
“Dion?” gumam Laras sambil melihat laki-laki muda itu. Dion adalah sahabat dekatnya di kampus, mereka sering mengerjakan tugas bersama.
“Pak, tolong berhenti dulu,” sambung Laras lagi pada sopir, yang langsung diangguki oleh sopir itu.
“Ada apa, Yon?” tanya Laras pada laki-laki yang kini tampak berdiri di sampingnya.
“Jangan pergi, Ras. Gue suka sama lo, lo gak boleh nikah sama cowok lain selain gue,” ujar Dion tiba-tiba.
Laki-laki itu hendak meraih tangan Laras, tetapi Laras langsung menghindar dan mundur satu langkah sambil berujar pelan “Maaf, Yon. Ini sudah menjadi keputusanku.”
“Tapi, lo gak kenal siapa cowok itu! Gimana kalau ternyata dia orang jahat? Gue gak rela lo nikah sama dia, Ras.” Dion masih saja mencoba menahan Laras.
“Maaf, Yon. Lebih baik kamu segera melupakan aku. Kamu orang baik, aku yakin kamu bisa menemukan gadis yang lebih baik dari aku.” Laras kembali masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan semua itu.
“Tapi, Ras ... Laras!” Dion tak bisa lagi menghentikan mobil yang membawa Laras. Dia hanya bisa menatap nanar kepergian gadis yang selama ini sangat dia cintai dalam diam. Penyesalan pun mulai merasuk ke dalam hatinya, karena tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan memilih terus menunda, hingga semuanya terlambat.
“Aku tidak akan pernah merelakan kamu, Ras. Meskipun kamu sudah menjadi istri orang lain, tapi nama kamu akan selalu ada di dalam hatiku.”
...❤️🩹
...
Sekitar satu jam perjalanan dari panti asuhan, mobil yang ditumpangi Laras pun akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang berbahan besi yang menjulang sangat tinggi. Hingga, beberapa saat kemudian Laras melihat gerbang itu terbuka dengan bantuan remot control.
Mobil kembali melaju dan mulai memasuki sebuah pelataran mewah, jalan yang besar dengan banyak pohon di kedua sisinya tampak terlihat sangat indah. Laras bahkan merasa seperti sedang memasuki sebuah negeri dongeng ketika melihat keindahan di balik pagar yang menjulang tinggi.
Berkali-kali Laras berdecak kagum dengan keindahan yang disajikan di sepanjang perjalanannya menuju kediaman rumah besar, tempatnya menikah beberapa saat lagi. Hingga, matanya dibuat terpana ketika mobil mulai bergerak mendekati sebuah rumah besar dengan nuansa Eropa pertengahan yang didominasi dengan warna putih. Pilar-pilar besar tampak menjulang tinggi, menopang bangunan besar yang terlihat sangat indah dipandang mata.
Mobil perlahan berhenti tepat di depan pintu utama rumah. Seorang laki-laki tampak membuka pintu mobil setelahnya dan membantu Laras untuk turun dari mobil. Sementara itu, beberapa orang ikut membantu membereskan gaun yang dia pakai ketika dirinya sudah berdiri di sisi pintu mobil yang tertutup rapat.
Laras tersenyum tipis ketika melihat Dedrik berjalan dari dalam rumah dan menghampirinya dengan senyum mengembang. Dia kemudian berhenti dengan jarak sekitar dua meter darinya lalu membungkukkan tubuh sembilan puluh derajat di depan Laras, hingga membuat wanita itu kebingungan dan terkejut bukan main dibuatnya.
“Terima kasih sudah mau menerima pernikahan ini, saya harap kamu bisa bertanggung jawab dengan keputusan kamu,” ujar tuan Dedrik sambil mempersilahkan Laras untuk mulai masuk ke rumah.
Laras melirik sekilas laki-laki berumur lima puluh tahunan itu, kemudian mengangguk samar tanpa menimpali ucapan tuan Dedrik.
__ADS_1
“Calon suami kamu sudah menunggu di dalam,” ujar tuan Dedrik di saat mereka berjalan berdampingan.
