
"Ah, makasih, Mas." Dion langsung menerima mainan berwarna biru itu saat melihat wajah tegang Laras.
Sementara Laras hanya sedikit memiringkan tubuhnya, walau tak sampai melihat Ervin. Wanita itu mengangguk samar sambil berujar. "Terima kasih."
Deg!
Ervin terdiam dengan perasaan aneh yang mulai menjalar memenuhi hati dan pikirannya. Suara itu terasa begitu familiar dan dekat, bahkan jantungnya langsung bereaksi ketika mendengar ucapan singkat itu.
Siapa dia? batin Ervin yang tiba-tiba merasa penasaran akan rupa wanita di depannya, hingga tanpa sadar dia mulai memiringkan kepalanya, berharap dapat melihat wajah yang kini hanya dapat dia lihat di balik rambutnya yang terurai menutupi pandangan.
"Ayo, Mami dan Papi pasti udah nunggu." Dion merangkul pundak Laras tepat di depan Ervin, lalu kembali melirik Ervin sambil berujar. "Kami permisi."
Dion membawa Laras menjauh dari Ervin sambil mendorong kereta bayi dan merangkul Laras sekaligus. Dia tahu, wanita itu kini sedang tidak baik-baik saja. Bertemu kembali setelah satu tahun lebih terpisah tanpa kabar. Itu tak akan mudah, terlebih, kini Ervin sudah dapat melihat lagi.
'Kenapa suaranya terasa menghangatkan hatiku? Dan, wangi ini ... walaupun terasa samar, aku juga merasa nyaman, batin Ervin sambil terus menatap kepergian Laras dan Dion yang semakin menjauh.
"Aku harus mencari tahu tentang wanita itu," gumam Ervin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baby, ayo. Pesawat kita sudah mau berangkat," ujar wanita yang selama ini berperan sebagai Laras, sambil merangkul mesra lengan Ervin, hingga mengalihkan perhatian lelaki itu. Refleks, Ervin menoleh pada Laras palsu.
Pada saat yang sama, Laras melirik ke arah Ervin dan mencuri pandang pada lelaki yang sudah begitu lama dia rindukan. Namun, tiba-tiba terasa ada yang menghantam dadanya, ketika dia melihat seorang wanita merangkul mesra lengan Ervin.
"Hem," angguk Ervin. Dia segera melepaskan rangkulan wanita itu dan berjalan lebih dulu meninggalkan Laras palsu.
"Baby, tunggu!" teriak manja Laras palsu sambil berlari kecil menyusul Ervin tanpa tahu kejadian yang baru saja terjadi.
Siapa wanita itu? batin Laras dengan berbagai prasangka yang mulai memenuhi pikirannya. Senyum di bibirnya mulai merekah ketika matanya melihat sepasang suami istri yang tengah menunggu mereka, walau hati masih dilanda rasa bimbang.
"Gimana perjalanan kalian?" tanya Mami, begitu mobil mulai melaju ke luar dari bandara.
__ADS_1
"Lancar, baby twins juga gak rewel," jawab Laras sambil melihat anak lelakinya yang kini berada di pangkuan.
"Oh ya? Wah, cucu nema udah pinter ya, pada gak rewel," ujarnya sambil mengelus bergantian pipi baby twins.
"Iya dong, Nema. Siapa dulu yang memeninnya? Uncle Dion!" bangga Dion sambil menepuk dadanya.
"Cih, mana bisa kamu jagain mereka, palingan juga tidur sepanjang jalan. Iya kan, Ras?" tanya Mami dengan wajah meledek pada anak sematawayangnya.
"Enggak kok, Mi. Sepanjang jalan, malah Dion yang nyuruh aku yang istirahat dan biarin dia jaga baby twins sendiri," ujar Laras sambil tersenyum haru. Walau Dion itu memang sedikit malas dan doyan tidur, tetapi ketika dia berhadapan dengan baby twins, lelaki itu bisa berubah seolah tak lagi merasakan lelah. Dion selalu dalam mode siap siaga untuk direpotkan olehnya.
