Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 25 Kabar bahagia yang membuat dilema


__ADS_3

"Kamu sudah kembali?" tanya Ervin bergitu dia mendengar suara pintu terbuka serta langkah kaki yang terdengar familiar baginya.


"Eum," angguk Laras sambil menaruh tasnya di atas meja, kemudian menghampiri sang suami yang tengah duduk di sofa dengan dokumen yang masih berada di tangannya.


"Dokumen apa itu?" tanya Laras sambil duduk di samping sang suami. Walau matanya bisa melihat jelas kertas di tangan Ervin, tetapi dia tidak mengetahui tentang huruf braille.


"Gak apa. Hanya dokumen biasa saja," jawab Ervin. Tangannya bergerak menutup dokumen itu kemudian menaruhnya di atas meja.


"Heum, baiklah. Kalau gitu, gimana kalau kita langsung pulang aja. Sepertinya gak ada lagi yang harus dikerjakan di sini," ujar Laras sambil melingkarkan tangannya di lengan sang suami.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Ervin. Kerutan di keningnya terlihat jelas, seolah sedang bertanya, mengapa sikap Laras tidak seperti biasanya yang lebih mementingkan pekerjaan.


"Enggak. Aku mau, kita jalan-jalan dulu, sebelum pulang. Menikmati sore berdua, kayaknya menyenangkan," jawab Laras sambil menyandarkan kepalanya di lengan Ervin yang kini sudah cukup berotot.


Laki-laki mengulas senyum senangnya, dia bubuhkan kecupan penuh kasih sayang di puncak kepala sang istri.


"Ada apa nih? Kok kayaknya hari ini istriku manja sekali?" gurau Ervin, sambil terkekeh ringan. Sejujurnya, dia suka Laras bersikap manja padanya.


Laras terdiam sebentar. Hatinya merasa berat untuk berpisah dengan Ervin, tetapi dia juga tidak bisa menemani Ervin ke luar negri dalam kondisi perusahaan sekarang. Laras juga tidak mungkin meminta Ervin untuk menunggunya. Dia tidak mau menjadi penghalang bagi Ervin mendapatkan penglihatannya lagi, setelah selama ini lelaki itu sudah lama menunggu.


"Enggak apa-apa kok, aku cuman lagi mau berduaan saja sama suami aku," jawab Laras. Senyum itu terukir walau terlihat sekali sangat dipaksakan.


"Baiklah, kalau gitu ayo kita berangkat. Aku akan menemani kamu ke mana pun kamu mau, baby," jawab Ervin. Semangat dalam tubuhnya tiba-tiba meningkat pesat, hanya dengan perlakuan manja sang istri yang sangat dicintainya.


Beberapa saat kemudian, Laras dan Ervin pun terlihat ke luar dari kantor. Sementara itu, Herdi sudah siap menunggu kedatangan dua bosnya. Dia berdiri tegak di samping mobil, bersiap untuk membuka pintu penumpang.


"Kita ke pantai aja ya, Pak," ujar Laras ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Baik, nyonya," angguk Herdi, sambil mulai menjalankan mobilnya ke luar dari area kantor.


Beberapa waktu kemudian, Herdi sudah berhasil memarkirkan mobilnya di tepi pantai. Langit yang mulai berwara merah, seolah menyambut mereka berdua di tempat itu.


"Ayo cepat, sunsetnya sudah terlihat indah," ujar Laras sambil membantu Ervin ke luar dari mobil. Keduanya memilih duduk di atas pasir dengan pemandangan matahari tengelam tepat di hadapan mereka.


Seringai lembut terlihat menghiasi wajah tampan Ervin. Lelaki itu bisa mendengar debur ombak yang sangat amat jelas, ditambah hangatnya sinar matahari sore yang menerpa tubuhnya. Pasir pun terasa menggelitik di kaki, seolah memberikan kelembutan yang membuai.