Deg! Laras masih saja terkejut ketika mendengar kata calon suami disebutkan. Dia bahkan belum bisa membedakan apa dirinya sedang berada di alam mimpi atau memang semua ini adalah kenyataan yang telah dia pilih dalam hidupnya.
Semua yang dia lihat di dalam area rumah besar ini terlalu indah dan menakjubkan untuk dia bayangkan dalam kehidupan nyatanya yang penuh dengan perjuangan untuk bertahan hidup.
“Waah.” Laras tidak bisa lagi menahan decak kagum ketika dia mulai melangkah memasuki rumah besar itu.
Semuanya begitu indah walau tidak ada dekorasi spesial khas sebuah pernikahan di sana. Semuanya terlihat normal dengan keindahan dan kemewahan yang menyertainya walau tanpa ada bunga yang mempercantik ruangan. Berbagai lampu kristal yang tergantung di langit-langit rumah menambah nilai mewah di setiap ruangan.
Belum lagi, beberapa guci yang tampak sangat mahal dan besar. Juga berbagai macam lukisan yang mewarnai luasnya dinding di sana hingga tidak terlihat kosong. Nuansa putih dengan beberapa aksen emas masih saja menjadi dominan di dalam rumah, terlihat begitu luas dan kemewahan yang memanjakan mata.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang laki-laki tengah duduk di sebuah kursi bersama staf KUA dan penghulu yang sudah bersiap untuk melakukan ijab kabul. Tuan Dedrik tampak mengarahkannya untuk duduk di samping laki-laki yang bahkan tak meliriknya sama sekali.
Laras melirik laki-laki bertubuh sedikit kurus yang kini tampak duduk di sampingnya. Wajahnya sedikit pucat dengan raut yang tampak datar hingga terlihat tanpa ekspresi. Tatapannya kosong dan terlihat hampa, seolah tidak ada lagi harapan di dalam sana.
Laras terdiam ketika dia melihat Dedrik menuntun tangan laki-laki itu untuk bersalaman dengan penghulu dan bersiap untuk melakukan ijab kabul.
Dia buta? Kenapa Tuan Dedrik tidak memberi tahuku sejak awal? batin Laras melirik sekilas ke arah tuan Dedrik yang tampak mengacuhkannya.
Prosesi ijab kabul pun berjalan dengan sangat lancar, Ervin tampak melakukan semua itu dengan sempurna tanpa adanya pengulangan sama sekali. Dalam hitungan beberapa menit saja, kini Laras sudah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang bahkan baru dia temu saat ini.
Setelah melihat laki-laki itu pergi, Laras langsung menghampiri tuan Dedrik yang terlihat memberi instruksi pada para pekerja untuk membersihkan semunya kembali.
“Tuan, bisa kita bicara sebentar?” ujar Laras mengalihkan perhatian tuan Dedrik.
“Jangan panggil saya Tuan lagi, Nyonya. Sekarang Anda adalah majikan saja, jadi cukup panggil nama saya saja,” ujar Dedrik sambil mengalihkan perhatiannya pada Laras.
Laras menggeleng sambil berkata dengan nada sopan. “Anda lebih tua dari saya, tidak sopan kalau saya hanya memanggil nama. Bagaimana jika aku panggil pak Dedrik saja?”
“Apa saja yang membuat Anda nyaman, Nyonya,” angguk tuan Dedrik dengan pemilihan kata yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Perubahan sikap Dedrik sebenarnya membuat Laras sangat tidak nyaman, tetapi dia memilih untuk tak mengacuhkan itu lebih dulu, karena dirinya memiliki pertanyaan yang lebih penting dari pada membahas tentang dirinya.
“Kenapa Anda tidak bilang kalau laki-laki yang aku nikahi ternyata tidak bisa melihat?” tanya Laras, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa penasaran di dalam dirinya.
__ADS_1
“Anda menyesal?” Dedrik malah bertanya balik, tanpa mau menjawab pertanyaan Laras.
“Bu—bukan begitu, Pak. A—aku hanya ....”
