
"Hai, cantik."
Laras mengerjap pelan, ketika dia melihat seorang pria dengan paras yang cukup tampan dan tubuh sempurna, kulit putih khas orang asia timur, dan rambut yang dia warnai blonde. Gaya pakaiannya pun terlihat mengikuti tren masa kini.
"Kamu berbicara denganku?" tanya Laras sambil menunjuk dirinya dendiri dengan pandangan bingung. Pasalnya, tidak ada orang lain di sekitar mereka.
"Memang ada siapa lagi di sini, hem? Ya, aku bicara dengan kamu lah," jawab pria itu sambil menyisir rambut blondenya dengan sedikit bergaya.
Laras tampak meringis geli, ketika melihat kepercayaan diri pria di depannya yang begitu tinggi. Bukannya kagum, dia malah merasa risih dan sedikit ilfeel saat melihat laki-laki yang terang-terangan menggoda perempuan di pinggir jalan.
"Ada apa, ya?" tanya Laras lagi.
"Ah, aku ingin bertemu dengan kakakku. Apa dia ada di dalam?" tanya pria itu sambil sedikit mengintip ke balik pagar.
"Kakak?" Laras mengernyit bingung, dia belum mengetahui siapa kakak pria di depannya.
"Iya. Pemilik rumah ini," angguk pria itu.
"Oh, tuan Ervin." Laras sedikit terkejut, karena sampai saat ini dia belum tahu jika Ervin memiliki seorang adik.
"Iya."
"Oh. Dia sedang bejalan-jalan pagi, mungkin sebentar lagi dia akan segera pulang. Anda mau menunggu di dalam?" ujar Laras sopan. Dia belum tahu tentang keluarga Ervin, termasuk adiknya ini.
"Aku di sini! Kamu tidak perlu menyuruhnya masuk."
Laras dan pria itu langsung menoleh bersamaan ketika mendengar suara Ervin yang tiba-tiba.
Astaga, apa dia ini benar-benar terbang? Kenapa aku selalu tidak bisa mendengar langkah kakinya? Apa jangan-jangan dia bukan manusia? batin Laras sambil memastikan kaki Ervin masih menapak tanah.
__ADS_1
"Hai, Kak. Apa kabar? Aku ke sini untuk mengucapkan selamat atas pernikahan Kakak," ujar pria itu sambil merentangkan tangan, ingin memeluk Ervin. Namun, langkahnya terhenti ketika Ervin terang-terangan langsung menolaknya, begitu juga dengan Jojo yang langsung menggonggong seolah sedang mencegah kedua laki-laki itu berpelukan.
"Ah, kamu masih saja membenciku, anjing jelek." Pria itu tersenyum canggung sambil mundur beberapa langkah untuk menjauh dari Jojo. Dia kemudian berbalik dan membuka kembali pintu mobilnya.
"Aku juga membawakan bunga untuk kakak ipar. Di mana dia?" tanya pria itu lagi sambil kembali berdiri di tempat semula dengan buket bunga yang cukup besar di tangannya.
"Aku tidak butuh hadiah darimu. Lebih baik kamu buang saja semua itu," tolak Ervin lagi dengan begitu kejamnya.
"Ah, kebetulan aku suka bunga. Lebih baik bunga ini untukku saja." Laras yang tidak enak karena sikap kejam Ervin pun akhirnya mengambil bunga dari tangan pria itu.
"Benarkah? Baiklah, kalau gitu, bunga itu untuk kamu saja. Wanita cantik seperti kamu, memang pantas mendapatkan sebuket bunga yang sangat cantik juga," jawab pria itu sambil tersenyum senang.
"Buang bunga itu sekarang! Kalau kamu mau bunga, aku bisa membelikan berapa pun yang kamu mau, tapi tidak darinya!" tegas Ervin dengan wajah yang langsung memerah dan mata tajam.
Laras terjingkat kaget dengan nada bicara Ervin yang tiba-tiba naik beberapa oktav. Padahal selama ini dia tidak pernah mendengar laki-laki itu meninggikan suara pada siapa pun di rumah ini. Namun, kini kebingungan laras kembali bertambah ketika perlakuan Ervin terlihat sangat berbeda ketika bertemu dengan pria yang mengaku sebagai adiknya itu.
"Buang bunganya dan masuk! Jangan ikut campur dengan urusanku!" sentak Ervin lagi sambil berteriak histeris.
"Tidak ada tapi, masuk sekarang atau kamu tidak akan aku biarkan melihat matahari lagi!" ancam Ervin sambil menunjuk ke dalam pagar.