"Tuh dengerin, Mami. Aku itu, uncel yang selalu siap siaga menjaga baby bakpaoku ini." Dion melihat gemas dua bayi mungil yang kini masih dalam gendongan Laras dan Mami. Keduanya masih tampak tertidur pulas, walau dalam perjalanan mereka pun sempat terbangun dan bermain.
"Ck! Iya deh yang udah jadi uncle, segitu aja bangga," angguk Mami, walau tatapannya masih terlihat mengejek anaknya, hingga membuat Dion kembali kesal, walau itu tak berlangsung lama, karena baby twins terbangun dan menangis secara bersamaan.
...❤🩹...
Dalam pesawat, Ervin terdiam, pikirannya benar-benar tak bisa lepas dari wanita yang baru saja dia temui. Rasa penasaran akan identitas wanita itu pun tak bisa lagi dia kendalikan. Sungguh, rasa menyesal karena tidak dapat melihat wajahnya membuat Ervin prustasi.
"Hah? Enggak, aku biasa saja," jawab Ervin singkat bahkan tanpa menoleh pada Laras palsu.
Wanita itu merengut, dia merasa diacuhkan oleh Ervin. Namun, dia memang tidak dapat membantah Ervin dan memaksakan keinginanya, walau bagaimana pun, dia masih harus berpura-pura menjadi Laras yang tidak pernah memaksakan keinginannya dari Ervin.
Sabar, ini demi tetap bersama dengan laki-laki yang aku cintai. Aku rela mengganti identitasku, bahkan melakukan oprasi plastik di beberapa bagian wajahku, agar dia tidak bisa mengenaliku lagi, tak diacuhkan olehnya, itu bukanlah apa-apa. Wanita itu membatin, memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Selama setahun bersama, Ervin masih terlihat berhati-hati dan tak acuh pada Laras palsu, walau laki-laki itu juga tidak pernah melakukan kekerasan. Posisi Ervin yang hanya sendiri, tanpa ada Dedrik dan anak buah kepercayaannya, kini harus memulai dari awal lagi. Dia bahkan harus menerima jika semua petinggi kantor, kembali memihak pada Roland, bahkan menyingkirkan Laras dari posisinya dulu.
"Maafkan aku, Baby, ternyata tanpa kamu aku tidak bisa mempertahankan perusahaan. Aku terlalu lemah, apa lagi Herdi juga meninggal pada saat kami kecelakaan." Itulah yang diucapkan oleh Laras palsu sambil berurai air mata, ketika Ervin mengetahui semua kekacauan di perusahaan.
Ervin terdiam dengan tangan mengepal erat, hingga pembuluh darah di sekitar punggung tangannya terlihat menonjol. Wajah datarnya kini terlihat dingin, walau ada kilat putus asa di balik sorot matanya. Sia-sia sudah semua yang dia perjuangkan sebelum pergi ke Texas, kini dia kembali berada di titik awal, bahkan lebih terpuruk lagi.
__ADS_1
Sejak saat itu, diam-diam Ervin mulai mencari orang-orang yang dulu pernah bekerja dengannya, tetapi sampai sekarang masih nihil. Mereka semua bagaikan menghilang seperti ditelan bumi. Namun, dibalik itu, dia juga membayar orang-orang baru secara rahasia, untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi selama dirinya tidak ada.
Pergerakan Ervin semakin sulit, dia bahkan tidak bisa percaya pada pegawai yang ada di rumah. Mereka semua tampak mencurigakan. Belum lagi perubahan sikap Laras yang membuatnya semakin pusing. Kini wanita itu hanya tahu menghamburkan uang tanpa mau membantunya memecahkan masalah di kantor, bahkan Laras terus memaksanya untuk segera memiliki anak. Itu semakin membuat Ervin curiga.
