
"Laras!"
Laras menghentikan langkahnya ketika sebuah panggilan dengan suara yang familiar masuk ke telinganya. Namun, begitu dia tahu siapa yang kini berjalan menghampirinya, matanya pun melebar sempurna, dengan wajah yang terkejut sangat kentara.
"Dion?" gumam Laras. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu cepat. Wajahnya pun terlihat pucat, dengan mata bergerak tidak tenang.
Para karyawan yang mendengar teriakan Dion ikut mengalihkan perhatian, hingga kini mereka pun ikut menyaksikan pertemuan keduanya. Terkejut? Tentu, mengingat mereka tahu jika Laras adalah istri dari Ervin. Namun, kini ada seorang karyawan memanggilnya dengan langsung menyebut nama saja.
"Lama gak ketemu, Ras. Apa kabar?" tanya Dion, hanya basi-basi. Senyum di wajahnya tampak sangat merekah. Binar matanya, menandakan jika lelaki itu bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya.
"Aku baik. Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Laras dengan gerakan sedikit waspada. Wanita itu bahkan membawa kakinya satu langkah menjauh dari Dion.
"Aku kerja di sini, Ras," jawab Dion masih tersenyum senang.
"Akhirnya aku ada kesempatan juga ketemu sama kamu, Ras. Kamu ada acara gak nanti siang? Gimana kalau kita makan siang bareng? Aku kangen banget sama kamu, Ras. Sejak menikah, kamu sulit sekali ditemui, padahal aku udah kerja di kantor yang sama," ujar Dion. Laki-laki itu mencoba untuk mendekati Laras, tetapi Laras terus menghindar, hingga Dion memilih mengalah.
"Maaf, Dion. Tapi, seperti yang kamu tau, sekarang aku sudah memiliki suami. Aku juga sibuk dengan pekerjaanku," ujar Laras dengan sangat hati-hati.
Semoga aja dia mengerti kalau aku tidak mungkin bisa berdekatan lagi denganya. Jika saja Roland tahu tentang kami, itu bisa menjadi bahan maslah untuk kami selanjutnya. Jadi, lebih baik mereka tidak mengelanya, daripada Dion akan ikut terkena bahaya karena aku, batin Laras.
Bukan dia ingin bersikap sombong dan menghindari Dion, tetapi dirinya juga tidak punya pilihan lain. Laras lebih baik dianggap sombong oleh teman-temannya, daripada melihat mereka harus terlibat dalam prahara pelik keluarga suaminya. Laras sudah memutuskan untuk berada di samping Ervin, maka dia juga harus rela menerima apa pun konsekwensinya.
"Tapi, dia hanya memanfaatkan kamu, Ras. Suami kamu itu tidak benar-benar mencintai kamu, dia hanya ingin memanfaatkan kamu untuk mengurus perusahaannya." Dion masih tetap dalam keyakinannya.
"Kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku mohon, jangan ikut campur dalam kehidupan kami. Dia adalah suamiku, dan kami sudah memutuskan untuk bersama. Aku mohon, mengertilah. Aku tidak mau hubungan kita rusak. Aku tidak mau kehilangan teman sepertimu, Dion." Laras masih mencoba untuk memberi pengertian pada sahabatnya itu.
"Aku hanya tidak mau kamu dimanfaatkan sama dia, Ras," lirih Dion. Dia menundukkan kepalanya. Sakit rasanya, ketika diria harus mendengar wanita yang telah lama dia cintai kini lebih membela laki-laki lain.
"Aku mengerti. Terima kasih karena kamu masih perhatian sama aku, Yon. Tapi, kami sudah berumah tangga. Sudah kewajibanku untuk membantu suamiku dan mendampinginya dalam keadaan apa pun. Itu juga yang sekarang sedang aku lakukan, Dion. Membantu suamiku yang sedang dalam keadaan terpuruk. Aku mohon, mengertilah." Laras tersenyum tipis. Dia menatap wajah sendu Dion dengan perasaan iba. Sungguh, Laras tak pernah bermaksud untuk mempermainkan laki-laki baik itu. Namun, sejak awal dia hanya mengangap Dion sebagai teman. Tidak kurang atau lebih.
__ADS_1
"Tidak, Ras. Kamu tidak mengerti. Kamu masih belum tau bagaimana sebenarnya mereka menganggap kamu."
Laras menghembuskan napasnya pelan. Sulit memang jika berbicara dengan Dion, ketika laki-laki itu sudah memiliki pendiriannya sendiri.
"Sebaiknya kamu kembali sama orang tua kamu, Dion. Aku tau, kamu tidak membutuhkan pekerjaan di kantor ini. Jangan buang waktumu untuk mencampuri hubungan orang lain."
