Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.30 Janggal


__ADS_3

Laras mulai mengerjapkan matanya, walau sulit karena terhalang rasa pening yang sangat, wanita itu tak menyerah dan akhirnya kelopak itu terbuka, menampilkan mata indah yang sudah sekian lama tertutup rapat.


Suara berbagai alat yang dia sendiri tidak tahu namanya, menyapa indra pendengarannya untuk yang pertama kali. Dia edarkan pandangan walau seluruh tubuhnya terasa kaku, seolah ada yang mengikatnya.


Di mana ini? batinnya penuh tanya. Tabung infus, alat penunjang kesehatan dan berbagai benda yang dia tak tahu apa fungsinya terlihat hampir memenuhi setiap sisi ranjang yang di tempati.


"Euh ...." Laras meringis saat merasakan tangannya begitu berat, walau hanya untuk melepas alat bantu pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya.


"Aku ingin kembali. Aku mau menemui suamiku, tolong bantu aku, Bu." Ingatan tentang apa yang dia pilih ketika bertemu dengan Devina dan Maya kembali melintas. Tanpa terasa, air mata kembali menetes, dia bersyukur karena kini telah kembali ke dunianya.


"Ervin ...." Laras berusaha sekuat tenaga hanya untuk mengeluarkan suara lirih yang mungkin tak dapat terdengar oleh siapa pun.


Perhatian teralihkan ketika mendengar suara pintu terbuka. Refleks Laras menutup matanya kembali, merasa waspada. Langkah kaki yang terdengar lunglai diiringi hembusan napas lelah berulang kali, jelas terdengar oleh Laras.


Siapa kiranya? Laras tak bisa menebaknya untuk saat ini. Apa itu Ervin, Hendri, atau mungkin orang lain?


"Hai, Ras, selamat pagi." Seorang lelaki tampak duduk di samping ranjang Laras. Dia tatap wajah kurus dan pucat wanita yang masih asik menutup mata.


"Kamu gak mau ketemu aku apa, Ras? Ini udah tiga bulan lho kamu tidur. Bangun dong, Ras. Tidurnya jangan kelamaan, kasian sama anak kamu." Lelaki itu kembali berbicara sambil menundukkan kepala, pandangannya kini beralih pada perut Laras yang bahkan masih terlihat rata walau kandungannya sudah menginjak lima bulan.


"Kamu mimpi apa sih, Ras, sampe gak mau bangun? Bangun ya, kata dokter kalau sampe kamu gak bangun dan bayi kamu gak bisa mencapai berat sesuai usianya, itu bisa bahaya baginya. Kamu gak mau kan kalau bayi kamu kenapa-napa?"


Laras mengernyitkan keningnya, setelah merasa cukup mendengar suara lelaki itu, kini dia sudah yakin akan pemilik suara yang sejak tadi berbicara dengannya. Merasa jika dirinya kini berada di tempat yang aman, perlahan Laras mulai membuka matanya.


Lelaki yang sejak tadi hanya terlihat menatap nanar itu kini riak wajahnya tampak berubah penuh semangat, ketika melihat Laras mulai membuka mata. Dia berdiri, seolah ingin meyakinkan diri jika yang dia lihat bukanlah ilusi semata. Dia tatap lekat mata indah yang kini tengah balas menatapnya dengan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar, Ras? Kamu bangun?" tanyanya, dengan senyum yang mulai merekah. Raut bahagia terlihat jelas di wajahnya.


"Dion." Laras berguman lirih. Pandangannya terasa buram, terhalang air mata yang sudah menggenang. Dia tak menyangka jika kini bisa ada Dion di sampingnya.


Lalu, jika begitu, ke mana Ervin? Apa dia tahu kondisinya saat ini? Kenapa dia bisa bersama Dion? Berbagai pertanyaan mulai menguasai pikiran Laras. Ingin sekali dia meminta penjelasan dari Dion, tetapi begitu sulit rasanya hanya untuk menggerakan bibir dan mengeluarkan suara.


"Ah, syukurlah. Akhirnya kamu bangun juga. Aku seneng banget, Ras," ujar Dion lagi. Dia pun terlihat haru hingga bulir air itu kini membentuk kaca di matanya.


"Sebentar, aku panggilkan dokter dulu ya," sambungnya lagi sambil segera kembali ke luar dari ruangan sambil berteriak. "Bibi!"


