
Esok paginya, Ervin benar-benar menepati ucapannya. Laki-laki itu bersiap dengan pakaian formalnya untuk pergi ke kantor bersama dengan Laras.
"Makasih ya, Tuan. Aku sangat senang karena Tuan sudah mau datang ke kantor untuk menemui para pemegang saham dan petinggi perusahaan," ujar Laras sambil membantu memasangkan dasi di leher Ervin kemudian memakaikan jas. Senyum dia bibir Laras terlihat terus mengembang walau tak bisa dipungkiri jika rasa gugup pun melanda hatinya. Namun, semua itu terasa lebih baik, ketika dia bisa melihat Ervin yang sekarang lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya, Ervin sudah mulai peduli pada perusahaan.
"Tidak usah terlalu berharap. belum tentu aku bisa menyelesaikan masalah ini," ujar Ervin. Masih saja terlihat tak acuh. Jangan lupakan, wajah datarnya yang seolah tak bisa lepas dari laki-laki itu.
"Aku percaya Tuan bisa melakukannya. Tuan adalah suamiku yang hebat, mana mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Iya, kan?" ujar Laras penuh semangat. Tangannya mengusap pelan jas Ervin di bagian dadanya, menghilangkan sedikit kusut yang ada di sana. Dia tahu, semuanya belum pasti, tetapi bolehkah dia berharap pada suaminya mulai sekarang?
"Wah, Tuan terlihat sangat tampan. Sepertinya aku harus waspada mulai sekarang," ujar laras sambil terkekeh ringan. Wanita itu berjalan dia langkah ke belakang, agar bisa lebih memperhatikan keseluruhan penampilan Ervin.
"Ck! Tidak usah ngelantur. Apa gunanya tampan kalau aku buta?" decak Ervin.
Tiba-tiba saja tenggorokan Laras terasa tercekat. Dia tersenyum miris sambil menatap iba pada Ervin. Dia tidak berbohong mengenai ketampanan suaminya, bahkan di saat kini tubuh laki-laki itu masih sedikit kurus tanpa adanya otot yang keras di tangan atau dadanya. Hanya satu kekurangan seorang Ervin, yaitu matanya. Kekurangan yang membuatnya banyak diremehkan dan terpuruk begitu dalam. Menenggelamkan semua prestasi dan kehebatannya sebelum kecelakaan itu terjadi. Sungguh, miris sekali hidup Ervin.
"Aku tidak melantur. Tuan memang sangat tampan. Ah, aku jadi takut kalau nanti akan banyak pelakor yang mendekati Tuan," sanggah Laras sambil terkekeh ringan, walau matanya tampak berkaca-kaca. Dia tidak menyesal menikah dengan Ervin, tetapi dia hanya merasa kasihan.
"Stop, Laras. Kamu sudah mulai keterlaluan," geram Ervin yang sudah tidak tahan lagi. Bukan. Dia bukan marah, tetapi apakah Laras tidak tahu jika debar jantungnya sudah tidak normal sejak dia memujinya? Sungguh, itu sangat tidak nyaman baginya.
Namun, bukannya takut seperti biasanya, kini Laras malah terkekeh pelan karena melihat wajah Ervin yang tampak memerah, bahkan sampai ke telinganya. Itu terlihat sangat lucu bagi Laras.
"Baiklah, sekarang ayo kita ke bawah, aku sudah tidak sabar membawa Tuan ke perusahaan," ujar Laras sambil kembali menggandeng tangan Ervin.
"Itu masih perusahaanku." Ervin terdengar tidak suka dengan ucapan Laras. Namun, bukan seperti orang dewasa yang sedang marah, perkataan Ervin malah seperti seorang anak kecil sedang merajuk.
"Aku tau. Makanya aku sangat senang, karena aku berhasil membawa Tuan kembali ke kantor," jawab Laras dengan suara riangnya.
Ervin tersenyum miring, dia tidak percaya dengan ucapan Laras, walau nada suara Laras yang terdengar polos membuatnya tak kuasa menahan bunga yang mulai bermekaran di dalam hatinya. Tingkah Laras yang terkadang terdengar lucu, membuat Ervin tanpa sadar mulai nyaman dengan wanita yang beberapa minggu ini sudah sangat sabar dalam menghadapinya.
.
Sampai di kantor, Laras memilih untuk masuk ke dalam gedung menggunakan lift khusuh, agar tidak terlalu menarik perhatian. Dia membantu Ervin untuk ke luar dari mobil, begitu juga dengan Hardi yang sibuk membantu Laras dan Ervin secara bergantian.
