sejak menginjak sekolah menengah akhir Laras sudah pindah dari panti asuhan, dia tinggal di kos khusus putri dekat dengan kampus.


Laras juga mendapatkan beasiswa dan uang saku untuk biaya hidup setiap bulannya. Itu semua dia dapatkan karena Laras memang pintar dan berprestasi di sekolahnya. Setidaknya, itulah pemikiran Laras selama ini.


“Bu, ada yang mau ketemu,” ujar salah satu pengurus panti, ketika Bu Sri dan Laras sedang bermain dengan anak-anak di halaman belakang.


“Siapa?” tanya Bu Sri sambil memberikan bayi yang sedang dia gendong pada Laras.


“Tuan Dedrik,” jawab wanita paruh baya itu sambil melirik Laras.


Bu Sri dan Laras saling lirik, kemudian berbicara sebelum beranjak dari sana. “Laras kamu tolong siapkan teh dan bawa ke ruangan ibu ya.”


“Baik, Bu,” angguk Laras tanpa curiga sama sekali. Dia sudah beberapa kali bertemu dengan Dedrik. Laras juga tahu jika selama ini yang memberikan beasiswa untuknya adalah atasan Dedrik.

__ADS_1


Namun, begitu dia masuk dan menyapa Dedrik, Laras dikejutkan oleh maksud laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan itu, datang ke panti dan menemuinya.


Bagaimana Laras tidak terkejut, jika tiba-tiba Dedrik memintanya untuk menikahi tuan mudanya? Dedrik juga memberitahu Laras jika sebenarnya Nyonya Davina sudah memintanya untuk dijadikan menantu pada Bu Sri beberapa tahun lalu.


“Menikah?” tanya Laras sambil menatap Bu Sri dengan wajah terkejutnya.


“Benar. Saya sudah menyiapkan semuanya dan pernikahannya akan dilaksanakan besok lusa. Tuan muda pasti setuju, kini kami menunggu keputusan dari kamu,” jawab Tuan Dedrik yang semakin membuat Laras terkejut bukan main.


“Kamu boleh memikirkannya dulu, saya akan menunggu sampai besok siang. Jika kamu setuju, lusa pagi saya akan mengirim orang untuk menjemputmu menuju tempat acara pernikahan,” sambung Tuan Dedrik lagi.


❤️‍🩹


“Tuan, satu minggu lagi, saya harus kembali ke Texas untuk membantu Tuan besar di sana,” lapor Dedrik pada Ervin ketika Tuan mudanya itu sedang menikmati makan malam.


Mendengar itu, Ervin langsung melepaskan sendok dan garpu di tangannya hingga jatuh begitu saja lalu menimbulkan denting suara yang cukup nyaring di telinga.


“Jadi sekarang kamu juga mau meninggalkan aku?” tanya Ervin sambil tersenyum miring.


Laki-laki yang memiliki garis wajah tegas dan rambut hitam juga tubuh yang sedikit kurus itu terlihat mengepalkan tangannya erat, menahan rasa kecewa di dalam hatinya, buru-buru dia meraih tongkat yang terlipat di atas meja kemudian beranjak dan berjalan dengan tergesa-gesa hingga tanpa sengaja menabrak kursi.


“Bukan begitu, Tuan muda, kondisi Tuan besar sudah tidak baik di sana, saya harus segera menyusulnya dan membantunya—“


“Sudah ada istri mudanya yang akan mengurusnya! Tapi, di sini, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan perusahaan Bunda?!” Ervin langsung memotong ucapan Dedrik sambil menghentikan langkahnya. Dia bahkan tak peduli lagi dengan kakinya yang pasti sudah membiru akibat menabrak kursi.


“Saya yakin Tuan muda sudah bisa melakukannya. Saya juga akan memilih seseorang untuk membantu Tuan muda dan menggantikan tugas saya di sini,” jawab Dedrik mencoba meredam kemarahan Ervin.


“Yang aku butuhkan kamu, bukan yang lain, Dedrik!” tekan Ervin dengan suara yang terdengar dalam dan dingin. Laki-laki buta itu tampak sangat marah hingga Dedrik bisa melihat jelas pembuluh darah yang menonjol di lehernya.


