
"Mau berapa lama lagi kamu berdiri di sana?" tanya Ervin, masih dengan wajah yang datar dan tatapan tampak kosong.
Deg!
Laras mengedipkan matanya pelan sambil memperhatikan wajah Ervin. Mendengar suaranya yang dalam saja sudah mampu membuat jantungnya hampir saja copot.
A--apa, dia bisa melihatku? Kenapa dia tahu aku diam di sini? batin Laras.
"Kamu tuli?" tanya Ervin lagi.
"Hah? E--enggak."
"Baguslah. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tidak bisa tidur jika masih ada suara," ujar Ervin lagi sambil mulai bersiap untuk merebahkan diri.
Sesaat Laras sempat tertegun dengan ucapan Ervin, tetapi sedetik kemudian, dia pun mengangguk sambil berkata. "Baik."
Laras mengedarkan pandangannya pada seluruh sudat kamar Ervin yang ternyata sangat luas. Ruangan dengan desain maskulin dan cenderung didominasi oleh warna gelap, seperti hitam dan coklat itu tampak sedikit mencekam.
Ada beberapa pintu di sana yang entah menuju ke mana. Laras sempat bingung, di mana letak kamar mandi, hingga dia sembarang mengambil langkah. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba Ervin kembali menghentikannya.
"Di sana kamar mandinya," ujarnya sambil menunjuk ke pintu yang berada di arah yang berlawanan.
Mendengar arahan Ervin, Laras kembali mengernyit karena merasa ada yang janggal, walau akhirnya dia mengangguk sambil mengucapkan. "Terima kasih." kemudian pergi ke pintu yang ditunjuk oleh Ervin.
Dia bisa tahu posisiku? Apa benar dia buta atau jangan-jangan dia hanya pura-pura saja? gumam Laras dalam hati, sambil kembali menoleh pada Ervin yang masih tampak duduk bersandar di ujung ranjang dengan mata menatap lurus.
Matanya kembali dibuat takjub ketika dia berhasil masuk ke kamar mandi. Suasana di sana terlihat berbeda dari kamar tidur, warna yang dominan putih membuatnya lebih terlihat terang dan bersih. Tidak terlalu banyak barang di sana, hanya sedikit peralatan mandi yang tertata rapih di tempatnya.
"Apa dia mengidap OCD sebelum mengalami kecelakaan? Ini semua terlihat terlalu rapih," gumam Laras sambil terus memperhatikan setiap sudut kamar mandi itu.
__ADS_1
"Bahkan tidak ada debu sama sekali di sini," gumamnya lagi setelah dia menempelkan ujung jarinya pada salah satu sisi washtafl berwarna putih di depannya.
Sadar sudah lama mengagumi keindahan ruangan itu, Laras mulai melakukan aktivitasnya membersihkan dirinya. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di panti dengan segala kekurangan dan keterbatasan fasilitas yang dia miliki, tentu saja Laras belum terbiasa melihat semua kemewahan yang dimiliki oleh Ervin. Selama ini dia hanya bisa melihat kemewahan dari drama dan film yang dirinya tonton ketika sedang ingin melepaskan penat.
Namun, kini dia bisa merasakan ini semua, bahkan menyentuh semuanya. Ada rasa takjub di dalam hatinya, walau dia tahu jika semua ini tidaklah gratis. Karena mulai saat ini, dia bahkan sudah resmi menyerahkan hidupnya untuk laki-laki buta yang bernama Ervin Alarik Herlambang.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, Laras kembali ke kamar. Dia terkejut saat mendapati Ervin masih duduk di posisi yang sama. Namun, sesaat kemudian Laras hanya menggeleng pelan sambil mulai melangkahkan kaki mendekat.
Ervin yang terbiasa minum dulu sebelum tidur pun mulai meraba nakas di sampingnya untuk mencari gelas yang biasa sudah disiapkan oleh Dedrik. Namun, keningnya mengernyit ketika tak mendapati gelas di sana.
"Nyari apa?" tanya Laras sambil berdiri di samping Ervin.
"Air," jawab Ervin sambil menghentikan aktivitasnya kemudian duduk tegap kembali.
"Oh, sepertinya Pak Dedrik lupa. Biar aku saja yang mengambilnya," ujar Laras kemudian mulai melangkah kembali ke luar kamar setelah melihat anggukkan samar Ervin.
