Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.8 Terluka


__ADS_3

Ervin benar-benar hilang akal, dia bahkan tidak menyadari keberadaan Laras di kamarnya. Laki-laki itu terus melempar apa saja yang ada di dekatnya tanpa memperkirakan apa pun yang mungkin akan hancur di sana. Hingga tiba-tiba suara teriakan Laras menghentikan amukannya dan tanpa sadar langsung meredam kemarahan yang ada di dalam hati Ervin.


"Kamu?" Ervin berguman sambil menoleh pada sumber suara.


Laras menghembuskan napasnya kasar sambil mengusap dadanya, berusaha untuk tetap sabar pada Ervin yang tengah dikuasai oleh emosi. Dia kemudian berucap sambil menghapus darah di pipinya karena terkena percikan vas bunga yang hancur. "Aku gak papa, kok."


"Tangan kamu? " Laras menghampiri Ervin ketika melihat ada luka di tangan laki-laki itu yang sudah meneteskan darah.


"Ayo duduk, biar aku obatin luka kamu dulu," ujar Laras lagi sambil mengambil tangan Ervin.


"Gak usah! Kamu panggilkan saja Dedrik, biar dia yang mengobatiku," tolak Ervin sambik melepaskan tangannya dari genggaman Laras.


Laras terdiam dengan mata menatap wajah Ervin, walau ada rasa kesal di dalam hatinya tetapi dia tidak menyerah. Laras kembali meraih tangan Ervin dan membawanya duduk di sisi ranjang dengan gerakan sedikit memaksa.


"Dedrik sedang ada urusan di luar, kalau kamu mau, aku bisa panggilkan pelayanan lain untuk mengobati luka kamu," ujar Laras pelan.


Ervin terdiam, dia memilih untuk mengikuti ucapan Laras daripada harus disentuh oleh pelayanan lain yang bahkan tidak bisa dia percayai kesetiaannya.


Laras mengambil kotak P3K di salah satu laci yang ada di sana kemudian duduk di samping Ervin dan mulai mengobati luka di tangan suaminya.


"Jangan begini lagi yah, marah seperti ini gak bisa merubah keadaan. Sebaliknya, amarah malah bisa mencelakaimu dan orang-orang di sekitarmu tanpa kamu sengaja."


Laras terus berucap dengan pandangan yang fokus pada luka Ervin, dia bahkan tak menyadari perubahan wajah Ervin yang tampak datar dan dingin.


Ervin terdiam, dia tak menggubris ucapan Laras hingga membuat wanita itu sedikit teralihkan dan mengangkat kepalanya demi menatap wajah suaminya yang terlihat datar.


"Sudah," ujarnya begitu selesai membalut luka Ervin.


Ervin masih bergeming, dia bahkan tak mengucapkan apa pun pada Laras. Entah karena laki-laki itu tidak mendengarnya atau mungkin memang pura-pura tidak mendengar ucapan laras.


Laras menggeleng lemah sambil kembali menata hatinya untuk tetap sabar dalam menghadapi suasana hati Ervin yang ternyata mudah sekali berubah. Dia kembali mengedarkan pandanganya, melihat seisi kamar yang sangat berantakan.

__ADS_1


Laras menghembuskan napas pelan, ada rasa iba di dalam hatinya ketika mengingat nasib yang menimpa Ervin. Dia sama sekali tidak menyalahkan Ervin yang mengalihkan kemarahannya pada semua barang itu. Menurutnya, itu lebih baik, daripada Ervin melampiasakan kemarahannya pada para pekerja atau dirinya sendiri.


"Tunggu di sini ya, aku akan membereskan semua ini dulu," ujar Laras lagi sambil beranjak dari duduknya.


Laras baru tahu jika selama ini tidak ada pelayan yang boleh datang ke kamar Ervin, bahkan hanya untuk membersihkannya. Setelah mengalami kecelakaan, Ervin membatasi semua itu dan hanya mengizinkan Dedrik yang mengurus segala hal mengenai dirinya.


Ervin tak juga menjawab, laki-laki itu masih bungkam, dia hanya duduk dengan napas yang perlahan mulai teratur kembali. Laras merasa mulai lebih tenang, karena emosi di dalam tubuh Ervin yang sudah mereda sepenuhnya.


Lebih dari setengah jam laras membersihkan seisi kamar dan membungkus semua pacahan barang yang tadi dilemparkan oleh Ervin. Baru saja Laras hendak ke luar dari kamar untuk membuang sampah, Laras dikejutkan dengan kedatangan Dedrik yang sudah ada di depan pintu.


"Nyonya, Anda terluka?" tanya Dedrik dengan wajah khawatirnya. Jelas sekali dia melihat luka gores yang lumayan panjang di pipi Laras.


"Ah, ini gak apa-apa, nanti aku obati sendiri," jawab Laras enteng. Dia pun berlalu dari sana meninggalkan Dedrik dan Ervin.


Dedrik menatap seisi ruangan yang tampak kosong, lalu beralih pada wajah Ervin yang masih terlihat datar. Dia menghembuskan napasnya, ketika tahu apa yang baru saja terjadi pada tuannya itu.


Sebenarnya Dedrik tidak pergi ke mana pun, dia hanya sedang mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya. Dia juga sengaja tidak datang ke kamar Ervin ketika sudah tahu ada Laras di sana. Dedrik ingin menjadikan kejadian ini untuk mengetes kesabaran Laras dalam menghadapi tempramen Ervin yang memang tidak setabil, apa lagi jika menyangkut ibu dan adik tirinya.