Apakah benar Laras yang sekarang adalah Laras yang aku nikahi? Siapakah dia seberarnya? Kenapa dia bisa berubah hanya dalam waktu beberapa bulan saja?
Semua pertanyaan yang terus menghantuinya itu kini masih belum menemukan jawaban. Ervin merasa buntu, dia tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan sekarang. Saat ini, semuanya semakin sulit, ketika dia menerima kabar, jika Alfredo meninggal dunia. Ayah dan satu-satunya keluarga di dunia, kini juga telah meninggalkannya. Ervin semakin kalut dan tak tahu arah. Dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
...❤🩹...
Ervin langsung menghampiri jasad Alfredo begitu dia sampai di rumah besar yang sudah beberapa tahun ini laki-laki itu tinggali. Dia tatap wajah pucat pasi dan tubuh yang sudah terbujur kaku. Walau selama ini dia tidak suka pada sang ayah atas perbuatannya yang gila akan perempuan dan rela meninggalkan dia juga ibunya, tetapi ikatan seorang anak masihlah ada. Dalam hati yang terdalam, rasa rindu akan kasih sayang seorang ayah masih tetap ada walau hanya sedikit. Dia marah, bukan benci. Ervin hanya kecewa dengan begitu dalam, hingga lukanya masih membekas sampai sekarang.
Tidak ada anak yang bisa menerima sebuah perceraian, bahkan disaat hubungan kedua orang tuanya tidak baik-baik saja. Memiliki keluarga harmonis terlalu mahal untuk seorang anak korban perceraian. Itu juga yang dirasakan oleh Ervin. Bila dapat dia ulang waktu, Ervin akan berdoa agar ayahnya tidak pernah memberitahu ibunya tentang perselingkuhan itu dan mereka tetap berada dalam satu atap yang sama. Namun, bukankah semua itu hanya harapan? Ya, karena waktu sudah berlalu dan takdir telah tercatat tanpa bisa dia ubah.
"Semoga Papah bisa bertemu dengan Bunda dan meminta maaf untuk kesalahan Papa selama ini," gumam Ervin dengan wajah datar, walau matanya perlahan memerah.
Tanpa Ervin ketahui, di tengah kerumunan kerabat yang hadir untuk berbela sungkawa, Laras palsu menghampir salah satu laki-laki diantaranya, mereka berbincang dengan suara yang sangat pelan hingga terdengar seperti sebuah bisikan.
"Ada dua orang yang tidak sengaja dia temui di bandara, cari tau mereka, sepertinya Ervin sedikit terganggu dengan pertemuan mereka," ujar Laras palsu pada laki-laki itu.
"Kamu bisa melihat wajahnya?" tanya Laki-laki itu.
Laras palsu menggelang. "Aku datang setelah mereka pergi, tapi sepertinya mereka sepasang suami istri, aku melihat mereka mendorong kereta bayi," jelas Laras palsu sambil mengingat-ingat kejadian di bandara.
"Kamu jangan panik dulu, aku akan mencari tahu siapa mereka," ujar lelaki itu. Dia hampir saja berlalu ketika tangan laras palsu mencekal tangannya hingga membuat dia terpaksa menghentikan langkahnya.
"Aku sudah mengorbankan banyak uang untuk meraih dukungan untukmu di perusahaan Ervin. Awas saja kalau kamu sampai berkhianat dan berani bermain-main denganku," ancam Laras palsu dengan suara dalam.
Laki-laki itu menyeringai tajam sebelum kembali berujar. "Tenang saja, aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Tapi, jangan lupa juga dengan tugasmu untuk membuat Ervin menyerahkan perusahaannya padaku."
__ADS_1
"Iya, aku tau," angguk Laras palsu sinis. Keduanya pun kembali berpisah tanpa ada yang curiga dengan hubungan mereka.