
"Mam, aku titip baby bakpao ya," ujar Laras setelah selesai menyusui untuk kedua anak kembarnya.
Mami yang sedang menggendong baby girl pun menoleh pada Laras yang sedang memberikan baby boy pada salah satu pekerja yang akan menjaga baby twins bapao.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Mami sambil mengalihkan perhatiannya pada Laras.
"Iya, Mami," jawab Laras.
"Gak nungguin Dion dulu saja? Dia bisa nganterin kamu ke sana, Ras." Mami takut terjadi sesuatu pada Laras begitu sampai di sana.
"Gak usah, Mami. Kasian, Dion pasti capek habis dari luar kota. Biar aku sendiri saja, aku juga gak akan lama kok," jawab Laras sambil mengambil tas selempang kecil di atas sofa.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungin mami," pesan Mami.
"Iya, Mami," angguk Laras sambil mencium punggung tangan Mami lalu mencium kening kedua anak-anaknya, kemudian segera pergi dengan langkah sedikit berlari.
Kemarin sore, Ervin baru saja datang dari Texas, dia yakin hari ini laki-laki itu masih berada di rumah untuk beristirahat. Jika pun tak ada, Laras akan menemuinya di kantor.
"Aku harus menemui kamu gimanapun caranya. Kamu harus menjelaskan apa yang terjadi, sampai kamu tega meninggalkanku dan anak-anak kita," gumam Laras ketika mobil sudah melaju menyatu dengan keramaian jalan siang itu.
Beberapa saat kemudian, Laras sudah sampai di kediaman besar Ervin. Rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal. Namun, kini ada ratu lain yang telah mengambil alih posisinya, bahkan tanpa ada izin darinya lebih dulu.
"Makasih ya, Pak," ujar Laras sebelum ke luar dari dalam taksi yang dia tumpangi. Ya, wanita itu bahkan menolak tawaran mami untuk memakai sopir pribadi.
Sudah cukup, aku merepotkan mereka selama ini. Sekarang, biarkan aku urus masalahku sendiri. Itulah tekad yang Laras tanamkan di dalam hatinya.
Laras berdiri di depan gerbang besi yang begitu tinggi, dia tatap kegagahan rumah yang menjadi ciri khas bangunan tempat tinggal laki-laki yang dicarinya.
__ADS_1
Harusnya aku senang karena sudah sampai di rumah suamiku. Tapi, kenapa sekarang aku merasa asing. Pagar ini, serupa batas yang kembali menjulang tinggi untuk kami berdua, batin Laras sambil sedikit mendongak, melihat ujung bagian atas gerbang yang begitu menjulang.
Perlahan tangannya terulur untuk menekan bel. Tak lama menunggu, seorang laki-laki dengan pakain khas satpam, terlihat menghampirinya lewat pintu kecil di samping gerbang besar.
"Ada keperluan apa ya, Mba?" tanya laki-laki yang tampak kekar, tetapi sangat asing di matanya. Dia bukan penjaga gerbang yang dulu.
Laras mengernyit, dia sempat ingin menanyakan keberadaan penjaga gerbang yang dulu, tetapi wanita itu mengurungkannya. Dia menggeleng pelan sebelum menjawab pertanyaan laki-laki yang tengah berdiri di depannya. "Saya ingin menemui Tuan Ervin, apa beliau ada di rumah?"
"Dengan siapa ya? Biar saya tanyakan ke dalam dulu," tanya satpam itu lagi dengan sopan.
"Larasati. Saya Larasti," jawab Laras sambil tersenyum penuh harap.
"Larasati?" tanya satpam itu dengan kening berkerut dalam. Seolah dia tak percaya dengan ucapan Laras.
"Iya, nama saya Larasti," angguk Laras yang merasa sedikit janggal ketika melihat wajah bingung dan curiga lelaki di depannya.
"Baiklah, akan saya tanyakan ke dalam dulu. Anda tunggu di sini," ujar lelaki itu lalu masuk lagi ke dalam dengan wajah yang masih terlihat bingung.
"Ta-tapi, Pak--" Belum sempat Laras menlanjutkan perkataannya, lelaki itu sudah memotongnya lebih dulu.
