
"Kamu sudah melakukan rencananya?" tanya seseorang dari sambungan telepon.
"Sudah. Sepertinya, segera kita akan menerima hasilnya," jawab Roland dengan senyum sinis di wajahnya.
"Bagus, lanjutkan rencana ini, ajak wanita itu bekerja sama dengan kita."
"Iya." Roland mengangguk mantap, lalu menutup telepon setelah membicarakan beberapa hal lain dengan seseorang di seberang sana.
"Kamu pikir semuanya selesai, setelah kamu menemukan pendonor untuk tuan mudamu itu?" Roland berdecih sinis, seolah di depannya ada Dedrik.
"Tidak semudah itu, laki-laki tua. Aku tidak akan melepaskan kalian dengan mudah dan membiarkan dia bahagia," sambung Roland lagi yang dilanjutkan tawa terbahak.
...❤🩹...
Ervin mulai merasa janggal ketika dia tak juga mendapat pesan dari Laras, padahal kini waktu sudah mulai sore. Biasanya, Laras akan memberikannya pesan suara di setiap kegiatannya, dimulai dari ketika dia bangun pagi, berangkat ke kantor, atau bahkan makan siang. Semalam, wanita itu bahkan tak dapat dihubungi hingga keduanya tidak bisa melakukan sambungan telepon sebalum tidur.
"Apa belum ada kabar juga dari istriku?" tanya Ervin lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama pada anak buahnya yang bertugas untuk menjaganya di rumah sakit.
"Belum, Tuan muda," jawab laki-laki itu dengan suara yang masih terdengar datar.
Ervin kembali menghembuskan napas lelah. Ingin sekali dia lepas perban di matanya saat ini juga lalu kembali ke Indonesia secepatnya. Perasaannya terus resah sejak kemarin, entah apa yang terjadi dengan istri tercintanya.
Ervin sudah menyuruh penjaganya untuk mencari tahu apa yang terjadi di kediamannya, mereka bilang Laras sedang pergi ke luar kota karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Namun, itu tak membuatnya merasa tenang. Ervin masih khawatir pada istrinya.
"Sebenarnya kamu ke mana, baby?" gumam Ervin dengan wajah penu sesal dan tak berdaya.
...❤🩹...
"Selamat Tuan muda, Anda sudah bisa melihat lagi sekarang," ujar Dedrik dengan senyum sumringah di wajahnya.
Ervin tersenyum hambar. Dia bersyukur karena ternyata oprasinya berjalan dengan lancar, dia bahkan sudah dapat melihat walau belum terlalu jelas. Menurut dokter, itu akan lebih baik seiring waktu, mengingat anggota tubuh baru juga membutuhkan adaptasi untuk terbiasa di dalam tubuhnya.
"Apa Laras masih belum ada kabar?" Pikirannya benar-benar tak bisa lepas dari sang istri. Dia tak bisa lagi bersabar, setelah beberapa hari ini wanita itu benar-benar hilang bak ditelan bumi.
"Maaf, Tuan muda, saya benar-benar belum bisa menghubungi Nyonya dan Herdi," jawab Dedrik dengan wajah setenang mungkin.
"Nak, apa kamu sudah sembuh? Kamu bisa melihat lagi sekarang?"
Suara seseorang mengalihkan perhatian Ervin dan Dedrik, keduanya langsung menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh ke arah pintu masuk, di mana seseorang yang tengah duduk di kursi roda sedang di dorong masuk, menghampiri mereka.
__ADS_1
"Tuan besar?" gumam Dedrik sambil membungkuk hormat, lalu berjalan mundur dua langkah, demi memberikan kesempatan Alfredo untuk mendekat.
Ervin tak menjawab. Sebaliknya, laki-laki itu malah mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Terlebih, dia dapat melihat dengan siapa sang ayah datang. Sungguh, pemandangan yang sangat menyebalkan.
"Oprasinya berhasil, sekarang Tuan muda sudah dapat melihat seperti sebelumnya, walau masih butuh waktu untuk memaksimalkan pengobatan ini. Untuk sementara, Tuan muda masih berada dalam pemantauan dokter." Dedrik menjelasakan apa yang terjadi pada Ervin, sebagai ganti dari tuan mudanya.
