
Sebulan berlalu, kondisi kesehatan Papi kini sudah pulih sepenuhnya. Esok lusa, Laras dan kedua anaknya berencana untuk kembali ke Selandia Baru.
"Sudah siap?" tanya Ervin begitu dia melihat Laras menghampirinya.
Hari ini, Ervin mengajak Laras, Nevan dan Nessa ke pantai, di mana dulu Laras membawa Ervin ketika masih belum bisa melihat.
"Eum," angguk Laras. Wanita itu tampak cantik walau hanya memakain kemeja warna putih dengan celana denim sebagai pelengkapnya. Bentuk tubuhnya yang ramping, membuatnya tampak tidak seperti wanita yang sudah memiliki dua anak kembar.
"Ayo kita berangkat." Nessa langsung bangun dari duduknya lalu bersiap untuk berjalan dengan Nevan mengikuti di belakangnya.
"Ayo," ajak Ervin, mempersilahkan Laras berjalan lebih dulu.
Laras tersenyum lalu mulai melangkah lebih dulu, sementara Ervin mengiringinya. Mereka berpamitan lebih dulu pada papi dan mami sebelum berangkat.
Ervin mendahului langkah Laras ketika mereka sudah sampai di depan pintu mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Laras, lalu membantu kedua anaknya untuk naik ke mobil.
Laras sempat terdiam, ketika Ervin membukakan pintu depan untuknya, sementara selama ini yang dia tahu, Ervin selalu memaki sopir.
"Hari ini, aku sendiri yang akan menyetir untuk kalian semua," ujar Ervin, seolah tahu apa yang ada di pikiran Laras.
Laras menanggapi dengan anggukan samar, lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki mobil milik mantan suaminya itu. Sementara Ervin meletakan salah satu tangannya di sisi pintu bagian atas, memastikan jika kepala Laras tidak akan terkantup.
"Terima kasih," ujar Laras sambil kembali menatap wajah Ervin. Lelaki itu tampak tersenyum, sebelum menutup pintu mobilnya dengan sangat hati-hati, lalu berjalan memutar untuk mencapai pintu kemudi.
Perjalan mereka riuh dengan ocehan si kembar yang asik menatap ke luar dan mengomentari apa pun yang terlihat menarik untuk keduanya. Sementara itu, Ervin dan Laras sesekali menimpali ocehan dua anak itu, hingga suasana perlahan mulai mencair.
Ingatan Laras tiba-tiba teralih pada ucapan Dedrik, ketika mereka sempat bertemu tanpa sepengetahuan Ervin, beberapa hari lalu.
"Tuan tidak pernah salah mengenali Nyonya. Dia hanya bingung karena keterbatasannya." Dedrik membuka pembicaraan serius mereka, setelah sebelumnya saling menyapa.
Laras tentu dibuat heran dengan ucapan Dedrik. Dia tentu tahu jika saat itu Ervin tak mengenalinya. Bahkan Laras masih ingat ketika Ervin memuji Laras palsu di depannya.
"Apa maksud, Bapak? Bagaimana mungkin Bapak bisa berbicara begitu, sedang Bapak sendiri tidak ada di sana?" tanya Laras dengan raut tak terima.
"Maafkan saya, Nyonya. Saat itu saya mengalami kecelakaan, hingga tidak bisa membantu Nyonya. Tapi, saya jelas tahu jika Tuan Muda mengenali wangi dan suara Nyonya ketika kalian bertemu. Bahkan hatinya tidak pernah menghianati cintanya," jawab Dedrik.
"Selama satu tahun saya koma dan Tuan Muda tetap dalam kebingungannya. Dia bahkan tidak pernah menyentuh wanita itu. Seberapa banyak bukti dan usaha mereka untuk meyakinkan Tuan muda, mereka tidak pernah berhasil sepenuhnya."
Laras terdiam, ketika berbagai ucapan dan bukti tentang kesetiaan Ervin padanya, juga perjuangan lelaki itu selama ini, terkuak satu per satu melalui Dedrik. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena tak pernah menjelaskan langsung dan mengungkapkan jati dirinya di hadapan Ervin langsung enam tahun lalu.
