Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.60 Masih nyaman


__ADS_3

"Akh!" Laras memekik ketika kakinya terkatuk tangga hingga membuatnya jatuh duduk di ujung tangga.


Tak perduli dengan rasa sakit di kaki, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan tas serta persyaratan untuk bisa naik pesawat ke luar negri. Setelah dirasa lengkap, dia masuk ke kamar kedua anaknya dan membangunkan mereka. Memakaikan jaket tebal dan mengajaknya untuk segera berjalan ke luar rumah. Tepat pada saat itu, suara mobil yang berhenti di halaman pun terdengar, tidak lama kemudian bel berbunyi.


"Kita mau ke mana, Mah? Kenapa malam-malam begini?" Nevan bertanya dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya dan mata setengah terbuka.


"Kalian mau pergi ke Indonesia kan? Ayo kita pergi sekarang," jawab Laras dengan napas memburu dan suasana hati yang jatuh ke titik terendah.


"Indonesia? Kita mau ketemu Papah?" Nessa yang masih setengah sadar dalam gendongan Laras pun seketika memekik kegirangan.


Laras terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan itu. Dalam hatinya bahkan tak pernah terpikir untuk menemui lelaki itu. Namun, akhirnya dia mengangguk lemah.


Semoga saja kita bisa bertemu dengan ayah kalian, batin Laras meneruskan.


Mobil Laras dan Dion sampai di bandara bersamaan, mereka langsung diarahkan pada pesawat pribadi yang akan membawa mereka ke Indonesia. Untung saja, si kembar sudah tampak sudah terbangun sepenuhnya, hingga mereka bisa menyesuaikan langkah para orang dewasa, walau wajah mereka masih terlihat kebingungan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka pun sampai di bandara kedatangan internasional Indonesia ketika hari beranjak pagi waktu Indonesia. Keduanya langsung dijemput oleh beberapa pengawal dan karyawan Papi.


"Sayang, kalian pergi dulu ke rumah Eomma dan Appa bersama om itu, ada yang harus dikerjakan di luar," ujar Laras mencoba memberi pengertian pada dua anaknya.


"Kita gak pergi ke rumah papah?" raut wajah dua anak itu tampak kecewa.


Laras berlutut di depan kedua anaknya, tangannya membelai rambut Nevan dan Nessa lembut. "Setelah urusan Mamah dan Uncle selesai, ayo kita temui papah kalian."


"Beneran?" Nessa mengulurkan jari kelingkingnya untuk meminta janji sang ibu.


"Iya," angguk Laras sambil menautkan jari kelingkingnya pada sang anak.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke mobil yang berbeda. Laras dan Dion langsung menuju rumah sakit sementara Nessa dan Nevan pulang ke kediaman Mami dan Papi.


"Tenanglah, Papi pasti gak akan kenapa-napa. Dia laki-laki yang kuat." Dion menggengam lembut tangan Laras yang terus saling meremas hingga terasa lembap dan dingin.


Laras menoleh menatap sang kakak, matanya tampak berkaca-kaca. Jika selama penerbangan dia sanggup terlihat tegar karena keberadaan kedua anaknya. Kini pertahanan itu runtuh, Laras tak sanggup lagi menahan rasa khawatirnya akan keadaan ayah kandungnya.


"Bang, papi--" Air mata tak lagi dapat dibendung. Resah, sungguh hatinya tak lagi bisa tenang. Perjalanan jauh yang di tempuh semakin terasa lama karena kabar kesehatan sang ayah.


Dion mendekap lembut tubuh ringkih sang adik, walau hatinya juga tak kalah khawatir, tetapi dia harus terlihat lebih tenang demi Laras dan mami yang juga pasti tengah terpuruk sendirian di rumah sakit sekarang. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, dia harus tetap terlihat tegar dalam segala situasi dan siap menjadi tameng untuk ibu dan adik perempuannya.


Mobil terhenti di lobi sebuah rumah sakit besar. Laras dan Dion pun seketika turun dan berjalan cepat menuju lift. Tangan keduanya tak pernah lepas dari genggaman.


"Mami?" Laras langsung menghambur ke dalam pelukan sang ibu ketika sampai di depan ruang ICU, tempat papi dirawat pasca oprasi. Keduanya tampak menangis bersama.


"Apa yang terjadi pada papi?" Dion yang terlihat lebih tenang memilih untuk mendekati sang asisten papi yang tampak berdiri tidak jauh dari mami.


"Hingga tadi sore, di dalam perjalanan pulang setelah melakukan rapat di sebuah restoran, Bapak mengeluh dadanya terasa sakit. Saya menyarankan untuk pergi ke rumah sakit, tetapi Bapak kembali menolak dan meminta untuk diantar ke rumah. Namun, dia tengah perjalanan Bapak kesulitan bernafas dan kehilangan kesadaran," lanjut lelaki itu.