__ADS_1


"Kamu senang, baby?" tanya Ervin sambil merangkul pundak sang istri. Walau tidak bisa melihat senyum istrinya yang dia yakini akan sangat manis itu, tetapi Ervin sudah cukup bersyukur, karena dalam kegelapan hidupnya, Laras hadir, seolah cahaya yang perlahan meneranginya dan menuntunnya menuju jalan yang penuh dengan warna.


"Eum. Aku sangat senang. Menikmati matahari tenggelam bersama orang yang aku cintai adalah salah satu doa yang selalu aku panjatkan. Sekarang, itu sudah terkabul. Bagaimana aku tidak akan senang," jawab Laras, perlahan dia sandarkan kepalanya di pundak Ervin lalu menutup mata. Menikmati deburan ombak dan hangatanya matahari tanpa adanya visual. Dia ingin merasakan kegelapan yang Ervin alami.


Lama keduanya terdiam dalam posisi yang sama, hingga rasa hangat itu perlahan menghilang, beralih dengan dinginnya hembusan angin yang menembus kulit mereka. Laras membuka matanya, dia genggam tangan sang suami kemudian memberian beberapa kecupan di sana.


"Tadi sore, Pak Dedrik menghubungiku," ujar Laras tiba-tiba.


"Dedrik? Kenapa dia menghubungimu? Bukan aku?" tanya Ervin dengan nada suara tidak suka.


Laras terkekeh ketika mendengar rengekan Ervin yang tak ubah seorang anak kecil yang merasa iri karena orang tuanya lebih memperhatikan saudaranya.


"Dia ingin aku menyampaikan sesuatu padamu, dan itu harus aku." Laras menekankan suaranya di akhir kalimat.


"Kejutan apa? Biasanya dia juga langsung bebicara padaku." Tampaknya Ervin masih merajuk.


"Apa kamu merindukannya?" tanya Laras yang langsung membuat tubuh Ervin menegang.


"Dasar raja gengsi!" cibir Laras. Walau keduanya terdengar seperti sedang beradu mulut, tetapi posisi mereka masih sama. Tangan Ervin setia berada di pundak Laras, begitu juga kepala Laras yang masih nyaman bersandar di pundak sang suami.


"Tenang saja, sebentar lagi kamu pasti akan bertemu dengan Pak Dedrik," sambung Laras lagi. Nada suaranya terdengar sedikit sendu, walau Laras sudah berusaha beras untuk menyamarkan perasaannya.


"Tidak." Laras menggeleng. Dia mematahkan harapan Ervin hanya dengan satu kata.


"Kamu yang akan menyusulnya ke sana," sambung Laras lagi.


Ervin terdiam dengan kerutan kening yang begitu kentara. "Apa maksud kamu, baby? Coba bicara yang jelas."


"Pak Dedrik sudah menemukan pendonor mata untuk kamu," ujar Laras. Wanita itu mencoba menahan tangisnya, walau satu tetes air mata lolos dari pelupuk, saat dia melihat reaksi terkejut suaminya.


"Sudah ada pendonor yang cocok?" tanya Ervin, memastikan.


"Eum. Aku sudah menyuruh Herdi mengurus segala sesuatu untuk kebutuhan kamu selama perjalanan sampai ke Texas. Sampai di sana, kamu akan langsung dijemput oleh Pak Dedrik," ujar Laras. Tatapannya terlihat sendu, walau dia berusaha keras untuk manahan perasaannya sendiri.


"Apa maksud kamu? Aku hanya akan pergi jika itu bersama dengamu, baby," protes Ervin. Dia tidak mau lagi terpisahkan, walau itu hanya untuk satu hari saja.

__ADS_1


"Tapi, perusahaan masih mebutuhkan aku. Roland akan dengan mudah menghasut mereka kembali dan berulah, jika kita meninggalkannya. Sementara di sana, ada Pak Dedrik yang akan membantu kamu." Laras mencoba menjelaskan.