“Tuan Ervin kehilangan penglihatannya beberapa tahun setelah kecelakaan, saat ini dia sudah bisa beradaptasi dengan kegelapan yang menemaninya. Tuan Ervin bisa melakukan apa pun untuk dirinya sendiri. Hanya saja, sesekali kamu memang harus membantunya, seperti memilihkan baju yang cocok, menyiapkan makanan, dan mengingatkannya tentang waktu,” jelas Dedrik.
“Tuan Ervin tidak mudah percaya pada orang lain, dan itu mungkin akan menjadi tugas paling sulit untuk Anda,” sambung Dedrik lagi.
Laras menghembuskan napas pelan sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, ada rasa iba dan sakit yang tiba-tiba merasuk di dalam hatinya ketika melihat semua kemewahan di rumah ini. Dia juga bisa menyimpulkan, mungkin itu sebabnya rumah ini terasa hampa. Itu semua karena sang pemilik rumah pun tidak bisa menikmati keindahan yang ada di sana.
“Tapi, apakah Anda tidak merasa jika ini tidak adil untuk saya?” tanya Laras dengan kening berkerut dalam.
“Anda bisa memutuskannya sekarang jika merasa ini tidak adil. Tapi, Anda harus tau ... jika saja tuan muda tidak buta, maka dia tidak akan membutuhkan Anda sekarang dan mungkin perjodohan ini tidak akan pernah terjadi.”
“Jadi, saya sarankan. Sebaiknya Anda terima saja, lagi pula Anda tidak akan berada di sini dengan sia-sia. Anda akan memiliki kuasa atas semua uang yang dimiliki oleh tuan muda. Bukankah itu tawaran yang sangat menggiurkan?”
“Tunggu dulu, Pak, sepertinya Anda salah menilaiku‐”
“Aku tidak pernah salah dalam menilai seseorang, Nyonya. Saya tentu memiliki alasan lain begitu juga Nyonya Davina waktu kami memilihmu. Jadi, saran saya, lebih baik Anda terima saja, karena itu juga akan baik untuk Anda,” ujar Dedrik yang membuat Laras langsung terdiam.
“Mari, saya antar Anda ke kamar. Semua barang Anda dari tempat kos sudah kami pindahkan ke kamar Anda,” ujar Dedrik setelah mereka berbincang beberapa saat.
Laras yang memang sudah merasa sangat lelah pun akhirnya mengangguk, dia diantarkan menaiki sebuah lift untuk mencapai lantai dua kemudian berjalan lurus untuk mencapai sebuah pintu berbahan kayu yang terlihat begitu kokoh dan besar di depannya.
Berbeda dari di lantai satu yang didominasi dengan warna putih dan emas, di lantai dua, suasana lebih terasa mencekam, dengan warna hitam dan dark white yang mendominasi. Begitu juga dengan pintu kamar di depannya yang berwarna hitam sempurna.
Dedrik mengetuk pintu beberapa kali sebelum berkata dengan suara cukup lantang. “Tuang, Nyonya muda sudah ada di sini!”
“Masuk!” terdengar suara jawaban dari dalam yang begitu dingin. Laras bahkan sampai merinding ketika suara itu masuk ke dalam telinganya.
Dedrik langsung membuka pintu dengan sangat hati-hati kemudian mempersilakan Laras untuk masuk.
Laras menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke kamar laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.
Tubuhnya membeku ketika melihat laki-laki itu tengah duduk di sisi ranjang dengan tatapan lurus ke depan, seolah sedang menatapnya dengan begitu tajam. Laras bahkan tidak sadar jika Dedrik mulai menutup pintu, sampai tubuhnya terjingkat kaget saat telinganya mendengar suara kayu yang beradu di belakangnya seiring pintu yang tertutup rapat.
__ADS_1
A—apa yang harus aku lakukan sekarang? Batin Laras sambil menatap wajah datar Ervin. Hingga tiba-tiba laki-laki itu berbicara dan membuat Laras terkejut bukan main.
“Mau berapa lama lagi kamu berdiri di sana?”