"Selamat datang kembali di kantor, Tuan," ujar Laras ketika Ervin sudah berdiri di depan pintu mobil. Seperti biasa, Laras akan menggandeng tangan Ervin untuk menuntunnya dengan cara yang berbeda. Keduanya masuk ke dalam lift bersama-sama untuk mencapai lantai di mana ruangan Laras berada.
"Bagaimana rasanya bisa kembali lagi ke kantor, Tuan?" tanya Laras saat keduanya berasa di dalam lift.
"Biasa saja," jawab Ervin walau dari raut wajahnya, terlihat sekali ada ketegangan di sana.
"Baguslah, setidaknya Tuan tidak gugup," ujar Laras sambil mengeratkan pelukannya di tangan Ervin.
__ADS_1
"Tanganku sampai dingin karena terlalu gugup," sambung Laras lagi sambil menautkan jari jemari mereka.
Ervin sempat mengerjap pelan ketika merasakan betapa dinginnya jari Laras. Namun, karena itu juga dirinya jadi mengingat sesutu.
"Jangan panggil aku Tuan lagi, itu bisa menimbulkan kecurigaan," ujarnya sambil berdehem pelan.
"Oh ya, aku lupa soal itu." Laras menoleh cepat demi melihat wajah Ervin. Matanya berkedip pelan, seolah sedang berpikir keras kemudian mulai berujar kembali. "Terus, aku panggil Tuan apa ya?"
"Apa saja yang penting jangan sampai mereka curiga dengan hubungan kita," jawab Ervin.
Laras mengangguk-anggukkan kepala pelan sambil terus berfikir tentang panggilan barunya pada Ervin.
Tak berapa lama, pintu lift pun terbuka, Laras mengeratkan kembali pelukannya pada tangan Ervin, lalu mulai melangkahkan kakinya bersamaan. Kedatangan pasangan itu tentu mampu mengalihkan perhatian para pekerja yang melihatnya.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." Emma langsung berdiri kemudian membungkuk di depan kedua atasannya itu ketika melihat kedatangan Ervin dan Laras.
Awalnya dia cukup terkejut ketika Laras benar-benar sudah berhasil membawa Ervin datang ke kantor, setelah selama ini laki-laki itu memilih mengasingkan diri. Emma bahkan sempat tidak percaya, ketika tadi pagi dia ditelepon oleh Laras, menyuruhnya menyiapkan rapat dadakan pagi ini, untuk membahas solusi masalah kebakaran sekaligus menyambut kedatangan Ervin.
Wah, kayaknya Tuan memang sangat mencintai Nyonya Laras, buktinya Tuan Ervin mau datang ke perusahaan demi nyonya, padahal selama ini dia selalu menolak dan tidak perduli lagi dengan perusahaan, gumam Emma dalam hati. Dia menjadi kagum pada Laras yang sudah berhasil menaklukan hati Ervin yang sangat sulit untuk didekati.
"Pagi, Emma. Gimana persiapan rapatnya?" tanya Laras sambil menghentikan langkahnya di depan sekretarisnya itu.
"Saya sudah menghubungi semua orang yang Anda suruh, mereka setuju untuk hadir," jawab Ema sambil sesekali melirik wajah tapan Ervin dari ujung matanya.
"Baik, Nyonya," angguk Emma.
Ervin hanya terdiam dengan wajah datarnya dan pandangan lurus ke depan. Walau terlihat tak acuh, sebenarnya Ervin memperhatikan semua yang ada di sana, dengan telinganya yang masih dapat menangkap segala suara yang ada di sekitarnya.
...❤🩹...
Di sebuah ruangan kerja seseorang ....
"Aku dengar, pengganti tuan Dedrik, sekarang berhasil membawa penerus perusahaan untuk datang ke kantor?"
"Aku tidak sabar melihat, bagaimana orang yang tidak bisa melihat akan memimpin perusahaan? Heh, dia pikir ini adalah ide yang bagus?"
"Mana ada yang mau percaya pada perusahaan yang memiliki pemimpin buta seperti dia? Wanita itu benar-benar bodoh dan tidak bisa melihat situasi."
"Baguslah, jika memang dia benar-benar datang, itu akan lebih memudahkan kita untuk meminta pergantian CEO perusahaan. Laki-laki buta itu sama sekali tidak layak untuk posisinya sekarang."