"Syukurlah. Jadi, kapan kamu dibolehkan pulang? Pulanglah ke rumah, selama kamu masih menjalani pengobatan. Kami pasti akan sangat senang." Wanita paruh baya di belakang Alfredo pun ikut serta berbicara.
Ervin masih diam. Jangankan untuk menyapa, melihat kedua paruh baya itu saja sudah sangat memuakan. Bukan mereka yang dia inginkan untuk di lihat pertama kali. Bukan mereka yang dia inginkan hadir di hari ini.
Laras. Wanita itu yang Ervin rindukan. Wajah wanita itu yang dia ingin lihat untuk pertama kalinya, dan wanita itu yang dia inginkan berada di sini saat ini.
...❤🩹...
...Di tempat lain.... ...
Laras tampak berdiri di sebuah padang rumput ilalang yang sangat amat luas.
"Ada di mana ini?" gumam Laras. Pandangannya mengedar, mencari seseorang yang mungkin ada di sana. Namun, dia tidak menemukan siapa pun. Jangakan seseorang, bahkan ujung dari padang ilalang itu pun tak terlihat di pandangan.
"Halo, apa ada orang di sini?" Laras memanggil sambil terus berjalan menyusuri padang ilalang yang begitu lebat. Telinga dan matanya fokus, berharap mendapati suara yang akan menjawabnya, atau wujud seseorang yang mungkin dapat membantunya.
"Sebenarnya aku ada di mana? Kenapa tidak ada orang di sini?" tanyanya lagi dengan rasa putus asa yang hampir mengusai pikirannya. Laras memejamkan matanya sambil memilih untuk duduk, tenggelam dalam hamparan ilalang.
Namun, begitu Laras membuka mata, dia kembali dikejutkan ketika, melihat suasana di sana kini sudah berubah. Bukan lagi ilalang yang terlihat. Saat ini, dia dikelilingi dengan hamparan bunga yang begitu indah dan tertata, bagaikan taman yang dirawat dengan sangat sempurna.
"Larasati."
Sebuah suara lembut dan membuai, terdengar menyapa telinganya. Bersamaan dengan itu, angin terasa menerpa tubuhnya, seolah memberikan belaian dan pelukan yang terasa menenangkan. Perlahan, Laras memutar tubuhnya, mencari asal suara yang ada di belakngnya.
Dua orang wanita cantik tersenyum begitu lembut dan tulus. Tanpa terasa, bulir bening mengalir begitu saja. Laras terjingkat, dia bahkan tak tahu alasan air mata itu jatuh begitu saja, ketika matanya menatap kedua wanita yang kini berdiri di depannya.
"K-kalian siapa?" Laras berujar terbata, suaranya tercekat hingga sulit untuk berbicara.
"Kami adalah ibumu," jawab wanita bergaun putih bersih dan tiara kecil sebagai hiasan di puncak kepala. Mereka saling menatap satu sama lain, sebelum kemudian tersenyum pada Laras.
"Ibu?" Laras bingung. Bagaimana mungkin dirinya yang seorang yatim piatu dari sejak bayi, kini tiba-tiba saja memiliki dua orang ibu. Tidak masuk akal.
"Iya, kami adalah ibumu," angguk keduanya bersamaan.
__ADS_1
Laras mencoba mencari ingatannya dengan mata tak lepas dari wajah kedua wanita di depannya. Beberapa waktu dia butuhkan, hingga akhirnya Laras bisa mengingat salah satu diantara mereka.
"Bukankah, Anda adalah Bunda Devina?" tanya Laras dengan wajah linglung. Seingatnya, bunda dari Ervin itu sudah meinggal sejak sebelum mereka menikah. Dia bahkan hanya beberapa kali melihat potretnya yang tergantung di dinding.
Wanita dengan baju putih kebiruan itu terlihat tersenyum haru, lalu mengangguk dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Lihatlah, Maya, anakku sudah mengingatku," ujarnya penuh haru pada wanita di sebelahnya.