__ADS_1
Dia malah berspekulasi sendiri dan menuduh Ervin telah melupakannya. Tanpa mengetahui dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Laras menuduh Ervin memanfaatkan dirinya karena kemiskinan dan memilih untuk pergi tanpa berusaha bertanya lebih dulu.
"Ye, kita sudah sampai pantai! Wah, pantainya bagus banget!" Nessa berteriak riang, begitu mobil mulai melaju di pesisir pantai. Pemandangan hamparan laut yang dipadukan dengan suara debur ombak, langsung memanjakan mata sekaligus telinga begitu mereka sampai di area pantai.
Laras terperanjat, dia edarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata mereka memang sudah sampai di pantai. Pantai yang cukup berkesan untuknya.
Ervin menghentikan mobilnya, tepat di depan sebuah restoran yang besar di area pantai. Restoran itu menyatu dengan resort yang ada di sampingnya.
"Kenapa melamun?" tanyanya, sebelum beranjak ke luar. Ternyata sejak tadi Ervin memperhatikan Laras yang duduk diam dengan pandangan kosong.
"Heh? E-enggak ... engak papa kok," jawab Laras sambil menggeleng pelan.
"Ya sudah, ayo kita turun, kasihan anak-anak udah gak sabar," ujar Ervin sambil mengelus pelan punggung tangan Laras dan melirik ke arah Nessa dan Nevan di kursi belakang.
"Eum," angguk Laras. Dia pun melepas sabuk pengaman lalu bersiap turun dari mobil.
Dari arah dalam restoran, seseorang tampak menghampiri mereka dengan langkah cepat dan wajah gembira. Laras mengernyitkan kening, dia merasa tidak asing dengan orang itu. Tapi, siapa dan di mana dia pernah melihatnya?
"Hai, Vin. Akhirnya lo dateng juga ke sini," ujar lelaki dengan wajah khas warga negara tirai bambu.
"Key, apa kabar, lo?" Ervin bersalaman dengan teman lamanya, sekaligus mantan rivalnya itu.
"Gue baik. Lo sendiri? Sepertinya sekarang lo udah baik-baik aja, ya," ujarnya sambil tersenyum menggoda dan melirik Laras juga Nevan dan Nessa.
"Yah, gue kira lo ke sini dalam rangka rencana memberi adik pada dua anak manis ini." Key mencubit pelan kedua pipi Nevan dan Nessa yang malah meringis tidak suka.
Evan tersenyum, mulut sahabatnya itu memang suka lupa dijaga jika sudah bertemu dengannya.
"Gak boleh lho, Om, pegang-pegang sembarang begitu. Gak sopan," cetus Nessa sambil mengusap pipinya. Anak kecil itu bahkan sampai meminta tisyu basah dari Laras, demi menghilangkan bekas tangan Key.
"Ah, iya cantik. Maafin Om ya." Bukannya marah dengan ucapan Nessa, Key malah merasa gemas pada NessaNessa. Dengan santainya dia kembali menyentuh pipi anak itu, hingga Nessa memekik kesal.
"Om! Aku gak suka dipegang mukanya. Itu kotor," ujarnya dengan mulut manyun, dan pipi yang semakin menggembung.
"Habis, pipi kamu lucu sih, kayak bakpao, bikin Om gemes. Pengen gigit," ujar Key malah semakin menggoda Nessa.
"Mah, ayo kita pergi dari sini, Om ini kanibal. Dia mau makan Nessa." Nevan langung berdiri di depan Nessa dengan wajahnya yang dingin. Matanya menatap tajam Kiyoshi, seolah ada api permusuhan di sana.
"Sudahlah, Key. Kamu ini, kenapa malah menggoda anakku begitu." Ervin akhirnya membuka suara, ketika sudah melihat reaksi serius anak-anaknya.
__ADS_1
Tawa Kiyoshi pecah, dia memang suka menggoda anak kecil, rasanya ada yang kurang jika tidak membuat anak kecil itu menangis karenanya.
