
"Dasar perempuan rendahan! Beraninya dia menghinaku seperti itu, apa dia tidak tahu siapa sebenarnya aku, heh?" kesal wanita yang tadi menemui Laras.
"Lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkan kamu memiliki Ervin. Dari awal dia adalah miliku, dan sampai kapan pun dia tetap akan menjadi milikku," gumam wanita itu sambil menatap penuh kebencian seolah di hadapannya ada Laras. Tangannya pun mengepal erat menahan emosi yang begitu memuncak.
...❤🩹...
Seminggu sudah Ervin berada di Texas, oprasi untuk matanya pun sudah dilaksanakan. Namun, ternyata mereka harus menunggu sampai pemulihannya benar-benar selesai, sebelum Ervin diizinkan untuk kembali ke Indonesia mengingat perjalanan yang memakan waktu sangat lama.
"Baby, aku dengar dari Herdi, kamu sedang tidak enak badan?" tanya Ervin dalam sambungan video yang mereka lakukan. Sayang sekali, perban di kedua matanya belum bisa dibuka, hingga dia masih tidak bisa melihat wajah sang istri.
"Cuman sedikit pusing, tidak apa-apa," jawab Laras. Senyum haru terlihat jelas di wajah pucat Laras.
Seminggu dia tak bertemu dengan Ervin, seminggu juga Laras merasakan tubuhnya yang tak sesehat sebelumnya. Seringkali pusing secara mendadak datang di tengah aktivitas hariannya, ditambah indra penciumannya yang juga terasa semakin sensitif.
"Priksa ke dokter ya, Baby. Biar aku hubungi Herdi untuk mengantarmu." Wajah Ervin terlihat sangat cemas
"Iya, kalau sampai besok pagi, pusingnya tidak hilang juga, aku akan meminta Herdi untuk mengantarku ke rumah sakit." Laras mengangguk, dia tersenyum mendapati perhatian dari Ervin tidak pernah berkurang walau mereka sedang berjauhan.
Banyak yang mereka bicarakan ketika keduanya melakukan sambungan telepon seperti ini. Mulai dari kegiatan sehari-hari keduanya di tempat berbeda hingga meluahkan rasa rindu yang begitu mendalam. Kadang Ervin juga menyempatkan diri untuk menunggu Laras hingga tertidur. Melakukan aktifitas seperti itu, membuat hubungan keduanya semakin erat, bahkan jauh lebih mesra dan menyenangkan dibandingkan sebelum mereka berjauhan seperti sekarang. Nyatanya, jarak tak mampu membuat cinta keduanya berkurang. Sebaliknya, kerinduan malah terus menambah rasa cinta keduanya.
...❤🩹...
Langit mulai terang, walau awan mendung terlihat menghalangi matahari untuk menampakkan sinarnya. Udara pun terasa dingin, walau waktu sudah menunjukkan pukul depalan pagi.
Akhir pekan ini, Laras memutuskan untuk menghabiskan waktunya bermalas-malasan di dalam kamar. Rasanya begitu enggan untuk ke luar ketika tidak ada tujuan untuknya melepas penat.
Suara ketukan pintu terdengar, mengalihkan perhatian Laras dari buku yang tengah dia baca. Wanita itu mengizinkan orang itu untuk masuk tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Sarapan Anda sudah siap, Nyonya," ujar salah satu pelayan.
"Baiklah. Sebentar lagi aku akan turun," jawab Laras sambil menutup buku di tangannya lalu menyimpannya di atas meja kecil di sampingnya. Namun, gerakannya terhenti ketika dia melihat kalender kecil yang sengaja dia taruh di sana.
__ADS_1
"Tanggal dua puluh sembilan?" gumam Laras dengan kening yang mengernyit dalam.
Mengurungkan niatnya, Laras malah beralih mengambil ponsel yang dia tinggalkan begitu saja di atas ranjang. Membuka sebuah catatan kehadiran tamu bulanannya dengan jantung yang mulai berdebar tak menentu.
"Dari bulan kemarin? Kenapa aku tidak menyadarinya?" Laras berujar sedikit panik, ketika dia melihat bahkan sejak sebulan yang lalu dia belum kedatangan tamu rutinnya.
"A-apa mungkin aku?" lirih Laras dengan tangan menyentuh perut bagian bawahnya.
Tanpa pikir panjang, Laras mengambil cardigan dalam lemari dan memakainya dengan gerakan cepat. Dia harus segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Memastikan tebakannya tentang sesuatu yang terjadi dalam perutnya.
"Tolong panggilkan Herdi dan suruh dia memanaskan mobil. Aku akan pergi ke rumah sakit setelah sarapan," ujar Laras begitu dia sampai di ruang makan.
Salah satu pelayan yang menunggunya pun langsung melaksanakan perintah dari sang nyonya. Sementara Laras mulai menyantap sarapan paginya.
Tiga puluh menit perjalanan, Laras kini sudah sampai di rumah sakit untuk memeriksakan diri.
"Coba anda tes dengan ini dulu," ujar dokter wanita sambil memberikan alat tes kehamilan padanya.
