Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.61 Terima kasih, Ervin


__ADS_3

"Cari angin dulu sama Ervin, biar aku yang menjaga papi." Ervin mengingat lagi perkataan Dion ketika Laras sudah melepaskan rangkuhannya. Dia kagum pada pemikiran lelaki itu. Walau umurnya lebih muda darinya, tetapi Dion tampak berfikir dewasa. Tak ada emosi yang meluap-luap atau bahkan kemarahan darinya. Padahal ia yakin jika Dion tahu semuanya tentang masalah dirinya dan Laras.


"Sebenarnya kondisi Papi sudah stabil, hanya saja dia masih harus dalam pengawasan ketat hingga dua puluh empat jam ke depan. Tapi, kondisi mental Laras tidak sebaik itu untuk menerima kejutan seperti ini. Terlalu banyak luka akibat kehilangan, tidak membuat wanita itu terbiasa akan rasanya. Sebaliknya, dia malah semakin takut akan luka yang sama."


Ervin menatap lekat wajah wanita yang kini duduk tepat di sampinya dengan pandangan lurus ke depan. Saat ini mereka sedang duduk di sebuah bangku taman rumah sakit. Ucapan Dion ketika menunggu Laras ke toilet pun terus terngiang di kepala, membuatnya kembali merasakan sakit yang begitu dalam ketika kenyataan yang lain tentang Laras terbuka untuk kesekian kalianya.


"Setidaknya minum dulu biar perut kamu gak terlalu kosong," ujar Ervin sambil menyodorkan kotak susu rasa coklat kesukaan Laras yang dia dapat dari salah satu anak buahnya, sementara Dedrik sudah pulang lebih dulu.


Laras menatap kotak susu coklat yang telah ditusuk oleh sedotan hingga dia hanya tinggal meminumnya. Tangannya terulur menerima sambil berujar pelan sebelum meminumnya sedikit. "Terima kasih."


"Anak-anak di mana?" tanya Ervin, ingin mengalihkan pikiran Laras dari rasa ketakutannya akan kondisi kesehatan tuan Atmadja.


"Di rumah Papi dan Mami," jawab Laras sambil kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Ervin mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia sudah mengetahui tentang hubungan antara Laras dan keluarga Atmadja. Itu terjadi ketika dia tiba-tiba diundang untuk bertemu dengan tuan Atmadja sebelum pergi ke luar negri. Tuan Atmadja sudah menceritakan semuanya dan berpesan untuk tidak lagi mengecewakan anak perempuannya. Tampaknya, tuan Atmadja sangat khawatir dengan kebahagiaan Laras dan anak-anaknya.


"Jangan kamu dekati anakku lagi jika itu hanya untuk rasa bersalahmu atau kehadiran dua cucuku. Aku tidak akan pernah memberikan restu padamu."


Perkataan bernada penuh ancaman itu masih jelas teringat oleh Ervin. Sorot mata tuan Atmadja yang penuh dengan amarah pun masih jelas di ingatan.


"Aku sarankan, tanyakan lagi pada dirimu sendiri, apakah benar cinta yang kamu rasakan pada anakku, atau itu hanya sebatas rasa bersalah karena kamu lari dari tanggung jawab enam tahun lalu?"


Ervin sempat tersentak ketika pertanyaan terakhir sebelum mereka berpisah di pertemuan kala itu terdengar. Sejenak dia meragukan perasaannya pada Laras, tetapi kini dia telah menemukan jawabannya.


"Maaf soal tadi. Sepertinya aku kehilangan kendali karena terlalu sedih," sambung Laras lagi sambil melirik wajah Ervin kilas lalu memalingkan wajah ke sembarang arah.


Ervin terperanjat. Pikirannya yang tengah melanglang buana entah ke mana, kini seolah dipaksa kembali oleh ucapan Laras.

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Aku bersedia menjadi tempat bersandarmu kapan pun kamu butuhkan," balas Ervin sambil tersenyum tulus.


"Tidak perlu, aku masih bisa menghadapinya sendiri," jawab Laras lalu beranjak berdiri yang langsung diikuti oleh Ervin.


"Mau ke mana?" tanya lelaki itu.


"Kembali," jawab Laras singkat sambil hendak melangkahkan kakinya lagi.


"Tungu." Ervin langsung mencekal lengan Laras hingga wanita itu terpaksa kembali menatap wajahnya.


"Setidaknya isi perutmu dulu, tuan Atmadja juga tidak akan suka kalau kamu menyiksa dirimu sendiri seperti ini," ujar Ervin tegas. Cekalan tangannya bahkan tak dia lepas walau juga dia Kenduruan agar tidak menyakiti lengan wanitanya.