Dedrik membatin sambil tersenyum tipis ketika melihat kamar Ervin yang sudah kembali bersih dan rapih seperti sebelumnya, walau ada beberapa barang yang hilang, tentu saja pasti karena rusak oleh ulah Ervin sendiri.


"Kamu sudah puas?" tanya Ervin tiba-tiba, hingga membuat Dedrik langsung mengalihkan perhatiannya pada laki-laki itu.


"Dia sudah terbukti, sekarang Anda tidak perlu klhawatir lagi, Tuan muda," jawab Dedrik sambil membalikan badan hingga kini berhadapan dengan Ervin.


"Aku yakin dia mengutukku dalam hati." Ervin menyeringai tipis sambil menghembukan napas kasar.


Siapa yang akan benar-benar diam jika dia tahu tempramenmu yang seperti ini, Tuan? Bahkan aku saja masih tetap akan merasa kesal ketika memikirkan Anda yang keras kepala.


"Besok saya akan memberitahukannya tentang tugasnya di perusahaan. Ini tidak bisa ditunda lagi, atau aku tidak akan bisa membantunya lebih jauh," ujar Dedrik lagi.


"Hem, dan pastikan dia tidak akan kekurangan uang, agar dia tidak berpaling dari kesetiaannya," jawab Ervin yang lansung diangguki oleh Dedrik.

__ADS_1


...❤‍🩹...


Esok paginya, Dedrik benar-benar memberitahu Laras jika dalam waktu dekat ini dia akan pergi ke luar negeri dan mengalihkan semua tugasnya pada wanita itu.


"A--apa maksud, Bapak? Kenapa aku harus mengambil alih tugas bapak di kantor juga? Bukannya tugasku hanya untuk menjaga Ervin saja, tapi kenapa sekarang aku juga harus bertanggungjawab dengan perusahaan?" tanya Laras dengan wajah bingung bercampur terkejut.


"Ada sesuatu yang harus saya lakukan di luar negri, jadi selama itu Anda harus mengambil alih semua tugas saya di rumah ataupun di perusahaan. Saya tahu, ini terlalu mengejutkan dan terburu-buru, tapi Anda harus tahu jika saya juga tidak punya pilihan. Saya harap Anda bisa mengerti," jelas Dedrik dengan perkataan singkat.


"Tapi, bagaimana aku bisa mengambil alih pekerjaan bapak di berusahaan, sementara aku saja baru melakukan wisuda tanpa ada pengalaman dalam mengelola sebuah perusahaan, apa lagi perusahaan sebesar ini."


"Saya yakin Anda bisa, Nyonya. Saya tiak akan pernah meragukan pilihan Nyonya besar untuk menikahkan Anda dengan tuan muda." Dedrik berusaha meyakinkan Laras.


Laras menatap Dedrik dengan kening berkerut dalam, dia tidak pernah menyangka akan memiliki tanggung jawab sebesar ini, bahkan disaat dirinya baru saja menikah.


"Anda tidak perlu khawatir, sebenarnya tuan muda sangat handal dalam mengelola perusahaan, dia bahkan sudah terjun di dunia bisnis sejak berada di bangku sekolah menengah akhir, hanya saja semenjak dia kehilangan penglihatannya, tuan muda sudah tidak mau tahu lagi tentang urusan perusahaan."


"Namun, sesekali Anda bisa bertanya padanya tentang perusahaan, saya yakin tuan muda akan mebantu Anda. Walau dia terlihat tak acuh di luar, sebenarnya dia adalah orang yang hangat, hanya saja dia memang tidak pandai berekspresi. Tuan muda juga tidak akan membiarkan perusahaan mengalami masalah, karena itu adalah peninggalan mendiang nyonya besar."


Beberapa jam kemudian....


"Haish! Ini semua terlalu gila. Mana bisa mereka memberikan tanggung jawab sebesar ini pada seorang gadis yang baru saja lulus kuliah sepertiku?" Laras yang kini hanya tinggal sendiri di ruang kerja Derdrik pun berteriak frustasi dengan keadaan yang begitu sulit ini.


Matanya menatap kembali pada tumpukan berkas yang harus dia pelajari sebelum Dedrik pergi ke luar negeri yang bahkan kurang dari seminggu.


"Gimana bisa aku mempelajari semua ini, sementara berkas yang kemarin aku terima saja belum aku baca semuanya," keluh Laras yang merasa kepalanya sudah hampir meledak hanya dengan melihat tumpukan berkas yang menggunung di depannya.


Sementara itu, Dedrik yang memilih untuk kembali ke kamaranya dan membiarkan Laras di ruang kerjanya, tampak sedang menatap sebuah laporan dari rumah sakit yang dia terima beberapa hari lalu.


"Jadi selama ini ada yang menahan semua calon pendonor mata yang cocok untuk tuan muda?" gumamnya dengan wajah berubah dingin. Tangannya mengelal erat dengan rahang mengeras, menahan amarah yang terkumpul di dalam dada.


Bagaimana mungkin, ada orang yang dengan tega menggagalkan donor mata untuk tuannya, hingga Ervin menunggu begitu lama?

__ADS_1


"Aku memang harus pergi dan menuntaskan masalah ini, agar tuan muda bisa segera mendapatkan pendonor," gimana Dedrik, semakin meyakinkan hatinya untuk segera pergi.


__ADS_2