❤‍🩹


Tak terasa, waktu terus berlalu. Seorang laki-laki jangkung dengan tubuh bak model terlihat berjalan di Bandara kedatangan internasional. Kaca mata hitam tampak bertengger, menambah tingkat ketampanan laki-laki dengan pakaian santai itu.


"Heem." Ervin. Ya, laki-laki itu tanpak mengangguk sambil menyambut pelukan sang wanita. Namun, kerutan di kening Ervin juga terlihat. Entah kenapa, hatinya terasa janggal dan asing dengan perlakuan wanita itu padanya.


"Aku kangen banget sama kamu, baby. Kenapa lama sekali pulangnya?" tanya sang wanita sambil bergelayut manja di tangan Ervin.


"Kamu kan tahu, Dedrik kecelakaan di sana. Dia bahkan masih koma sampai sekarang. Mana mungkin aku bisa meninggalkannya sebelum memastikan semuanya baik-baik saja," jawab Ervin sambil mengusap pelan rambut wanita itu. Matanya menatap lekat wajah wanita itu, ada sesuatu yang janggal, walau sekaligus terasa familiar.


"Eum, baiklah. Aku mengerti," angguk wanita itu walau suaranya terdengar lemas.


"Sudahlah. Yang penting, sekarang kan aku sudah ada di sini." Ervin menenangkan, yang disambut senyum manja wanita di sampingnya. Keduanya mulai berjalan menuju mobil terparkir.


Sampai di rumah, kerutan di kening Ervin kembali terlihat ketika mendapati para pelayanan dan penjaga sudah tak lagi sama, padahal dia hanya satu bulan berada di Texas. Tidak ada lagi pekerja di sana yang dia pertahankan sejak ibunya masih hidup. Kini, semuanya tampak asing.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, baby? Kenapa kamu mengganti semua pelayan dan anak buahku?" tanya Ervin dengan kening berketut dalam. Mereka yang ketika ada di saat dia terpuruk, kini tak satupun terlihat di rumah itu.


"Maaf, baby. Tapi bukan aku yang mengeluarkan mereka, mereka semua yang memilih untuk pergi dari rumah ini.


Kerutan di kening Ervin kembali telihat. Entah mengapa, sejak dia bisa melihat lagi, dirinya merasa ada yang janggal dengan Laras. Wanita itu terasa berbeda sekali dengan saat terakhir kali dia berbicara, ketika masih dalam keadaan pemulihan.


Ervin tak lagi berbicara, dia memilih meneruskan langkahnya menuju lantai dua.


"Mau ke mana, baby?" tanya wanita itu sambil berusaha menyusul Ervin yang sudah lebih dulu menaiki tangga.


"Aku lelah, mau mandi," jawab Ervin datar, dia terus meneruskan langkahnya dan langsung masuk ke kamar. Tujuannya kini adalah kamar mandi. Namun, langkahnya kembali terhenti, ketika dia melihat kamarnya yang sudah tampak berbeda.


Ada sebuah sofa dan meja di sana, padahal sebelumnya Laras tahu jika dirinya tidak suka kamar yang terlalu mempunyai banyak barang. Dia bahkan hanya menyediakan sebuah meja kecil dan kursi di dekat balkon, untuk Laras yang senang membaca. Namun, kini meja dan kursi itu malah sudah tidak ada.


"Ada apa, baby? Kamu tidak suka dengan kamar yang aku tata ulang? Sekarang kan kamu sudah bisa melihat, jadi aku menambahkan beberapa barang di sini dan membuang yang tidak perlu," ujar wanita itu sambil kembali berusaha bergelayut manja pada Ervin.


"Siapa yang mengizinkan kamu merubah dekorasi kamar ini tanpa persetujuanku, heh?" Ervin langsung melepaskan tangan wanita itu dan melangkah menjauh. Tatapannya begitu tajam hingga mampu membuat wanita itu ketakutan.


"A-aku hanya ingin kamu merasa lebih nyaman, baby," sanggah wanita itu, membela diri.


"Ck!" Ervin menatap Laras dengan ekspresi malas, kemudian lanjut berjalan menuju ke ruang walk in closet. Namun, lagi dan lagi, ditinya dikejutkan dengan barang-barang yang sudah berbeda dari sebelumnya.


"Apa-apaan lagi ini?" tanya Ervin dengan wajah menahan kesal. Dia ingat jelas, bagaimana warna dan rupa lemari dan semua perabotan yang ada di sana, bahkan susunan dan letak baju-bajunya dan Laras, masih dia tahu pasti. Namun, kini semuanya sudah berubah.


"Siapa kamu sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2