Laras berbalik dan berjalan pergi setelah mengatakan semua itu. Sungguh, dia takut akan lebih menyakiti hati Dion, jika dirinya terus meladeni keras kepala sahabatnya. Sudah cukup selama ini, Dion banyak membantunya. Sekarang, Laras akan mengatasi semuanya sendiri, termasuk masalahnya dan Ervin.
"Maaf, Dion."
❤🩹
Bulan berlalu begitu saja, kebahagiaan karena sebuah kebersamaan pun terasa begitu cepat melalui waktu, hingga tanpa terasa usia penikahan pun semakin bertambah. Kini, Laras sudah mulai terbiasa dengan aktivitas kantor bersama kesibukan yang mengisi setiap harinya. Hubungannya dengan Ervin pun semakin membaik, begitu juga dengan semangat hidupnya yang kini terus meningkat.
"Baby, bukannya hari ini kamu ada pertemuan dengan klien? Cepatlah bersiap, urusan di kantor, biar aku yang tangani," ujar Ervin sambil membaca berkas yang sengaja dicetak dengan huruf braille.
Ervin mengangguk sebagai jawaban. Laki-laki itu, kini sudah aktif kembali di perusahaan, walau kini dia hanya berada di belakang Laras. Namun, Ervin sudah cukup senang dengan semua itu. Hidupnya kini kembali berwarna dengan keberadaan sang istri di sampingnya.
"Aku pergi bersama Herdi saja, kalau kamu butuh sesuatu panggil saja Emma," pesan Laras. Mengambil tangan Ervin kemudian menciumnya.
"Heem. Hati-hati, baby," jawab Ervin sambil tersenyum lembut. Kecupan ringan pun dia berikan di pelipis wanitanya.
"Iya. Kamu juga, hati-hati di sini, ya. Setelah rapat selesai, aku langsung kembali, kok." Laras tersenyum, walau itu tak akan sampai pada sang suami. Rasa syukur dalam hatinya semakin bertambah, ketika melihat semangat yang selalu bertambah dari suaminya.
...❤🩹...
"Nyonya, saya sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Tuan."
Laras melebarkan matanya, ketika suara penuh semangat dari Dedrik menyapa telinganya. Sungguh, itu adalah kabar gembira yang bahkan tidak pernah lagi terpikir olehnya.
__ADS_1
"Beneran, Pak? Tuan akan segera mendapatkan seorang pendonor?" tanya Laras dengan wajah berbunga. Tiba-tiba saja, jantungnya berpacu, karena kebahagiaan yang membuncah.
"Iya, Nyonya. Saya Harap Tuan segera terbang ke sini, untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dan persiapan melakukan oprasi penerimaan donor."
"Baiklah, aku akan segera memberitahu Tuan. Dia pasti akan sangat senang dengan kabar ini," angguk Laras.
Sementara itu, Herdi yang masih menyetir pun terlihat ikut tersenyum saat samar telinganya mendengar pembicaraan Laras dan Dedrik.
Tak sabar untuk memberitahu kabar bahagia. Laras berjalan terburu-buru menuju ke ruangannya, di mana Ervin kini berada. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah suara terdengar memanggil namanya.
"Nyonya Laras!"
Laras tampak menatap salah seorang petinggi perusahaan yang terlihat berjalan tergesa menghampirinya.
"Ada apa?" Tanyanya kemudian.
"Gawat, Tuan Herlambang yang telah meninggal seminggu yang lalu, kini mengalihkan semua asetnya pada anak perempuannya." Laki-laki yang dia tahu cukup kompeten dalam pekerjaannya itu tampak tersengal, hingga suaranya pun terdengar tidak stabil.
"Pelan-pelan saja, tarik napas dulu," ujar Laras, mencoba menenangkan.
"Lalu, kenapa kalau semua asetnya dipindahkan pada anaknya? Bukankah itu wajar? Apa masalahnya bagi kita?" tanya Laras, setelah melihat laki-laki berusia pertengahan empat puluh tahunan itu sudah lebih tenang.
"Masalahnya, anak perempuan Pak Herlambang ingin menarik semua investasinya pada perusahaan kita."
Laras melebarkan matanya ketika mendengar semua itu. Keadaan keungan perusahaan yang belum stabil karena bencana kebarakaran beberapa bulan lalu, tidak akan berimbas baik jika salah satu investor terbesar menarik dananya. Itu sungguh, kabar yang buruk.
"Baiklah, nanti aku cari solusinya. Sekarang kamu boleh kembali," ujar Laras. Setelah pembicaraan singkat itu, Laras pun meneruskan langkahnya menuju ruangannya, walau dengan pikiran yang kembali kalut.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
__ADS_1