Beberapa saat kemudian, dia pun ke luar dengan membawa alat tes kehamilan itu dalam keadaan terbalik. Tangan bergetarnya menyerahkan benda itu pada dokter yang hanya tersenyum ketika mendapati tingkah Laras.
"Selamat, hasilnya positif. Saat ini Anda tengah mengandung," ujar Dokter wanita itu sambil tersenyum ramah. Dia menjelaskan hasil dua garis merah yang tertera di alat itu.
Bulir bening tanpa terasa jatuh begitu saja ketika mendengar ucapan dokter tentang berita kehamilannya.
"S-saya, hamil?" Seolah masih belum percaya dengan pendengarannya sendiri, wanita itu kembali bertanya untuk memastikan jika dirinya tidak salah dengar.
"Benar, Nyonya. Anda tengah mengandung sekarang," angguk dokter itu.
Tak dapat terbendung lagi. Air mata itu mengalir begitu deras, dengan rasa bahagia yang membuncah di dalam dada. Pikirnya, semua ini akan semakin melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya setelah Ervin bisa melihat lagi dan mereka kembali bersama tidak lama lagi.
Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan dan menebus beberapa vitamin, Laras pun kini sudah kembali berada di dalam mobil dengan Herdi fokus menyetir.
__ADS_1
"Usia kandungan Anda sudah delapan minggu." Bayangan perkataan dokter ketika dia melakukan pemeriksaan ultrasonografi masih terngiang di ingatan.
Senyum bahagia terus terukir di wajah manis Laras. Bayangan wajah bahagia Ervin terus berputar di kepala. Membuat Laras semakin tidak sabar untuk memberitahukan berita bahagia ini pada sang suami.
"Kita ke panti saja ya, Pak. Tapi, mampir dulu di pusat perbelanjaan," ujar Laras. Tiba-tiba saja dia teringat pada Bu Sri dan anak-anak yang lain.
"Baik, Nyonya," angguk Herdi sambil mengarahkan mobil menuju pusat perbelanjaan terdekat.
"Bisa tolong susul saya ke dalam, mungkin belanjaan kali ini akan lumayan banyak," ujar Laras begitu mobil berhenti di lobi pusat perbelanjaan.
"Baik, Nyonya," angguk Herdi. Dia lebih dulu memarkirkan mobil sebelum menyusul Laras ke dalam.
Laras memilih berbagai macam makanan dan mainan untuk anak panti, bahkan baju dan susu bayi tak terlewat dari list belanja hari ini. Terhitung, dua troli besar penuh dengan berbagai macam barang dan makanan yang dia siapkan untuk oleh-oleh untuk anak panti. Dari sekian banyak barang, dia juga menyelipkan susu hamil untuk dirinya sendiri.
"Hujannya deras banget, ya," ujar Laras sambil melihat ke luar kaca mobil. Herdi mengiyakan ucapan Laras. Dia sudah menawarkan untuk pergi di saat hujan sudah mulai reda, tetapi Laras tak mendengarkan. Wanita itu ingin berada di panti sebelum makan siang, hingga terpaksa Herdi menyetir di tengah hujan.
Kini Laras dan Herdi sudah kembali berada di dalam mobil, dengan bagian belakang penuh oleh segala pernak-pernik hadiah yang baru saja dia beli. Mobil pun mulai melaju, menyusuri jalanan kota yang terasa lebih lengang.
Tak ada kecurigaan sedikit pun dari keduanya, Laras yang tidak sabar untuk berbagi kabar pada Bu Sri dan anak-anak, sementara Herdi hanya terus fokus pada jalanan di depannya. Beberapa kali, Laras mencoba menelepon Ervin, tetapi tidak ada jawaban. Dia berfikir, mungkin Ervin masih tertidur, mengingat kini di sana masih malam.
"Gak diangkat," gumam Laras sambil menatap ponselnya yang menampilkan wallpaper foto mereka berdua.
Kondisi yang awalnya menjadi tenang dan menyenangkan, tiba-tiba saja berubah, ketika mereka sampai di sebuah persimpangan jalan. Herdi dikejutkan oleh sebuah truk yang datang dengan kecepatan tinggi dari arah samping dan menabraknya tanpa memberikan waktu untuknya mengelak.
"Nyonya!" Herdi berteriak refleks memanggil Laras, rasa khawatir dan juga ingat akan kewajibannya dalam menjaga Laras, membuat Herdi tak bisa memikirkan kata lain selain wanita itu.
Mobil yang dikendarainya, terseret ke pinggir jalan dan berguling dalam keadaan ringsek parah. Suara benturan yang begitu keras di tengah hujan itu pun, mengundang para warga sekitar untuk melihat ke luar, begitu juga para pengendara yang berhenti untuk melihat kecelakaan yang terjadi, hingga perlahan lokasi itu pun dikerumuni oleh warga.
Semua hanya menatap prihatin sambil menenbak-nebak, keadaan korban di dalam mobil yang ringsek parah itu, tanpa berani menyentuhnya sebelum polisi datang.
"Nyonya, Anda harus bertahan," gumam Herdi dalam sisa kesadarannya yang semakin menipis.
__ADS_1