"Eum. Sepertinya aku iri sekarang," jawab wanita berbaju putih bersih dengan wajah yang tampak merajuk dan sedikit kesal.
"Tunggu dulu. Bukankah, Bunda Devina sudah meninggal? Lalu, kenapa sekarang aku bisa bertemu dengan kalian? Apakah aku juga sudah meninggal?" tanya Laras yang sudah tak tahan lagi dengan semua yang terasa membingungkan ini.
"Lalu, Anda siapa? Kenapa Anda mengaku sebaga ibu saya? Seingat saya, saya sama sekali tidak mengenal atau bertemu dengan Anda sebelumnya?" tanya Laras lagi, kini beralih pada wanita bergaun putih bersih.
"Dia ibumu. Ibu yang sudah melahirkan kamu hingga mengorbankan nyawanya senidiri hanya untuk mempertahankan kamu, Laras." Wanita dengan gaun putih kebiruan menjawab, seolah sedang menjelaskan.
"Ibu kandungku? Mengorbankan nyawa?" gumam Laras sambil menatap kedua wanita di depannya bergantin.
Melihat wajah Laras yang masih tampak kebingungan, Devina dan Maya mulai menceritakan tentang kebersamaan mereka dan kehidupan keduanya sebelum meninggal.
"Kami adalah sahabat sejak kecil. Saking dekatnya, kami sudah seperti dua orang saudara kembar. Semuanya kami lakukan bersama, bahkan sekolah pun selalu di tempat yang sama--" Devina menceritakan semuanya pada Laras.
"Namun, semuanya hancur ketika Maya mengalami musibah. Dia diperkosa oleh laki-laki mabuk yang bahkan tidak pernah diketahui asal usulnya hingga hamil. Karena memilih mempertahankan kandungannya, Maya diusir dari rumah dan keluarganya."
"Hanya Devina yang masih menerimaku waktu itu. Dia menyembunyikanku di salah satu apartemen miliknya dan merawatku dengan sangat baik. Namun, masalah tak sampai di situ, karena saat aku melahirkan teryata keluargaku mengetahuinya dan akhirnya membawamu dariku. Aku pun meninggal di hari yang sama." Kini giliran Maya yang bercerita.
"Maaf, Ibu. Aku tidak tau. Aku adalah anak yang tidak berguna ... aku bahkan hanya memberikan kesengsaraan bagimu, tapi kenapa Ibu masih mempertahankan aku?" tanya Laras di sela tangisnya yang sudah pecah dari tadi.
"Karena Ibu sangat menyayangi kamu, Nak. Kamu bagaikan sebuah kekuatan yang membawa ibu untuk bertahan dalam semua kehancuran."
Tangis Laras semakin kencang. Dia tak pernah tahu jika dirinya memiliki seorang ibu yang sangat baik dan penuh kasih sayang seperti Maya. Wanita itu terus menggumamkan kata maaf sambil emmeluk kedua ibu yang baru saja ditemuinya. Ibu yang bahkan tak dapat dia rasakan sebelumnya.
"Kalau kalian ada di sini karena sudah meninggal. apakah sekarang aku juga sudah meninggal?" tanya Laras lagi dengan wajah polos, walau air mata terlihat masih menggenang di pelupuk mata.
Tidak! Dia tidak mau meninggal sekarang. Laras memang ingin lebih lama berada di dekat dua bidadarinya itu, tetapi dia juga ingin Ervin dapat melihat wajahnya. Laras ingin bahagia bersama dengan laki-laki yang paling dicintainya.
"Tidak, Nak. Kamu masih memiliki kesempatan untuk kembali. Semua bergantung padamu sekarang. Ingin kembali pada duaniamu di sana, atau tetap di sini bersama kami?"
Laras bimbang, dia sudah merasa nyaman dengan kasih sayang dua wanita itu. Kasih sayang yang selama ini menjadi sebuah impian untuknya. Namun, dia juga ingin kembali menemui Ervin dan memberitahunya kalau saat ini dia sedang mengandung anak mereka.
__ADS_1
"Apa aku bisa lebih lama berada di sini?"