Laras tampak memberengut dengan mata emosi yang juga ikut naik. Namun, wanita itu terus berusaha meredamnya dan mengalah pada Ervin.
"Maaf, ya," ujar Laras lirih sambil mengembalikan bunga di tangannya untuk pria itu.
"Masuk sekarang, Larasati!" geram Ervin dengan kesabaran yang semakin menipis.
Laras pun langsung berbalik dan masuk kembali melewati pagar dengan wajah yang mendung. Namun, dalam hatinya yang paling dalam, ada juga rasa khawatir pada Ervin, mengingat emosinya yang sedang sangat tinggi. Oleh sebab itu, Laras memilih untuk tetap berdiri di balik gerbang besi dan menunggu Ervin menyelesaikan urusannya dengan sang adik.
"Kenapa kehidupan orang kaya rumit banget? Adik kakak, bukannya rukun dan saling membantu, ini malah saling benci," gerutu Laras dengan kening berkerut dalam.
__ADS_1
Sementara itu, di balik pintu pria itu terdengar terkekeh pelan dengan suara yang sedikit mengejek.
"Jadi, dia adalah kakak ipar? Wah, lumayan juga sih, tapi menurutku dia belum terlalu menantang. Dia terlalu polos," ujar pria itu kemudian melangkah sedikit menghampiri Ervin dan mencondongkan dirinya hingga bibir pria itu tepat berada di depan Ervin, kemudian pria itu kembali mengucapkan sesuatu yang membuat Ervin semakin geram. "Dia cukup cantik, sepertnya aku tertarik padanya."
Bugh!
"Dasar bajingan! Pergi sekarang juga, atau aku tidak akan memberi ampun lagi padamu!" geram Ervin sambil memukul kaki adik tirinya itu menggunakan tongkatnya.
"Ishh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa mereka berdua malah berantem di luar sih, kayak anak kecil saja," gerutu Laras mulai merasa kesal dengan kelakuan Ronald dan Ervin.
"Kayaknya aku gak bisa tinggal diam, mereka benar-benar gak bisa dibiarin," ujarnya lagi sambil bersiap membuka gerbang.
"Stop!" teriak Laras kemudian, sambil berdiri dan merentangkan tangannya di antara Ervin dan Roland.
Otomatis, keduanya pun menghentikan pertengkarannya karena terkajut dengan teriakan Laras yang cukup memekakan telinga. Di saat bersamaan, para penjaga yang bertugas pun datang karena mendengar keributan, mereka langsung berjaga di antara adik dan kakak itu.
Sementara itu, wajah Ervin tampak memerah dengan disertai napas yang memburu. Sepertinya, dia sudah terlanjur kesal oleh kejadian ini, hingga laki-laki yang tidak bisa lagi mempertahankan wajah datarnya.
"Haishh! Dasar tidak berguna!" sentak Ervin sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Laras bersama dengan Roland, juga para penjaga yang hanya bisa menatapnya dengan berbagai sorot mata.
Laras meringis sambil melirik kesal Roland yang masih terlihat santai dan tak acuh, dia kemudian berjalan cepat untuk menyusul langkah Ervin. Dia terus menyusul laki-laki itu sampai akhirnya keduanya sampai di kamar dengan jarak yang hampir bersamaan.
"Haah! Brengsek!" Ervin melempar tongkatnya ke sembarang arah, hingga tanpa sengaja hampir saja mengenai kepala Laras.
"Astaga? Hampir saja." Laras langsung terdiam dengan tubuh mematung, dia hanya melihat kemurkaan Ervin yang ternyata sangat menyeramkan. Laki-laki itu membuang semua barang yang ada di sekitarnya hingga membuat kamar mereka hancur berantakan. Hingga, tiba-tiba saja Ervin melepar vas bunga ke arah Laras dan. "Akh!"
...❤🩹...
Sementara itu, Roland yang mulai kembali mengendarai mobilnya menjauh dari rumah Ervin pun, tampak menyeringai dengan mata menyorot tajam, tangannya pun memegang gagang stir dengan sangat kencang hingga pembuluh darahnya terlihat menonjol.
__ADS_1
"Hanya gadis polos. Apa mereka tidak salah memilih orang? Mereka pikir aku akan kalah dengan gadis naif seperti dia? Heh, picik! Dia bahkan tidak pantas menjadi lawanku."
"Lihat saja, dia akan aku buat hancur, sama seperti laki-laki buta itu!"