"Maaf-maaf, anak-anak kamu lucu banget sih, Vin," jawab Kiyoshi masih disela kekehan tawanya.
"Ayo, masuk-masuk, gue udah siapin menu spesial untuk kalian semua," sambung Key lagi.
...❤🩹...
Laras duduk di hamparan pasir, dia tak selera bermain air bersama dengan kedua anaknya, terlebih di sana ada Ervin yang membersamai mereka. Wanita itu memutuskan untuk melihat sambil menikmati semilir angin pantai siang menjelang sore hari itu.
"Mah, ayo ikut main ke sini!" Teriakan Nessa terdengar. Anak itu melambaikan tangan, mengajak Laras untuk bergabung dengan mereka.
Laras tersenyum sambil menggeleng. "Kalian saja, Mamah liat dari sini."
Ervin yang melihat Laras terus menolak, tiba-tiba memiliki ide agar wanita itu mau bergabung dan bermain bersama dengan mereka. Dia pun membagi tugas dengan anak-anaknya yang juga menanggapi dengan antusias.
"Ayo." Kode dari Ervin membuat kedua anak itu berlari sekencang mungkin dengan memebawa pasir basah dalam genggaman mereka.
"Mamah kalah! Sekarang mamah harus ikut main sama kita!" teriak Nessa dan Nevan sesaat setelah mereka berhasil melempar pasir basah ke tubuh Laras.
"Eh, kalian ini ya. Kotor kan baju mamah," protes Laras sambil bangkit secepat mungkin dan berlari mengejar kedua anaknya yang sudah kabur duluan.
Tawa riang Nevan dan Nessa pun terdengar begitu riang, hingga tak ayal mampu menularkan rasa bahagianya pada siapa pun yang melihatnya.
"Papah, awas ada mamah!" teriak mereka di sela tawa yang semakin keras terdengar. Lari kaki kecil mereka pun semakin kencang dan berakhir dengan menubruk tubuh Ervin yang masih menunggu di bibir pantai.
"Awas ya, kalian!" Laras mencipratkan banyak air kepada kedua anaknya yang menempel pada Ervin, hingga tanpa sadar, Ervin pun terkena cipratan itu.
"Ayo lari, Pah! Lari!" Teriak Nevan yang melekat erat di punggung Ervin, sementara Nessa berada di perut Ervin.
"Ah, kalian curang. Kenapa jadi pada manjat di tubuh papah?" keluh Ervin yang sudah hampir kehabisan napas akibat menghindari cipratan air laut dari Laras sambil menggendong kedua anaknya.
Permainan kejar-kejaran itu pun berakhir dengan tubuh Ervin yang tumbang di atas pasir dengan tangan yang masih menahan kedua tubuh anaknya. Ervin terbaring lemas dengan napas terengah.
"Ayo kubur tubuh Papah dengan pasir!" teriak Nevan sambil beranjak dari tubuh Ervin dan mulai mengambil pasir basah itu, lalu memindahkannya ke atas kaki Ervin.
Ervin tak menolak, lelaki itu kini bersikap pasrah, sementara Laras yang juga merasa cukup lelah hanya duduk di samping Ervin sambil mengatur napasanya yang juga terasa memburu.
Ervin menatap wajah Laras dari samping. Sekian lama dia bisa melihat Laras, baru kali ini dia melihat senyum dan tawa lepas wanita itu. Entah mengapa, ada rasa bahagia di dalam hatinya, ketika melihat itu.
__ADS_1
Tatapannya beralih pada lengan Laras yang kini berada tidak jauh dari pinggangnya. Perlahan dia beranikan diri untuk menyentuhnya.
Laras terperanjat ketika merasakan sentuhan hangat dari lengan Ervin. Dia menoleh cepat hingga tanpa sadar kedua iris mata mereka bertemu. Deg! Debar jantung Laras meningkat pesat. Begitu juga Ervin, perasaan lelaki itu tak jauh beda dengan Laras.