"Maaf, Mba. Sebaiknya, Mba segera pergi dari sini," ujarnya sambil kembali masuk dan menutup pintu gerbang kecil itu tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih dulu,
"Pak! Tolong dengerin saya dulu. Saya harus bertemu dengan Tuan Ervin!" teriak Laras berulang kali, tetapi tak ada yang membukakan pintu untuknya sama sekali.
Laras tersenyum miris, dia lihat telapak tangannya yang sudah memerah karena terus menggebrak gerbang besi itu walau tak pernah ada balasan dari dalam.
"Tuan?" Laras tersenyum hambar. Ternyata memang panggilan itulah yang lebih pantas untuk Ervin. Hanya sekejap, dia dapat menyebut suaminya tanpa embel-embel kata 'tuan' di depannya.
__ADS_1
"Sejak awal jarak kita memang terlalu jauh, Tuan. Sekarang pun sama, walau aku sudah melahirkan darah dagingmu," gumam Laras sambil menatap nanar gerbang besi di depannya.
Sakit? Sangat. Siapa yang tak sakit, ketika lelaki yang menjadi cintanya kini bahkan tak mau menemuinya. Kecewa? Mungkin. Laras pun tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Namun, satu yang pasti. Dadanya kembali terasa sesak, bagaikan sebuah batu besar tengah menimpanya.
Perhatiannya teralih ketika gerbang besar itu perlahn terbuka hingga memperlihatkan sebuah mobil yang ke luar dari dalam. Bagaikan menyiramkan cuka dalam luka yang masih basah, Laras melihat dengan matan kepalanya sendiri, bagaimana Ervin duduk berdua dengan wanita lain di kursi belakang mobil itu. Yang lebih menyakitkan lagi, wanita itu terus menyandarakan kepalanya di dada Ervin, dan Ervin pun tak merasa terganggu karenanya.
Tanpa sadar, satu tetes air mata lolos begitu saja, meluncur bebas membasahi pipinya. Lagi, hatinya kembali terluka dan lebih dalam.
"Apa aku tidak pantas mendapat kebahagiaan dengan orang yang aku cintai? Kenap harus dipertemukan jika hanya berakhir dalam kesakitan?" gumam Laras. Dia mulai berjalan menjauh dari rumah besar itu dengan hati yang patah.
Biarkanlah kali ini dia luahkan semua rasa sakit hatinya, agar ketika dia pulang, Laras bisa kembali menarik bibirnya membentuk senyum untuk semua orang yang telah menyanyanginya.
Setelah berada di jalan raya, Laras kembali menyetop salah satu taksi, kini tujuannya adalah panti asuhan. Dia ingat, dulu sebelum kecelakaan dirinya hendak pergi ke panti. Namun, dia kembali menelan kecewa ketika ternyata panti itu sudah tidak ada, bahkan bangunanya saja sudah berubah menjadi sebuah proyek pembangunan ulang.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada panti? Kenapa mereka pindah dari sini?" tanya Laras sambil menatap area pembangunan yang kini berada tepat di depannya.
Laras edarkan pandangannya, menatap rumah masa kecilnya yang kini sudah rata dengan tanah. Entah ke mana perginya semua orang yang sudah dia anggap sebagai keluarga. Di saat bersamaan, ponsel di dalam tas selempangnya terdengar berbunyi, hingga memaksa Laras untuk mengalihkan perhatiannya.
Dion. Ya, siapa lagi? Pasti lelaki itu sudah sampai di rumah dan mengetahui kalau dirinya pergi menemui Ervin sendiri.
"Kamu ini gak bisa sabar sebentar apa, heh? Kenapa pergi ke sana sendiri? Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu gimana, heh?" cerocos Dion begitu Laras menerima panggilan itu. Laras bahkan harus menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Dion yang sangat kencang.
"Maaf," jawab Laras.
"Di mana? Aku susul sekarang!" ujar Dion dengan nada suara yang terdengar tegas.
"Di panti," jawab Laras, dengan nada seperti seorang adik yang sedang mengadu pada kakaknya.
__ADS_1
"Tunggu di sana, aku berangkat sekarang," ujar Dion lalu menutup teleponnya begitu saja.
Laras menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar kedua anak kembarnya, dia hembuskan napas kasar, mencoba melepaskan beban yang begitu sesak seolah menekan di dalam dada.