__ADS_1
"Benar, harusnya sejak lama dia sudah menyerah dan membiarkan Pak Roland untuk menggantikannya. Jelas-jelas, Pak Roland lebih mampu untuk memajukan perusahaan ini daripada dirinya." Semua orang di ruangan itu mengangguk setuju dengan ucapan salah satu di antara mereka.
"Ah, sudahlah, tuan-tuan sekalian. Sebaiknya kita ke ruang rapat sekarang, jangan sampai kakak dan kakak ipar saya menunggu. Itu akan sangat memalukan, bukan?" Roland yang sejak tadi hanya terdiam sambil memperhatikan para pemegang saham yang sedang menghina Ervin akhirnya membuka suara sambil meneggakkan tubuhnya dan bersiap untuk beranjak.
Semua laki-laki paruh baya yang ada di sana pun ikut berdiri sambil merapihkan jam meraka masing-masing dan mulai berjalan mengikuti Roland untuk ke luar dari ruangan menuju ke ruang rapat.
Sementara itu, di ruang kerja Laras, dia pun mulai mempersiapkan semuanya untuk rapat.
"Sudah siap? Kita ke ruang rapat sekarang?" tanya Laras sambil berdiri di depan Ervin dan kembali merapihkan baju suaminya yang sedikit kusut.
Ervin menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengangguk samar sebagai jawaban.
"Baiklah, ayo kita kalahkan mereka semua dan buktikan kalau kita layak untuk berada di posisi ini." Laras berucap untuk memberi semangat pada Ervin dan dirinya sendiri. Dia beralih ke samping Ervin dan mulai kembali menggandeng tangan suaminya sebagai mata untuk Ervin.
Terlihat jelas ada ketegangan di raut wajah keduanya. Namun, walau begitu, baik Laras maupun Ervin memilih untuk meninggalkan semuanya di dalam ruangan Laras dan segera bertindak biasa saja, untuk menutupi semua rasa gugup yang mereka simpan hanya untuk diri sendiri.
"Semuanya sudah siap?" tanya Laras pada Emma yang sigap menyambut kedatangan Ervin dan Laras, begitu pasangan itu ke luar dari ruangan.
"Sudah, Nyonya," angguk Emma sambil sedikit menundukkan kepala. Tangannya tampak membwa beberapa berkas dari atas meja.
Beberapa saat berjalan bersama, kini mereka bertiga sudah berdiri di depan ruang rapat dengan Emma yang bersiap untuk membuka pintunya.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya." Semua yang ada di ruangan itu langsunng berdiri dan menyambut kedatangan Ervin dan Laras.
Laras mengedarkan pandangannya, matanya seolah mengabsen semua orang yang hadir. Dia ingin mamastikan jika tidak ada yang terlambat di rapat yang penting ini. Laras cukup puas, ketika melihat semua orang yang dia undang benar-benar ada di sana. Sepertinya kehadiran Ervin berhasil menarik perhatian para pemegang saham dan petinggi perusahaan yang sebelumnya selalu tak acuh padanya.
Namun, apakah mereka akan menerima semua ide yang telah dia kerjakan dengan Ervin? Tampaknya itu akan cukup sulit. Laras bisa tahu jika sebagian besar dari orang yang berada di sana tampak tak suka dengan keberadaan Ervin, walau itu dari sorot mata meremehkan dan senyum merendahkan yang terlihat.
Sepertinya, mereka bukan datang untuk bekerja sama, tapi mereka datang untuk memberikan perlawanan untuk keberadaan Ervin.
Sementara itu, di depan ruang rapat, Dion terlihat meremas berkas di tangannya dengan tatapan tak lepas dari pintu ruang rapat. Rahangnya tampak mengeras dengan kilat kebncian di matanya. Dia baru saja melihat bagaimana Laras berjalan dengan sangar romantis dan intim dengan Ervin, itu berhasil menyalakan percikan api cemburu di dalam hatinya.
"Kamu tidak pantas untuk bersanding dengan laki-laki pengecut dan buta sepertinya, Laras. Kamu terlalu baik untuknya," gumam Dion dengan suara pelan.
...❤🩹...
Belum sempat Laras bisa kembali membuka suara, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara gebrakan meja yang sangat kencang hingga memekakan telinga.
Ervin. Ya, laki-laki itu terlihat berdiri dengan sorot mata tajam dan kening mengernyit dalam. Nampasnya terlihat memburu, dengan pembuluh di sekitar lehernya terlihat menonjol.
__ADS_1
Laras, mengerjap pelan, sungguh saat ini bahkan jantungnya berdebar sangat kencang karena apa yang suaminya itu lakukan.
Ada apa? Kenapa Ervin melakukan itu?