
Nevan Sky Alarik dan Nessa Seema Alarik, itulah nama kedua anak kembar Laras. Sikap Nevan yang sedikit pendiam dan suka terlalu fokus pada mainanya, sangat berbeda dengan Nessa yang ceria, sedikit cengeng, dan cerewet. Namun, semua perbedaan mereka seolah terhapuskan, saat melihat mereka masih tetap akur di setiap suasana.
Pertengkaran? Tentu saja itu juga sering terjadi dan itu wajar bagi kedua saudara. Namun, keduanya tidak akan tahan jika berlama-lama terpisah, hingga dalam waktu singkat, Nevan dan Nessa akan kembali bersama. Begitu juga dengan sekarang. Nessa yang baru saja ke luar dari kamar mandi, dibuat bingung karena tidak melihat keberadaan Nevan di sana.
"Ke mana Nevan? Apa dia juga ke toilet?" tanya Nessa sambil mengalihkan perhatiannya ke pintu masuk toilet pria. Nessa pun memilih menunggu Nevan untuk beberapa saat, takut prasangkanya adalah benar.
Namun, Nessa mulai gelisah, ketika dia sudah menunggu sekitar sepuluh menit tetapi Nevan belum kelihatan batang hidungnya.
"Permisi, Tuan." Nessa menghampiri seorang pria yang baru saja ke luar dari toilet, jika dilihat dari bajunya, mungkin itu salah satu pekerja di hotel itu.
"Iya, Nona. Kenapa, nona kecil ada di sini?" Pria itu berjongkok di depan Nessa untuk menyamakan tinggi mereka lalu bertanya pelan.
"Apa tuan melihat anak kecil di dalam?" tanya Nessa sambil kembali melirik pintu toilet yang masih tertutup.
Pria itu tak langsung menjawab, dia terdiam sebentar seolah sedang berpikir sebelum akhirnya berbicara. "Sepertinya tidak ada. Mau saya bantu priksa ke dalam?"
Nessa mengangguk, dia hanya ingin memastikan keberadaan Nevan di dalam, jika pun tidak ada, maka Nessa hanya akan kembali ke tempat mereka menunggu. Siapa tahu Nevan tidak sabar menunggunya di toilet dan kembali ke tempat tunggu.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya, Nona," ujar pria itu sebelum kembali masuk ke dalam toilet. Nessa mengangguk sebagai jawaban.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali tanpa ada siapa pun membersamai, Nessa menatap penuh tanya pria yang sudah membantunya.
"Tidak ada siapa pun di dalam, Nona," jawab pria itu seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Nessa.
"Ya sudah. Terima kasih, Tuan." Nesa pun tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih lalu berbalik untuk hendak kembali ke tempat sebelumnya.
"Tunggu!" Nessa menghentikan langkahnya ketika pria itu kembali memanggilnya. Dia memutar tubuhnya agar dapat melihat pria itu kembali.
"Iya, Tuan ..."
...❤🩹...
Sementara itu, Nevan terus mengikuti pria yang dia yakini sebagai ayah kandungnya. Dia hampir saja kehilangan kesempatan ketika ternyata pria itu hendak masuk ke dalam lift.
"Papah!" teriaknya sambil berlari menghampiri pria itu.
__ADS_1
Pria yang baru menghentikan langkahnya itu menoleh ke belakang di mana suara anak kecil berasal, langkah yang terdengar cepat terdengar. Lelaki itu terlihat bingung, keningnya berkerut dalam sambil menoleh ke sembarang arah, mencari orang yang mungkin anak kecil itu panggil.
"Papah," panggil Nevan lagi dengan napas yang masih memburu. Bocah itu menghentikan langkahnya tepat di depan pria yang sejak tadi dia kejar.
"Aku?" tunjuk pria itu pada dirinya sendiri.
Nevan mengangguk, rasanya sudah cukup lelah untuk sekedar menjawab dengan kata-kata.
Pria yang tak lain adalah Ervin pun tersenyum canggung sambil kembali mengalihkan perhatiannya ke sembarang arah. Dia meyakini kalau anak kecil itu salah orang.
"Siapa nama kamu?" tanya Ervin sambil berjongkok di depan Nevan.
"Nevan," jawab Nevan masih dengan napas tersengal, bulir keringat pun terlihat di keningnya.
Kasihan dengan Nevan yang tampak kelelahan, Ervin pun memilih mengajak Nevan untuk duduk di salah satu sofa yang berada tidak jauh darinya. Nevan menurut dan mengikuti Ervin.
"Mana ibumu? Kenapa kamu di sini sendiri, hem?" tanya Ervin setelah melihat jika Nevan lebih tenang.
"Mama nanti sore baru menyusul ke sini," jawab Nevan jujur. Laras memang akan menyusul sore ini, sebelum mereka akan pergi berkemah esok hari.
"Papah, kenapa gak pernah nengokin kita?" tanya Nevan dengan wajah polosnya.
Mungkin kamu salah orang," ujar Ervin masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku gak salah kok. Aku pernah lihat foto Papa sama Mamah, itu ada di dompet dan buku di lemari Mamah." Nevan masih bersikukuh dengan keyakinannya.