"Maafkan saya, Den Dion," sambungnya lagi sambil menunduk dalam.


"Sudahlah, ini semua bukan salah Pak Marno." Dion menepuk pundak lelaki paruh baya itu, mencoba memberi ketenangan di tengah ketegangan yang masih terjadi. Lalu, dia hampiri mami dan Laras yang masih terisak sambil berpelukan, walau tangis mereka sudah sedikit mereda.


...❤‍🩹...


"Tuan muda!" Dedrik sigap menahan tubuh Ervin yang limbung di saat mereka baru saja sampai turun dari pesawat. Ya, mereka baru saja datang dari perjalanan bisnis di luar negri selama hampir sepuluh hari.


"Aku tidak apa-apa." Ervin mencoba untuk menegakkan tubuhnya sendiri dan menguatkan dirinya sendiri, walau kepalanya terasa sangat pening. Jadwal bulan ini benar-benar padat hingga lelaki itu melupakan istirahat. Dan, kini dia memaksakan diri untuk langsung pulang kembali ke Indonesia karena mendapat kabar jika Laras dan kedua anaknya sedang berada di sini.

__ADS_1


"Sebaiknya Anda istirahat dulu, biar saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Anda," ujar Dedrik, mengkhawatirkan kondisi Ervin yang tampak sudah tampak pucat.


"Tidak usah, kita langsung ke rumah sakit saja, Laras pasti ada di sana sekarang," ujar Ervin sambil mulai berjalan kembali. Dia sama sekali tidak menganggap rasa lelahnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah nama Laras dan kedua anaknya. Lelaki itu dilanda rindu yang sudah mengakar hingga tak sanggup lagi untuk dia tahan.


"Tapi, tuan muda--"


Belum sempat Dedrik melanjutkan perkataannya, Ervin sudah menukas dengan nada suara dingin dan langkah cepatnya. "Dedrik!"


Melihat mata tajam Ervin membuat Dedrik langsung menutup mulutnya dan memilih untuk diam sambil kembali mengikuti langkah tuan mudanya itu. Dia hanya menggeleng lemah, dengan tingkah sang tuan yang selalu tak menghiraukan kesehatannya jika itu menyangkut tentang Laras dan dua anaknya.


"Cinta-cinta, emang bisa bikin gila," gumamnya sambil menyusul langkah Ervin.


Sekitar empat puluh lima menit perjalanan dari bandara, Ervin kini sudah menginjakkan kakinya di lobi rumah sakit, dia langsung masuk ke dalam lift ketika sudah mengetahui letak kamar rawat tuan Atmadja. Langkahnya masih lebar dengan punggung yang tegap dan postur gagah, tak ada yang mengira jika kini dia pun tidak sedang baik-baik saja bila tak memperhatikannya dengan benar atau mengenal dia lebih dekat.


Ervin menghentikan langkahnya ketika matanya sudah menemukan sosok yang dia cari dan begitu dirindui. Laras. Ya, itulah wanita yang kini baru ke luar dari ruang rawat Tuan Atmadja.


Wanita itu juga ikut menatapnya dengan tatapan sayu. Iris matanya terlihat bergetar ketika pandangan mereka bertemu cukup lama.


Ervin melangkah cepat, dia rengkuh tubuh lemah dan ringkih wanita yang masih bertahta di dalam hatinya.


"Papi, Vin," adu Laras dengan tetes air mata yang kembali menganak sungai di pipinya. Wanita itu benamkan wajahnya di dada bidang Ervin yang ternyata masih terasa nyaman dan begitu hangat untuknya.


"Tidak akan terjadi apa-apa, Tuan Atmadja adalah lelaki yang kuat, dia pasti akan bertahan," jawab Ervin dengan lembut. Tangannya tak henti mengusap punggung Laras yang berguncang akibat isak tangisnya.


Sejenak Evin biarkan Laras berada dalam dekapannya hingga tangis itu mulai mereda. Perhatian Ervin teralih ketika langkah seseorang terdengar mendekat. Itu adalah Dion. Lelaki itu baru saja kembali dari mengantarkan Mami pulang untuk istirahat, setelah semalaman tidak tidur karena harus menunggui Papi di rumah sakit.


Dion tak memberikan reaksi apa pun, dia hanya mengangguk samar seolah memberi pertanda untuk Ervin melanjutkan apa yang kini tengah dia lakukan pada Laras. Laras sama sekali belum makan sejak pagi, sementara ini sudah menjelang sore kembali. Dion tak berhasil membujuk Laras untuk sekedar mengganjal perut. Bahkan untuk minum saja wanita itu terus merasa mual. Sepertinya ketakutan terlalu menguasai pikirannya hingga membuatnya kacau.

__ADS_1


__ADS_2