"Aku mohon. Mengertilah untuk kali ini saja. Aku tidak mau usaha dan kerja keras kita selama ini, akan dengan mudah dihancurkan kembali oleh Roland. Lagi pula, kita akan bertemu lagi setelah kamu menyelesaikan pengobatannya. Bukankah kamu mau melihat wajahku? Hanya dengan menjalani oprasi ini, kamu bisa melihatku. Pergilah, aku janji akan baik-baik saja di sini," sambung Laras lagi.


"Tapi, aku tidak mau berpisah sama kamu, baby. Aku tidak akan tenang kalau membiarkan kamu di sini sendiri." Ervin masih meragu. Satu sisi, Ervin merasa senang, karena kesempatan untuk melihat lagi kini sudah ada di depan mata. Namun, Laras yang menolak untuk ikut bersamanya, membuatnya bimbang.


"Aku tidak sendiri. Ada panti asuhan yang selalu menerimaku, para pelayan, penjaga, dan Herdi. Mereka semua masih ada di sini, bersamaku. Mereka akan menjagaku selama kamu gak ada," jawab Laras dengan penuh percaya dirinya.


"Kita bicarakan ini nanti saja. Lebih baik sekarang kita pulang, angin malam tidak baik untuk kesehatan." Ervin memilih menyudahi perbincangan yang terasa menyesakkan itu, dia mulai merubah posisinya dan bersiap untuk bangkit.


Laras menghembuskan napas lelah. Dia sudah bisa menebak akan seperti ini, reaksi Ervin mengenai berita bahagia ini. Lelaki itu kini sudah mulai bergantung padanya. Sebenarnya, bukan hanya Ervin yang merasa berat untuk berpisah, tetapi dirinya juga. Mungkin, rasa tidak rela dirinya untuk melepaskan Ervin, akan lebih besar dari yang lelaki itu rasakan.


"Baiklah. Ayo kita pulang," angguk Laras kemudian. Dia berdiri lebih dulu, lalu membantu Ervin.


"Pak, tolong bantu Tuan untuk turun, aku ada urusan!" Laras berujar sambil ke luar terburu-buru dari mobil. Dia berlari masuk ke rumah sambil membekap mulutnya.


"Herdi, apa dia marah?" tanya Ervin dengan wajah yang tampak lesu.


"Tidak, Tuan. Sepertinya nyonya sedang tidak enak badan. Sejak tadi siang, wajahnya sedikit pucat," jawab Herdi sambil membantu Ervin ke luar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.


"Kamu berani melihat wajah istriku?!" sentak Ervin tiba-tiba. Herdi bahkan refleks menjauh dari Ervin, saking terkejutnya.


"B-bukan begitu, Tuan. Saya hanya tidak sengaja melihatnya," jawab Herdi dengan suara terdengar bergetar.


"Maafkan saya, Tuan," sambungnya lagi.


"Lalu, kenapa kamu tidak memberitahu saya tentang kondisi Laras?" tanya Ervin lagi, masih dengan nada suara dalam.


Apa lagi? Ya, karena takut begini. Tuan marah tanpa alasan. Dasar bucin.


Semua jawaban itu hanya bisa diucapkan Herdi dalam hati. Nyatanya, lelaki itu masih menunduk sambil berujar. "Maafkan saya, Tuan."


"Baiklah, kali ini kamu aku maafkan. Tapi, semua itu tak akan berlaku untuk kedua kalinya. Sekarang antarkan aku kepadanya," titah Ervin dingin.


Sampai di kamar, dia bisa mendengar jelas suara gemercik air di kamar mandinya. Dengan raut wajah khawatir, Ervin mengetuk pintunya dengan harap akan mendapatkan jawaban dari dalam sana.

__ADS_1


"Baby? Apa kamu ada di dalam? Kamu gak apa-apa kan? Ayo kita ke rumah sakit, kamu harus segera diperiksa!" Ervin berbicara tanpa henti tepat di depan pintu kamar mandi.


"Laras, ada apa sama kamu?"


__ADS_2