Rumah yang sangat besar itu ternyata lumayan menyusahkan Laras, dia bahkan beberapa kali salah jalan hanya untuk mencari dapur. Semuanya semakin sulit, ketika dia sudah tak melihat lagi orang yang tadi siang tampak berlalu lalang mengerjakan tugas masing-masing.
"Nyonya?" Dedrik yang ingin mengunci pintu langsung menyapa Laras ketika melihat perempuan itu tampak kebingungan.
"Ah, Pak Dedrik. Untunglah ada Anda." Laras menghembuskan napas lega karena akhirnya ada orang lain di rumah ini yang bisa dia tanyai.
"Ada apa, Nyonya ke luar dari kamar?" tanya Dedrik sambil menatap kilas Laras.
"Saya mau mengambil air untuk Tuan Ervin, tapi saya belum tau letak dapur di rumah ini, jadi saya tersesat," jawab Laras sambil tersenyum ramah.
"Ah iya, saya melupakan itu. Maafkan saya, Nyonya. Mari saya antar ke dapur," ujar Dedrik sambil menunjukkan jalan yang benar pada Laras.
"Tidak apa, Pak Dedrik. Anda tidak perlu bersikap formal seperti ini pada saya, berbicara sebagaimana biasanya saja." Laras tidak nyaman mendengar cara bicara Dedrik yang terasa kaku.
__ADS_1
Dedrik hanya tersenyum sambil mengangguk samar sebagai jawaban dari ucapan Laras.
"Kenapa di sini tidak ada orang?" tanya Laras lagi sambil mulai berjalan beriringan dengan Dedrik.
"Setelah makan malam, semua pekerja tidak boleh lagi masuk ke rumah besar. Mereka semua ditempatkan di mes pekerja yang terletak di belakang rumah," jawab Dedrik.
Laras mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mendengarkan penjelasan Dedrik. Kini dia mengerti apa sebabnya rumah ini terasa sangat sepi.
"Lalu, kenapa Pak Dedrik masih ada di sini?" tanya Laras lagi sambil menatap Dedrik penuh tanya.
"Ah, kalau itu, karena saya bertugas mengunci semua pintu dan jendela dan mengecek rumah ini sebelum beristirahat," jawab Dedrik sambil tersenyum tipis.
"Oh, begitu ternyata," angguk Laras.
Mereka pun mulai masuk ke dapur, Tuan Dedrik menunjukan peralatan khusus yang biasa digunakan untuk Ervin, kemudian mengambil gelas kristal yang tampak memanjang dan mengisinya menggunakan air dengan tempratur yang sedikit hangat.
Laras melihatnya sambil menghafalkan semua yang Dedrik jelaskan padanya. Setelah mendapatkan air minum untuk Ervin, Laras kemudian berjalan kembali, masih dengan Dedrik yang menemaninya.
"Besok saya akan membawa Anda berkeliling rumah ini, agar Anda tidak bingung lagi seperti tadi," ujar Dedrik sambil melangkah bersama ke luar dari area dapur.
"Tentu, Pak. Sepertinya saya memang membutuhkan itu agar tidak tersesat lagi," angguk Laras sambil terkekeh pelan, merasa lucu dengan kejadian tadi. Saking besarnya rumah itu, hingga dia saja tersesat di dalamnya. Sungguh kejadian yang sangat memalukan.
Untung saja hanya Dedrik yang dia temui, jika sampai banyak pelayan yang mengetahui kekonyolannya itu, pasti besok pagi Laras tidak akan memiliki keberanian untuk menampilkan wajahnya lagi di depan mereka semua.
"Terima kasih untuk hari ini, Pak," ujar Laras begitu mereka sudah sampai di ruang tengah yang mebuat mereka harus terpisah karena dia akan menaiki tangga.
"Tidak usah sungkan, Nyonya," angguk Dedrik.
Keduanya tampak tersenyum satu sama lain, sebelum semua itu berubah menjadi ketegangan ketika ada suara laki-laki yang mengalihkan atensi Laras dan Dedrik hingga mereka sama-sama menoleh ke arah yang sama.
__ADS_1
Mereka melebarkan mata ketika melihat laki-laki yang berdiri di ujung tangga dengan wajah yang tampak datar dan kening berkerut halus kemudian berkata dengan nada dingin. "Ternyata kalian di sini?"