"Aku sudah meminum susu. Ini sudah lebih dari cukup," ujar Laras sambil menggantungkan kotak susu yang bahkan belum habis sampai setengahnya.


"Itu belum cukup. Aku tahu kamu bahkan belum makan sejak kemarin malam kan? Ayo ikut dulu bersamku, kita makan di restoran seberang," ujar Ervin sambil kembali menarik lembut lengan Laras.


"Aku sudah mendapat izin dari Dion. Dia akan segera mengabari kalau ada berita tentang kondisi Tuan Atmadja."


Tak menerima penolakan lagi, Ervin memilih untuk segera merangkul pundak Laras dan membawanya berjalan ke luar dari rumah sakit, menuju ke restoran seberang jalan.


Laras pun tak memiliki alasan untuk mengelak lagi, dia sudah kalah telak oleh Ervin. Saat ini, wanita itu hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Ervin.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu meja restoran bergaya modern itu. Senyum di wajahmu Ervin tak pernah hilang, matanya selalu tertuju pada wanita yang kini duduk di depannya. Melihat Laras makan pun sudah mampu membuat dirinya berbunga.


"Menjaga orang yang sedang sakit itu butuh tenaga yang banyak. Untuk itu, kamu harus banyak makan agar kesehatan kamu tidak ikut drop," ujar Ervin sambil memberikan daging di dalam sup miliknya pada piring Laras.


Laras sempat terdiam sambil mengalihkan atensinya pada Ervin, ketika dia menyadari apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Namun, Laras memilih mengacuhkannya dan kembali makan dengan tenang. Raganya mungkin sekarang ada bersama Ervin, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya. Semuanya masih berada di rumah sakit.

__ADS_1


...❤‍🩹...


Seminggu dirawat, akhirnya papi sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Seminggu itu pula Ervin selalu menyempatkan waktu untuk menemani Laras di rumah sakit atau bahkan mengajak anak-anaknya bermain. Laki-laki itu tak kenal lelah walau waktu istirahatnya jauh dari kata normal. Seperti tadi malam, karena Dion sedang ada urusan di tempat lain sejak dua hari lalu, akhirnya Ervin menemani Laras menginap di rumah sakit untuk menjaga Tuan Atmadja. Mereka sama sekali tidak mengizinkan Mami untuk menginap di rumah sakit, mengingat kesehatan mami yang juga rentan.


"Kamu pulang saja, aku gak apa-apa kok di sini sendiri, lagian ada para pengawal papi yang berjaga," ujar Laras melihat wajah Ervin yang sudah tampak sangat lelah.


Saat ini keduanya sedang duduk di kantin rumah sakit sambil menikmati segelas kopi instan yang masih terasa hangat. Mereka memutuskan untuk mencari angin setelah melihat tuan Atamadja sudah tidur.


"Aku lebih suka di sini, bersamamu," jawab Ervin sambil tersenyum. Dia benar-benar tidak membiarkan Laras memiliki celah untuk kembali menyalahkannya atau mencari letak kelemahannya. Dia ingin selalu terlihat sempurna di depan Laras.


"Kamu sudah dua hari menginap di sini. Itu gak baik buat kesehatan kamu ... kamu butuh istirahat cukup, Ervin." Laras mencoba untuk memberi pengertian pada Ervin.


"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Ervin, dengan senyum menggoda.


"Eh?" Laras tampak terkejut dengan pertanyaan nyeleneh dari Ervin.


"Kamu kan ayahnya anak-anak. Gak usah mikir yang lain," sambung Laras lagi sambil melempar pandangannya ke sembarang arah. Walau semburat merah di pipinya tak bisa dia sembunyikan.


Eevin terkekeh pelan. Melihat sikap malu-malu Laras adalah sebuah kebahagiaan untuknya. Dia kemudian berujar pelan walau masih jelas terdengar oleh Laras. "Asal dengan kamu, itu sudah cukup untuk membuatku merasakan kenyamanan. Kenyamanan itu sama dengan istirahat."


Ah, Ervin memang lelaki yang tidak mudah menyerah. Ada saja perkataan yang dia dapat untuk mematahkan ucapan Laras.


Laras tak lagi membantah ucapan Ervin, dia sudah tak lagi mau berdebat dengan lelaki itu. Terlalu melelahkan.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama, bahkan Ervin sempat mengajak Laras untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit, untuk sekedar melepas penat.


Laras tak menolak. Tak bisa dia pungkiri, seminggu bolak-balik ke rumah sakit, cukup membuat dirinya penat dan lelah. Apa lagi dia tak sempat beristirahat dari perjalanan jauh. Keberadaan Ervin sangat membantunya, entah itu dalam mengurus Nevan dan Nessa, atau bahkan meringankan lelah yang dia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2