“Tapi, ini juga pesan yang ditinggalkan nyonya untuk Anda.” Dedrik masih mencoba berbicara dengan Ervin.


Mendengar ibunya disebut, Ervin langsung terdiam dengan kening mengernyit dalam. “Bunda? Ada apa dengan Bunda?” tanyanya.


“Sebelum nyonya meninggal, sebenarnya nyonya sudah memilihkan calon istri untuk Anda. Dia baru saja selesai kuliah dan melakukan wisuda, prestasinya sangat bagus dan saya yakin dia mampu menggantikan saya dan menjaga Anda. Saya juga sudah menemuinya dan menjelaskan padanya tentang rencana ini,” jelas Dedrik.

__ADS_1


“Maksudmu, Bunda menjodohkan aku?” tanya Ervin dengan satu alis terangkat. Dia benar-benar tidak menyangka jika Davina sudah menyiapkan seorang calon istri untuknya.


“Benar, Tuan,” angguk Dedrik, walau gerak tubuhnya tidak akan terlihat oleh Ervin.


“Lalu, apa dia menerimaku dengan kondisiku yang seperti ini?” tanya Ervin lagi. Ada rasa sakit di dalam hatinya ketika dia mengingat kondisinya yang sudah tidak sempurna.


“Saya memberikan waktu sampai besok untuknya memutuskan. Setelah dia menerimanya, maka kita akan melakukan pernikahan esok lusa, Tuan,” jawab Dedrik dengan kepala sedikit menunduk.


Ervin mengepalkan tangannya di tongkat, dia merasa sedikit terhina oleh proses perjodohan ini. Jika saja dirinya tidak buta, dia tidak harus menjadi seseorang yang menunggu keputusan orang lain seperti sekarang ini.


“Jadi, aku yang harus menunggunya?” tanya Ervin sambil tersenyum miris.


❤️‍🩹


Lima tahun lalu ....


“Pelan-pelan saja ngendarain mobilnya, Vin. Hujannya deras banget, jalanan jadi licin,” ujar Devina pada anak laki-lakinya yang tengah mengemudian mobil. Keduanya baru saja kembali setelah liburan di vila selama akhir pekan.


“Iya, Bunda. Santai saja, ini juga aku gak ngebut kok,” jawab Ervin santai. Dia menoleh sekilas pada Davina sambil mengulas senyum tipis, sebelum kemudian kembali fokus ke depan, mengingat jarak pandang memang cukup terbatas karena derasnya hujan.


Namun, beberapa saat kemudian, suara dentuman keras seperti hantaman benda tumpul terdengar menggema yang diiringi dengan gemuruh. Derasnya hujan, nyatanya tak bisa meredam suara mencekam yang terdengar, di jalan tanpa hambatan. Sebuah mobil terlihat menabrak pembatas jalan dan menyeberang ke arah lawan secara tiba-tiba hingga menyebabkan mobil yang berada di sana tak sempat menginjak rem dan mengakibatkan kecelakaan beruntun.


“Ervin, awas!” teriak Davina ketika matanya jelas melihat sebuah mobil di depannya berhenti mendadak.


Ervin melebarkan matanya sambil berusaha mengendalikan mobil dengan sekuat tenaga agar terhindar dari kecelakaan yang terjadi di depannya.


Namun, ternyata peringatan dari Davina tak membuat Ervin sempat untuk menginjak pedal rem, ditambah lagi, ada sebuah mobil truk di belakang mereka yang juga melaju tanpa kendali dan akhirnya menabrak bagian mobil yang mereka tumpangi, hingga benturan keras itu pun tidak dapat dihindari.


Ervin dan Davina terlibat pada kecelakaan beruntun di pagi itu dengan kondisi yang cukup parah, kap mobil bagian depan hancur karena menabrak bagian belakang mobil di depannya, begitu juga dengan bagian belakangnya.


Tubuh Davina dan Ervin terhimpit badan mobil hingga sulit untuk digerakkan, dia merasakan sakit yang amat sangat di bagian mata, walau begitu pikirannya tidak bisa lepas dari Davina.


“Bunda—“ lirih Ervin dalam sisa kesadarannya, sebelum kegelapan merenggut semuanya.

__ADS_1


...Bersambung


...


__ADS_2