"Mungkin itu hanya mirip, aku benar-benar tidak kenal dengan kamu dan ibumu. Bagaimana kalau aku antar kamu pada ibumu saja?" Ervin mulai tidak nyaman dengan keberadaan Nevan, apa lagi dia pun ada pertemuan lain sebentar lagi, tidak mungkin dia membawa Nevan bersamanya.
"Kepada Nevan Sky Alarik, ditunggu oleh adik Nessa di ruang informasi!" Suara dari pusat informasi terdengar menggema di seluruh koridor hotel, mengalihkan perhatian Nevan yang masih fokus pada lelaki yang dia yakini sebagai ayahnya.
"Astaga, Nessa!" seru Nevan sambil memukul keningnya sendiri dan segera beranjak berdiri dengan wajah terkejut.
"Tuh kan, kamu sudah dicariin, ayo aku antar kamu ke pusat informasi," ajak Ervin, sambil menghembuskan napas lega.
Nevan mengangguk, sambil segera berjalan mendahului Ervin. Rasa bersalah karena sudah meninggalkan Nessa sendiri di toilet membuatnya merutuki dirinya sendiri yang sudah berjanji akan membantu untuk menjaga adiknya pada sang ibu.
__ADS_1
"Nevan!"
Nevan tersenyum sambil mempercepat langkahnya ketika dia mendengar suara teriakan yang begitu dirinya kenal, bersamaan dengan kehadiran seorang anak kecil berhidung memarah dan mata berair, sepertinya baru saja menangis.
"Dasar jahat, kenapa kamu ninggalin aku, hah? Aku nyari kamu ke mana-mana tau," gerutu Nessa begitu mereka bersama dan kini dirinya berada di pelukan Nevan yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Maaf," jawab Nevan sambil terus mengelus punggung kecil adiknya, melihat wajah merah Nessa, membuatnya semakin merasa bersalah.
Sementara itu, Ervin yang melihat interaksi dua bocah kecil di depannya, tanpa sadar menyunggingkan senyum tulus. Hatinya tiba-tiba merasa hangat, oleh sikap keduanya yang terlihat saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.
"Kalian adik kakak?" tanya Ervin sambil kembali berjongkok di sisi kedua anak kecil itu.
Nessa yang mendengar suara laki-laki dewasa di sampingnya, langsung mengurai pelukannya pada Nevan dan melihat ke asal suara. Merasa asing, dia pun kembali mengalihkan perhatiannya pada Nevan dengan tatapan seolah sedang bertanya. Tidak biasanya Nevan bisa langsung akrab dengan orang baru.
"Kamu ingat foto di buku Mamah yang ditaruh di lemari?" tanya Nevan seolah tahu arti tatapan Nessa.
Nessa terdiam beberapa saat dengan kening berkerut, pandangannya pun tampak terus tertuju pada Ervin, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Oh iya, orang di foto itu sangat mirip sama om ini," ujar Nessa sambil melebarkan matanya, seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat besar.
"Apa om ini Papah kita?" sambungnya lagi, kini beralih kembali pada Nevan. Mata bulatnya tampak berbinar dengan penuh harap.
"Eum," angguk Nevan yang membuat Nessa melebarkan matanya kembali.
"Tidak, bukan-bukan ... aku bukan ayah kalian." Ervin langsung menyangkal, hingga membuat senyum Nessa yang awalnya mengembang begitu lebar kini redup kembali.
"Lain kali jaga anakanya baik-baik ya, Tuan. kasihan, tadi adik Nessa kebingungan di depan toilet sendiri." Seorang karyawan hotel tampak menghampiri sambil memperingatkan Ervin, sepertinya dia mengira jika Ervin adalah ayah, Nevan dan Nessa.
"Ugh, tapi saya bukan--" Ervin masih tetap mencoba untuk menyangkal, walau ucapannya kembali dipotong oleh karyawan itu hingga dia hanya terdiam.
"Twins bakpao!" teriakan seseorang membuat Ervin, Nevan, dan Nessa mengalihkan perhatiannya ke asal suara. Berbeda dengan Ervin yang tampak mengerutkan kening, Nevan dan Nessa malah tersenyum senang.
"Astaga, kalian ke mana saja heh? Kalau kalian hilang, bisa habis nanti aku sama ibu kalian, tau?" gerutu pria itu yang tak lain adalah Dion. Tampaknya Dion belum menyadari keberadaan Ervin di sana, karena terlalu fokus pada Nevan dan Nessa. Dia sangat terkejut ketika tidak mendapati kedua anak itu di ruang tunggu, hingga tergesa-gesa datang ke mari, ketika mendapat informasi tentang keberadaan dua anak kecil itu dari salah satu petugas hotel.
"Tuan Dion Atmadja?" gumam Ervin yang masih bisa terdengar oleh Dion, hingga pria itu mengalihkan pandangannya. Terkejut? Jangan ditanya, bahkan kini jantungnya berdebar begitu kencang, seolah baru saja bertemu dengan penagih hutang. Dia bahkan hampir kehilangan keseimbangannya. Sementara itu, Nevan dan Nessa hanya saling melirik memperhatikan kedua orang dewasa di depannya.
__ADS_1
"Uncle, ini papah kami kan?" tanya Nevan dan Nessa bersamaan, yang kembali membuat Dion semakin dibuat terkejut bukan main.
Bagaimana mereka bisa tahu? Aku harus menjawab apa kalau sudah begini?